0

Harga Memori Melonjak, iPhone Jadi Korban?

Share

Jakarta – Apple, raksasa teknologi global yang dikenal dengan inovasi dan dominasi pasarnya, baru-baru ini mengumumkan kinerja keuangan kuartal pertama yang luar biasa. Angka-angka pendapatan yang fantastis ini menjadi bukti kekuatan merek dan daya tarik produk-produknya di tengah pasar yang kompetitif. Perusahaan bahkan memproyeksikan pertumbuhan yang signifikan, mencapai 13% hingga 16% pada kuartal berjalan. Namun, di balik gemilangnya laporan keuangan tersebut, tersimpan sebuah tantangan besar yang berpotensi menghambat laju Apple: ketersediaan komponen dan lonjakan harga memori. Sebuah pertanyaan besar pun mencuat: apakah kenaikan harga memori ini akan menjadikan iPhone sebagai "korban" dalam bentuk kenaikan harga atau keterbatasan pasokan?

Menurut Apple, penjualan mereka sebenarnya bisa jauh lebih baik lagi seandainya perusahaan mampu mengamankan pasokan chip yang cukup untuk memenuhi permintaan iPhone yang membengkak. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Keuangan Apple, Kevan Parekh. "Kami memperkirakan total pendapatan perusahaan untuk kuartal Maret akan tumbuh 13% hingga 16% dari tahun ke tahun, angka ini sudah memperhitungkan estimasi terbaik terkait kendala pasokan iPhone selama kuartal tersebut," ujar Parekh, mengindikasikan bahwa tanpa kendala pasokan, potensi pertumbuhan bisa lebih tinggi lagi. Pernyataan ini secara implisit menunjukkan betapa besar dampak hambatan rantai pasokan terhadap potensi pendapatan Apple, bahkan ketika permintaan pasar tetap kuat.

Para analis keuangan dan teknologi, yang selalu jeli mengamati pergerakan pasar, tidak melewatkan isu ini. Mereka mengajukan serangkaian pertanyaan tajam kepada CEO Apple, Tim Cook, mengenai akses perusahaan terhadap komponen memori. Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Harga komponen memori, khususnya DRAM (Dynamic Random-Access Memory) dan NAND Flash, telah melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga ini dipicu oleh tingginya permintaan chip yang diperlukan untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat di seluruh dunia. Ledakan kebutuhan akan chip AI ini kemudian menyebabkan kelangkaan memori di pasar global, mempengaruhi hampir setiap pembuat perangkat elektronik.

Fenomena lonjakan harga memori ini merupakan dampak langsung dari revolusi AI yang sedang berlangsung. Permintaan akan komputasi bertenaga tinggi untuk melatih model-model AI, menjalankan inferensi, dan mengelola data dalam skala besar telah mendorong permintaan DRAM dan NAND Flash ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pusat data yang dulunya hanya membutuhkan memori dalam jumlah tertentu kini membutuhkan kapasitas memori yang masif, seringkali menggunakan teknologi memori canggih seperti High Bandwidth Memory (HBM) yang terintegrasi langsung dengan GPU (Graphics Processing Unit) untuk mempercepat pemrosesan data AI. Kompetisi sengit untuk mendapatkan pasokan memori ini tidak hanya memengaruhi harga, tetapi juga ketersediaan bagi produsen perangkat lain, termasuk Apple.

Menariknya, Tim Cook awalnya mengalihkan fokus dari masalah memori. Ia menyebutkan bahwa hal yang paling menghambat Apple dalam memproduksi lebih banyak iPhone adalah akses ke manufaktur node canggih untuk chip seri A dan seri M mereka. Chip-chip ini, yang dikenal perusahaan sebagai SoC (System-on-Chip), merupakan jantung dari perangkat iPhone dan Mac, yang mengintegrasikan berbagai komponen penting seperti CPU, GPU, dan unit pemrosesan neural ke dalam satu paket silikon yang sangat efisien.

Apple memproduksi chip node canggihnya melalui Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), perusahaan pengecoran semikonduktor terbesar dan paling maju di dunia. TSMC dikenal sebagai pemimpin dalam teknologi proses manufaktur terkecil dan paling efisien, seperti 3nm atau 5nm, yang sangat krusial untuk performa dan efisiensi daya perangkat Apple. "Kendala yang kami hadapi disebabkan oleh ketersediaan node canggih tempat SoC kami diproduksi dan saat ini, kami melihat fleksibilitas rantai pasokan lebih rendah dari biasanya, sebagian dikarenakan permintaan kami yang meningkat," kata Cook. Pernyataan ini menyoroti kompleksitas dan ketergantungan Apple pada kemampuan produksi TSMC yang sangat spesifik dan terbatas. Proses manufaktur chip canggih ini melibatkan investasi triliunan dolar, keahlian teknik yang sangat tinggi, dan peralatan super presisi seperti mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV), yang hanya segelintir perusahaan di dunia yang mampu mengoperasikannya.

Meskipun Cook pada awalnya menekankan masalah manufaktur chip node canggih, ia akhirnya mengakui bahwa Apple akan terdampak oleh kenaikan harga memori. Ini adalah pengakuan penting yang menunjukkan bahwa meskipun fokus utama mungkin pada SoC, masalah memori tidak bisa diabaikan. Cook menyatakan bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk menangani situasi ini. Namun, ia menolak untuk berbicara secara spesifik mengenai bagaimana Apple menangani kelangkaan yang dipicu oleh permintaan AI, yang kini memengaruhi hampir setiap pembuat perangkat di dunia. "Seperti biasa, kami akan melihat berbagai opsi untuk menanganinya," kata Cook, yang dikutip detikINET dari CNBC, menunjukkan sikap hati-hati namun strategis dalam menghadapi tantangan ini.

Pengakuan Cook juga mencakup linimasa dampak kenaikan harga memori. Ia mengatakan bahwa kenaikan harga memori memiliki dampak minimal pada Apple di kuartal Desember (kuartal pertama fiskal Apple), tetapi akan memberikan efek yang lebih besar di kuartal Maret (kuartal kedua fiskal). Pergeseran dampak ini menunjukkan bahwa tekanan harga memori adalah masalah yang berkembang dan bukan sekadar anomali sesaat. Bagi Apple, peningkatan biaya komponen dapat diterjemahkan menjadi beberapa skenario: margin keuntungan yang lebih rendah jika mereka menyerap biaya tambahan, kenaikan harga jual produk kepada konsumen, atau bahkan keterbatasan pasokan iPhone jika mereka tidak dapat mengamankan volume memori yang cukup. Inilah yang membuat pertanyaan "iPhone jadi korban?" menjadi sangat relevan.

Dalam jangka panjang, Apple tidak hanya berdiam diri. Perusahaan telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat rantai pasokannya dan mengurangi ketergantungan pada satu wilayah atau pemasok. Tahun lalu, Apple mengumumkan akan membelanjakan lebih dari $600 miliar di AS selama lima tahun. Sebagian besar dari jumlah tersebut ditujukan kepada segelintir perusahaan yang telah berkomitmen untuk memproduksi chip di Amerika Serikat. Ini termasuk TSMC, yang secara historis melakukan sebagian besar manufakturnya di Taiwan.

Investasi besar-besaran ini mencerminkan upaya Apple untuk mendiversifikasi basis manufakturnya dan membangun ketahanan rantai pasokan di tengah ketegangan geopolitik dan pelajaran dari krisis pasokan global sebelumnya. Dengan mendorong produksi chip di AS, Apple berharap dapat mengurangi risiko yang terkait dengan konsentrasi produksi di satu wilayah geografis, serta mendapatkan keuntungan dari insentif pemerintah AS yang bertujuan untuk mempromosikan manufaktur semikonduktor domestik. Cook bahkan mengungkapkan bahwa Apple menargetkan untuk memperoleh 20 miliar chip dari AS pada tahun 2025, angka yang lebih tinggi dari target perusahaan sebelumnya yaitu 19 miliar chip AS. Peningkatan target ini menunjukkan komitmen serius Apple terhadap strategi lokalisasi dan diversifikasi.

Namun, membangun fasilitas manufaktur chip canggih di AS bukanlah tugas yang mudah. Selain investasi finansial yang masif, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun pabrik, melatih tenaga kerja, dan mencapai kapasitas produksi penuh. Sementara itu, tekanan dari lonjakan harga memori dan keterbatasan pasokan SoC node canggih akan terus menjadi tantangan langsung yang harus dihadapi Apple.

Secara keseluruhan, Apple menghadapi dilema yang kompleks. Di satu sisi, permintaan pasar untuk produk-produknya, terutama iPhone, tetap sangat kuat. Di sisi lain, hambatan rantai pasokan, baik dari ketersediaan SoC node canggih maupun lonjakan harga memori yang dipicu oleh permintaan AI, mengancam untuk membatasi potensi pertumbuhan dan menekan margin keuntungan. Meskipun Apple memiliki sumber daya finansial yang luar biasa dan strategi jangka panjang yang ambisius untuk mengatasi masalah ini, dampaknya terhadap iPhone – baik dalam bentuk harga yang lebih tinggi untuk konsumen atau ketersediaan produk yang terbatas – adalah kemungkinan yang tidak dapat diabaikan. Pertanyaan apakah iPhone akan menjadi korban dari dinamika pasar semikonduktor yang bergejolak ini akan terus menjadi sorotan utama di masa mendatang.

(fyk/asj)