0

Cuma Berjarak 3,8 Km, Dua Pulau Ini Terpisah Waktu 21 Jam! Kok Bisa?

Share

Di tengah bentangan Selat Bering yang dingin dan seringkali membeku, tersembunyi sebuah anomali geografis yang memukau sekaligus membingungkan. Hanya dipisahkan oleh hamparan laut selebar 3,8 kilometer, dua pulau berbatu ini tidak hanya memisahkan dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Rusia, tetapi juga dua hari yang berbeda. Selamat datang di Kepulauan Diomede, tempat di mana Anda bisa melihat "hari esok" dari "hari kemarin," dengan selisih waktu 21 jam yang mencengangkan. Fenomena unik ini telah menjadikannya salah satu perbatasan paling ekstrem dan paling menarik di dunia.

Kebanyakan orang mungkin membayangkan jarak antara Amerika Serikat dan Rusia sebagai bentangan luas Samudra Pasifik atau setidaknya Selat Bering yang pada titik tersempitnya berjarak sekitar 88 kilometer antara Alaska dan Siberia. Namun, ada titik di mana kedua raksasa geopolitik ini berdekatan secara dramatis, hampir seolah-olah mereka adalah tetangga yang dipisahkan oleh halaman belakang. Dua pulau kecil, tandus, dan terisolasi inilah yang menjadi saksi bisu kedekatan geografis yang kontras dengan jurang waktu yang menganga.

Kepulauan Diomede terdiri dari dua entitas utama: Little Diomede, yang merupakan bagian dari Amerika Serikat, dan Big Diomede (dikenal juga sebagai Pulau Ratmanov), yang menjadi wilayah Rusia. Di musim dingin, ketika es laut mengeras tebal, secara teoritis seseorang bisa berjalan kaki dari satu pulau ke pulau lain. Namun, tindakan semacam itu tidak hanya akan melanggar perbatasan internasional yang dijaga ketat, tetapi juga akan membawa Anda melompati waktu, maju hampir satu hari penuh. Inilah yang membuat Big Diomede dijuluki "Pulau Besok" (Tomorrow Island) dan Little Diomede sebagai "Pulau Kemarin" (Yesterday Island).

Penemuan dan Pembagian Geopolitik

Sejarah penemuan kepulauan terpencil ini dimulai jauh sebelum pembagian politiknya. Pada tahun 1648, penjelajah Rusia, Semyon Ivanovich Dezhnyov, memimpin ekspedisi yang mencari sumber bulu hewan di wilayah Siberia. Meskipun perjalanan berbahaya yang dilakukannya berakhir dengan bencana dan kehilangan sebagian besar kapalnya, Dezhnyov melaporkan penemuan dua pulau tandus di lepas pantai Siberia. Laporan ini, sayangnya, sempat terabaikan dan terlupakan selama puluhan tahun dalam arsip-arsip Kekaisaran Rusia.

Baru pada tanggal 16 Agustus 1728, hampir delapan dekade kemudian, seorang penjelajah Denmark yang mengabdi pada Angkatan Laut Kekaisaran Rusia, Vitus Bering, secara resmi "menemukan kembali" kepulauan ini. Bertepatan dengan hari pesta Santo Diomedes menurut kalender Ortodoks Rusia, Bering menamai gugusan pulau tersebut "Kepulauan Diomede." Penemuan ini menjadi bagian penting dari upaya Rusia untuk memetakan dan mengklaim wilayah-wilayah timur yang luas.

Titik balik geopolitik terjadi pada tahun 1867, ketika Rusia menjual Alaska kepada Amerika Serikat. Dalam perjanjian penjualan tersebut, batas wilayah antara kedua negara ditarik secara presisi melalui celah sempit di antara Kepulauan Diomede. Dengan demikian, Little Diomede, pulau yang lebih kecil di utara, secara resmi menjadi bagian dari Amerika Serikat, sementara Big Diomede, pulau yang lebih besar di selatan, tetap berada di bawah kedaulatan Rusia. Pembagian ini menjadi fondasi bagi paradoks waktu dan geopolitik yang kita saksikan hingga hari ini.

Mesin Waktu Alami: Misteri 21 Jam

Keunikan geografis paling menonjol dari Kepulauan Diomede adalah hubungannya yang unik dengan Garis Batas Waktu Internasional (International Date Line/IDL). Pada tahun 1884, komunitas internasional menyepakati garis imajiner yang membentang melintasi Samudra Pasifik sebagai penentu pergantian tanggal kalender global. Garis ini sengaja ditarik untuk menghindari melintasi daratan utama sebanyak mungkin, dan secara kebetulan, ia melintas tepat di antara Little Diomede dan Big Diomede.

Akibatnya, meskipun kedua pulau hanya berjarak beberapa kilometer, waktu di Big Diomede (Rusia) selalu 21 jam lebih cepat dibandingkan Little Diomede (AS). Ini berarti, ketika di Little Diomede masih hari Senin pukul 10 pagi, di Big Diomede sudah hari Selasa pukul 7 pagi! Fenomena ini menciptakan situasi yang benar-benar luar biasa: penduduk Little Diomede yang memandang ke seberang lautan ke arah Big Diomede sejatinya sedang melihat "masa depan" atau hari esok. Inilah alasan di balik julukan "Pulau Besok" dan "Pulau Kemarin" yang begitu melekat pada Kepulauan Diomede. Garis Batas Waktu Internasional secara efektif berfungsi sebagai mesin waktu alami, memisahkan dua hari di antara bentangan laut yang sempit.

Penduduk Asli dan Warisan Tirai Es

Cuma Berjarak 3,8 Km, Dua Pulau Ini Terpisah Waktu 21 Jam! Kok Bisa?

Jauh sebelum penjelajah Eropa tiba, Kepulauan Diomede telah dihuni oleh suku Ingalik, penduduk asli Amerika dari kelompok Yupik, yang telah mendiami wilayah tersebut selama lebih dari 3.000 tahun. Mereka menyebut diri mereka "Deg Hit’an," yang berarti "penduduk setempat." Kehidupan mereka yang terjalin erat dengan laut dan es di Selat Bering, serta kemampuan berburu dan memancing yang luar biasa, memungkinkan mereka bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem ini.

Namun, kedatangan geopolitik modern mengubah segalanya. Selama Perang Dunia II, Big Diomede diubah menjadi pangkalan militer Soviet, dan penduduk asli yang mendiaminya dipindahkan paksa ke daratan utama Siberia. Setelah perang, ketika hubungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet memburuk drastis selama Perang Dingin, kawasan ini menjadi salah satu garis depan yang paling sensitif. Istilah "Tirai Es" (Ice Curtain) muncul untuk menggambarkan batas yang nyaris tidak dapat ditembus antara kedua pulau, mencerminkan "Tirai Besi" yang membelah Eropa.

Selama era Perang Dingin, siapa pun yang mencoba menyeberang antar pulau berisiko ditangkap, atau bahkan ditembak. Pergerakan penduduk asli yang dulunya bebas di antara kedua pulau untuk berburu atau berdagang, kini terhenti sepenuhnya. Hubungan keluarga yang terpecah oleh garis perbatasan menjadi terputus, dan interaksi budaya yang telah berlangsung selama ribuan tahun terpaksa berakhir.

Hingga hari ini, meskipun Uni Soviet telah bubar, perjalanan antar pulau tetap dilarang keras dan tidak ada penyeberangan resmi yang diizinkan. Big Diomede kini difungsikan sebagai stasiun cuaca dan pos militer Rusia, dan tetap tertutup bagi warga sipil dari seberang. Sebuah pos pengamatan militer Rusia yang sederhana dapat terlihat dari pantai Little Diomede, menjadi pengingat konstan akan perbatasan yang tak terlihat namun kuat.

Kehidupan di Ujung Dunia: Little Diomede

Saat ini, kehidupan permanen hanya bertahan di Little Diomede, di sisi Amerika Serikat. Di sana terdapat kota kecil bernama Iŋaliq (sebelumnya dikenal sebagai Diomede), yang dihuni oleh kurang dari 100 orang, sebagian besar adalah keturunan suku Ingalik. Meskipun terpencil, kota ini memiliki fasilitas dasar seperti satu sekolah, satu toko serba ada kecil, dan sebuah gereja. Namun, isolasi adalah tantangan terbesar yang mereka hadapi.

Pulau berbatu ini tidak memiliki pelabuhan air dalam yang permanen maupun bandara yang layak. Pasokan logistik vital hanya bisa datang sekali setahun, biasanya pada akhir musim panas, melalui kapal kargo yang harus menurunkan muatannya menggunakan derek ke dermaga yang rapuh. Selama musim dingin, penduduk mengandalkan "landasan pacu es" alami. Lapisan es laut setebal empat kaki yang terbentuk secara alami biasanya diratakan dan dijaga agar pesawat kecil seperti Cessna dapat mendarat, menjadi satu-satunya urat nadi transportasi dan koneksi dengan dunia luar. Melalui jalur es inilah, surat, makanan segar, bahan bakar, dan persediaan medis tiba, serta memungkinkan penduduk untuk bepergian ke daratan utama Alaska.

Ancaman Perubahan Iklim: Masa Depan yang Tidak Pasti

Namun, ancaman global berupa perubahan iklim kini membawa dampak nyata dan mengkhawatirkan bagi kehidupan di Little Diomede. Penduduk setempat telah menyaksikan sendiri bagaimana pola cuaca dan kondisi es laut telah berubah secara drastis. Pada tahun 2018, badai besar yang tidak biasa menghantam wilayah tersebut, menghancurkan landasan pacu es yang selama ini menjadi andalan. Lebih jauh lagi, penduduk bersaksi bahwa es laut tersebut tidak pernah kembali terbentuk setebal dan sekuat sedia kala sejak insiden tersebut.

Hilangnya landasan pacu es ini berarti akses ke Little Diomede menjadi sangat terbatas, hanya bisa dijangkau helikopter atau kapal, yang keduanya sangat bergantung pada kondisi cuaca ekstrem subarktik. Cuaca di wilayah ini bisa mencapai suhu hingga -25 derajat Celcius, disertai angin kencang dan badai salju, membuat perjalanan udara atau laut menjadi sangat berbahaya dan tidak dapat diprediksi.

Selain masalah transportasi, hilangnya es laut juga secara langsung mematikan mata pencarian tradisional penduduk setempat. Perburuan anjing laut, walrus, dan kepiting, serta memancing ikan di bawah es, telah menjadi tulang punggung ekonomi dan budaya masyarakat Diomede selama ribuan tahun. Dengan es yang semakin tipis dan tidak stabil, kegiatan ini menjadi semakin sulit dan berbahaya, mengancam keberlanjutan hidup mereka.

Masa depan ekosistem dan kehidupan manusia di "Pulau Kemarin" ini kini berada dalam ketidakpastian yang mendalam. Kepulauan Diomede bukan hanya sebuah anomali geografis dan geopolitik yang menarik, tetapi juga menjadi saksi bisu yang gamblang akan dampak pemanasan global di salah satu titik paling terpencil dan rentan di muka bumi. Ia berdiri sebagai pengingat akan kekuatan alam, kerapuhan peradaban manusia di hadapannya, dan ironi perbatasan yang memisahkan waktu di jarak pandang mata.