Jakarta – Dunia kembali digemparkan dengan bocoran dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein yang belum lama ini diungkap. Kali ini, sebuah detail yang sangat mengejutkan dan sensitif muncul ke permukaan: dugaan pengiriman potongan Kiswah, kain penutup Ka’bah yang suci di Masjidil Haram, ke Amerika Serikat pada tahun 2017. Informasi ini, yang mencuat dari korespondensi email dalam berkas Departemen Kehakiman AS (DOJ), telah memicu gelombang kekecewaan dan kemarahan di seluruh dunia, terutama di kalangan umat Muslim. Middle East Eye melaporkan temuan ini pada Senin (2/2/2026), menggambar ulang peta skandal Epstein yang seolah tak berujung.
Jeffrey Epstein, seorang pemodal dan terpidana kejahatan seks yang meninggal dunia di penjara pada tahun 2019, dikenal karena jaringan luasnya yang melibatkan sejumlah tokoh elit dunia. Setelah kematiannya, serangkaian dokumen terkait kasusnya terus dibuka untuk publik, mengungkap nama-nama, lokasi, dan transaksi yang selama ini diselimuti misteri. Setiap rilis dokumen baru selalu memicu kehebohan, namun pengungkapan mengenai Kiswah Ka’bah ini memiliki dimensi yang berbeda, menyentuh ranah spiritual dan budaya yang sangat dalam bagi miliaran umat Muslim di seluruh dunia.
Kiswah adalah kain hitam megah yang menyelimuti Ka’bah di Makkah, dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an yang disulam dengan benang emas dan perak. Kain ini bukan sekadar penutup, melainkan simbol kesucian dan kehormatan Ka’bah, kiblat umat Muslim di seluruh dunia. Setiap tahun, menjelang musim haji, Kiswah diganti dengan yang baru dalam sebuah upacara khusus yang sarat makna. Potongan dari Kiswah lama biasanya diperlakukan dengan sangat hormat, dibersihkan, dipotong menjadi bagian-bagian kecil, dan kemudian diberikan sebagai hadiah kehormatan kepada tamu negara, pemimpin Muslim, atau museum-museum Islam sebagai artefak keagamaan yang bernilai tinggi. Proses ini menegaskan statusnya sebagai benda yang disucikan, jauh dari komoditas biasa.
Dalam serangkaian email yang beredar, disebutkan bahwa tiga potong Kiswah dikirim melalui perantara di Uni Emirat Arab. Salah satu email, bertanggal 22 Maret 2017, dikaitkan dengan Aziza Al-Ahmadi, CEO Boss Bunny Game yang berbasis di UEA. Dalam pesan tersebut, Al-Ahmadi secara eksplisit menegaskan nilai religius yang mendalam dari kain tersebut. Ia menuliskan bahwa kain hitam itu telah disentuh oleh jutaan Muslim yang mengelilingi Ka’bah, diiringi dengan doa, harapan, dan air mata, sebuah gambaran yang menekankan betapa sucinya benda tersebut di mata umat Islam. Pesan ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang terlibat dalam pengiriman menyadari betul signifikansi spiritual Kiswah.
Dokumen-dokumen logistik yang disertakan juga memuat alur pengiriman yang terperinci, melibatkan beberapa nama penting. Abdullah Al-Maari disebut sebagai koordinator dari pihak Arab Saudi, memastikan keberangkatan barang. Di sisi lain, Daphne Wallace, seorang asosiasi Epstein, bertugas mengatur pengiriman internasional. Sementara itu, Chalmer Stauffer bertanggung jawab atas urusan bea cukai dan transportasi di Amerika Serikat. Barang-barang tersebut dilaporkan dikirim pertama-tama dari Saudi ke Miami, Florida, sebelum kemudian diteruskan ke kediaman Epstein di St. Thomas, salah satu pulau di Kepulauan Virgin AS, melalui sebuah perusahaan bernama LSJE LLC yang terafiliasi dengan Epstein.
Yang menarik dan sekaligus menimbulkan tanda tanya besar adalah bagaimana barang tersebut tercatat dalam faktur pengiriman. Kiswah itu tercantum sebagai "KISWA – INNER" dan "KISWA – OUTER", namun diklasifikasikan sebagai "artwork from Saudi Arabia" atau "karya seni dari Arab Saudi" untuk keperluan pengiriman lintas negara. Detail ini memperkuat dugaan bahwa potongan Kiswah tersebut diperlakukan sebagai artefak seni semata dalam dokumen logistik, mengabaikan atau mungkin menyembunyikan nilai keagamaan dan sakralnya yang sebenarnya. Klasifikasi ini memicu pertanyaan tentang apakah ini adalah upaya untuk memfasilitasi pengiriman benda keagamaan yang mungkin memiliki regulasi ketat, atau sekadar praktik standar dalam penanganan barang antik.
Mengapa pengiriman Kiswah ke tangan Jeffrey Epstein ini menjadi begitu sensitif dan memicu kegemparan? Jawabannya terletak pada dua aspek utama: kesucian Kiswah itu sendiri dan reputasi Epstein. Kiswah adalah representasi fisik dari salah satu situs paling suci dalam Islam. Keberadaannya di tangan seorang individu yang terbukti melakukan kejahatan seksual mengerikan terhadap anak di bawah umur, dan yang dikenal memiliki gaya hidup amoral, adalah sebuah penghinaan besar bagi banyak Muslim. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana artefak suci semacam itu bisa jatuh ke tangan yang salah, dan apa motif di balik pengakuisisiannya oleh Epstein. Apakah ini sekadar koleksi, ataukah ada niat lain yang lebih gelap?
Kasus ini dengan cepat viral di media sosial, terutama di platform X (sebelumnya Twitter). Banyak warganet Muslim menyuarakan kekecewaan, kemarahan, dan kebingungan mereka. Akun @klystagram misalnya, menulis, "Apa gunanya ngasih kiswah ke orang yang bahkan gak tau itu fungsinya apaan. jutaan umat muslim pengin lihat ka’bah, ini malah dijadiin karpet by someone who has committed crimes against children." Komentar ini mencerminkan sentimen umum bahwa Kiswah seharusnya dihormati dan tidak diserahkan kepada individu yang reputasinya begitu tercela.
Pandangan serupa juga diungkapkan oleh @crayinshinchun: "Sebetulnya ga masalah kalau dia menerima kiswah. Tapi digunakan untuk apa kiswah itu; itulah yang jadi pertanyaan. Jangan sampai dia menggunakan kiswah dengan cara yang tidak baik dan tidak ada penghormatan, karena bagaimanapun juga kiswah adalah bagian dari Ka’bah yang jadi simbol sakral umat Muslim.." Komentar ini menyoroti kekhawatiran bukan hanya tentang kepemilikan, tetapi juga tentang potensi penyalahgunaan atau tidak adanya penghormatan terhadap benda suci tersebut.
Namun, di sisi lain, sebagian pihak mengingatkan bahwa Kiswah, meskipun suci, bukanlah objek ibadah dalam Islam. Mereka berpendapat bahwa setelah masa pakainya berakhir dan diganti, Kiswah lama secara hukum bisa dialihkan atau didaur ulang, meskipun tetap sarat makna religius. @masreyhaan misalnya, berkomentar, "It’s just kiswah, kain penutup ka’bah aja. Ga spesial, ga wah juga. Kain biasa aja." Pandangan ini menekankan bahwa fokus utama ibadah adalah kepada Allah SWT, bukan kepada benda fisik, termasuk Kiswah. Senada dengan itu, @fikrabaskoro_13 menuturkan, "Kita umat Muslim beribadah ke Baitullah benar-benar mengharapkan Ridha Allah Ta’ala. Kiswah hanyalah penutup Ka’bah, sama sekali gk penting setelah dipakai mau dikemanakan, gk mengurangi kesakralan Ka’bah." Argumen ini mencoba meredakan kemarahan dengan memisahkan nilai spiritual Ka’bah itu sendiri dari kain penutupnya yang bersifat material dan sementara.
Perdebatan ini menyoroti kompleksitas pandangan dalam Islam mengenai artefak suci. Meskipun ada pemahaman bahwa hanya Allah yang disembah, objek-objek yang terkait langsung dengan tempat-tempat suci seperti Ka’bah tetap memegang tempat yang sangat istimewa dalam hati umat Muslim. Oleh karena itu, penyerahan Kiswah kepada sosok kontroversial seperti Epstein dipandang sebagai pelanggaran terhadap kehormatan dan kesucian yang melekat pada benda tersebut, terlepas dari apakah ia adalah objek ibadah atau tidak.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas pengelola Masjidil Haram maupun pemerintah Arab Saudi terkait dugaan pengiriman ini. Keheningan ini menambah spekulasi dan pertanyaan di kalangan publik. Siapa yang mengizinkan pengiriman ini? Apakah ada protokol khusus yang dilanggar? Dan yang terpenting, mengapa Kiswah tersebut diberikan kepada Jeffrey Epstein? Mengingat modus operandi Epstein yang sering menggunakan hadiah dan pengaruh untuk membangun jaringan serta memanipulasi orang, motif di balik pengakuisisian Kiswah ini menjadi sangat krusial untuk dipahami.
Kasus ini tidak hanya memicu perdebatan teologis dan etis, tetapi juga menyoroti kerentanan artefak budaya dan keagamaan di tengah pasar gelap atau jaringan elit yang kurang transparan. Pengungkapan dokumen Epstein secara bertahap oleh DOJ terus membuka tabir jejaring luas sang terpidana dengan berbagai tokoh dan wilayah, menunjukkan betapa dalamnya akar skandal ini merambah ke berbagai lapisan masyarakat dan institusi global. Kisah Kiswah Ka’bah ini hanyalah salah satu dari banyak kejutan yang mungkin masih tersimpan dalam berkas-berkas Epstein, yang terus mengguncang dunia dengan setiap lembar baru yang terungkap. Pertanyaan-pertanyaan seputar integritas, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai suci tetap menggantung, menuntut jawaban yang transparan dan bertanggung jawab dari semua pihak terkait.
(Penulis: afr/fay)

