BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Inter Milan dikabarkan kembali memanaskan bursa transfer musim dingin dengan upaya menggaet kembali salah satu mantan pemain andalannya, Ivan Perisic. Pemain sayap asal Kroasia ini, yang saat ini berseragam PSV Eindhoven, disebut-sebut menjadi target utama Nerazzurri setelah gagal mendaratkan Joao Cancelo yang memilih Barcelona. Keputusan Inter untuk kembali melirik Perisic, meski usianya telah menginjak 36 tahun, menunjukkan keyakinan mereka terhadap kualitas dan kontribusi yang masih bisa diberikan oleh pemain berpengalaman ini. Perisic sendiri telah membuktikan bahwa usianya bukanlah penghalang untuk tetap tampil gemilang di level tertinggi. Musim 2025/2026 ini, ia telah mencatatkan 26 penampilan untuk PSV di berbagai kompetisi, mengukir lima gol dan 10 assist yang krusial. Kontribusinya ini tidak hanya menempatkan PSV di puncak klasemen Eredivisie, tetapi juga membantu klub raksasa Belanda itu melaju di Liga Champions, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa Perisic masih memiliki naluri tajam dan kemampuan untuk memengaruhi jalannya pertandingan.
Perluasan data dan analisis lebih mendalam mengenai potensi kembalinya Ivan Perisic ke Inter Milan mengungkap berbagai dimensi menarik yang patut dicermati. Keputusan Inter Milan untuk mengalihkan fokus kepada Perisic setelah kegagalan mendapatkan Joao Cancelo bukanlah tanpa alasan. Fleksibilitas taktis dan pengalaman Perisic di berbagai posisi di lini serang menjadikannya aset berharga, terutama bagi tim yang membutuhkan pemain yang dapat beradaptasi dengan cepat dalam berbagai skema permainan. Usia 36 tahun memang menjadi pertimbangan, namun rekam jejak Perisic di PSV musim ini menjadi bukti nyata bahwa usia hanyalah angka ketika motivasi dan kondisi fisik mendukung. Lima gol dan sepuluh assist dari 26 penampilan adalah statistik yang mengesankan bagi pemain di usia tersebut, dan ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki ketajaman dalam penyelesaian akhir serta visi bermain yang mumpuni untuk menciptakan peluang bagi rekan setimnya. Kontribusi ini jelas menjadi faktor penting dalam kesuksesan PSV yang memimpin klasemen Eredivisie dan masih berkompetisi di Liga Champions. Hal ini menunjukkan bahwa Perisic tidak hanya menjadi pemain pelengkap, tetapi elemen vital dalam strategi tim.
Lebih jauh lagi, keinginan Ivan Perisic sendiri untuk kembali ke Inter Milan menjadi poin krusial yang memperkuat potensi transfer ini. Laporan dari Gazzetta dello Sport mengindikasikan bahwa Perisic siap untuk memutus kontraknya yang masih berlaku hingga 2027 dengan PSV demi kembali mengenakan seragam kebesaran Inter di Giuseppe Meazza. Kesediaan semacam ini menunjukkan ikatan emosional yang kuat antara pemain dan klub, serta kerinduan untuk kembali merasakan atmosfer kompetisi di level tertinggi bersama tim yang pernah memberinya banyak kejayaan. Keputusan untuk meninggalkan PSV, klub yang sedang dalam performa apik, demi kembali ke Inter, meski bukan lagi di puncak performa mereka seperti di era kejayaannya, menggarisbawahi betapa besarnya arti Inter Milan bagi Perisic. Ini juga bisa diartikan sebagai tantangan pribadi baginya untuk membuktikan bahwa ia masih mampu memberikan kontribusi signifikan di klub yang sangat dikenalnya.
Namun, perjalanan menuju kembalinya Perisic ke Inter tidaklah mulus. PSV Eindhoven dikabarkan tidak memiliki niat untuk melepas pemain kunci mereka begitu saja. Meskipun demikian, situasi ini sangat dinamis dan dapat berubah jika PSV tersandung lebih awal di Liga Champions. Jika PSV gagal melaju lebih jauh di kompetisi bergengsi tersebut, kemungkinan negosiasi antara kedua klub akan terbuka lebar. PSV, yang saat ini berada di posisi kedua klasemen dengan sembilan poin dari tujuh pertandingan, akan menentukan nasib mereka di pertandingan penyisihan terakhir melawan Newcastle United. Hasil pertandingan ini akan menjadi penentu apakah PSV akan terus melaju di Liga Champions atau tersingkir lebih awal. Jika PSV tersingkir, tekanan untuk mempertahankan pemain kunci seperti Perisic mungkin akan berkurang, membuka pintu bagi Inter untuk melancarkan serangan terakhir. Situasi ini menciptakan ketegangan dan antisipasi di kalangan penggemar kedua klub, menunggu hasil akhir dari perjuangan PSV di Eropa.
Alasan Inter Milan membidik Perisic tidak hanya terbatas pada performa impresifnya di lapangan, tetapi juga mencakup aspek pengalaman dan pemahaman mendalam mengenai kultur klub. Nerazzurri tampaknya memiliki strategi yang lebih mengutamakan pemain berpengalaman daripada merekrut pemain muda yang membutuhkan waktu adaptasi yang lebih lama. Dalam konteks persaingan ketat di Serie A dan Liga Champions, kehadiran pemain yang sudah memahami tuntutan dan tekanan di klub seperti Inter dapat menjadi keuntungan tersendiri. Perisic, yang pernah membela Inter selama enam musim dari tahun 2015 hingga 2022, telah menorehkan sejarah gemilang. Ia mencatatkan lebih dari 250 penampilan, mencetak 55 gol, dan memberikan 50 assist. Lebih penting lagi, ia adalah bagian integral dari skuad Inter yang berhasil memenangi Scudetto, Coppa Italia, dan Piala Super Italia. Pengalaman ini akan sangat berharga bagi skuad Inter saat ini, baik dalam hal kepemimpinan di lapangan maupun dalam membantu pemain muda berintegrasi dan beradaptasi dengan cepat. Kehadiran Perisic bisa menjadi mentor bagi pemain-pemain muda di lini serang Inter, menularkan mentalitas juara dan etos kerja yang telah ia miliki.
Lebih jauh lagi, kita dapat menganalisis strategi transfer Inter Milan di bawah kepemimpinan Simone Inzaghi. Inzaghi dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan kedalaman skuad dan pemain yang memiliki pengalaman di level tertinggi. Di musim ini, Inter telah menunjukkan performa yang solid di Serie A dan juga di Liga Champions, namun mereka sadar bahwa untuk bersaing di semua lini, kedalaman skuad menjadi kunci. Perisic, dengan pengalamannya bermain di berbagai liga top Eropa seperti Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1, serta pengalamannya di Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa bersama timnas Kroasia, membawa pemahaman taktis yang luas dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat dalam berbagai situasi pertandingan. Kemampuannya bermain sebagai sayap kiri, sayap kanan, bahkan terkadang sebagai wing-back, memberikan opsi taktis yang sangat berharga bagi Inzaghi. Ini memungkinkan Inzaghi untuk melakukan rotasi pemain tanpa menurunkan kualitas permainan, sebuah aspek krusial dalam menghadapi jadwal padat di paruh kedua musim.
Selain itu, mari kita pertimbangkan aspek finansial dari potensi transfer ini. Meskipun Perisic berusia 36 tahun, kesediaannya untuk memutus kontrak dengan PSV bisa menjadi sinyal bahwa ia bersedia menerima gaji yang lebih rendah demi kembali ke Inter. Ini akan menguntungkan Inter dari segi pengeluaran gaji, terutama jika dibandingkan dengan merekrut pemain muda dengan harga transfer tinggi dan gaji yang juga signifikan. Kebutuhan Inter untuk mendatangkan pemain yang bisa langsung berkontribusi tanpa memerlukan masa adaptasi yang panjang juga menjadi faktor penentu. Pemain muda, meskipun memiliki potensi besar, seringkali membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan Serie A yang terkenal ketat dan fisik. Perisic, yang sudah sangat mengenal Serie A dan gaya bermain Inter, dapat langsung memberikan dampak positif sejak hari pertama. Ini akan sangat membantu Inter dalam menjaga momentum mereka di liga dan dalam perjalanannya di Liga Champions.
Spekulasi mengenai kembalinya Perisic ini juga memicu perdebatan di kalangan penggemar Inter Milan. Sebagian mungkin meragukan keputusan klub untuk merekrut pemain yang sudah tidak muda lagi, sementara sebagian lainnya menyambut baik kembalinya legenda klub yang telah memberikan banyak kontribusi. Penggemar yang mendukung kepulangan Perisic biasanya melihatnya sebagai langkah cerdas untuk mendatangkan pemain yang memiliki ikatan emosional kuat dengan klub, berpengalaman, dan dapat memberikan kepemimpinan di ruang ganti. Mereka percaya bahwa semangat juang dan determinasi Perisic, yang selalu terlihat di setiap pertandingan, akan menular kepada pemain-pemain muda di skuad Inter. Pengalaman memenangkan gelar Serie A bersama Inter juga akan menjadi modal berharga untuk membimbing tim dalam menghadapi tekanan perburuan gelar.
Dari sisi PSV, meskipun kehilangan Perisic akan menjadi pukulan, mereka mungkin dapat memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan finansial. Jika Inter benar-benar serius ingin merekrut Perisic, mereka mungkin harus mengeluarkan biaya transfer, meskipun mungkin tidak sebesar jika Perisic masih berada di puncak karirnya. Negosiasi antara kedua klub akan menjadi krusial. PSV, sebagai klub yang harus menjaga keseimbangan finansial, mungkin melihat tawaran dari Inter sebagai kesempatan untuk mendapatkan dana segar yang dapat digunakan untuk memperkuat tim mereka di masa depan. Namun, ini juga tergantung pada sejauh mana Perisic masih menjadi pemain tak tergantikan bagi PSV dan seberapa besar keinginan mereka untuk mempertahankan kekuatan tim demi menghadapi sisa musim di Eredivisie dan Liga Champions.
Pada akhirnya, potensi kembalinya Ivan Perisic ke Inter Milan adalah sebuah cerita yang menarik, penuh dengan potensi drama dan kejutan. Keputusan Inter untuk mengincar pemain berpengalaman ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengutamakan stabilitas dan kontribusi langsung daripada mengambil risiko dengan pemain muda. Kesediaan Perisic untuk kembali menjadi kunci utama, dan jika ia benar-benar kembali, ia akan disambut sebagai pahlawan yang kembali ke rumah. Pengalamannya, semangat juangnya, dan ikatan emosionalnya dengan klub adalah aset yang tak ternilai. Seluruh mata akan tertuju pada perkembangan transfer ini, menunggu apakah Nerazzurri akan berhasil membawa pulang salah satu bintang mereka yang paling dicintai.

