BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Jose Mourinho, sang pelatih ikonik Benfica, menunjukkan ketenangan luar biasa saat timnya dijadwalkan kembali bertemu dengan raksasa Spanyol, Real Madrid, dalam babak playoff 16 besar Liga Champions. Pertemuan kedua tim ini bukan sekadar duel sepak bola, melainkan juga ajang nostalgia bagi Mourinho, yang pernah menukangi Real Madrid dengan catatan prestasi gemilang.
Undian babak playoff 16 besar Liga Champions telah mempertemukan kembali Benfica dengan Real Madrid. Pertarungan sengit ini dijadwalkan akan berlangsung dalam dua leg. Leg pertama akan digelar di kandang Benfica pada tanggal 18 Februari, diikuti dengan leg kedua di markas Real Madrid pada tanggal 26 Februari. Laga ini diprediksi akan penuh drama dan tensi tinggi, mengingat sejarah kedua klub dan ambisi masing-masing.
Menariknya, kedua tim baru saja saling berhadapan dalam laga penutup fase grup Liga Champions pada Kamis (29/1) dini hari WIB. Dalam pertandingan yang penuh kejutan tersebut, Benfica berhasil menaklukkan Real Madrid dengan skor meyakinkan 4-2. Gol penentu kemenangan Benfica dicetak secara dramatis oleh kiper Trubin melalui sundulan di detik-detik akhir pertandingan. Kemenangan ini tidak hanya memastikan Benfica lolos ke babak playoff sebagai peringkat kedua, tetapi juga turut menyeret Real Madrid ke babak yang sama, sekaligus membuka jalan bagi Manchester City untuk mengamankan posisi puncak klasemen grup.
Menanggapi hasil undian yang mempertemukannya kembali dengan mantan klubnya, Jose Mourinho memilih untuk tidak terlalu merespons secara emosional terkait Liga Champions. Sebaliknya, ia justru menunjukkan fokus penuh pada persiapan timnya untuk menghadapi Tondela dalam lanjutan Liga Portugal akhir pekan ini. Melalui unggahan di media sosial, Mourinho membagikan foto dirinya yang sedang duduk di ruang kerjanya, sibuk menyusun strategi. Keterangan singkat yang menyertai foto tersebut, "Life goes on," mencerminkan sikapnya yang pragmatis dan profesional.
Saat ini, Benfica menduduki peringkat ketiga klasemen sementara Liga Portugal dengan mengoleksi 45 poin dari 19 pertandingan. Tim asuhan Mourinho ini masih tertinggal 10 poin dari pemuncak klasemen, Porto. Fokus pada kompetisi domestik tampaknya menjadi prioritas utama bagi Mourinho, meskipun tantangan besar di Liga Champions sudah di depan mata.
Meskipun demikian, kemenangan 4-2 atas Real Madrid di fase grup bisa menjadi modal berharga dan inspirasi bagi skuad Benfica. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa tim memiliki potensi untuk memberikan perlawanan sengit kepada tim sekaliber Real Madrid. Namun, Los Blancos tentu tidak akan tinggal diam. Mereka akan berjuang mati-matian untuk memperebutkan tiket ke babak 16 besar, dan diprediksi akan tampil dengan kekuatan penuh untuk membalas kekalahan mereka.
Bagi Jose Mourinho, kembali ke Santiago Bernabeu di leg kedua akan menjadi momen emosional yang tak terlupakan. Ia pernah membesut Real Madrid selama periode 2010-2013, di mana ia berhasil mempersembahkan gelar La Liga dan Copa del Rey. Pengalamannya di klub ibu kota Spanyol ini tentu memberinya pemahaman mendalam tentang kekuatan dan kelemahan tim tersebut.
Bahkan, Mourinho pernah mengungkapkan bahwa dirinya pernah diminta kembali melatih Real Madrid oleh Presiden Florentino Perez. Pengakuan ini semakin menambah dimensi menarik pada pertemuannya kembali dengan klub yang pernah ia tangani. Dalam sebuah wawancara beberapa tahun lalu, Mourinho menjelaskan pandangannya mengenai masa baktinya di Madrid.
"Di Madrid, saya berhasil melakukan segalanya kecuali membangun skuad yang bersatu," ujar Mourinho, merujuk pada tantangan yang dihadapinya dalam menyatukan berbagai karakter pemain di tim. Ia menambahkan bahwa pada tahun 2015, Florentino Perez sempat menghubunginya dengan niat untuk membawanya kembali ke Santiago Bernabeu. "Saya tahu, dia menyukai saya," tambahnya, mengisyaratkan adanya hubungan baik yang masih terjalin antara dirinya dan presiden Real Madrid.
Lebih lanjut, Mourinho menceritakan detail percakapannya dengan Perez. "Dia menelepon saya, mengatakan bahwa beberapa pemain yang ‘buruk’ harus disingkirkan seperti Casillas, Ramos, Marcelo, dan Pepe," ungkap Mourinho. Namun, ia memberikan respons yang tegas, "Saya balas, itu sudah terlambat," menandakan bahwa ia merasa situasi saat itu sudah berbeda dan sulit untuk melakukan perubahan drastis seperti yang diinginkan Perez. Pernyataan ini mengindikasikan kompleksitas hubungan dan dinamika internal di Real Madrid, serta keyakinan Mourinho pada keputusannya sendiri.
Pertemuan antara Benfica dan Real Madrid di playoff 16 besar Liga Champions ini tidak hanya akan menjadi ajang adu taktik antara dua pelatih berpengalaman, tetapi juga akan menjadi panggung bagi Jose Mourinho untuk menghadapi masa lalunya. Dengan sikapnya yang "chill", Mourinho seolah menunjukkan bahwa ia siap menghadapi tantangan ini dengan tenang dan profesional, mengandalkan pengalaman dan strategi yang telah teruji. Kemenangan atas Real Madrid di fase grup bisa menjadi bukti nyata bahwa Benfica, di bawah asuhan Mourinho, memiliki potensi untuk memberikan kejutan besar di panggung Eropa.

