BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian secara tegas mengumumkan penghentian insentif otomotif untuk tahun ini. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk stimulus tersebut kini akan dialihkan sepenuhnya untuk pengembangan mobil nasional (mobnas). Keputusan ini menimbulkan beragam reaksi dari para produsen yang beroperasi di industri otomotif Indonesia.
Keputusan pemerintah untuk menghentikan insentif otomotif, yang telah berjalan selama beberapa waktu, memang menimbulkan kekhawatiran di kalangan produsen. Penjualan mobil di Indonesia sendiri dilaporkan mengalami tren penurunan selama dua tahun terakhir. Tanpa adanya stimulus yang pernah diberikan, banyak pihak memprediksi angka penjualan akan semakin terpuruk. Insentif seperti potongan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebelumnya terbukti mampu mendongkrak daya beli konsumen dan meningkatkan volume penjualan kendaraan. Penghentiannya secara tiba-tiba dikhawatirkan akan memberikan pukulan telak bagi kinerja industri, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Produsen telah terbiasa dengan adanya dukungan kebijakan ini untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Namun, di tengah potensi tantangan tersebut, salah satu produsen otomotif asal Tiongkok, Chery, menunjukkan sikap yang kooperatif dan ikhlas terhadap keputusan pemerintah. Budi Darmawan Jantania, selaku Vice Country Director PT Chery Sales Indonesia (CSI), menyatakan bahwa Chery sepenuhnya mendukung kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah nasional. Ia meyakini bahwa setiap keputusan yang diambil oleh pemangku kepentingan pasti telah melalui perhitungan dan pertimbangan yang matang. "Ya pada intinya sih kita support, karena kita kan sebagai pemain otomotif tentunya harus ngikutin kebijakan yang telah diputuskan nasional," ujar Budi Darmawan Jantania saat ditemui di Semarang, Jawa Tengah. Sikap ini mencerminkan pemahaman bahwa sebagai pelaku bisnis di suatu negara, kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan pemerintah adalah sebuah keharusan.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai tingkat "kerelaan" terhadap penghentian insentif ini, Budi mengaku menerima keputusan tersebut. Menurutnya, penghapusan insentif ini berlaku secara nasional dan akan berdampak pada seluruh merek otomotif yang ada di Indonesia. Ia berpandangan bahwa para konsumen yang memiliki niat untuk membeli mobil baru kemungkinan besar akan tetap melakukan pembelian, terlepas dari adanya insentif atau tidak, meskipun mungkin akan ada penyesuaian dalam perencanaan pembelian mereka. "Kita sebagai pemain ya ikut aja, kebijakannya seperti apa, kita support aja. Karena ini nggak berlaku untuk satu brand aja. Jadi berlaku secara umum," jelasnya. Pernyataan ini menyiratkan bahwa dampak negatif dari penghentian insentif akan dirasakan secara merata oleh semua produsen, sehingga tidak ada satu pihak pun yang merasa dirugikan secara spesifik dibandingkan yang lain. Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa Chery tidak melihat keputusan ini sebagai hambatan khusus bagi mereka, melainkan sebagai bagian dari dinamika pasar yang harus dihadapi bersama.
Keputusan pemerintah untuk mengalihkan anggaran insentif otomotif ke pengembangan mobil nasional (mobnas) ini memang merupakan sebuah pergeseran strategi yang signifikan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, secara eksplisit menegaskan hal ini. Ia menyatakan bahwa penghentian insentif otomotif tahun ini didasari oleh fokus pemerintah untuk melahirkan kendaraan nasional yang mampu bersaing di pasar. Pernyataan ini disampaikan Airlangga Hartarto saat acara peresmian pabrik VinFast di Subang, Jawa Barat. "Anggaran insentif mobil listrik mau dialihkan ke mana? Anggarannya tentu kita punya perencanaan mobil nasional (fokus pada mobil nasional-Red), sehingga kita bisa belajar sebetulnya dari VinFast," ujar Airlangga saat ditemui di lokasi acara. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah melihat pengembangan mobnas sebagai sebuah prioritas strategis untuk jangka panjang, yang membutuhkan alokasi sumber daya yang memadai.

Airlangga Hartarto lebih lanjut menjelaskan bahwa pemerintah sedang dalam proses aktif untuk mewujudkan konsep mobil nasional. Ia mengungkapkan harapan besar agar kendaraan nasional ini dapat segera terealisasi dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong kemandirian industri otomotif nasional, mengurangi ketergantungan pada impor, dan menciptakan lapangan kerja serta nilai tambah di dalam negeri. Proyek mobnas ini diharapkan tidak hanya menjadi produk otomotif semata, tetapi juga menjadi simbol kemajuan teknologi dan kemampuan industri dalam negeri. Pemerintah tampaknya ingin mengulang atau bahkan melampaui kesuksesan yang pernah diraih oleh negara lain dalam mengembangkan industri otomotif nasional mereka, seperti yang disinggung melalui contoh VinFast.
Pergeseran fokus dari insentif untuk mobil listrik ke pengembangan mobnas ini menimbulkan berbagai spekulasi dan pertanyaan mengenai strategi jangka panjang pemerintah. Insentif mobil listrik sebelumnya bertujuan untuk mendorong adopsi kendaraan ramah lingkungan dan mengurangi emisi karbon. Dengan dialihkannya dana tersebut, ada kekhawatiran bahwa momentum transisi ke kendaraan listrik bisa sedikit melambat, setidaknya dalam jangka pendek. Namun, pemerintah tampaknya memiliki pandangan bahwa pengembangan mobnas dapat menjadi katalisator bagi inovasi di sektor otomotif secara keseluruhan, termasuk potensi untuk mengintegrasikan teknologi elektrifikasi ke dalam desain mobnas itu sendiri.
Reaksi dari produsen otomotif lain yang beroperasi di Indonesia pun kemungkinan akan beragam. Beberapa mungkin akan mengeluhkan hilangnya stimulus yang berdampak langsung pada penjualan mereka. Mereka mungkin akan berusaha untuk mengoptimalkan strategi pemasaran dan penjualan mereka tanpa adanya dukungan pemerintah. Di sisi lain, produsen yang memiliki visi jangka panjang untuk pasar Indonesia mungkin akan melihat peluang dalam pengembangan mobnas. Jika mobnas berhasil diciptakan dan diterima pasar, hal ini bisa membuka peluang kolaborasi, kemitraan, atau bahkan substitusi komponen yang dapat dimanfaatkan oleh produsen yang sudah ada.
Proses pengembangan mobnas sendiri bukanlah hal yang mudah. Ia membutuhkan investasi besar dalam riset dan pengembangan, pembangunan fasilitas produksi, serta pembentukan rantai pasok yang kuat. Selain itu, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat mobnas ini dapat diterima oleh pasar, baik dari segi harga, kualitas, desain, maupun fitur. Tanpa daya saing yang jelas, proyek mobnas berisiko menjadi proyek mercusuar yang tidak berkelanjutan. Pengalaman negara lain seperti India dengan merek Tata dan Maruti Suzuki, atau Korea Selatan dengan Hyundai dan Kia, bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.
Peran serta industri swasta, baik produsen lokal maupun asing, akan sangat krusial dalam mewujudkan mobnas. Pemerintah mungkin akan menawarkan skema kemitraan, insentif khusus untuk pengembangan teknologi, atau bahkan penugasan kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki kapabilitas. Keterlibatan produsen asing seperti Chery, yang menunjukkan sikap kooperatif, bisa menjadi indikasi awal bahwa mereka terbuka untuk berpartisipasi dalam ekosistem mobnas yang akan dibentuk pemerintah, mungkin melalui transfer teknologi atau lokalisasi produksi komponen.
Secara keseluruhan, keputusan pemerintah untuk mengalihkan insentif otomotif ke pengembangan mobil nasional menandai sebuah era baru dalam peta jalan industri otomotif Indonesia. Langkah ini menunjukkan ambisi pemerintah untuk tidak hanya menjadi pasar otomotif yang besar, tetapi juga menjadi produsen yang mampu menciptakan produknya sendiri. Keberhasilan rencana ini akan sangat bergantung pada eksekusi yang matang, dukungan industri yang kuat, dan penerimaan pasar yang positif. Produsen seperti Chery, dengan sikap suportifnya, bisa menjadi salah satu aktor penting dalam mewujudkan visi mobnas Indonesia. Sementara itu, dampak langsung pada pasar dalam jangka pendek perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik oleh semua pihak yang terlibat. Perjalanan menuju mobnas yang sukses dipastikan akan penuh tantangan, namun juga menyimpan potensi besar bagi kemajuan industri otomotif nasional.

