0

Benfica Bikin Real Madrid Tumbang di Liga Champions, Mourinho Bersinar

Share

Jakarta – Keajaiban Jose Mourinho di panggung Liga Champions kembali terulang, menciptakan salah satu kejutan terbesar di fase liga UEFA Champions League musim 2025/2026. Benfica, di bawah asuhan mantan pelatih Real Madrid itu, berhasil membungkam raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan skor meyakinkan 4-2 dalam laga pamungkas fase liga yang berlangsung dramatis pada Kamis (28/1/2026) dini hari WIB. Kemenangan luar biasa ini tidak hanya menyelamatkan Benfica dari ancaman eliminasi, tetapi juga secara mengejutkan memaksa Real Madrid, yang sebelumnya diunggulkan, untuk terjun ke babak play-off setelah finis di peringkat kesembilan klasemen akhir. Di balik hasil mengejutkan ini, sosok José Mourinho sekali lagi menjadi pusat perhatian, membuktikan bahwa sentuhan ‘The Special One’ masih sangat tajam di kompetisi elite Eropa.

Dinamika Fase Liga Baru dan Tingginya Taruhan

Musim 2025/2026 menandai era baru Liga Champions dengan format fase liga yang inovatif. Sebanyak 36 tim berkompetisi dalam satu klasemen tunggal, di mana delapan tim teratas otomatis melaju ke babak 16 besar, sementara tim peringkat 9 hingga 24 harus melewati babak play-off untuk memperebutkan delapan tiket tersisa. Bagi Real Madrid, sang juara bertahan dan kandidat kuat, posisi mereka sebelum laga ini relatif aman, namun kemenangan akan mengunci tempat di delapan besar dan menghindari babak play-off yang berisiko.

Sebaliknya, Benfica datang ke Santiago Bernabéu dengan beban yang jauh lebih berat. Berada di peringkat yang lebih rendah, mereka sangat membutuhkan poin penuh untuk setidaknya meraih tempat di zona play-off dan menghindari tersingkir dari kompetisi Eropa sama sekali. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan pertarungan hidup-mati bagi Benfica dan ujian mental bagi Real Madrid. Atmosfer di Bernabéu pun memanas, dengan para penggemar tuan rumah mengharapkan pesta kemenangan yang akan mengamankan posisi mereka.

Pertarungan Mentor Kontra Murid: Mourinho Melawan Arbeloa

Pertandingan ini memiliki dimensi emosional yang mendalam. Di satu sisi, ada José Mourinho, sosok legendaris yang pernah membawa Real Madrid meraih gelar La Liga dan membangun fondasi tim modern. Di sisi lain, ada Álvaro Arbeloa, mantan anak asuhnya yang kini menukangi Los Blancos. Mourinho dikenal dengan permainan psikologisnya, dan sebelum laga, ia sempat melontarkan pujian kepada Arbeloa, menyebutnya sebagai "salah satu anak saya." Komentar ini, yang mungkin terdengar sebagai bentuk apresiasi, secara tak langsung juga menambahkan tekanan pada Arbeloa untuk membuktikan diri di hadapan sang mentor.

Secara taktik, banyak yang menantikan bagaimana Mourinho akan meracik strategi untuk menghadapi tim yang ia kenal luar dalam. Sementara Arbeloa, sebagai pelatih muda, dihadapkan pada tantangan untuk menunjukkan bahwa ia mampu membawa Real Madrid tetap di jalur kemenangan, bahkan melawan salah satu maestro taktik terbesar dalam sejarah sepak bola.

Babak Pertama: Real Madrid Memimpin, Benfica Berjuang

Sejak peluit kick-off dibunyikan, Real Madrid, dengan dukungan penuh dari publik sendiri, menunjukkan dominasinya. Mereka bermain dengan intensitas tinggi, menguasai lini tengah, dan menciptakan beberapa peluang berbahaya. Tak butuh waktu lama, keunggulan Madrid pun tercipta. Sebuah skema serangan cepat dari sayap kanan berhasil membongkar pertahanan Benfica, dan penyerang andalan mereka sukses menuntaskan peluang dengan tembakan terukur yang tak mampu dihalau kiper Anatoliy Trubin. Skor berubah menjadi 1-0 untuk Real Madrid.

Gol ini semakin meningkatkan kepercayaan diri Los Blancos, yang terus menekan. Benfica, meskipun tertinggal, tidak menyerah begitu saja. Mereka mencoba untuk membalas, sesekali melancarkan serangan balik, namun lini pertahanan Real Madrid yang solid di bawah komando Arbeloa berhasil meredam setiap ancaman. Babak pertama berakhir dengan keunggulan tipis Real Madrid, namun Benfica menunjukkan tanda-tanda perlawanan yang gigih, menyiratkan bahwa pertandingan ini belum berakhir.

Drama Babak Kedua: Kartu Merah Mengubah Segalanya

Babak kedua menjadi saksi bisu salah satu comeback paling dramatis di Liga Champions musim ini. Real Madrid, yang awalnya nyaman dengan keunggulan, mulai merasakan tekanan dari Benfica yang tampil lebih agresif. Mourinho tampaknya telah memberikan instruksi khusus untuk meningkatkan intensitas dan pressing.

Titik balik pertandingan terjadi di pertengahan babak kedua, ketika Real Madrid harus bermain dengan sepuluh pemain setelah salah satu bek kunci mereka menerima kartu kuning kedua karena pelanggaran taktis yang keras. Kehilangan satu pemain jelas merugikan, namun drama belum berakhir. Hanya beberapa menit kemudian, gelandang energik Real Madrid juga diganjar kartu merah langsung karena protes berlebihan terhadap keputusan wasit. Seketika, Los Blancos terpaksa bermain dengan sembilan pemain.

Momen ini dimanfaatkan Benfica dengan sempurna. Dengan keunggulan jumlah pemain, mereka mengintensifkan serangan. Mourinho dengan cepat melakukan penyesuaian taktik, memasukkan pemain-pemain menyerang dan menginstruksikan timnya untuk mengeksploitasi celah di pertahanan Madrid yang kini pincang. Gol demi gol tercipta. Sebuah tendangan keras dari luar kotak penalti berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, diikuti oleh sundulan terarah dari striker Benfica yang membalikkan keadaan menjadi 2-1. Momentum sepenuhnya berada di pihak tim tamu, dan Bernabéu terdiam. Benfica tak berhenti sampai di situ, memanfaatkan kelengahan di pertahanan Madrid, mereka menambah keunggulan menjadi 3-2.

Viral Gol Kiper di Menit 98 Jadi Penutup Ajaib

Atmosfer stadion memuncak ketika laga memasuki masa injury time. Real Madrid, meskipun bermain dengan sembilan orang, mencoba melancarkan serangan terakhir demi menyamakan kedudukan. Namun, justru Benfica yang kembali menciptakan keajaiban.

Drama mencapai puncaknya pada menit ke-98. Benfica mendapatkan tendangan sudut terakhir. Dalam sebuah keputusan yang berani dan gila, kiper Benfica, Anatoliy Trubin, ikut naik ke kotak penalti lawan, meninggalkan gawangnya yang kosong. Seluruh mata tertuju pada bola yang melambung tinggi. Tak disangka, Trubin berhasil menyambut umpan silang dengan sundulan keras yang bersarang telak ke gawang Real Madrid. Gol langka dari seorang kiper ini mengunci kemenangan Benfica menjadi 4-2. Bernabéu terhenyak, sementara bangku cadangan Benfica dan para pemain di lapangan meledak dalam euforia yang tak terkendali. Gol ini langsung viral dan disebut sebagai salah satu momen paling gila dan tak terlupakan di Liga Champions musim ini, mengukir namanya dalam sejarah kompetisi.

Konsekuensi Pasca-Laga: Pukulan Berat bagi Real Madrid

Hasil ini menjadi pukulan mental yang telak bagi Real Madrid. Tim asuhan Álvaro Arbeloa, yang sebelumnya dijagokan melaju mulus ke fase gugur, harus puas finis di peringkat kesembilan klasemen fase liga. Ini berarti mereka harus menjalani babak play-off yang penuh risiko untuk menjaga asa mempertahankan gelar juara mereka. Kekalahan di kandang sendiri dengan cara yang begitu dramatis dan disaksikan oleh sang mantan pelatih jelas meninggalkan luka yang dalam dan memunculkan pertanyaan besar tentang kesiapan tim menghadapi tantangan selanjutnya. Tekanan besar kini menanti Arbeloa dan skuadnya.

Di sisi lain, bagi Benfica, kemenangan ini adalah kebangkitan yang luar biasa. Dari posisi yang terancam eliminasi, mereka berhasil mengamankan tempat di babak play-off, menunjukkan semangat juang dan kualitas yang tak terduga. Ini adalah dorongan moral yang sangat besar bagi klub dan para penggemar mereka.

Mourinho Kembali Menghantui Mantan Klub, Mengukir Legenda

Kemenangan ini terasa semakin spesial karena Benfica kini ditangani oleh José Mourinho. The Special One kembali menunjukkan kelasnya dengan racikan taktik yang efektif, kemampuan adaptasi di tengah pertandingan, dan semangat pantang menyerah yang ia tanamkan ke dalam skuadnya. Melawan mantan klubnya dan mantan anak asuhnya sendiri, Mourinho tak memberi ampun, menunjukkan bahwa loyalitas di lapangan hijau adalah tentang kemenangan.

Kemenangan ini semakin memperkuat reputasinya sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia, terutama dalam pertandingan-pertandingan krusial Liga Champions. Banyak yang menilai sang pelatih masih memiliki "DNA Eropa" yang kuat, sebuah istilah yang merujuk pada kemampuannya untuk meraih sukses di kompetisi kontinental yang paling bergengsi.

Respon Viral di Media Sosial: Puji-Pujian untuk Mourinho

Warganet langsung membanjiri Mourinho dengan pujian, membuat namanya trending di berbagai platform media sosial. Banyak yang menilai sang pelatih masih memiliki sentuhan magis di Liga Champions.

"Salut sama Mourinho yg bisa bawa benfica dari rank 29 ke 24 dan bisa ke babak play off. Padahal lawan nya madrid," puji akun @Nyimakajja, menyoroti perjalanan impresif Benfica di bawah asuhan Mourinho.

"Sebelum tanding Mou bilang ‘Arbeloa itu kayak anak gue’, biasalah psywar khas dia. Ternyata pak Arbe disekolahin bener ama Mourinho. Madrid kalah segala-galanya. Kalah gol, cara main, psywar (kartu merah dua), dan hebatnya Benfica bisa ke playoff karena menang lawan Madrid," kata @BWayne2002, menyoroti duel mentor-murid yang dimenangkan Mourinho.

"Mourinho lawan Arbeloa ni ibarat pelatih lisensi lawan guru PJOK," ujar @biankeladii, dengan nada humor yang menggambarkan dominasi taktik Mourinho.

"Kocak bgt bintang2 Madrid ga berkutik di hadapan Mourinho wkwk," kata @wobowobow, menunjukkan kekagetan atas performa Real Madrid yang di luar ekspektasi.

"Fix, Mourinho bener bener ngayamin Madrid cokk sampe di gol in sama kiper wkwkwkw lucuu banget dunia ini," ucap @mhmdbimchyd, menekankan betapa luar biasanya gol kiper yang menjadi penutup kekalahan Madrid.

Kemenangan dramatis Benfica atas Real Madrid di Liga Champions ini akan dikenang sebagai salah satu malam paling tak terlupakan dalam sejarah kompetisi. Ini adalah bukti nyata bahwa dalam sepak bola, apapun bisa terjadi, dan sentuhan seorang jenius taktik seperti José Mourinho masih mampu menciptakan keajaiban. Bagi Real Madrid, ini adalah pengingat pahit bahwa gelar tidak datang dengan mudah, sementara bagi Benfica, ini adalah awal dari sebuah mimpi baru di Liga Champions.

(afr/afr)