BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah sorotan publik yang memuji ketangguhan Denada dalam memperjuangkan kesembuhan putrinya, Aisha, dari leukemia, muncul sebuah sisi lain yang tersembunyi. Ressa Rizky, seorang pemuda yang kini melayangkan gugatan perdata terhadap Denada, akhirnya membuka suara tentang perasaan yang selama ini ia pendam. Pengakuannya mengungkapkan adanya rasa ketidakadilan yang mendalam, terutama ketika ia membandingkan perlakuan Denada terhadap Aisha dengan apa yang ia alami, di mana ia merasa "tak dianggap" sebagai anak.
Selama ini, publik mengenal Denada sebagai simbol kekuatan seorang ibu. Ia rela berjuang mati-matian, menguras tenaga, waktu, dan materi demi kesembuhan Aisha. Berbagai pengorbanan, mulai dari menjual aset hingga bolak-balik antara Singapura dan Indonesia, menjadi bukti nyata dedikasinya. Namun, di balik layar perjuangan heroik tersebut, Ressa Rizky menyaksikan sebuah realitas yang berbeda, sebuah realitas yang menyayat hatinya. "Kenapa kok ada aku yang sehat, maksudnya kenapa kok sampai diginiin? Padahal anaknya yang itu (Aisha) sakit sampai Mbak Denadanya jatuh bangun begitu," ungkap Ressa Rizky dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu (24/1/2026).
Ungkapan Ressa Rizky ini secara gamblang mengakui adanya rasa cemburu. Ia melihat bagaimana Denada rela melakukan segalanya untuk Aisha, sebuah pemandangan yang kontras dengan situasinya sendiri yang harus berjuang sendirian tanpa pengakuan yang jelas. Rasa iri ini bukan berasal dari kebencian, melainkan dari kesadaran akan adanya perbedaan perlakuan yang terasa begitu signifikan. Ia menyaksikan betapa besar cinta dan pengorbanan yang dicurahkan Denada untuk Aisha, sementara ia sendiri merasa terabaikan.
Meski menyimpan rasa iri, Ressa Rizky menegaskan bahwa ia tidak membenci Aisha maupun Denada. Didikan dari ibu angkatnya, Ratih, telah membentuknya menjadi pribadi yang berhati luas dan penuh pengertian. Ia memahami bahwa bagaimanapun situasinya, Denada tetaplah ibu kandungnya. "Bagaimanapun itu tetap ibu saya. Jelek buruknya kan tetap yang melahirkan. Ibu (Ratih) mengajarkan saya untuk punya hati yang tulus, menerima setulus-tulusnya, enggak boleh benci sama orang, harus baik," terangnya dengan penuh keyakinan. Ajaran ini menjadi landasan moralnya dalam menghadapi situasi yang kompleks ini.
Lebih jauh, dalam kesempatan yang sama, Ressa Rizky menyampaikan sebuah keinginan yang sangat menyentuh hati. Sebuah keinginan yang sederhana namun sarat makna, yaitu keinginan untuk memeluk Denada dan mencium kakinya. "Intinya aku pengin meluk Mbak Denada itu sama pengen cium kakinya saja. Sudah itu aja," harapnya. Keinginan ini bukan sekadar ungkapan emosional semata, melainkan sebuah bentuk kerinduan yang mendalam akan kasih sayang dan pengakuan dari ibu kandungnya. Ia merindukan momen kedekatan, momen penerimaan, yang selama ini mungkin belum ia rasakan sepenuhnya.
Pernyataan Ressa Rizky ini tentu saja memunculkan berbagai pertanyaan dan spekulasi di kalangan publik. Bagaimana Denada akan merespons pengakuan ini? Hingga berita ini diturunkan, Denada sendiri belum memberikan pernyataan langsung kepada media. Namun, melalui manajemennya, Risna Ories, sebuah tanggapan telah disampaikan. "Saya Risna Ories selaku perwakilan dari Management Denada, menyampaikan: sangat prihatin atas isu publik yang berkembang, yang sebenarnya ini adalah ranah keluarga, karena bagaimanapun juga semua keluarga memiliki privasi, setiap keluarga punya cerita," tulis Risna dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Senin (12/1/2026).
Pihak manajemen Denada menekankan bahwa situasi ini bukanlah hal yang mudah bagi Denada. Mereka berusaha memahami reaksi dan pertanyaan yang muncul di luar ranah dugaan yang sedang berkembang. Menyadari kompleksitas permasalahan ini, Denada telah menyerahkan sepenuhnya urusan ini kepada tim pengacaranya. Risna Ories juga memohon pengertian dari publik untuk memberikan ruang dan waktu bagi Denada agar dapat menelaah perkara ini secara proporsional dan tetap mempertimbangkan kebaikan semua pihak yang terlibat. Permohonan ini bertujuan untuk menjaga ketenangan dan memastikan kejelasan informasi yang beredar.
Lebih dalam lagi mengenai konteks gugatan perdata yang dilayangkan Ressa Rizky, meskipun detailnya belum sepenuhnya terungkap ke publik, dapat dipahami bahwa hal ini berkaitan dengan pengakuan hak dan kewajiban sebagai anak. Perjuangan Denada yang luar biasa untuk Aisha, yang melibatkan biaya besar dan pengorbanan tak ternilai, kemungkinan menjadi salah satu faktor yang memperumit situasi ini. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk memastikan kesejahteraan anak yang sedang sakit, dan di sisi lain, ada tuntutan hukum yang mungkin berkaitan dengan pemenuhan hak-hak anak lainnya.
Ressa Rizky, dalam pernyataannya, tidak menunjukkan nada permusuhan atau keinginan untuk menyakiti Denada. Sebaliknya, ia menunjukkan kedewasaan dan pemahaman yang luar biasa, meskipun diwarnai rasa iri. Hal ini mengindikasikan bahwa motivasinya bukanlah untuk mencari sensasi atau mendatangkan masalah baru bagi Denada dan Aisha. Ia lebih kepada mencari keadilan dan pengakuan yang ia yakini berhak ia dapatkan. Keinginan untuk memeluk dan mencium kaki Denada adalah bukti kuat bahwa di balik gugatan hukum, tersimpan kerinduan seorang anak akan sosok ibunya.
Perjuangan Denada untuk Aisha memang telah menginspirasi banyak orang. Keteguhannya dalam menghadapi cobaan hidup patut diacungi jempol. Namun, kisah Ressa Rizky ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap sorotan publik, selalu ada cerita yang lebih kompleks dan sisi-sisi lain yang mungkin belum terungkap sepenuhnya. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan dan keadilan dalam setiap aspek kehidupan keluarga, terutama ketika melibatkan anak-anak.
Pihak manajemen Denada telah meminta waktu dan ruang untuk menyelesaikan masalah ini. Diharapkan, dengan adanya mediasi dan komunikasi yang baik, serta dukungan dari para profesional hukum, segala persoalan dapat terselesaikan dengan cara yang terbaik bagi semua pihak yang terlibat. Keteguhan Denada dalam berjuang untuk Aisha tidak dapat disangkal, namun, penting juga untuk tidak melupakan sisi lain dari cerita ini, sisi yang diwakili oleh Ressa Rizky, yang juga memiliki hak dan perasaan yang perlu dihargai. Kisah ini membuka diskusi tentang kompleksitas hubungan keluarga dan pentingnya pengakuan serta kasih sayang yang merata.

