0

Pangsa Pasar CPU Apple Pepet AMD, Intel Terus Tergerus

Share

Jakarta – Dinamika pasar prosesor untuk Personal Computer (PC) tengah mengalami pergeseran fundamental yang signifikan, dengan dominasi Intel yang semakin terkikis seiring dengan agresifnya ekspansi Apple dan kebangkitan gemilang AMD. Analisis terbaru secara gamblang menunjukkan bahwa transisi strategis Apple ke arsitektur prosesor Arm yang dikembangkan secara internal telah menjadi pukulan telak bagi Intel, khususnya di segmen laptop, bahkan kini menempatkan Apple pada posisi yang setara dengan rival abadi Intel, AMD.

Data yang dihimpun dari Mercury Research dan Bernstein Research, sebagaimana dikutip oleh Citrini Research, mengungkapkan fakta mengejutkan: pangsa pasar CPU laptop Apple kini telah meroket hingga mencapai sekitar 20%. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sebuah pencapaian krusial yang menempatkan Apple sejajar dengan capaian AMD di segmen yang sama. Jika kedua pemain ini – Apple dengan chip M-series-nya dan AMD dengan jajaran Ryzen-nya – digabungkan, mereka secara kolektif telah berhasil memangkas lebih dari 20% pangsa pasar Intel sejak tahun 2018. Ini adalah indikator jelas akan erosi dominasi yang tak terhindarkan bagi raksasa chip dari Santa Clara tersebut.

Fenomena serupa, meskipun dengan skala dampak Apple yang sedikit lebih kecil, juga teramati di pasar desktop. Sebelum tahun 2018, Intel boleh berbangga dengan cengkeraman kuatnya, menguasai sekitar 90% pasar CPU desktop dan lebih dari 80% pasar laptop. Sebuah dominasi mutlak yang seolah tak tergoyahkan. Namun, kini, realitasnya berbeda jauh. Intel masih memegang sekitar 60% pangsa pasar di kedua segmen tersebut. Meskipun angka ini masih mayoritas, penurunan signifikan dari titik tertinggi sebelumnya adalah alarm keras bahwa posisi mereka terus tergerus dan menghadapi tekanan yang intens dari berbagai arah.

Kebangkitan AMD, khususnya, merupakan narasi klasik tentang underdog yang bangkit. Perusahaan ini mulai mendapatkan momentum krusial sejak peluncuran arsitektur Zen pada tahun 2017. Zen bukan sekadar arsitektur baru; ia adalah fondasi revolusioner yang memungkinkan AMD menawarkan prosesor dengan performa multi-core yang kompetitif dan efisiensi daya yang lebih baik, seringkali dengan harga yang lebih menarik dibandingkan penawaran Intel kala itu. Tekanan terhadap Intel semakin meningkat secara drastis pada tahun 2022 ketika AMD memperkenalkan prosesor Zen generasi keempat, yang dirancang khusus untuk bersaing secara frontal dengan seri Alder Lake dan Raptor Lake dari Intel. Di tengah berbagai isu stabilitas yang sempat melanda platform Intel, serta minimnya respons cepat Intel terhadap inovasi seperti teknologi 3D V-Cache AMD yang sangat menguntungkan untuk gaming dan aplikasi yang haus data, penjualan CPU Ryzen terus menguat secara konsisten.

Bahkan, prosesor Zen generasi kelima, yang merupakan iterasi terbaru dari arsitektur sukses ini, dilaporkan mendominasi berbagai grafik penjualan terbaru. Indikator yang sangat kuat datang dari komunitas gamer, di mana pangsa CPU AMD di kalangan pengguna platform Steam kini telah menembus lebih dari 40%. Angka ini tidak hanya menegaskan posisi AMD yang kokoh di pasar konsumen, tetapi juga menunjukkan preferensi yang jelas dari segmen pengguna yang sangat menuntut performa tinggi. Dikutip dari Techspot melalui detikINET pada Sabtu (24/1/2026), tren ini menunjukkan bahwa AMD tidak hanya bersaing, tetapi juga memimpin dalam segmen-segmen tertentu yang strategis.

Di sisi lain, Apple, dengan strategi transisinya yang berani, telah mencatat pangsa pasar yang stabil sekitar 10% di pasar desktop sejak peluncuran chip M2 pada tahun 2022. Angka ini secara luas diinterpretasikan sebagai representasi dari basis pengguna Mac desktop yang loyal dan telah lama berada di ekosistem Apple, yang secara bertahap mengganti mesin mereka yang sebelumnya berbasis Intel dengan model-model baru yang ditenagai oleh Apple Silicon. Meskipun persentase ini mungkin terlihat lebih kecil dibandingkan di segmen laptop, ia tetap menunjukkan bahwa Apple berhasil mempertahankan dan bahkan memperkuat loyalitas penggunanya melalui inovasi chip internal.

Namun, di pasar laptop, dampak Apple jauh lebih signifikan dan langsung terasa. Peningkatan penjualan MacBook yang didukung oleh chip M-series disebut-sebut berkontribusi langsung pada penurunan pangsa pasar Intel di segmen notebook. Chip Apple Silicon, dengan performa per watt yang luar biasa, efisiensi daya yang superior, dan integrasi yang erat dengan sistem operasi macOS, telah menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang mencari laptop dengan masa pakai baterai yang lebih lama, performa cepat, dan pengalaman pengguna yang mulus. Keputusan Apple untuk mengembangkan chipnya sendiri telah memberinya kendali penuh atas hardware dan software, menghasilkan sinergi yang sulit ditandingi oleh produsen PC Windows yang bergantung pada vendor chip eksternal.

Intel sendiri tidak tinggal diam menghadapi gelombang tekanan ini. Perusahaan berupaya keras untuk menahan laju kompetitornya melalui serangkaian inovasi dan produk baru, salah satunya adalah prosesor Core Ultra 3 berbasis Panther Lake. Prosesor ini direncanakan akan diproduksi dengan node 14A kelas 2nm, menunjukkan ambisi Intel untuk kembali memimpin dalam teknologi manufaktur semikonduktor. Seri Core Ultra, yang dimulai dengan Meteor Lake dan akan dilanjutkan dengan Lunar Lake dan Panther Lake, menandai pergeseran strategi Intel menuju arsitektur yang lebih modular dengan fokus pada efisiensi daya dan integrasi akselerator AI (NPU) langsung ke dalam chip. Ini adalah upaya Intel untuk menawarkan fitur-fitur baru yang relevan dengan kebutuhan komputasi modern, sekaligus mengejar ketertinggalan dalam efisiensi daya dari Apple Silicon.

Ke depan, peta persaingan CPU berbasis Arm berpotensi semakin ramai dan intens. Saat ini, Apple masih mendominasi hampir seluruh pasar Arm PC dengan chip M-series-nya yang sangat sukses. Namun, lanskap ini akan segera berubah. Qualcomm telah membuat langkah besar dengan masuknya chip Windows on Arm sejak tahun 2024, menawarkan prosesor Snapdragon X Elite yang menjanjikan performa kompetitif untuk laptop berbasis Windows. Ini membuka pintu bagi era baru "Copilot+ PC" yang fokus pada fitur-fitur AI generatif. Tidak hanya itu, raksasa teknologi lain seperti Nvidia juga dikabarkan akan menyusul, berpotensi membawa keahlian mereka dalam pemrosesan grafis dan AI ke ranah CPU PC berbasis Arm.

Meskipun prospek pasar Arm PC yang lebih beragam ini sangat menjanjikan, tingkat adopsi pengguna terhadap platform baru tersebut masih belum terlihat jelas. Tantangan utama yang dihadapi oleh Qualcomm dan calon pemain Arm lainnya adalah membangun ekosistem perangkat lunak yang matang, memastikan kompatibilitas aplikasi yang luas, dan meyakinkan pengembang untuk mengoptimalkan software mereka untuk arsitektur Arm di Windows. Apple memiliki keunggulan karena mengontrol penuh ekosistemnya, tetapi Windows on Arm harus menghadapi fragmentasi yang lebih besar.

Secara keseluruhan, pergeseran pangsa pasar CPU ini menandakan sebuah transformasi fundamental dalam industri komputasi. Dominasi tunggal Intel selama beberapa dekade kini telah berakhir, digantikan oleh lanskap yang lebih kompetitif dan beragam. Konsumen adalah pihak yang paling diuntungkan dari persaingan sengit ini, dengan semakin banyaknya pilihan prosesor yang inovatif, efisien, dan bertenaga dari berbagai vendor. Baik itu melalui performa multi-core AMD yang agresif, efisiensi daya Apple Silicon yang revolusioner, atau upaya Intel untuk berinovasi dengan arsitektur modular dan AI, masa depan komputasi personal tampaknya akan semakin menarik dan dinamis. Pertarungan untuk merebut hati dan dompet konsumen masih jauh dari usai, dan setiap pemain harus terus berinovasi untuk tetap relevan dalam era baru ini.