0

Tanpa Insentif Otomotif, Pameran IIMS 2026 Masih Tetap Ramai Pembeli?

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, sebuah ajang prestisius yang menjadi barometer perkembangan industri otomotif Tanah Air, dijadwalkan akan segera dibuka mulai minggu depan. Namun, di tengah ketidakpastian mengenai keberlanjutan pemberian insentif dari pemerintah untuk sektor otomotif, pertanyaan krusial muncul: akankah IIMS tahun ini tetap mampu menarik minat pembeli yang signifikan, atau justru akan mengalami penurunan daya tarik?

Daswar Marpaung, Presiden Direktur Dyandra Promosindo, perusahaan yang dipercaya sebagai penyelenggara pameran IIMS, menyuarakan optimisme yang kuat terkait prospek keramaian pengunjung dan transaksi pada IIMS 2026. Beliau menegaskan bahwa industri otomotif, khususnya segmen kendaraan listrik yang dalam beberapa tahun terakhir begitu gencar didukung oleh berbagai insentif, tidak seharusnya selamanya bergantung pada stimulus pemerintah. "Saya rasa kalau melihat (kepastian) insentif itu, mungkin kita tetap optimis saja ya," ujar Daswar dengan nada mantap kepada awak media di Jakarta pada Selasa, 27 Januari 2026. "Karena mungkin kan harga mobil listrik (sekarang) nggak terlalu mahal ya. Dan brand-brand-nya juga brand-brand kuat gitu." Pernyataan ini mengindikasikan keyakinan bahwa daya tarik produk otomotif modern, terutama kendaraan listrik, telah berkembang sedemikian rupa sehingga mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Lebih lanjut, Daswar memaparkan bahwa perhitungkan matang telah dilakukan oleh para pelaku industri. Insentif, menurutnya, lebih berfungsi sebagai "pendorong" awal yang bersifat sementara, bukan sebagai pondasi jangka panjang. "Dan insentif ini kan sebenarnya nggak selamanya harus ada, tapi kan in the moment, first 2-3 years akan dibantu oleh pemerintah. Dan saya rasa semua industri juga nggak berharap insentif itu selamanya, sehingga pasti ada akhirnya," jelasnya. Filosofi ini menunjukkan kesiapan industri untuk bertransformasi dan beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus berubah.

Meskipun demikian, Daswar tidak menampik adanya harapan dari para pelaku industri agar pemerintah tetap mempertimbangkan pemberian insentif. "Kita masih optimis. Walaupun tentunya kita masih berharap, industri masih berharap, pemerintah masih memberikan insentif, saya rasa masih terbuka soal peluang itu. Tapi walaupun tidak ada ya tetap harus jalan ya bisnisnya. Kan itu cuma adjustment aja dari semua harga," tegasnya. Kalimat terakhir ini menggarisbawahi bahwa ketidakadaan insentif mungkin hanya akan memerlukan penyesuaian kecil pada struktur harga, namun tidak akan menghentikan roda bisnis otomotif. Kesiapan untuk melakukan penyesuaian adalah kunci kelangsungan bisnis di tengah perubahan kebijakan.

Pemberitaan sebelumnya telah mengonfirmasi jadwal penyelenggaraan IIMS 2026, yang akan berlangsung mulai tanggal 5 hingga 15 Februari 2026, bertempat di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Target ambisius ditetapkan untuk pameran kali ini, yaitu meraup nilai transaksi sebesar Rp 8 triliun. Target ini mencakup tidak hanya penjualan unit kendaraan roda empat dan roda dua, tetapi juga merangkum seluruh ekosistem industri pendukungnya.

Rudi MF, Project Manager IIMS 2026, mengamini optimisme yang disuarakan oleh Daswar. "Target minimal transaksi berada di angka Rp 8 triliun, yang mencakup penjualan mobil, motor, dan industri pendukung," ungkap Rudi di Jakarta, pada hari yang sama, Selasa (27/1/2026). Kepercayaan diri Rudi diperkuat oleh tren positif dalam partisipasi peserta pameran tahun ini. Jumlah merek mobil, motor, serta industri pendukung yang mendaftar untuk turut serta dalam IIMS 2026 mengalami peningkatan signifikan.

"Terus untuk jumlah pengunjung, kita targetkan minimal di angka 575 ribu pengunjung," tambah Rudi, menguraikan target kuantitas pengunjung yang juga diproyeksikan akan meningkat. Peningkatan jumlah peserta dan target pengunjung ini menjadi indikator kuat bahwa antusiasme terhadap IIMS sebagai platform pameran dan transaksi otomotif tetap tinggi, terlepas dari isu insentif.

Sebagai gambaran lebih detail mengenai kemeriahan IIMS 2026, pameran ini akan dihadiri oleh deretan merek otomotif ternama dari seluruh dunia. Dari segmen roda empat, pengunjung akan dimanjakan dengan kehadiran merek-merek seperti Audi, BAIC, BMW, BYD, Changan, Chery, Citroen, Denza, DFSK, Ford, GAC, Geely, GWM, Honda, Hyundai, i-CAR, Jaecoo, Jeep, Jetour, KIA, Lepas, Maxus, Mazda, MG, Mercedes Benz, Mini, Mitsubishi, Nissan, Seres, Suzuki, Toyota, VW, Wuling, dan Xpeng. Keberagaman merek ini menunjukkan komitmen para produsen untuk terus hadir dan berinovasi di pasar Indonesia, serta memanfaatkan IIMS sebagai ajang unjuk gigi teknologi dan produk terbaru mereka.

Sementara itu, untuk kategori kendaraan roda dua, IIMS 2026 akan diramaikan oleh berbagai merek populer seperti AHM, Alva, Aprilia, Benda, Benelli, Indomobil E-Motor, Keeway, Morbidelli, Moto Guzzi, Pacific, Piaggio, Polytron, QJ Motor, Royal Enfield, Scomadi, United, Vespa, dan Yamaha. Rentetan merek ini mencerminkan kekayaan pilihan bagi para pecinta otomotif roda dua, mulai dari skuter matik yang praktis, sepeda motor sport yang bertenaga, hingga kendaraan listrik yang ramah lingkungan.

Kehadiran begitu banyak merek ternama ini tidak hanya sekadar pameran produk, tetapi juga mencerminkan geliat industri otomotif Indonesia yang terus bergerak maju. Para produsen menyadari bahwa IIMS bukan hanya ajang untuk memamerkan kendaraan, tetapi juga sebuah platform strategis untuk membangun brand awareness, menjalin interaksi langsung dengan konsumen, memahami preferensi pasar, serta meluncurkan produk-produk inovatif. Oleh karena itu, meskipun isu insentif menjadi sorotan, para pelaku industri tetap berkomitmen untuk hadir dan memberikan yang terbaik di IIMS 2026.

Analisis lebih mendalam mengenai optimisme Dyandra Promosindo dapat dilihat dari beberapa faktor. Pertama, tren pasar kendaraan listrik memang menunjukkan pertumbuhan yang positif, bahkan tanpa insentif yang berlebihan. Kesadaran konsumen akan isu lingkungan, efisiensi biaya operasional jangka panjang, dan kemajuan teknologi yang membuat performa kendaraan listrik semakin menjanjikan, menjadi daya tarik tersendiri. Merek-merek seperti BYD, Wuling, dan Hyundai yang telah memiliki lini produk kendaraan listrik yang kuat, diprediksi akan tetap menjadi primadona di pameran ini.

Kedua, IIMS 2026 tidak hanya fokus pada kendaraan listrik, tetapi juga merangkum seluruh spektrum industri otomotif. Kendaraan konvensional dengan teknologi mesin yang semakin efisien dan ramah lingkungan tetap menjadi pilihan mayoritas konsumen. Merek-merek besar seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki, yang memiliki pangsa pasar signifikan dengan produk konvensionalnya, dipastikan akan tetap menjadi magnet pengunjung. Penawaran produk yang beragam ini memastikan bahwa IIMS 2026 akan tetap relevan bagi berbagai segmen pasar.

Ketiga, pengalaman pengunjung di IIMS tidak hanya sebatas melihat dan membeli kendaraan. Pameran ini seringkali menyajikan berbagai hiburan, edukasi, serta program-program menarik lainnya yang mampu menciptakan pengalaman yang memorable. Aktivitas seperti test drive, pameran teknologi otomotif, kontes modifikasi, serta pertunjukan seni dan budaya, dapat menjadi daya tarik tambahan yang membuat pengunjung tetap antusias datang. Dyandra Promosindo, sebagai penyelenggara yang berpengalaman, kemungkinan besar akan terus menghadirkan elemen-elemen kejutan yang membuat IIMS 2026 menjadi lebih dari sekadar pameran otomotif biasa.

Keempat, kondisi ekonomi makro juga menjadi faktor penentu. Jika perekonomian Indonesia stabil dan daya beli masyarakat terjaga, maka permintaan terhadap kendaraan baru, baik konvensional maupun listrik, akan tetap tinggi. Pameran otomotif seperti IIMS seringkali menjadi momentum yang dimanfaatkan oleh konsumen untuk melakukan pembelian karena adanya penawaran khusus, diskon, atau paket pembiayaan menarik yang biasanya disediakan oleh agen pemegang merek dan lembaga keuangan selama pameran berlangsung.

Kelima, peran media dan influencer otomotif juga tidak bisa diabaikan. Kampanye promosi yang masif sebelum dan selama pameran, liputan mendalam dari media, serta ulasan positif dari para influencer otomotif, dapat secara signifikan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Hal ini akan membantu menjaga antusiasme publik terhadap IIMS 2026.

Menariknya, pernyataan Daswar Marpaung tentang industri otomotif yang tidak selamanya bergantung pada insentif justru bisa menjadi pandangan yang positif bagi industri itu sendiri. Ini menunjukkan kematangan industri yang siap bersaing berdasarkan kualitas produk, inovasi, dan nilai yang ditawarkan kepada konsumen, bukan semata-mata karena dorongan subsidi. Kesiapan ini akan mendorong para produsen untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk mereka agar tetap kompetitif di pasar global.

Dengan demikian, meskipun isu insentif menjadi topik hangat, optimisme yang dipancarkan oleh Dyandra Promosindo dan daftar panjang peserta yang berpartisipasi dalam IIMS 2026 memberikan sinyal kuat bahwa pameran ini akan tetap ramai dikunjungi pembeli. Keramaian ini tidak hanya didorong oleh keberadaan insentif, tetapi juga oleh kekuatan merek, inovasi produk, daya tarik pasar otomotif Indonesia yang terus berkembang, serta upaya penyelenggara dalam menciptakan pengalaman pameran yang tak terlupakan. IIMS 2026 diprediksi akan menjadi bukti nyata bahwa industri otomotif Indonesia mampu bangkit dan berkembang, bahkan di tengah perubahan kebijakan dan dinamika pasar yang terus berubah.