Pada Minggu, 25 Januari 2026, seperti dilansir oleh News.com Australia, Kebun Raya Adelaide dibanjiri oleh pengunjung dari berbagai penjuru. Mereka berduyun-duyun datang untuk melihat langsung bunga langka ini, yang terkenal dengan julukan ‘Titan Arum’ dan ‘bunga bangkai’ karena aromanya yang khas dan kuat, menyerupai bau bangkai yang membusuk. Namun, alih-alih mengurungkan niat, bau tersebut justru menjadi daya tarik utama, sebuah pengalaman sensorik unik yang ingin dirasakan banyak orang.
Kebun Raya Adelaide telah merawat tumbuhan raksasa ini selama dua dekade, sebuah komitmen panjang yang akhirnya membuahkan hasil memukau. Spesimen yang mekar kali ini bahkan telah diberi nama panggilan yang menggemaskan namun deskriptif, ‘Smellanie’, yang secara harfiah berarti ‘si bau’. Nama ini melekat erat karena reputasi aromanya yang tak tertandingi, yang meski menyengat, merupakan bagian integral dari pesona dan strategi kelangsungan hidupnya.
Titan Arum, yang berakar dari hutan tropis Sumatra, Indonesia, bukan sekadar bunga biasa. Ia adalah salah satu tumbuhan bunga terbesar dan paling langka di dunia, sebuah mahakarya evolusi yang memukau. Ketinggiannya saat berbunga dapat mencapai lebih dari 3 meter, menjadikannya pemandangan yang benar-benar monumental dan tak terlupakan. Keberadaannya di alam liar kini sangat terancam, dengan perkiraan hanya sekitar 1.000 individu yang tersisa, sementara sisanya berada di bawah perlindungan ketat di pusat-pusat konservasi dan kebun raya di seluruh dunia. Status konservasinya dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) adalah "Rentan" (Vulnerable), menunjukkan urgensi upaya pelestarian.
Antrean panjang sudah terlihat di gerbang kebun raya sejak pukul 07.30 pagi waktu setempat pada akhir pekan tersebut, menunjukkan betapa besarnya daya tarik ‘Smellanie’. Untuk mengakomodasi ribuan pengunjung, Kebun Raya Adelaide menerapkan jadwal kunjungan khusus. Pada hari kerja, pengunjung diberi kesempatan untuk melihat Titan Arum antara pukul 07.30 hingga 12.00 siang, dan kemudian dilanjutkan pada malam hari dari pukul 19.00 hingga 24.00. Sementara itu, untuk hari Minggu, jadwalnya sedikit berbeda, yakni dari pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat. Pembatasan waktu ini dirancang untuk memastikan setiap pengunjung memiliki kesempatan untuk mengagumi keajaiban ini tanpa membebani bunga itu sendiri atau menciptakan antrean yang tak berujung.
Sistem antrean diatur dengan cermat dalam bentuk ular-ularan di dalam area kebun raya, sebuah pemandangan yang sendiri menjadi tontonan. Pengunjung diimbau untuk tidak berlama-lama di dekat ‘Smellanie’ agar semua orang dapat berbagi pengalaman langka ini. Akhir pekan tersebut memang menjadi puncak mekarnya bunga langka Indonesia ini di tanah Australia, momen yang telah dinanti-nantikan oleh para pecinta botani dan masyarakat umum.
Matt Coulter, kurator dari Botanic Gardens and State Herbarium of South Australia (BGSH), berbagi kisah di balik kesuksesan ini. "Kami menerima donasi tiga benih pada tahun 2006. Dari situ, kami terus mengembangkan hingga memiliki 250 Titan Arum," jelasnya. Ini menunjukkan dedikasi dan keahlian tim konservasi dalam merawat dan memperbanyak spesies yang sangat menantang ini. Proses propagasi yang dilakukan pun beragam. Sebanyak 100 Titan Arum dihasilkan melalui propagasi potongan daun, sebuah teknik yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Sementara itu, 150 Titan Arum lainnya berhasil dikembangkan melalui penyerbukan, sebuah proses yang lebih kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam tentang biologi reproduksi tumbuhan ini.
"Smellanie ini adalah hasil dari benih asli yang kami terima, dan ini adalah kedua kalinya ia berbunga. Yang terakhir mekar pada tahun 2021," pungkas Coulter. Siklus mekar Titan Arum sangat tidak teratur dan bisa memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sehingga setiap kali mekar, peristiwa ini menjadi sangat spesial dan langka.
Di balik kemegahan dan aroma menyengatnya, Titan Arum memiliki strategi evolusi yang memukau. Aroma busuk yang dihasilkannya adalah cara untuk menarik serangga penyerbuk, seperti lalat bangkai dan kumbang bangkai, yang keliru mengira bunga ini sebagai sumber makanan atau tempat bertelur. Aroma ini adalah campuran kompleks dari senyawa kimia, termasuk dimetil trisulfida, dimetil disulfida, putresin, dan kadaverin, yang secara kolektif menciptakan ilusi daging busuk. Ini adalah contoh sempurna dari mimikri biologis di alam.
Keberhasilan Kebun Raya Adelaide dalam merawat dan membudidayakan Titan Arum juga menjadi cerminan pentingnya peran kebun raya dalam upaya konservasi global. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai pusat penelitian, pendidikan, dan pelestarian spesies langka yang terancam punah. Melalui pameran seperti mekarnya ‘Smellanie’, kebun raya meningkatkan kesadaran publik tentang keanekaragaman hayati dan tantangan yang dihadapi oleh spesies-spesies seperti Titan Arum akibat deforestasi dan perubahan iklim di habitat aslinya di Sumatra.
Kisah ‘Smellanie’ juga menyoroti kebanggaan Indonesia sebagai negara asal dari bunga ajaib ini. Meskipun mekar di benua lain, ia tetap membawa identitas dan warisan alam Indonesia. Di Indonesia sendiri, bunga bangkai seringkali disalahartikan atau disamakan dengan Rafflesia arnoldii, bunga raksasa lain yang juga berasal dari Sumatra dan terkenal dengan bau busuknya. Namun, keduanya adalah spesies yang berbeda. Titan Arum (Amorphophallus titanum) adalah anggota keluarga Araceae, yang memiliki umbi besar di bawah tanah dan menghasilkan daun tunggal yang sangat besar sebelum berbunga. Sementara itu, Rafflesia arnoldii adalah tumbuhan parasit yang tidak memiliki batang, daun, atau akar yang terlihat, dan seluruh siklus hidupnya bergantung pada inangnya.
Fenomena mekarnya bunga bangkai di kebun raya di seluruh dunia selalu menarik perhatian besar, dari Amerika Serikat hingga Eropa, membuktikan daya pikat universal dari keunikan dan keajaiban alam. Setiap kali Titan Arum mekar, ia menjadi duta bisu bagi konservasi, mengingatkan kita akan keindahan dan kerapuhan alam yang perlu kita jaga bersama. ‘Smellanie’ di Adelaide bukan hanya sekadar bunga; ia adalah pengingat akan keajaiban botani, dedikasi ilmiah, dan kekuatan daya tarik alam yang dapat menyatukan ribuan orang dalam kekaguman.

