0

Jutaan Follower Tertipu, Biksu Ini Ternyata AI Buatan Pria Israel

Share

Dunia maya kembali digegerkan oleh sebuah penipuan skala besar yang melibatkan sosok inspiratif dengan jutaan pengikut. Seorang biksu bernama Yang Mun, yang selama ini dikenal sebagai sumber kebijaksanaan dan ketenangan di Instagram, akhirnya terungkap sebagai karakter buatan kecerdasan buatan (AI) yang diciptakan oleh seorang pria Israel. Kasus ini tidak hanya mengejutkan para pengikutnya, tetapi juga memicu perdebatan serius tentang otentisitas, kepercayaan di era digital, dan etika penggunaan AI untuk tujuan komersial.

Selama ini, kehadiran biksu Yang Mun di linimasa media sosial banyak orang telah menjadi semacam oase. Dengan dua akun Instagram yang mengesankan, @yangmunus memiliki 2,5 juta pengikut dan @itsyangmuns dengan 1,1 juta pengikut, Yang Mun berhasil membangun citra sebagai seorang guru spiritual yang mendalam dan bijaksana. Visualnya yang khas – seorang biksu tua berwajah oriental, sering terlihat duduk dengan tenang di berbagai sudut vihara yang damai – memberikan kesan otentik dan menenangkan. Ia akan membahas berbagai permasalahan hidup yang relevan, mulai dari kesehatan mental, tantangan sehari-hari, hingga pencarian makna dan tujuan hidup.

Setiap unggahan Yang Mun selalu disertai dengan nasihat-nasihat bijaksana yang terasa begitu mengena di hati. Kata-katanya mampu menyentuh sanubari banyak orang, menawarkan perspektif baru dan solusi untuk kegelisahan modern. Tidak heran jika basis penggemarnya begitu luas dan beragam. Dari pantauan awal, terlihat banyak nama terkenal di antara pengikutnya, termasuk seniman, novelis, pekerja kreatif, bahkan politisi, yang menunjukkan betapa meresapnya pengaruh Yang Mun di berbagai lapisan masyarakat. Mereka semua percaya bahwa di balik akun tersebut, ada seorang manusia bijak yang benar-benar eksis, mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan kebaikan dan pencerahan.

Namun, di balik semua citra kesalehan dan kebijaksanaan itu, tersimpan sebuah kebohongan besar. Tidak ada biksu Yang Mun di dunia nyata. Seluruh keberadaan, visual, dan bahkan kata-kata bijaknya adalah hasil rekayasa teknologi AI yang canggih. Pengungkapan ini, yang terasa seperti sebuah pukulan telak bagi jutaan pengikutnya, pertama kali dibongkar oleh Mitch Clark, seorang selebgram ternama yang dikenal luas karena konten-konten investigasinya yang membongkar hoaks di akunnya, @mitchckofficial.

Mitch Clark dengan tegas menyatakan bahwa "Tidak ada Yang Mun. Ini cuma buatan orang Israel bernama Shalev Hani. Dia bikin karakter ini untuk jualan e-book dan jualan kursus spiritual. Semua skrip buatan AI. Ini scam besar-besaran." Pernyataan ini sontak memicu gelombang kejut di komunitas online. Investigasi Clark mengungkap motif di balik penciptaan karakter Yang Mun yang ternyata murni bersifat komersial, memanfaatkan kebutuhan manusia akan bimbingan spiritual dan ketenangan di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Tidak hanya Mitch Clark, kepalsuan biksu Yang Mun juga turut diberitakan oleh Eurovision News, sebuah media berita kredibel, seperti yang dilansir pada Jumat, 23 Januari 2026. Laporan Eurovision News memberikan bukti konkret yang semakin memperkuat klaim Mitch Clark. Konten-konten Yang Mun, baik visual maupun tekstual, diuji menggunakan detektor AI canggih dari Google, yakni SynthID. Hasilnya tidak terbantahkan: Yang Mun merupakan hasil video buatan Google AI Studio alias Veo, menegaskan bahwa tidak ada elemen manusiawi dalam penciptaan sosok biksu tersebut.

Investigasi Eurovision News tidak berhenti di situ. Mereka menelusuri lebih jauh dan menemukan bahwa akun media sosial Yang Mun memiliki tautan ke situs web pribadinya. Situs tersebut bukan hanya sekadar platform berbagi kebijaksanaan, melainkan sebuah toko online yang menjual buku-buku filosofi hidup dengan harga bervariasi antara USD 11 hingga USD 50. Yang lebih mengejutkan lagi, penelusuran mendalam Eurovision News mengungkapkan bahwa tidak hanya karakter biksu itu sendiri, tetapi juga isi buku-buku tersebut, rilis pers yang terkait, bahkan testimoni-testimoni yang ditampilkan di situs, semuanya adalah buatan AI. Ini menunjukkan tingkat manipulasi yang sangat terstruktur dan menyeluruh, mencakup setiap aspek dari persona online Yang Mun.

Seperti halnya Mitch Clark, investigasi Eurovision News juga mengarah pada satu nama: Shalev Hani, yang berbasis di Israel. Shalev Hani diidentifikasi sebagai seorang "digital creator" dan "AI storyteller," sebuah profesi yang semakin relevan di era digital namun juga membawa potensi penyalahgunaan yang signifikan. Ketika dikonfirmasi mengenai keterlibatannya dalam penciptaan Yang Mun, Shalev Hani memilih untuk berkelit. "Saya bukan orang yang tepat untuk berkomentar mengenai Yang Mun dan tidak ingin berdiskusi dengan media," tulis Shalev kepada Eurovision, sebuah jawaban yang bukannya meredakan kecurigaan, justru semakin menguatkan indikasi keterlibatannya.

Kasus Yang Mun ini membuka mata publik terhadap potensi manipulasi dan penipuan yang kian canggih di era AI. Kemampuan AI untuk menciptakan karakter yang meyakinkan, menghasilkan konten yang menarik, dan bahkan meniru gaya bahasa yang inspiratif, telah mencapai titik di mana sangat sulit bagi mata telanjang untuk membedakan antara yang asli dan yang palsu. Ini bukan sekadar lelucon atau eksperimen kecil; ini adalah operasi skala besar yang berhasil menipu jutaan orang dan menghasilkan keuntungan finansial yang signifikan, semua berdasarkan fondasi kebohongan.

Dampak dari pengungkapan ini tidak bisa diremehkan. Bagi jutaan pengikut Yang Mun, ini adalah pengkhianatan kepercayaan yang mendalam. Banyak dari mereka mungkin merasa bodoh atau dimanfaatkan, padahal mereka hanya mencari inspirasi dan bimbingan di dunia yang serba kompleks ini. Perasaan kekecewaan dan kemarahan pasti melanda, apalagi jika mereka telah membeli buku-buku atau mendaftar kursus spiritual yang ditawarkan oleh entitas fiktif ini. Kredibilitas tokoh-tokoh terkenal yang sempat menjadi pengikutnya pun ikut dipertanyakan, memaksa mereka untuk lebih berhati-hati dalam memilih siapa yang mereka ikuti di media sosial.

Lebih jauh lagi, kasus Yang Mun menjadi peringatan keras bagi seluruh ekosistem media sosial. Platform-platform seperti Instagram kini dihadapkan pada tantangan besar untuk membedakan antara konten asli dan buatan AI, serta mencegah penyalahgunaan teknologi ini untuk tujuan penipuan. Regulasi dan kebijakan yang lebih ketat mungkin diperlukan untuk memastikan transparansi, terutama ketika AI digunakan untuk menciptakan persona yang berinteraksi langsung dengan publik dan menjual produk atau jasa. Pengguna media sosial juga dituntut untuk meningkatkan literasi digital dan skeptisisme yang sehat, tidak mudah percaya pada apa pun yang terlihat di linimasa tanpa verifikasi.

Secara etis, kasus ini menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendalam: apakah kebijaksanaan dan spiritualitas bisa direplikasi oleh mesin? Bisakah sebuah algoritma benar-benar memahami dan menyampaikan kebenasan hidup, atau hanya mampu meniru pola-pola yang dianggap "bijak"? Jika AI dapat menghasilkan nasihat yang mengena di hati, apakah itu masih "bijaksana" jika tidak ada kesadaran atau pengalaman manusia di baliknya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus menghantui kita seiring dengan kemajuan teknologi AI yang semakin pesat.

Kasus biksu Yang Mun adalah cerminan dari era baru di mana garis antara realitas dan simulasi semakin kabur. Ini adalah panggilan untuk kita semua agar lebih kritis, lebih waspada, dan lebih menuntut transparansi dari para pembuat konten dan platform digital. Pencarian akan inspirasi dan bimbingan adalah naluri manusiawi yang mendalam, dan menjadi tugas kolektif kita untuk memastikan bahwa pencarian itu tidak dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan kecanggihan teknologi. Kisah Yang Mun akan menjadi studi kasus penting dalam sejarah penipuan digital, sebuah pengingat bahwa di balik layar yang paling menenangkan pun, kadang tersembunyi niat yang paling licik.