Inisiatif tersembunyi ini, yang diberi nama kode ‘Project Panama’, pertama kali mencuat ke permukaan pada musim panas lalu. Pemicunya adalah gugatan hukum yang diajukan oleh sekelompok penulis terhadap Anthropic, menuntut keadilan atas penggunaan karya mereka tanpa izin. Gugatan tersebut, yang berpotensi menjadi kasus preseden penting bagi industri AI, akhirnya diselesaikan melalui jalur damai pada bulan Agustus dengan nilai fantastis sebesar USD 1,5 miliar. Namun, penyelesaian ini hanyalah awal. Sejak itu, lebih banyak informasi di balik layar terkuak setelah seorang hakim memerintahkan agar lebih banyak dokumen kasus dibuka untuk umum, mengungkap detail mengejutkan dari operasi rahasia Anthropic.
Dokumen-dokumen yang terkuak tersebut memberikan gambaran jelas mengenai pola pikir para pimpinan Anthropic. Mereka memandang buku sebagai elemen esensial, bahkan tak tergantikan, untuk melatih model AI mereka agar mencapai kualitas output yang superior. Salah satu pendiri Anthropic secara eksplisit menyatakan bahwa buku akan menjadi guru terbaik bagi bot mereka, mengajarkan cara menulis dengan baik, jauh berbeda dari meniru gaya bahasa internet yang seringkali dianggap "murahan" atau tidak terstruktur. Mereka percaya bahwa untuk menciptakan AI yang mampu berkomunikasi dan berkreasi dengan nuansa bahasa yang kaya, sumber data yang sama kayanya, yaitu buku, adalah kuncinya.
Membeli, memindai, dan kemudian menghancurkan jutaan buku bekas, ironisnya, menjadi salah satu cara yang dipilih Anthropic untuk mencapai tujuan tersebut. Metode ini dinilai murah, efisien, dan yang paling krusial, sangat mungkin legal di bawah interpretasi hukum tertentu. Praktik destruktif ini memanfaatkan celah hukum yang dikenal sebagai doktrin penjualan pertama (first sale doctrine), sebuah prinsip yang mengizinkan pembeli untuk melakukan apa saja terhadap barang fisik yang telah mereka beli, tanpa campur tangan lebih lanjut dari pemegang hak cipta. Dengan kata lain, setelah sebuah buku fisik dibeli, pemilik barunya memiliki kebebasan penuh atasnya, termasuk untuk menghancurkannya.
Namun, bagian yang lebih rumit muncul ketika data dari buku fisik tersebut diubah menjadi format digital untuk melatih AI. Di sinilah doktrin penggunaan wajar (fair use) ikut berperan. Seorang hakim memutuskan bahwa konversi berkas dari kertas ke digital untuk tujuan pelatihan model AI sudah cukup untuk dianggap sebagai penggunaan wajar. Interpretasi ini memungkinkan Anthropic untuk menghindari pembayaran royalti kepada penulis atas karya-karya mereka yang digunakan sebagai data pelatihan. Keputusan ini, tentu saja, memicu perdebatan sengit mengenai batas-batas penggunaan wajar di era AI, di mana karya-karya kreatif menjadi bahan bakar bagi inovasi teknologi tanpa memberikan kompensasi kepada pencipta aslinya.
Berdasarkan pemaparan dokumen gugatan, proses "pencacahan" buku ini dilakukan dengan sangat terorganisir dan berteknologi tinggi. Anthropic menggunakan mesin pemotong tenaga hidrolik canggih untuk memotong rapi jutaan buku yang telah mereka peroleh dari berbagai pengecer buku bekas. Setelah buku-buku tersebut terpotong-potong, halaman-halamannya kemudian dipindai menggunakan pemindai tingkat produksi berkecepatan dan berkualitas tinggi, memastikan bahwa setiap kata dan gambar terekam dengan akurasi maksimal. Setelah proses pemindaian selesai, tumpukan buku yang sudah terkoyak itu kemudian diangkut oleh perusahaan daur ulang, menandai akhir dari perjalanan fisik buku tersebut, namun awal dari kehidupan digitalnya sebagai data pelatihan AI.
Di balik efisiensi dan legalitas yang diperdebatkan, Anthropic sendiri tidak bisa menyembunyikan kecemasan mereka mengenai bagaimana praktik perusakan ini akan terlihat di mata publik. "Kami tidak ingin diketahui bahwa kami sedang mengerjakan ini," demikian bunyi salah satu dokumen perencanaan internal tahun 2024. Pernyataan ini secara gamblang menunjukkan kesadaran perusahaan akan potensi reaksi negatif dan kerusakan reputasi yang bisa timbul jika operasi ‘Project Panama’ terbongkar. Mereka tahu bahwa tindakan menghancurkan buku, simbol pengetahuan dan budaya, untuk keuntungan komersial, bisa memicu kemarahan publik dan komunitas kreatif.
Sebelum beralih ke metode pencacahan buku fisik, perusahaan ini awalnya mengandalkan sumber buku digital. Pada tahun 2021, salah satu pendiri Anthropic, Ben Mann, berinisiatif mengunduh jutaan buku dari LibGen, sebuah "perpustakaan bayangan" yang terkenal berisi teks-teks bajakan gratis. Tahun berikutnya, Mann bahkan memuji situs web baru bernama Pirate Library Mirror, yang secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka sengaja melanggar hukum hak cipta di sebagian besar negara. Pergeseran dari sumber digital ilegal ke metode fisik, meskipun kontroversial, mungkin merupakan upaya untuk mencari dasar hukum yang lebih kuat atau setidaknya, mengurangi risiko langsung dari tuduhan pelanggaran hak cipta yang lebih jelas.
Namun, Anthropic bukanlah satu-satunya perusahaan raksasa teknologi yang dituduh menguliti buku atau menggunakan sumber data bajakan untuk melatih AI mereka. Dalam gugatan penulis lainnya yang terpisah, dokumen mengungkap bagaimana Meta, perusahaan induk Mark Zuckerberg, juga menjarah jutaan buku dari perpustakaan bayangan serupa seperti LibGen. Dokumen internal Meta menunjukkan bahwa beberapa karyawan perusahaan menyadari sepenuhnya bahwa praktik ini "agak mencurigakan" dan berpotensi menimbulkan masalah hukum dan etika.
Beberapa karyawan Meta bahkan secara spesifik memperingatkan tentang reaksi keras yang bisa muncul jika praktik ini bocor ke publik. "Jika ada liputan media yang menyiratkan bahwa kita menggunakan kumpulan data yang kita tahu merupakan bajakan, seperti LibGen, ini dapat melemahkan posisi negosiasi kita dengan regulator terkait isu-isu ini," tulis mereka dalam komunikasi internal, sebagaimana dikutip oleh detikINET dari Futurism, Senin (2/2/2026). Peringatan ini menggarisbawahi adanya pola umum di antara perusahaan-perusahaan AI: kebutuhan tak terbatas akan data pelatihan, kesediaan untuk menjelajahi area abu-abu hukum, dan kecemasan bersama akan pengawasan publik dan regulasi.
Kisah Anthropic dan ‘Project Panama’ ini lebih dari sekadar berita tentang sebuah perusahaan yang menghancurkan buku. Ini adalah cerminan dari perlombaan senjata data yang sedang berlangsung di industri AI, di mana akses ke kumpulan data yang besar dan berkualitas tinggi menjadi penentu utama keunggulan kompetitif. Ini juga menyoroti ketegangan yang semakin memanas antara inovasi teknologi dan hak-hak kekayaan intelektual, serta etika dalam pengembangan AI. Ketika model-model AI semakin canggih, pertanyaan tentang dari mana data mereka berasal, bagaimana data itu diperoleh, dan bagaimana pencipta asli dikompensasi, akan menjadi semakin mendesak.
Pengungkapan ini memicu perdebatan yang lebih luas mengenai masa depan hak cipta di era AI. Apakah penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model AI dapat secara otomatis dikategorikan sebagai "penggunaan wajar"? Atau apakah diperlukan kerangka hukum baru yang secara spesifik menangani kompensasi bagi pencipta yang karyanya menjadi bahan bakar bagi kecerdasan buatan triliunan dolar? Kasus Anthropic menunjukkan bahwa batas-batas hukum yang ada saat ini tidak sepenuhnya siap untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh teknologi AI.
Pada akhirnya, ‘Project Panama’ Anthropic akan menjadi studi kasus penting dalam sejarah pengembangan AI. Ini adalah pengingat bahwa di balik kemajuan teknologi yang memukau, seringkali ada keputusan-keputusan sulit, etika yang dipertanyakan, dan konsekuensi yang belum sepenuhnya dipahami. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa pengembangan AI berjalan seiring dengan nilai-nilai etika dan keadilan, bukan dengan mengorbankan warisan budaya dan hak-hak para pencipta. Perjalanan panjang untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara inovasi dan etika di dunia AI baru saja dimulai, dan ‘pencacahan’ jutaan buku ini adalah babak yang tak terhapuskan dari kisah tersebut.

