BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Konflik yang membayangi hubungan Chikita Meidy dan mantan suaminya, Indra Adhitya, kembali mengemuka ke permukaan publik, memicu gelombang perhatian dan simpati. Kali ini, mantan penyanyi cilik yang dulu dikenal dengan lagu-lagu ceria dan lugu itu, menunjukkan sikap yang jauh lebih tegas dan berani dalam menyuarakan hak serta tanggung jawab sang mantan suami terhadap buah hati semata wayang mereka, seorang putra bernama Javier. Chikita, yang telah berusaha keras untuk melupakan dan menutup lembaran pahit drama perceraiannya, kini merasa terpanggil untuk tidak tinggal diam menyaksikan inkonsistensi dan kelalaian mantan suaminya dalam menjalankan perannya sebagai ayah. Ia tak segan memberikan ultimatum keras, sebuah peringatan yang tegas dan tanpa kompromi, jika sang mantan suami tidak menunjukkan keseriusan dan komitmen yang nyata dalam mengurus dan memperhatikan anak mereka. "Jadi kalau dari pihak sana tidak mau atensi lagi terhadap anak saya, jangan mengaku ayah, udah gitu aja," tegas Chikita Meidy dengan nada suara yang mantap dan penuh keyakinan saat diwawancarai secara eksklusif di Studio Pagi-Pagi Ambyar TransTV, yang berlokasi di Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Selasa, tanggal 22 Januari tahun 2026. Pernyataan ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan sebuah refleksi dari kekecewaan mendalam dan keprihatinan yang ia rasakan melihat dampak dari sikap mantan suami terhadap psikologis dan emosional putra mereka.
Ketegasan Chikita ini, yang kali ini terlihat begitu menonjol dan tak terbantahkan, dipicu oleh serangkaian sikap sang mantan suami yang dinilai oleh Chikita kerap memberikan harapan palsu dan janji-janji manis yang tidak pernah terealisasi kepada sang anak. Pengalaman pahit ini dialami Javier berulang kali, mulai dari janji manis untuk mengajak liburan ke Singapura yang sangat didambakan, hingga janji untuk membelikan koin dalam permainan daring yang sangat digemari anak seusianya. Namun, setelah memberikan harapan tersebut, sang mantan suami justru menghilang tanpa jejak dan kabar, bahkan hingga berminggu-minggu, meninggalkan Javier dalam kekecewaan yang mendalam dan kebingungan. Chikita merasa bahwa ini bukanlah cara seorang ayah memperlakukan anaknya, dan ia tidak ingin Javier terus-menerus mengalami siklus kekecewaan ini. "Jangan bilang bahwa si Chika menjarakkan, gak. Jadi kalau dia pintar dan dia waras, temuinya anaknya itu kan rumah kita," tambah Chikita, menekankan bahwa ia tidak pernah menghalangi pertemuan antara Javier dengan ayahnya. Sebaliknya, ia justru mengajak sang mantan suami untuk bersikap rasional dan bertanggung jawab dengan menemui anaknya di rumah mereka, yang merupakan tempat yang aman dan nyaman bagi Javier. Chikita ingin menegaskan bahwa niatnya bukan untuk memisahkan ayah dan anak, melainkan untuk memastikan bahwa pertemuan itu terjadi dengan cara yang sehat dan penuh perhatian, bukan sekadar memenuhi kewajiban tanpa hati.
Selain masalah krusial terkait perhatian dan kasih sayang terhadap anak, Chikita juga secara tegas menuntut penyelesaian atas masalah harta gana-gini yang masih menggantung. Permasalahan ini khususnya berfokus pada aset berupa rumah yang hingga kini masih dalam status Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Chikita memiliki usulan yang jelas dan terukur mengenai rumah tersebut. Ia meminta agar rumah tersebut dijual, mengingat kondisi finansial yang mungkin dihadapi oleh sang mantan suami. Namun, ia menekankan bahwa hasil penjualan tersebut haruslah dibagi secara adil, bukan sekadar dibagi dua antara dirinya dan mantan suami, melainkan dibagi tiga, dengan satu bagian yang utuh dan terjamin untuk sang anak, Javier. "Jual, baginya bukan bagi dua, bagi tiga sama Javier. Setelah dikurangin dengan nafkah terutangnya dia terhadap Javier, terutang tertunggaknya rumah itu nilainya berapa, lalu ya baru sisanya dari semua itu dibagi ke kami bertiga," jelas Chikita dengan detail dan perhitungan yang matang. Rincian ini menunjukkan bahwa Chikita tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga masa depan Javier dan kewajiban finansial yang seharusnya dipenuhi oleh sang ayah. Ia ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan dari penjualan aset tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan Javier, termasuk untuk menutupi tunggakan KPR yang ada dan kewajiban nafkah yang belum terpenuhi.
Chikita Meidy dengan lugas menekankan bahwa posisinya saat ini sudah mandiri secara finansial. Ia tidak lagi membutuhkan atau meminta uang untuk keperluan pribadinya sendiri. Fokus utamanya adalah memastikan hak-hak anaknya terpenuhi sepenuhnya dan terjamin, serta untuk menghilangkan beban utang bersama yang saat ini masih memengaruhi dan berpotensi mengganggu masa depan mereka. Ia ingin menciptakan lingkungan yang stabil dan aman bagi Javier, bebas dari gejolak finansial yang tidak perlu. "Yang waras gitu loh. Jangan dibuat rumit," pungkasnya, mengungkapkan harapannya agar sang mantan suami dapat bersikap lebih dewasa dan bijaksana dalam menghadapi permasalahan ini. Pernyataan ini adalah sebuah seruan untuk rasionalitas dan tanggung jawab. Chikita berharap mantan suaminya dapat melihat permasalahan ini dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu demi kebaikan anak mereka, dan tidak lagi memperumit situasi yang sudah cukup pelik. Ia ingin kedua belah pihak dapat menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin dan hati yang jernih, demi memberikan yang terbaik bagi Javier.
Sebagai informasi tambahan, proses perceraian antara Chikita Meidy dan Indra Adhitya secara resmi telah diputus oleh Pengadilan Tigaraksa, Tangerang, pada hari Selasa, tanggal 28 Oktober tahun 2025. Keputusan pengadilan ini menjadi penanda akhir dari ikatan pernikahan mereka, namun sayangnya, drama dan permasalahan yang timbul dari pernikahan tersebut masih terus bergulir, terutama terkait dengan tanggung jawab pasca-perceraian. Pernyataan tegas Chikita ini diharapkan dapat menjadi titik balik, di mana sang mantan suami akhirnya menyadari dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah, serta menyelesaikan persoalan harta gana-gini secara adil dan bertanggung jawab, demi masa depan Javier yang lebih cerah. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya komitmen dan tanggung jawab orang tua, bahkan setelah hubungan pernikahan berakhir, demi kesejahteraan anak-anak yang menjadi korban dari konflik orang tua.

