0

Arteta: Saya dan Pep Seperti Nadal Vs Federer

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Mikel Arteta, juru taktik Arsenal, mengakui adanya perseteruan yang sehat dengan Pep Guardiola, mentor sekaligus rivalnya di kancah sepak bola Inggris. Namun, ia menegaskan bahwa rivalitas ini tidak lebih dari sekadar persaingan profesional yang dilandasi rasa hormat, layaknya duel legendaris antara Rafael Nadal dan Roger Federer di dunia tenis. Hubungan profesional yang dijalin keduanya ini justru menjadi bukti pentingnya menjaga relasi yang baik dalam dunia olahraga, terlepas dari sengitnya persaingan di lapangan hijau.

Sejak meninggalkan posisinya sebagai asisten manajer di Manchester City pada tahun 2019, Mikel Arteta telah berhadapan langsung dengan Pep Guardiola, sosok yang membesarkannya dalam dunia kepelatihan. Persaingan keduanya semakin terasa tajam ketika Arsenal, di bawah arahan Arteta, menjelma menjadi penantang serius bagi Manchester City dalam perebutan gelar juara Liga Inggris. Sayangnya, hingga saat ini, Arteta belum mampu menaklukkan dominasi Guardiola, terbukti dengan dua kali kegagalannya meraih gelar juara, di mana Arsenal harus puas berada di posisi runner-up. Musim 2022/2023 menjadi salah satu yang paling menyakitkan bagi Arteta dan para pendukung Arsenal, di mana timnya hanya terpaut dua poin dari Manchester City di pekan terakhir, sebuah ironi yang menunjukkan betapa tipisnya jarak antara kedua tim.

Musim ini, rivalitas tersebut kembali memanas dan menjadi sorotan utama, terutama ketika Arsenal berhasil mendominasi klasemen Liga Inggris hingga pekan ke-23, bahkan sempat unggul empat poin atas Manchester City. Performa Arsenal yang stabil dan konsisten sepanjang musim tersebut menuai kekaguman dari Pep Guardiola sendiri. Namun, di mata sebagian pengamat, dinamika persaingan ini kerap dianggap sebagai bentuk "psy war" atau perang urat syaraf yang dilancarkan oleh seorang guru kepada muridnya. Kendati demikian, Arteta terlihat tidak terlalu memusingkan persepsi tersebut. Fokus utamanya adalah membawa Arsenal tampil semaksimal mungkin di setiap pertandingan, mengabaikan segala bentuk spekulasi dan narasi di luar lapangan.

Bagi Arteta, Pep Guardiola bukan hanya sekadar rival yang harus dikalahkan, melainkan juga seorang mentor yang sangat ia hormati. Ia secara gamblang menyamakan rivalitas mereka dengan perseteruan abadi antara Roger Federer dan Rafael Nadal di dunia tenis, dua ikon yang telah menghadirkan 42 gelar Grand Slam dan menciptakan rivalitas yang paling dikenang dalam sejarah olahraga. "Bagi saya, menjaga hubungan dengannya itu tidak mengejutkan. Justru jika saya menjauh, maka itu akan menjadi contoh yang buruk di olahraga ini. Di dunia olahraga, Anda harus banyak belajar, dan pelajaran terbesarnya adalah sebuah hubungan, contoh Rafa Nadal dan Roger Federer," ujar Arteta dalam sebuah wawancara dengan ESPN.

Arteta melanjutkan, ia memahami bahwa rivalitas yang sehat dalam olahraga adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia menganggap dirinya belum mencapai level yang sama dengan Federer dan Nadal, namun ia mengambil pelajaran dari bagaimana kedua petenis legendaris itu saling berhadapan di final-final besar, dengan segala tensi dan gengsi yang menyertainya, namun tetap mampu menjaga hubungan baik di luar lapangan. "Saya belum mencapai level itu. Tapi salah satu rivalitas terhebat di dunia, dua atlet terhebat, bagaimana hubungan keduanya ketika sama-sama bertemu di final, saling berhadapan. Jadi, bagaimana mungkin saya tidak mau menjalin hubungan baik dengan seseorang yang saya kagumi, bekas rekan kerja pula? Tapi ini juga berlaku dengan lawan lainnya. Namun, ketika di lapangan, semuanya ingin menang," tegasnya.

Pernyataan Arteta ini mencerminkan pandangan yang matang tentang esensi persaingan dalam dunia olahraga. Ia tidak melihat kekalahan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan diri. Hubungan baik dengan rival, bahkan dengan mentor yang kini menjadi lawan, adalah bukti kedewasaan dan profesionalisme yang patut dicontoh. Ia menyadari bahwa di balik setiap pertandingan yang sengit, terdapat nilai-nilai sportivitas dan rasa hormat yang harus tetap dijaga.

Lebih lanjut, Arteta juga menyoroti pentingnya membangun fondasi yang kuat dalam hubungan profesional. Pengalamannya bekerja di bawah asuhan Guardiola di Manchester City telah memberinya banyak pelajaran berharga, baik dari sisi taktik maupun mentalitas. Pelajaran-pelajaran inilah yang kini ia terapkan dalam memimpin Arsenal, dengan harapan dapat membawa klub berprestasi dan bersaing di level tertinggi. Ia mengakui bahwa Guardiola adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam perkembangannya sebagai pelatih, dan ia merasa beruntung memiliki kesempatan untuk belajar langsung dari salah satu pelatih terbaik di dunia.

Namun, ketika peluit dibunyikan dan pertandingan dimulai, semua elemen persahabatan dan kekaguman harus dikesampingkan sejenak. Fokus beralih sepenuhnya pada kemenangan. Setiap tim dan setiap pelatih memiliki ambisi yang sama untuk meraih tiga poin, untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik. Ini adalah sifat alami dari kompetisi, di mana keinginan untuk menang menjadi motivasi utama. Arteta memahami sepenuhnya dinamika ini dan siap menghadapi segala tantangan yang ada.

Perbandingan dengan Nadal dan Federer bukan sekadar retorika kosong. Keduanya adalah contoh nyata bagaimana rivalitas yang sengit dapat melahirkan prestasi luar biasa, namun juga dapat diiringi dengan rasa hormat yang mendalam. Federer dan Nadal telah menunjukkan kepada dunia bahwa persaingan di puncak tidak harus diwarnai dengan permusuhan, melainkan dapat menjadi ajang pembuktian diri yang elegan. Arteta, dengan gayanya sendiri, berusaha meniru filosofi tersebut dalam dunia sepak bola. Ia ingin membuktikan bahwa seorang pelatih dapat menjadi rival yang tangguh di lapangan, namun tetap menjaga hubungan yang baik dan saling menghargai di luar itu.

Dampak dari pernyataan Arteta ini tentu akan terus terasa dalam perbincangan mengenai persaingan Arsenal dan Manchester City. Ia berhasil memberikan perspektif yang lebih luas tentang apa arti sebenarnya dari rivalitas yang sehat. Ini bukan hanya tentang siapa yang memenangkan pertandingan, tetapi juga tentang bagaimana para individu yang terlibat menjalani proses persaingan tersebut. Pengakuan dan rasa hormat yang ditunjukkan Arteta kepada Guardiola adalah cerminan dari nilai-nilai luhur dalam dunia olahraga.

Pada akhirnya, apa yang diperlihatkan oleh Mikel Arteta adalah sebuah pelajaran berharga bagi para penggemar sepak bola dan pegiat olahraga pada umumnya. Rivalitas adalah bagian tak terpisahkan dari olahraga, namun ia tidak harus menjadi sumber kebencian atau permusuhan. Sebaliknya, ia dapat menjadi katalisator untuk peningkatan diri, sumber inspirasi, dan bahkan dapat mempererat tali silaturahmi antarindividu. Dengan menyamakan perseteruannya dengan Pep Guardiola dengan rivalitas Nadal dan Federer, Arteta telah memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana persaingan di level tertinggi dapat dijalani dengan penuh kehormatan dan profesionalisme. Ini adalah sebuah pendekatan yang patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi generasi pelatih dan atlet di masa depan.