BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Ibunda penyanyi Keisya Levronka, Levi Leonita Davies, akhirnya buka suara di media sosialnya mengenai insiden tragis yang menimpa putranya, Lexi Valleno Havlenda. Lexi, adik Keisya, jatuh dari lantai 6 sebuah gedung kampus di Jakarta Barat. Peristiwa yang terjadi dua tahun lalu ini kembali mencuat ke publik dan menjadi viral setelah Levi membagikan kronologi dari sudut pandang keluarganya, serta kondisi memilukan yang masih dialami Lexi hingga kini dalam proses penyembuhan dan pemulihan yang panjang.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @levihavron, Levi Leonita Davies menyatakan bahwa keluarga telah bersabar menunggu itikad baik dari pihak kampus dan organisasi Mapala yang terkait. Namun, tanpa adanya penyelesaian yang pasti dan kesulitan dalam berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bersangkutan, Levi merasa terpaksa harus menyuarakan masalah ini melalui media sosial. Ia mengungkapkan kekecewaannya karena dua tahun telah berlalu tanpa ada kejelasan.
Menurut penuturan Levi, insiden nahas tersebut terjadi pada bulan April 2023. Kala itu, Lexi tengah mengikuti kegiatan latihan caving, sebuah aktivitas susur gua, yang diselenggarakan oleh organisasi pecinta alam di kampusnya. Tragedi terjadi ketika Lexi terjatuh dari ketinggian lantai enam gedung kampus karena pengait yang digunakannya terlepas. Kejadian ini tidak hanya meninggalkan luka fisik yang mendalam, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai prosedur keselamatan dan penanganan pasca-insiden.
Selain insiden jatuhnya Lexi, Levi juga menyoroti penanganan pertama yang dilakukan oleh pihak terkait, yang menurutnya sangat fatal dan tidak sesuai dengan standar medis darurat. Ia mengungkapkan keprihatinannya karena korban tidak segera dievakuasi menggunakan ambulans, melainkan dengan kendaraan umum. Levi mempertanyakan mengapa pihak penyelenggara tidak segera memanggil ambulans, padahal menunggu taksi online pun dinilai memakan waktu yang sama. Keputusan ini, menurutnya, berpotensi memperburuk kondisi Lexi.
Akibat dari insiden yang mengerikan tersebut, Lexi mengalami cedera fisik yang sangat parah. Levi merinci kondisi putranya yang membutuhkan perawatan intensif yang berkelanjutan hingga saat ini. Di antara cedera fatal yang diderita Lexi adalah tulang ekor yang remuk hingga memerlukan pemasangan pen, trauma ginjal yang bergeser dan sempat tidak berfungsi, paru-paru yang terendam cairan darah, serta robekan pada hati.
Kondisi Lexi yang memprihatinkan ini berdampak besar pada kehidupan sehari-harinya. Levi menjelaskan bahwa selama satu tahun penuh, Lexi harus menggunakan kateter ke mana pun ia pergi. Aktivitasnya selama satu tahun pun sangat terbatas, hanya bisa menggunakan kursi roda, dan secara bertahap baru bisa beralih menggunakan tongkat. Hingga kini, Lexi masih memerlukan penggunaan kasur dekubitus untuk memberikan kenyamanan pada tulang ekornya yang terluka.
Setelah Levi Leonita Davies menyuarakan keluh kesahnya di media sosial, muncul respons positif dari pihak-pihak terkait. Levi mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan perwakilan pihak terkait pada hari sebelumnya. Dalam pertemuan tersebut, Levi menyampaikan bahwa telah ada itikad baik yang ditawarkan, meskipun nilai yang ditawarkan masih sangat jauh dari perhitungan kerugian material dan imaterial yang telah dikeluarkan oleh keluarga. Oleh karena itu, keluarga belum dapat menerima tawaran tersebut dan berharap ada titik temu yang lebih baik dalam pertemuan selanjutnya. Levi juga menyampaikan terima kasih atas doa dan dukungan yang telah diberikan oleh publik.
Dalam pertemuan penting tersebut, Keisya Levronka dan kekasihnya, Nyoman Paul Fernonda, turut hadir mendampingi ibunda mereka. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap Lexi dan perjuangan keluarga untuk mencari keadilan atas insiden yang menimpa adik mereka. Keisya dan Paul tampak menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap kondisi Lexi dan berusaha memberikan kekuatan moral bagi keluarga dalam menghadapi cobaan ini.
Perjuangan Levi Leonita Davies untuk mendapatkan keadilan bagi putranya bukanlah perkara mudah. Ia harus menghadapi kenyataan pahit atas insiden yang menimpa Lexi, serta proses panjang pemulihan yang masih berlangsung. Dukungan publik dan perhatian media diharapkan dapat membantu mendorong penyelesaian yang adil dan memadai bagi keluarga Lexi. Kasus ini juga menjadi pengingat penting akan pentingnya evaluasi dan penegakan standar keselamatan yang ketat dalam setiap kegiatan, terutama yang melibatkan risiko tinggi seperti kegiatan pecinta alam.
Levi menegaskan bahwa ia akan terus berjuang demi hak-hak putranya dan berharap agar pihak kampus serta organisasi Mapala dapat memberikan pertanggungjawaban yang layak. Ia juga berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang, dan bahwa setiap insiden yang terjadi dapat ditangani dengan profesionalisme dan empati yang tinggi. Proses hukum dan negosiasi yang sedang berjalan diharapkan dapat segera mencapai titik akhir yang memuaskan bagi keluarga, meskipun luka fisik dan emosional yang dialami Lexi akan membekas lama.
Perjuangan Levi untuk keadilan tidak hanya demi Lexi, tetapi juga sebagai bentuk advokasi agar hak-hak korban dalam situasi serupa dapat terpenuhi. Ia berharap kejadian ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi semua pihak, mulai dari institusi pendidikan, organisasi kemahasiswaan, hingga para mahasiswa itu sendiri, mengenai pentingnya keselamatan, prosedur darurat, dan tanggung jawab. Keterbukaan Levi di media sosial menjadi langkah berani yang diharapkan dapat membuka jalan menuju penyelesaian yang transparan dan adil.
Dukungan yang mengalir dari masyarakat luas menjadi suntikan semangat bagi keluarga Keisya Levronka. Banyak yang turut merasakan kepedihan dan mendoakan kesembuhan total bagi Lexi. Kisah ini menjadi viral bukan hanya karena melibatkan figur publik, tetapi lebih karena menyentuh sisi kemanusiaan dan perjuangan seorang ibu demi anaknya. Keisya Levronka sendiri, meskipun memiliki kesibukan sebagai penyanyi, tetap memprioritaskan dukungan bagi adiknya dan ibunya dalam menghadapi masalah ini. Kehadiran kekasihnya, Nyoman Paul Fernonda, juga menjadi sumber kekuatan tambahan bagi Keisya dan keluarganya.
Harapan terbesar keluarga adalah agar pihak-pihak terkait dapat menunjukkan itikad baik yang tulus dan memberikan kompensasi yang sepadan, baik secara material maupun imaterial, atas penderitaan yang telah dialami Lexi. Proses pemulihan Lexi yang masih panjang membutuhkan dukungan finansial dan emosional yang berkelanjutan. Pertemuan lanjutan yang dijadwalkan diharapkan akan membawa kabar baik dan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak, demi tercapainya keadilan bagi Lexi Valleno Havlenda.

