0

Meta Sebar Jutaan Dolar Demi Perbaiki Opini Publik Soal Data Center

Share

Raksasa teknologi Meta, yang menaungi platform global seperti Facebook dan Instagram, dikabarkan telah menggelontorkan jutaan dolar dalam sebuah kampanye masif untuk mengubah persepsi publik Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah meredakan penolakan dan memuluskan jalan bagi pembangunan fasilitas data center baru yang krusial bagi ekspansi bisnis mereka, terutama dalam ranah kecerdasan buatan (AI). Sepanjang beberapa bulan terakhir tahun 2025, perusahaan induk Mark Zuckerberg ini menghabiskan sekitar USD 6,4 juta, atau setara dengan lebih dari Rp 100 miliar, untuk serangkaian kampanye iklan yang tersebar di berbagai kota strategis, mulai dari Sacramento di California hingga ibu kota Washington.

Kampanye iklan Meta ini, yang dirancang untuk menarik perhatian dan simpati publik, dikemas dalam bentuk video pendek yang sederhana namun memiliki pesan yang kuat. Video-video tersebut menyoroti kisah-kisah sukses dan dampak positif keberadaan data center Meta di beberapa lokasi, seperti Altoona, Iowa, dan Los Lunas, New Mexico. Narasi utama yang ingin disampaikan adalah bahwa data center bukan hanya sekadar gedung industri, melainkan motor penggerak yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menghidupkan kembali komunitas pedesaan yang kerap terabaikan.

Salah satu iklan yang paling menonjol menampilkan kisah Altoona, sebuah kota kecil di Iowa yang digambarkan berada di ambang keterpurukan, nyaris ditinggalkan oleh penduduknya. Namun, dengan sentuhan magis dari narasi iklan, kehadiran data center Meta diceritakan membawa angin perubahan. Warga yang sempat pergi kini kembali berkumpul di rumah makan lokal, jalanan menjadi ramai, dan pertandingan sepak bola sekolah kembali dipenuhi sorak-sorai penonton. Kisah ini mencoba melukiskan gambaran ideal tentang bagaimana investasi teknologi raksasa dapat menjadi penyelamat ekonomi dan sosial bagi daerah-daerah terpencil.

Namun, sebagaimana dilaporkan oleh New York Times dan dikutip oleh The Verge, pendekatan yang diusung Meta ini dinilai terlalu idealistis dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas yang kompleks di lapangan. Di balik narasi "penyelamat komunitas," terdapat serangkaian isu pelik yang menjadi sumber utama penolakan publik terhadap pembangunan data center.

Meta pun tidak sendirian dalam menghadapi tantangan opini publik ini. Financial Times melaporkan bahwa sejumlah operator data center besar lainnya, seperti Digital Realty, QTS, dan NTT Data, juga tengah menyiapkan kampanye tersendiri. Mereka semua berjuang untuk membela pembangunan fasilitas baru di tengah meningkatnya gelombang penolakan masyarakat yang kian meluas. Industri data center secara keseluruhan kini berada di bawah pengawasan ketat, dan mereka harus bekerja keras untuk meyakinkan masyarakat bahwa manfaat yang ditawarkan lebih besar daripada potensi kerugiannya.

Tekanan terhadap industri ini semakin terasa setelah badai musim dingin yang baru-baru ini melanda Amerika Serikat. Badai tersebut secara brutal memperlihatkan kerapuhan jaringan listrik nasional. Sejumlah wilayah yang memiliki konsentrasi data center besar, yang seharusnya menjadi pusat kekuatan digital, justru mengalami tekanan pasokan listrik yang parah. Insiden ini memicu kekhawatiran serius soal ketahanan infrastruktur energi dan menimbulkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan model ekspansi data center yang ada saat ini.

Bagi raksasa teknologi seperti Meta, Microsoft, dan Google, data center berskala besar bukan sekadar infrastruktur tambahan, melainkan tulang punggung eksistensi dan ambisi mereka, terutama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Setiap algoritma AI yang semakin kompleks, setiap model bahasa besar yang dilatih, dan setiap interaksi pengguna di platform mereka, membutuhkan daya komputasi yang masif. Data center inilah yang menyediakan "otak" dan "tenaga" yang tak terhingga untuk memproses triliunan data setiap detiknya, memungkinkan inovasi AI yang kita saksikan hari ini. Tanpa data center yang terus bertumbuh dan beroperasi secara efisien, inovasi AI akan terhambat, dan daya saing mereka di kancah teknologi global bisa terancam.

Namun, sentimen publik terhadap proyek-proyek ini terus memburuk dengan cepat. Berbagai komunitas lokal, yang tersebar di seluruh spektrum politik, secara terang-terangan menentang pembangunan data center baru di wilayah mereka. Alasan penolakan ini beragam, tetapi yang paling sering disuarakan adalah kekhawatiran terhadap lonjakan biaya listrik yang tak terkendali dan konsumsi air dalam jumlah yang sangat besar.

Konsumsi Energi dan Beban Lingkungan yang Mengkhawatirkan

Data center modern, terutama yang dirancang untuk mendukung beban kerja AI yang intens, adalah "pabrik" listrik raksasa. Sebuah data center berskala besar dapat mengonsumsi energi setara dengan puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rumah tangga. Konsumsi listrik yang masif ini tidak hanya memberikan tekanan luar biasa pada jaringan listrik lokal yang mungkin sudah tua dan rentan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang jejak karbon. Meskipun banyak perusahaan teknologi besar berjanji untuk menggunakan energi terbarukan, realitasnya seringkali masih bergantung pada campuran energi dari jaringan listrik yang didominasi oleh bahan bakar fosil. Di daerah di mana pasokan listrik sudah terbatas, kehadiran data center dapat menyebabkan kenaikan tarif listrik bagi penduduk dan bisnis lokal, memicu ketidakpuasan dan rasa tidak adil.

Krisis Air di Tengah Ambisi Digital

Selain listrik, air adalah komoditas vital lainnya yang disedot habis-habisan oleh data center. Air digunakan secara ekstensif untuk sistem pendingin guna menjaga suhu server tetap optimal, mencegah overheating yang dapat merusak peralatan dan mengganggu operasional. Sistem pendingin berbasis evaporasi, misalnya, dapat mengonsumsi jutaan galon air setiap hari. Di wilayah yang rentan kekeringan, seperti beberapa bagian Arizona, Oregon, atau California, konsumsi air sebesar ini menjadi isu yang sangat sensitif. Hal ini menciptakan konflik langsung dengan kebutuhan air untuk pertanian, konsumsi rumah tangga, dan ekosistem lokal, memperparah masalah kelangkaan air yang sudah ada.

Jejak Fisik dan Sosial di Komunitas Lokal

Narasi Meta tentang "menghidupkan kembali komunitas pedesaan" juga sering dipertanyakan. Meskipun data center memang membawa investasi awal dan pekerjaan konstruksi, jumlah pekerjaan operasional jangka panjang yang diciptakan cenderung relatif sedikit dan seringkali membutuhkan keahlian khusus yang tidak selalu tersedia di komunitas lokal. Pekerjaan yang ada pun seringkali berupa posisi teknis yang tidak berinteraksi langsung dengan masyarakat luas.

Selain itu, data center seringkali berupa bangunan industri besar yang memakan lahan luas, mengubah lanskap pedesaan, dan kadang-kadang menghasilkan polusi suara dari sistem pendingin yang terus-menerus beroperasi. Komunitas lokal seringkali merasa bahwa mereka menanggung beban lingkungan dan sosial, sementara manfaat ekonomi jangka panjangnya tidak sebanding atau tidak merata. Insentif pajak yang ditawarkan pemerintah daerah kepada perusahaan data center juga seringkali menjadi kontroversi, karena dikhawatirkan mengikis basis pajak yang seharusnya dapat digunakan untuk layanan publik.

Dampak Nyata Penolakan Publik

Penolakan publik ini berdampak nyata pada laju ekspansi industri data center. Sejumlah proyek data center bernilai miliaran dolar dilaporkan tertunda atau bahkan dibatalkan di beberapa negara bagian, termasuk Oregon, Arizona, Missouri, Indiana, dan Virginia. Pembatalan ini bukan hanya kerugian finansial bagi perusahaan, tetapi juga dapat memperlambat inovasi di bidang AI dan membatasi kapasitas komputasi yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital.

Pertarungan untuk merebut hati dan pikiran publik ini jauh dari selesai. Bagi Meta dan perusahaan teknologi lainnya, tantangan terbesar bukan hanya membangun data center yang canggih secara teknis, tetapi juga membangun kepercayaan dan hubungan yang berkelanjutan dengan komunitas tempat mereka beroperasi. Masa depan industri data center, dan pada akhirnya masa depan AI itu sendiri, mungkin akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan, transparansi, dan manfaat ekonomi yang inklusif bagi semua pihak. Kampanye iklan jutaan dolar Meta hanyalah awal dari pertarungan panjang ini.