0

Setahun Trump Berkuasa, Musk Sampai Zuckerberg Raup Rp 4.100 T

Share

Setahun setelah Donald Trump dilantik sebagai presiden ke-47 Amerika Serikat pada Januari 2025, lanskap ekonomi dan kekayaan pribadi para elite teknologi di negara tersebut telah mengalami transformasi signifikan. Dalam kurun waktu dua belas bulan pemerintahan Trump, beberapa nama paling berpengaruh di Silicon Valley, termasuk Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg, dilaporkan telah meraup kekayaan pribadi yang mencapai angka fantastis, dengan total gabungan sekitar USD 250 miliar, atau setara dengan Rp 4.194 triliun (mengacu pada kurs Rp 16.776 per USD). Angka monumental ini menjadi sorotan utama, mencerminkan era di mana administrasi yang memprioritaskan miliarder, khususnya yang terkait dengan pertumbuhan teknologi Amerika, memberikan dampak langsung pada akumulasi kekayaan.

Laporan eksklusif dari Financial Times, yang kemudian dikutip oleh People dan diulas oleh detikINET, menyoroti bagaimana tokoh-tokoh kunci di balik raksasa teknologi seperti Tesla, Amazon, dan Meta, tidak hanya menyaksikan kenaikan valuasi perusahaan mereka, tetapi juga lonjakan dramatis dalam kekayaan personal. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari hubungan yang semakin erat antara para eksekutif teknologi dan lingkaran kekuasaan di Gedung Putih, diiringi kebijakan-kebijakan yang menguntungkan sektor teknologi.

Elon Musk: Sang Penasihat dan Rival yang Meraup Keuntungan Terbesar

Dari ketiga tokoh sentral yang disebutkan, Elon Musk, CEO Tesla, SpaceX, Neuralink, dan X (sebelumnya Twitter), mencatatkan peningkatan kekayaan terbesar. Sejak menghadiri pelantikan Trump pada Januari 2025, kekayaan pribadi Musk diperkirakan telah melambung hingga USD 234 miliar, atau sekitar Rp 3.926 triliun. Angka ini hampir setara dengan total gabungan kekayaan Bezos dan Zuckerberg, menggarisbawahi posisi unik Musk dalam ekosistem politik dan ekonomi AS.

Selama setahun terakhir, dinamika hubungan antara Musk dan Trump digambarkan sebagai perpaduan antara penasihat dekat dan lawan. Meskipun sempat diwarnai perselisihan di masa lalu, ketegangan di antara keduanya tampaknya mereda dalam beberapa bulan terakhir pemerintahan Trump. Kedekatan ini, baik dalam bentuk nasihat formal maupun interaksi informal, kemungkinan besar telah membuka jalan bagi kebijakan yang menguntungkan perusahaan-perusahaan Musk. Misalnya, Tesla bisa mendapatkan keuntungan dari insentif kendaraan listrik yang diperbarui atau regulasi lingkungan yang lebih longgar, sementara SpaceX mungkin menerima kontrak pemerintah yang lebih besar atau dukungan untuk eksplorasi luar angkasa. Platform X, di bawah kepemimpinan Musk, juga bisa diuntungkan dari kebijakan yang mempromosikan kebebasan berbicara yang lebih luas, menarik pengguna dan pengiklan yang mencari alternatif dari platform lain. Kenaikan kekayaan Musk yang luar biasa ini menjadi indikator kuat bagaimana pengaruh politik dan inovasi teknologi dapat berkonvergensi untuk menciptakan akumulasi modal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jeff Bezos: Mempererat Hubungan dengan Gedung Putih

Jeff Bezos, pendiri dan mantan CEO Amazon, juga menyaksikan peningkatan signifikan dalam kekayaan pribadinya, bertambah sekitar USD 15 miliar atau sekitar Rp 251,64 triliun sejak Januari 2025. Peningkatan ini sejalan dengan upaya Bezos untuk mempererat hubungannya dengan pemerintahan Trump. Laporan Financial Times mengungkap bahwa Bezos setidaknya telah melakukan dua kunjungan ke kediaman presiden di Florida, Mar-a-Lago, serta beberapa percakapan telepon langsung dengan presiden.

Hubungan yang hangat ini bukan tanpa timbal balik. Amazon, raksasa e-commerce dan komputasi awan, dilaporkan telah menyumbangkan miliaran dolar untuk investasi di Amerika Serikat, yang sejalan dengan agenda ekonomi Trump untuk mempromosikan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan domestik. Selain itu, Amazon juga menyumbangkan USD 1 juta (sekitar Rp 16,776 miliar) untuk dana pelantikan Trump, serta sejumlah dana yang tidak disebutkan nilainya untuk pembangunan ballroom Gedung Putih. Investasi dan kontribusi ini kemungkinan besar telah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi Amazon, baik dalam hal kebijakan antitrust, kontrak pemerintah (terutama untuk Amazon Web Services), maupun dukungan umum terhadap inovasi dan ekspansi bisnisnya di pasar domestik.

Mark Zuckerberg: Komitmen Investasi dan Kunjungan Strategis

Mark Zuckerberg, CEO Meta Platforms (induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp), juga mencatatkan peningkatan kekayaan pribadi sebesar USD 1,9 miliar, atau sekitar Rp 31,87 triliun, sejak pelantikan Trump. Seperti Bezos, Zuckerberg juga diketahui melakukan setidaknya dua kunjungan ke Mar-a-Lago, menandakan pentingnya menjaga komunikasi langsung dengan lingkaran kekuasaan.

Meta telah menunjukkan komitmen investasi yang besar di AS, dengan janji menanamkan hingga USD 600 miliar (sekitar Rp 10.065 triliun) di negara tersebut. Komitmen ini mencakup investasi dalam infrastruktur, pusat data, dan pengembangan teknologi baru, khususnya di bidang kecerdasan buatan (AI) dan metaverse. Selain itu, Meta juga menyumbangkan USD 1 juta (sekitar Rp 16,776 miliar) untuk dana pelantikan Trump. Investasi dan kontribusi ini dapat diterjemahkan menjadi dukungan kebijakan yang menguntungkan Meta, seperti regulasi yang lebih fleksibel untuk pengembangan AI, perlindungan data yang lebih jelas, atau bahkan perlakuan yang lebih lunak dalam isu-isu moderasi konten yang seringkali menjadi sorotan. Dalam era di mana teknologi dan politik semakin terjalin, akses dan komitmen investasi menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Para Eksekutif Lainnya: Apple, Google, OpenAI, dan TikTok

Fenomena akumulasi kekayaan dan penguatan hubungan dengan pemerintah tidak hanya terbatas pada Musk, Bezos, dan Zuckerberg. Eksekutif dari perusahaan teknologi terkemuka lainnya juga terlibat dalam jaringan pengaruh ini. Tim Cook, CEO Apple; Sundar Pichai, CEO Google; dan Sam Altman, CEO OpenAI, secara kolektif tercatat melakukan setidaknya enam kunjungan ke Mar-a-Lago, menunjukkan tingkat interaksi yang intens dengan administrasi Trump.

Apple, di bawah kepemimpinan Tim Cook, juga dilaporkan telah menginvestasikan USD 600 miliar (sekitar Rp 10.065 triliun) di AS dan berkontribusi pada pembangunan ballroom Trump. Sejak Januari 2025, saham Apple telah melonjak hampir 15%. Investasi ini kemungkinan besar didorong oleh kebijakan yang menguntungkan manufaktur domestik atau insentif pajak yang dirancang untuk menarik perusahaan kembali ke AS.

Google, dengan Sundar Pichai sebagai CEO, berkomitmen menyumbangkan USD 22 juta (sekitar Rp 368,07 juta) untuk pengerjaan ballroom Gedung Putih, selain USD 1 juta (sekitar Rp 16,776 miliar) untuk dana pelantikan. Saham Google sendiri mencatatkan kenaikan impresif sebesar 66% dalam setahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa meskipun Google sering menjadi target kritik terkait dominasi pasar, hubungan baik dengan pemerintah dapat membantu meredakan tekanan regulasi dan membuka peluang bisnis baru.

OpenAI, perusahaan pelopor di bidang kecerdasan buatan dengan Sam Altman sebagai CEO, mengalami pertumbuhan valuasi yang paling dramatis. Sebagai bagian dari konsorsium yang berkomitmen mengucurkan USD 500 miliar (sekitar Rp 8.388 triliun) untuk memperkuat infrastruktur AI AS, nilai perusahaan ini melonjak dari USD 157 miliar pada akhir 2024 menjadi sekitar USD 500 miliar saat ini. Dukungan pemerintah terhadap pengembangan AI, melalui pendanaan atau kebijakan yang memfasilitasi penelitian dan pengembangan, kemungkinan besar menjadi pendorong utama di balik lonjakan valuasi ini.

Meskipun CEO TikTok tidak disebutkan namanya secara spesifik dalam laporan, disebutkan bahwa perusahaan ini juga mencatat kenaikan valuasi nyata. Mengingat sejarah TikTok yang seringkali menjadi sasaran pengawasan ketat pemerintah AS terkait masalah keamanan data dan kepemilikan Tiongkok, kemungkinan besar hubungan dengan administrasi Trump telah membantu meredakan ketegangan dan menciptakan lingkungan operasi yang lebih stabil bagi platform media sosial tersebut. Ini bisa berupa jaminan keamanan data, kesepakatan operasional, atau bahkan penangguhan potensi larangan.

Simbiose Politik dan Teknologi: Sebuah Analisis

Lonjakan kekayaan pribadi para miliarder teknologi ini menggarisbawahi filosofi pemerintahan Trump yang secara eksplisit memprioritaskan pertumbuhan ekonomi melalui dukungan terhadap sektor bisnis besar, terutama teknologi. Kebijakan yang cenderung pro-bisnis, seperti potensi deregulasi, pemotongan pajak korporasi, atau insentif investasi domestik, dapat menciptakan lingkungan yang sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan raksasa ini.

Di sisi lain, para pemimpin teknologi ini juga menunjukkan kesediaan untuk berinvestasi besar-besaran di AS dan memberikan kontribusi finansial pada inisiatif pemerintah. Ini menciptakan hubungan timbal balik: pemerintah mendapatkan dukungan finansial dan narasi pertumbuhan ekonomi, sementara perusahaan teknologi mendapatkan akses, pengaruh, dan kebijakan yang menguntungkan. Pola ini memperlihatkan betapa eratnya jalinan antara kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi di era modern, di mana inovasi teknologi bukan hanya pendorong kemajuan, tetapi juga alat untuk mengumpulkan kekayaan dan pengaruh politik.

Dalam setahun pertama pemerintahan Trump yang kedua, narasi yang muncul adalah bahwa para raksasa teknologi tidak hanya beradaptasi dengan lanskap politik, tetapi juga secara aktif membentuknya. Dengan komitmen investasi triliunan rupiah dan hubungan langsung dengan presiden, mereka telah mengamankan posisi yang menguntungkan, memastikan bahwa inovasi dan ekspansi mereka terus didukung, dan pada gilirannya, memperkaya kekayaan pribadi mereka secara substansial. Ini adalah gambaran dari sebuah era di mana kekuasaan ekonomi dan politik berjalan beriringan, menghasilkan keuntungan besar bagi mereka yang berada di puncak piramida teknologi.