0

Ammar Zoni Memohon: Saya Bukan Penjahat, Jangan Kembalikan ke Nusakambangan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah pusaran kasus dugaan peredaran narkoba yang masih bergulir, aktor Ammar Zoni tak henti-hentinya menyuarakan permohonannya kepada pihak berwenang. Sidang yang dijalaninya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada Kamis (28/1/2026), menjadi momen krusial bagi mantan suami Irish Bella ini untuk menyampaikan isi hatinya. Usai persidangan, Ammar Zoni dengan nada lirih dan penuh harap mengungkapkan kondisi serta keinginannya yang mendalam. Ia secara tegas membantah anggapan bahwa dirinya adalah penjahat besar dan memohon agar tidak dikembalikan ke Lapas Nusakambangan, tempat yang menurutnya tidak proporsional dengan kasus yang tengah dihadapinya.

"Tidak ada ancaman apa pun dari semua proses ini," ujar Ammar Zoni dengan suara yang sedikit bergetar, menjawab pertanyaan awak media mengenai potensi ancaman pasca dirinya memberikan keterangan di persidangan. "Kami sangat berharap Pak Dirjen bisa memberikan waktu dan kesempatan agar kuasa hukum serta orang terdekat saya bisa datang bertemu. Saya berharap Pak Dirjen mau melihat hal ini dengan hati terbuka." Permohonan ini bukan sekadar kata-kata hampa, melainkan luapan dari keputusasaan dan kerinduan yang mendalam terhadap orang-orang yang dicintainya. Ia merasa terasing dan terisolasi, dan pertemuan dengan keluarga serta orang terdekat menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah badai yang tengah menerpanya.

Lebih lanjut, Ammar Zoni secara terbuka memohon agar dirinya tidak lagi dikirimkan ke Lapas Nusakambangan. Ia merasa penempatan di sana akan menjadi sebuah ketidakadilan yang luar biasa, sebuah hukuman yang tidak sebanding dengan perbuatannya. "Saya pribadi memohon agar tidak dikembalikan lagi ke Nusakambangan. Bagi saya, itu tidak proporsional. Saya bukan penjahat besar yang hidupnya harus dihancurkan seolah-olah seperti itu. Saya berharap keadilan bisa terbuka," ungkapnya dengan penuh penekanan. Ia menyadari kesalahannya, namun ia juga meyakini bahwa dirinya layak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan tidak diperlakukan seperti teroris atau gembong narkoba kelas kakap.

Kerinduan Ammar Zoni terhadap keluarga tampaknya menjadi penderitaan terbesarnya saat ini. Ia mengaku hampir tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang paling berarti dalam hidupnya. "Berikan kesempatan bagi saya untuk bertemu keluarga dan orang terdekat. Sampai saat ini, saya belum diberi waktu bertemu mereka, kecuali dengan kuasa hukum dan adik saya-itu pun adik saya jarang bisa berkunjung. Makanya saya berharap demikian," tuturnya dengan suara parau. Ia merindukan pelukan hangat ibunya, nasihat bijak ayahnya, dan tawa riang saudara-saudaranya. Di balik sorotan publik dan pemberitaan media, Ammar Zoni adalah seorang manusia yang membutuhkan dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.

Di tengah kesendiriannya, ada satu sosok yang senantiasa mendampinginya, yaitu dokter Kamelia. Ammar Zoni menyebutkan bahwa dokter Kamelia memiliki peran yang sangat penting dalam hidupnya saat ini. "Makanya saya berharap Dirjen bisa melihat ini. Saya saat ini cuma punya Matuo, Ibu, dan Dokter Kamelia. Mereka yang paling penting saat ini, yang mengurus dan berjuang untuk saya," ujarnya dengan rasa terima kasih yang mendalam. Dokter Kamelia tidak hanya menjadi penasihat medis, tetapi juga menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi Ammar Zoni. Keberadaannya memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya jeruji besi.

Ammar Zoni mengaku sudah sangat lelah secara mental. Beban pikiran dan kerinduan yang tak kunjung terobati telah menggerogoti semangatnya. Ia kembali menegaskan keinginannya untuk bisa bertemu dengan keluarganya, sebuah harapan yang tampaknya semakin menipis setiap harinya. "Saya sudah capek banget. Saya berharap bisa ketemu keluarga, karena selama ini cuma bisa ketemu di sini (pengadilan), dan sekarang sudah mau ditarik lagi," pungkas Ammar Zoni dengan nada pasrah. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kesempatan bertemu dengan keluarga yang selama ini ia nanti-nantikan, kini terancam hilang kembali, menambah beban psikologis yang ia rasakan.

Kasus Ammar Zoni ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap pemberitaan sensasional, terdapat sisi kemanusiaan yang perlu diperhatikan. Permohonan Ammar Zoni untuk tidak dikembalikan ke Nusakambangan dan keinginannya untuk bertemu keluarga, mencerminkan kebutuhan dasar setiap manusia akan dukungan sosial dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Kasus ini juga memunculkan pertanyaan tentang efektivitas sistem peradilan dan penempatan narapidana, serta sejauh mana aspek kemanusiaan dipertimbangkan dalam proses hukum. Ammar Zoni, dengan segala kesalahannya, berharap keadilan yang ia terima bukan hanya bersifat hukuman, tetapi juga memberikan ruang untuk rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Ia meyakini bahwa dengan dukungan yang tepat, ia bisa bangkit dan membuktikan bahwa dirinya bukanlah penjahat yang tak memiliki harapan.

Kondisi Ammar Zoni saat ini menjadi sorotan publik, dan banyak pihak yang menyoroti pentingnya keseimbangan antara penegakan hukum dan aspek kemanusiaan. Permohonan Ammar Zoni yang tulus untuk dapat bertemu dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya, serta keinginannya untuk tidak dikembalikan ke Lapas Nusakambangan, menunjukkan bahwa ia masih memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki diri dan kembali ke pangkuan masyarakat. Harapannya adalah agar pihak berwenang dapat mempertimbangkan permohonannya dengan bijak, memberikan kesempatan baginya untuk menjalani proses hukum dengan lebih baik, dan yang terpenting, memberinya ruang untuk berinteraksi dengan orang-orang yang bisa memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan saat ini.

Selama persidangan, Ammar Zoni terlihat lebih tenang namun tetap menunjukkan raut wajah yang penuh beban. Ia berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan lugas, namun matanya tak lepas dari harapan. Pernyataannya mengenai "Saya bukan penjahat besar" menjadi inti dari permohonannya. Ia ingin meyakinkan bahwa kesalahannya, meskipun serius, tidak mendefinisikan dirinya sebagai individu yang sepenuhnya jahat atau tak layak mendapatkan kesempatan kedua. Ia berjuang untuk citra dirinya, agar tidak tercap stempel permanen sebagai penjahat kelas kakap yang harus diasingkan di tempat terpencil seperti Nusakambangan.

Keberadaan dokter Kamelia dalam hidup Ammar Zoni saat ini menjadi simbol dukungan eksternal yang sangat krusial. Hal ini juga menunjukkan bahwa dalam kondisi terpuruk, kehadiran seorang profesional yang peduli dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Ammar Zoni sangat mengapresiasi perhatian dan perjuangan dokter Kamelia, serta dukungan dari keluarganya. Ia berharap, melalui permohonannya yang disampaikan secara terbuka, pihak Dirjen Pemasyarakatan dapat mendengar dan mempertimbangkan permohonannya demi kebaikan jangka panjangnya.

Perjuangan Ammar Zoni di pengadilan tidak hanya tentang membela diri dari tuduhan hukum, tetapi juga tentang memperjuangkan hak asasi manusianya untuk mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Permohonannya yang berulang kali disampaikan, tentang kerinduan pada keluarga dan penolakan terhadap penempatan di Nusakambangan, adalah cerminan dari kondisi psikologisnya yang membutuhkan perhatian khusus. Diharapkan, kasus ini dapat menjadi pembelajaran bagi sistem peradilan untuk selalu menyeimbangkan aspek penegakan hukum dengan nilai-nilai kemanusiaan, serta memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kebutuhan emosional dan psikologis para narapidana.

Pernyataan Ammar Zoni yang "sudah capek banget" menggambarkan beban mental yang luar biasa yang ia pikul. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius. Keinginan untuk bertemu keluarga bukan sekadar keinginan biasa, melainkan kebutuhan fundamental yang dapat membantunya melewati masa sulit ini. Kehadiran keluarga dapat memberikan kekuatan, motivasi, dan harapan, yang semuanya sangat penting dalam proses rehabilitasi.

Terlepas dari kasus hukum yang menjeratnya, Ammar Zoni tetaplah seorang manusia yang memiliki perasaan, harapan, dan keinginan untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Permohonannya yang tulus ini, semoga dapat menjadi pertimbangan penting bagi pihak berwenang dalam mengambil keputusan yang adil dan manusiawi. Kesempatan untuk bertemu keluarga dan menghindari penempatan di Nusakambangan, adalah langkah awal yang krusial bagi Ammar Zoni untuk dapat memulai proses perbaikan diri dan akhirnya kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif.