BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Musim hujan kali ini kembali menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pengendara di berbagai penjuru negeri. Genangan air yang menggenangi jalanan, selain mengganggu kelancaran lalu lintas, juga menyembunyikan ancaman serius berupa lubang-lubang menganga. Fenomena jalan berlubang yang semakin marak saat musim penghujan ini telah memakan banyak korban, mulai dari kerusakan ringan pada kendaraan hingga insiden yang lebih parah seperti pecahnya ban. Pengendara mobil maupun sepeda motor sama-sama dihadapkan pada risiko yang meningkat akibat kondisi infrastruktur jalan yang memburuk.
Menanggapi kondisi darurat ini, Erreza Hardian, seorang praktisi keselamatan berkendara yang juga aktif dalam Kebijakan dan Advokasi Berkendara di Direktorat Keselamatan Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI), memberikan serangkaian saran dan tips agar para pengendara dapat meminimalisir risiko saat melintasi jalanan yang rusak. Menurutnya, langkah paling ideal dan paling efektif untuk menjaga keselamatan adalah dengan sebisa mungkin menghindari perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, terutama jika kondisi cuaca dan jalanan sedang tidak bersahabat. "Buat pengemudi, banyak teknik yang bisa dipakai, paling akurat adalah usahakan tidak di jalan pada kondisi saat ini, kurangi mobilitas kalau bisa. Itu paling efektif menurunkan risiko. Atau gunakan transportasi umum opsi kedua," ujar Reza kepada detikOto, Kamis (29/1/2026).
Penekanan pada pengurangan mobilitas ini didasari oleh fakta bahwa semakin sedikit waktu yang dihabiskan di jalan, semakin kecil pula kemungkinan untuk terpapar bahaya jalan berlubang. Transportasi umum, dalam pandangan Reza, menjadi alternatif kedua yang patut dipertimbangkan ketika mobilitas tak terhindarkan. Penggunaan angkutan umum, seperti bus atau kereta api, dapat mengalihkan risiko kerusakan kendaraan dan potensi kecelakaan yang disebabkan oleh kondisi jalan yang buruk kepada pihak penyedia layanan transportasi.
Namun, jika terpaksa harus mengemudi dengan kendaraan pribadi, Reza menekankan pentingnya untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Salah satu strategi yang paling krusial adalah dengan mengurangi kecepatan kendaraan secara signifikan. "Kalau tetap harus mengemudi maka cara paling aman adalah dengan mengurangi kecepatan," tegasnya. Pengurangan kecepatan ini bukan sekadar imbauan, melainkan sebuah prinsip fundamental dalam keselamatan berkendara, terutama di kondisi jalan yang tidak pasti. Dengan melaju lebih lambat, pengendara memiliki waktu reaksi yang lebih banyak untuk "melihat, berpikir, dan bertindak".
"Lihat 2-3 mobil di depan kita tuh gerakan gimana, goyang-goyang artinya ada genangan, samakan (persepsi) dengan pasti ada lubang," jelas Reza mengenai pentingnya observasi lingkungan sekitar. Kemampuan untuk membaca situasi di depan, termasuk memperhatikan pergerakan kendaraan lain yang mungkin menunjukkan adanya genangan air atau guncangan, sangat vital. Genangan air seringkali menjadi penanda bahwa di bawahnya terdapat lubang yang bisa saja cukup dalam. Persepsi ini harus disamakan dengan kesadaran bahwa di balik genangan tersebut, kemungkinan besar terdapat lubang yang siap mengintai.
Selain itu, pengendara mobil juga dituntut untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai tipe ban yang terpasang pada kendaraannya. Pengetahuan ini sangat penting, terutama kaitannya dengan pengaturan tekanan angin. "Pengemudi mobil juga harus mengetahui tipe ban kendaraannya. Jika menggunakan ban radial, sesuaikan tekanan anginnya seperti rekomendasi pabrikan," imbuhnya. Ban radial, yang biasanya ditandai dengan kode "R" pada dindingnya, memiliki konstruksi yang berbeda, terutama pada bagian samping yang cenderung lebih tipis.
Penipisan pada dinding ban radial ini menjadikan tekanan angin yang tepat sebagai faktor krusial untuk menjaga integritas dan performa ban. "Ditulis di ban dengan kode R (berarti radial), konstruksi radial akan tipis di bagian samping maka penting untuk memastikan ukuran ban sesuai dengan alat ukur tekanan ban tentunya, dan standar ukuran ada di buku manual atau sisi pintu atau kalau di motor di bagian bodi tengah. Akan berbeda juga untuk muatan," papar Reza. Rekomendasi tekanan angin dari pabrikan biasanya tertera di buku manual kendaraan, stiker di pilar pintu, atau di bagian tengah bodi untuk sepeda motor. Penting untuk diingat bahwa tekanan angin yang direkomendasikan dapat bervariasi tergantung pada beban muatan kendaraan.
Fungsi suspensi yang diemban oleh ban ternyata seringkali terlupakan. Tekanan angin yang kurang optimal dapat mengganggu fungsi vital ini. "Menurut Reza, memastikan tekanan angin sesuai rekomendasi pabrikan penting karena ban punya fungsi suspensi. Kalau tekanan angin kurang, maka ban akan menekuk atau bahkan melipat ketika jalan tidak rata. Hal ini menjadi pemicu pecah ban," terangnya. Ketika tekanan angin terlalu rendah, ban akan lebih mudah menekuk atau bahkan melipat saat menabrak ketidakrataan jalan, seperti lubang. Peristiwa ini menciptakan gesekan internal yang berlebihan dan panas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan ban pecah.
Dampak buruk dari tekanan angin yang kurang ini semakin diperparah jika ban yang digunakan memiliki profil yang tipis. "Ukuran ban yang tipis juga akan membuat fungsi suspensi ini menjadi tidak efektif dan juga akan kena dinding velg, apalagi ini ditambah dengan kecepatan maka gaya yang bekerja akan berlipat seiring kecepatan," jelas Reza. Ban tipis, selain mengurangi kemampuan meredam guncangan, juga meningkatkan risiko benturan langsung antara ban dan velg. Ketika hal ini dikombinasikan dengan kecepatan tinggi, gaya yang bekerja pada komponen ban dan velg akan berlipat ganda, meningkatkan potensi kerusakan yang parah.
Lebih lanjut, Reza juga menyoroti dampak perjalanan yang seringkali melibatkan pengereman dan akselerasi berulang (stop and go), terutama dalam kondisi lalu lintas padat. "Kalau juga perjalanan panjang, stop and go, tekanan ban yang kurang itu akan menyebabkan panas maka jelas ban akan pecah dan jika velg tidak standar, maka akan juga rusak," ungkapnya. Dalam situasi seperti ini, ban yang kurang tekanannya akan lebih cepat panas akibat gesekan internal dan kerja ekstra saat pengereman dan akselerasi. Panas berlebih adalah musuh utama ban, yang dapat menyebabkan degradasi material dan pada akhirnya pecah. Kerusakan velg yang tidak standar juga menjadi risiko tambahan ketika ban tidak mampu menyerap guncangan dengan baik.
Berbeda dengan mobil yang memiliki lebih banyak ruang untuk manuver dan perlindungan, situasi bagi pengendara sepeda motor saat menghadapi jalan berlubang jauh lebih menantang. "Namun, Reza menyebut buat pemotor cukup sulit untuk menangani kondisi seperti ini. Menurutnya, pemotor perlu banyak belajar teknik berkendara," akuinya. Sifat motor yang lebih ramping dan terbuka membuat pengendara lebih rentan terhadap efek langsung dari guncangan jalan. Oleh karena itu, keterampilan berkendara yang mumpuni menjadi sangat esensial bagi para pengendara roda dua.
"Istilah kami para instruktur adalah upgrading skill. Ada teknik khusus dengan juga berbeda di setiap tipe motornya," ujar Reza, menekankan bahwa peningkatan keterampilan berkendara bukan hanya soal teori, tetapi juga praktik yang disesuaikan dengan jenis kendaraan. Teknik-teknik ini dirancang untuk membantu pengendara motor merespons kondisi jalan yang buruk dengan lebih efektif dan aman.
Salah satu teknik dasar yang dapat segera diterapkan oleh semua pengendara motor, menurut Reza, adalah dengan menjaga genggaman setang yang rileks. "Yang paling bisa cepat dan semua orang lakukan saat ini ya itu jangan terlalu kaku pegang setang motornya. Genggaman yang longgar, jangan menggenggam setang terlalu erat," sarannya. Genggaman yang terlalu kencang justru dapat membuat tubuh bagian atas menjadi kaku, sehingga setiap guncangan dari jalan akan langsung tersalurkan ke tubuh.
Sebaliknya, genggaman yang rileks memungkinkan motor untuk sedikit bergoyang mengikuti kontur jalan tanpa mentransfer seluruh gaya guncangan ke tubuh pengendara. "Genggaman yang rileks memungkinkan motor bergoyang sedikit tanpa mentransfer seluruh gaya ke tubuh bagian atas Anda," jelasnya. Ini adalah prinsip penting dalam menyerap energi dari guncangan jalan.
Selain itu, teknik lain yang dapat membantu adalah dengan sedikit berdiri di pijakan kaki. "Berdirilah sedikit di pijakan kaki (jika aman) untuk menggunakan kaki Anda sebagai peredam kejut sekunder, mencegah guncangan pada tubuh dapat mengurangi risiko terjatuh," tuturnya. Dengan sedikit mengangkat tubuh dari jok dan menumpu berat badan pada kaki yang sedikit ditekuk, kaki pengendara dapat berfungsi sebagai peredam kejut tambahan. Ini membantu mengurangi beban guncangan yang diterima oleh tulang belakang dan seluruh tubuh, sehingga meminimalkan risiko kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Pentingnya "upgrading skill" ini semakin relevan mengingat kondisi jalan yang semakin memburuk akibat curah hujan yang tinggi. Edukasi dan latihan teknik berkendara yang tepat bagi pengendara motor, di samping perbaikan infrastruktur jalan yang berkelanjutan, menjadi kunci utama untuk menekan angka kecelakaan dan kerusakan kendaraan selama musim hujan. Kesadaran akan risiko dan penerapan langkah-langkah pencegahan yang tepat, baik bagi pengendara mobil maupun motor, adalah investasi berharga untuk keselamatan di jalan.

