BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kekalahan dramatis Liverpool dari Bournemouth dengan skor 2-3 di Vitality Stadium pada Minggu, 24 Januari 2026, dini hari WIB, telah memicu sorotan tajam terhadap performa The Reds di semua lini. Pertandingan yang seharusnya menjadi momentum kebangkitan justru berujung pada kekecewaan mendalam bagi para penggemar, sekaligus mengkonfirmasi kekhawatiran banyak pengamat sepak bola mengenai inkonsistensi tim asuhan Juergen Klopp. Situasi ini bahkan memunculkan klaim dari legenda Liga Inggris, Alan Shearer, bahwa Liverpool "tampak tidak beres di segala lini."
Pertandingan ini sejatinya menampilkan perlawanan yang cukup sengit, namun Liverpool kembali menunjukkan kerentanan yang sama seperti di beberapa laga sebelumnya. Bournemouth, yang tampil dengan determinasi tinggi di hadapan publik sendiri, berhasil unggul dua gol terlebih dahulu melalui aksi Evanilson dan Alex Jimenez. Gol-gol tersebut lahir dari kesalahan-kesalahan defensif yang mudah dieksploitasi oleh tim tuan rumah, menunjukkan adanya celah signifikan dalam lini pertahanan The Reds. Kelemahan dalam penjagaan pemain dan organisasi pertahanan yang tidak rapat menjadi penyebab utama kebobolan gol-gol tersebut.
Meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan dengan mencetak gol balasan melalui Virgil van Dijk sebelum jeda turun minum, Liverpool gagal memanfaatkan momentum tersebut secara maksimal. Gol penyama kedudukan yang dicetak oleh Dominik Szoboszlai pada menit ke-80 sempat membangkitkan asa, namun euforia tersebut tidak berlangsung lama. Di menit-menit akhir pertandingan, Amine Adli berhasil mencetak gol kemenangan bagi Bournemouth, mengubur impian Liverpool untuk meraih poin di kandang lawan. Gol penentu ini semakin mempertegas masalah pertahanan Liverpool, yang kembali gagal mengantisipasi serangan lawan di saat-saat krusial.
Kekalahan ini menjadi kekalahan ketujuh Liverpool di Liga Inggris musim ini, sebuah catatan yang sangat mengkhawatirkan bagi tim yang seharusnya bersaing di papan atas. Performa yang tidak konsisten ini telah membuat mereka tertinggal jauh dari persaingan gelar juara, dan kini ancaman terbesar adalah kegagalan menembus zona Liga Champions. Alan Shearer, dalam analisisnya di BBC, secara gamblang mengungkapkan keprihatinannya. Ia menyoroti bahwa Liverpool melakukan terlalu banyak kesalahan, baik dalam transisi maupun dalam menjaga kedalaman pertahanan. "Mereka melakukan terlalu banyak kesalahan dan lemah dalam pertahanan, sebagaimana yang kita lihat pada proses gol kemenangan lawan," ujar Shearer.
Lebih lanjut, Shearer mengkritisi minimnya kreasi peluang dari permainan terbuka (open play) yang ditunjukkan oleh Liverpool. Meskipun mereka mampu mencetak dua gol melalui situasi bola mati, hal ini dianggap sebagai indikasi bahwa mereka kesulitan menciptakan ancaman nyata ketika pertandingan berlangsung normal. "Meskipun mereka berhasil mencetak dua gol melalui situasi bola mati, mereka tidak mampu menciptakan peluang yang cukup berarti melalui open play," tambahnya. Pernyataan ini menggarisbawahi masalah dalam membangun serangan yang efektif dan variatif, serta ketergantungan pada momen-momen set-piece.
Dampak dari kekalahan ini semakin terasa ketika melihat klasemen sementara Liga Inggris. Liverpool kini terperosok lebih jauh ke papan tengah, dan perjuangan mereka untuk sekadar finis di posisi empat besar, apalagi lima besar, akan menjadi sangat berat. Shearer menekankan bahwa tujuan utama Liverpool saat ini adalah menyelamatkan musim dengan lolos ke Liga Champions, namun ia juga mengakui bahwa pencapaian tersebut akan menjadi sebuah penurunan besar dibandingkan dengan performa gemilang yang mereka tunjukkan musim lalu. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap Liverpool musim ini jauh lebih rendah, dan mereka harus berjuang keras untuk sekadar mencapai target minimum.
Analisis mendalam dari Alan Shearer ini memberikan gambaran yang cukup komprehensif mengenai masalah yang dihadapi Liverpool. Inkonsistensi bukan hanya terjadi di satu atau dua lini, tetapi merata di seluruh aspek permainan. Mulai dari lini pertahanan yang rapuh, lini tengah yang kesulitan mengontrol permainan dan mendistribusikan bola secara efektif, hingga lini serang yang terkadang kesulitan menciptakan peluang dari permainan terbuka. Perluasan data dan analisis dari berbagai sumber, termasuk laporan pertandingan, statistik pemain, dan komentar para pakar, semakin memperkuat pandangan bahwa Liverpool sedang mengalami krisis performa yang multidimensional.
Salah satu faktor yang mungkin turut berkontribusi adalah kelelahan pemain akibat jadwal padat, namun hal ini tidak dapat sepenuhnya menjadi alasan atas performa yang buruk secara konsisten. Rotasi pemain yang kurang efektif atau strategi yang tidak mampu memberikan dampak positif juga bisa menjadi poin penting untuk dievaluasi. Selain itu, adanya beberapa pemain kunci yang mengalami penurunan performa atau cedera juga dapat memengaruhi stabilitas tim secara keseluruhan.
Perlu diingat bahwa Liverpool musim lalu tampil luar biasa dengan gaya permainan yang intens dan menekan. Namun, lawan-lawan kini telah lebih siap untuk menghadapi gaya tersebut, dan tim Liverpool sendiri tampaknya belum menemukan solusi atau variasi taktik yang memadai untuk mengatasi adaptasi lawan. Kegagalan dalam melakukan transisi dari bertahan ke menyerang dengan cepat dan efektif juga menjadi masalah yang sering terlihat. Pertahanan yang terbuka saat melakukan serangan balik menjadi rentan terhadap ancaman dari lawan.
Komentar Alan Shearer yang menyebut Liverpool "tak beres di semua lini" bukanlah sekadar pernyataan provokatif, melainkan refleksi dari realitas yang terjadi di lapangan. Data statistik menunjukkan penurunan dalam beberapa indikator kunci, seperti persentase penguasaan bola yang mungkin tidak lagi dominan, jumlah tembakan ke gawang yang berkurang, dan angka kebobolan yang meningkat. Analisis mendalam terhadap pertandingan demi pertandingan akan memperlihatkan pola-pola kesalahan yang berulang, yang mengindikasikan adanya masalah struktural dalam tim.
Dalam konteks sepak bola modern, di mana persaingan semakin ketat, ketidakberesan di satu lini saja sudah cukup untuk menggagalkan ambisi sebuah tim. Apalagi jika masalah tersebut merambah ke semua lini, maka tantangan untuk bangkit akan semakin besar. Juergen Klopp dan staf kepelatihannya kini dihadapkan pada tugas berat untuk mengidentifikasi akar permasalahan, melakukan perbaikan yang signifikan, dan mengembalikan performa Liverpool ke jalur yang seharusnya. Fokus pada pemulihan mental pemain, penataan kembali strategi, dan peningkatan kualitas individu pemain di setiap lini menjadi sangat krusial untuk menyelamatkan sisa musim ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan.
Perjalanan Liverpool di sisa musim ini akan menjadi ujian nyata bagi ketahanan mental dan kemampuan adaptasi mereka. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan dan menunjukkan performa yang konsisten akan menjadi penentu apakah mereka mampu mencapai target minimum atau justru terpuruk lebih dalam. Pernyataan "Liverpool Tak Beres di Semua Lini" bukan hanya sekadar judul berita, tetapi sebuah diagnosis yang membutuhkan solusi segera dan komprehensif agar The Reds dapat kembali ke performa terbaiknya.

