Selain dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Elon Musk juga kini menyandang gelar sebagai salah satu tokoh paling tidak disukai secara global. Seberapa banyak sentimen negatif terhadap Elon Musk? Angka-angka terbaru yang dirilis oleh Gallup poll memberikan gambaran yang jelas dan mengejutkan tentang persepsi publik Amerika terhadap sang visioner kontroversial tersebut. Jajak pendapat ini, yang melibatkan warga Amerika untuk memberikan pendapat mereka tentang 14 tokoh penting yang menjadi sorotan berita, baik di Amerika Serikat maupun secara internasional, mengungkap posisi Musk yang berada di ujung spektrum ketidaksukaan.
Dalam jajak pendapat yang dilakukan antara 7 Juli dan 21 Juli 2024—sebuah periode krusial yang mencakup berbagai dinamika politik dan sosial—Paus Leo XIV menduduki peringkat paling disukai. Pemimpin umat Katolik tersebut berhasil mengumpulkan sentimen positif dari mayoritas responden, dengan 57% warga Amerika memandangnya secara positif dibandingkan hanya 11% yang memandangnya secara negatif. Ini menghasilkan skor disukai bersih yang sangat impresif, yaitu +46, menunjukkan penerimaan universal dan citra yang sangat positif di mata publik.
Kontras mencolok terlihat pada Elon Musk. Sosok pemilik X, Tesla, dan SpaceX ini memperoleh peringkat positif hanya sebesar 33%, sementara peringkat negatifnya melonjak hingga 61%. Angka-angka ini menghasilkan skor disukai bersih yang mengejutkan, yaitu -28. Skor ini bukan hanya menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Musk, tetapi juga menempatkannya di posisi yang lebih rendah dibandingkan beberapa tokoh lain yang dikenal sangat memecah belah opini publik.
Sebagai perbandingan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seorang figur yang sangat kontroversial dan sering menjadi sasaran kritik tajam di panggung internasional, memiliki skor positif bersih -23. Ini berarti, menurut warga Amerika, Elon Musk dipandang kurang disukai daripada Netanyahu. Temuan ini sangat signifikan mengingat Netanyahu adalah pemimpin negara yang terlibat dalam konflik berkepanjangan dan kerap memicu perdebatan sengit.
Presiden Donald Trump, figur yang dikenal dengan basis pendukung yang sangat fanatik namun juga penentang yang sangat vokal, juga menempati posisi yang lebih tinggi dari Musk. Trump, yang setara dengan Senator Marco Rubio, memiliki peringkat positif bersih -16. Angka ini semakin menegaskan bahwa bahkan di antara tokoh-tokoh politik yang paling memecah belah sekalipun, Elon Musk berhasil menarik lebih banyak sentimen negatif secara keseluruhan. Ini mengindikasikan bahwa ketidaksukaan terhadap Musk melampaui garis-garis politik tradisional, menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas.
Di ujung spektrum popularitas yang lebih positif, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berada tepat di bawah Paus dengan skor positif bersih +18. Popularitas Zelensky yang tinggi dapat diatribusikan pada perannya sebagai simbol perlawanan dan kepemimpinan di tengah invasi Rusia. Diikuti oleh Senator Vermont Bernie Sanders dengan peringkat positif bersih +11, yang konsisten dengan citranya sebagai politikus yang peduli terhadap isu-isu keadilan sosial dan ekonomi.
Beberapa tokoh lain menunjukkan dinamika yang berbeda. Anggota DPR New York Alexandra Ocasio-Cortez dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, khususnya, masing-masing dipandang hampir sama dalam hal positif versus negatif, dengan persentase besar responden tidak memiliki pendapat tentang keduanya. Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin memiliki basis pendukung dan penentang yang seimbang, atau kurang dikenal secara luas oleh seluruh spektrum pemilih Amerika.
Tokoh-tokoh terkemuka lainnya yang termasuk dalam jajak pendapat tersebut mencakup Menteri Kesehatan dan Pelayanan Sosial Robert F. Kennedy Jr. dengan skor -5, mantan Presiden Joe Biden dengan -11, Wakil Presiden JD Vance dengan -11, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dengan -12. Angka-angka ini menunjukkan bahwa politisi, terlepas dari afiliasinya, cenderung memiliki skor negatif bersih karena sifat pekerjaan mereka yang memang memecah belah opini publik. Namun, posisi Musk yang jauh di bawah mereka semua tetap menonjol. Demikian melansir KRON4 News.
Mengapa Elon Musk Begitu Dibenci? Menganalisis Akar Ketidaksukaan Publik
Pertanyaan besar yang muncul dari hasil jajak pendapat ini adalah: mengapa Elon Musk, seorang inovator yang memimpin perusahaan-perusahaan revolusioner seperti Tesla, SpaceX, dan Neuralink, serta pengusaha yang mengubah X (sebelumnya Twitter), bisa menjadi begitu tidak disukai? Ada beberapa faktor kompleks yang berkontribusi pada persepsi negatif publik terhadapnya.
1. Akuisisi dan Manajemen X (Twitter):
Sejak akuisisi Twitter pada akhir tahun 2022, Elon Musk telah menjadi pusat badai kontroversi. Keputusannya untuk mengganti nama platform menjadi X, pemecatan massal karyawan, perubahan kebijakan moderasi konten yang drastis, dan pengembalian akun-akun kontroversial telah memicu kemarahan luas. Banyak pengguna, pengiklan, dan kritikus menuduhnya telah mengubah platform menjadi sarang disinformasi, ujaran kebencian, dan konten ekstrem. Narasi "kebebasan berbicara absolut" yang diusungnya seringkali dianggap sebagai dalih untuk membiarkan konten berbahaya berkembang biak, sehingga mengikis kepercayaan publik terhadap platform tersebut dan secara langsung merusak citra Musk. Eksodus pengiklan dan penurunan pendapatan X juga menjadi bukti nyata dari dampak negatif keputusannya.
2. Pernyataan dan Perilaku Kontroversial:
Musk dikenal karena postingan di media sosialnya yang provokatif, seringkali tidak sensitif, dan terkadang menyerang. Ia terlibat dalam "perang budaya" secara terbuka, mengkritik apa yang ia sebut sebagai "wokeness" dan ideologi progresif. Pernyataan-pernyataan ini, yang seringkali disampaikan tanpa filter, telah mengasingkan banyak orang yang tidak setuju dengan pandangan politik atau sosialnya. Dari cuitan tentang politik global hingga komentar pribadi yang dipertanyakan, Musk seringkali tampak sengaja memicu kontroversi, yang pada akhirnya memperkuat citra negatifnya.
3. Janji yang Tidak Terpenuhi dan Hiperbola:
Meskipun Musk memiliki rekam jejak inovasi yang luar biasa, ia juga dikenal sering membuat janji-janji ambisius yang belum terwujud, seperti fitur Full Self-Driving Tesla yang sempurna atau kolonisasi Mars dalam waktu dekat. Bagi sebagian orang, retorika hiperbolanya mulai terdengar kosong, dan kegagalan untuk memenuhi ekspektasi yang tinggi dapat menimbulkan kekecewaan dan sinisme. Ini menciptakan persepsi bahwa ia lebih suka berbicara besar daripada benar-benar mewujudkannya secara konsisten.
4. Citra Miliarder dan Kesenjangan Sosial:
Sebagai orang terkaya di dunia, Musk menjadi simbol ekstrem dari kesenjangan kekayaan yang semakin lebar. Di tengah krisis ekonomi dan sosial global, gaya hidupnya yang mewah dan sikapnya yang kadang terkesan meremehkan masalah-masalah sosial memicu kebencian. Banyak yang melihatnya sebagai bagian dari elit yang terputus dari realitas kehidupan sehari-hari kebanyakan orang. Keputusannya untuk membeli Twitter dengan harga fantastis di saat banyak orang berjuang, atau komentarnya tentang bekerja keras tanpa henti, seringkali dilihat sebagai bentuk ketidakpekaan.
5. Kontroversi Etika di Perusahaan:
Selain X, perusahaan-perusahaan lain di bawah kendalinya juga tidak luput dari kontroversi. Tesla, misalnya, menghadapi kritik terkait kondisi kerja di pabriknya, masalah keamanan fitur Autopilot, dan tuduhan diskriminasi. Neuralink, perusahaan teknologi otaknya, juga menghadapi pengawasan ketat terkait etika pengujian pada hewan. Kontroversi-kontroversi ini menambah daftar alasan bagi publik untuk memandang Musk secara negatif, terutama bagi mereka yang peduli terhadap hak-hak pekerja, keselamatan, dan etika ilmiah.
6. Peran dalam Geopolitik (Starlink):
Keterlibatan Starlink (anak perusahaan SpaceX) dalam konflik di Ukraina, termasuk keputusannya untuk membatasi akses atau menolak permintaan tertentu dari pihak Ukraina, menempatkan Musk dalam posisi yang sulit. Perannya sebagai pengendali infrastruktur komunikasi krusial dalam perang menimbulkan pertanyaan tentang kekuasaan individu dan implikasinya terhadap kedaulatan negara, yang memicu kritik dari berbagai pihak.
Dampak Ketidaksukaan Publik
Meskipun Elon Musk seringkali tampak tidak peduli dengan persepsi publik, ketidaksukaan yang meluas ini dapat memiliki konsekuensi. Citra negatif dapat memengaruhi merek perusahaannya, terutama Tesla dan X, dalam jangka panjang. Potensi untuk menarik talenta terbaik mungkin berkurang jika calon karyawan tidak ingin diasosiasikan dengan citra Musk yang kontroversial. Selain itu, sentimen publik yang negatif dapat memicu pengawasan regulasi yang lebih ketat dan tekanan dari aktivis atau kelompok kepentingan.
Namun, bagi sebagian pendukungnya, sifat kontroversial Musk justru menjadi daya tarik. Mereka melihatnya sebagai sosok yang berani melawan arus, menantang kemapanan, dan berbicara terus terang. Ini menunjukkan bahwa meskipun Musk adalah salah satu tokoh paling tidak disukai, ia juga memiliki basis pengagum yang kuat dan setia.
Fenomena Elon Musk ini mencerminkan era modern di mana tokoh publik, terutama yang memiliki kekayaan dan pengaruh besar, menjadi objek polarisasi yang ekstrem. Media sosial memperkuat baik pujian maupun kritik, menciptakan lingkungan di mana individu dapat dengan cepat menjadi pahlawan bagi sebagian orang dan musuh bagi yang lain.
Pada akhirnya, hasil Gallup poll ini adalah cerminan jujur dari pandangan publik Amerika terhadap Elon Musk. Skor -28 bukan sekadar angka; itu adalah indikasi kuat bahwa, untuk setiap inovasi brilian atau visi futuristik yang ia tawarkan, ada harga yang harus dibayar dalam bentuk sentimen negatif yang mendalam dan meluas. Pertanyaannya, apakah Musk akan mengubah pendekatannya atau terus merangkul perannya sebagai ikon yang sangat dicintai sekaligus sangat dibenci? Sejarah menunjukkan ia cenderung memilih yang terakhir.

