BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Cita-cita besar terpendam dalam diri Ibrahim, putra dari selebriti Shyalimar Malik, yang kini menginjak usia 10 tahun. Ia tak sekadar bermimpi menjadi seorang atlet basket profesional, seperti yang terlihat saat ia berlaga dalam sebuah kejuaraan, melainkan memiliki visi yang lebih luas. Ibrahim secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk mengikuti jejak kesuksesan dua sosok publik figur ternama di Indonesia: Denny Sumargo dan, yang paling dominan, Raffi Ahmad. Inspirasi ini muncul dari pengamatan mendalam Ibrahim terhadap kiprah Raffi Ahmad, yang baginya bukan hanya sekadar seorang artis papan atas, tetapi juga seorang pengusaha sukses dan sosok yang memiliki pengaruh luas di berbagai lini. Keinginan ini diungkapkan langsung oleh Ibrahim kepada sang ibu, Shyalimar Malik, saat keduanya berada di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
"Penginnya dia ke depannya tuh jadi atlet, penginnya jadi selebriti juga, pengusaha. Dia bilang, ‘Aku mau kayak Denny Sumargo, pengin kayak Raffi Ahmad. Kan dikenal, Mom, terus bisa bisnis juga’ katanya gitu. Bisa jadi pejabat juga," ujar Shyalimar Malik, menjelaskan visi sang putra. Pernyataan Ibrahim tersebut mencerminkan pemahaman yang cukup matang untuk anak seusianya mengenai definisi kesuksesan. Ia tidak hanya melihat popularitas sebagai tujuan akhir, tetapi juga kemampuan untuk membangun kerajaan bisnis dan bahkan berkontribusi pada ranah pemerintahan. Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim tidak hanya terkesan oleh gemerlap dunia hiburan, tetapi juga oleh kemampuan para figur publik tersebut dalam melakukan diversifikasi karier dan membangun aset.
Bagi Ibrahim, Raffi Ahmad adalah representasi kesuksesan yang paripurna. Ia melihat Raffi sebagai sosok yang tidak hanya sukses di dunia hiburan sebagai presenter dan aktor, tetapi juga sebagai seorang pebisnis ulung yang mampu merambah berbagai sektor, mulai dari kuliner, fashion, hingga teknologi. Lebih dari itu, Raffi Ahmad juga dikenal sebagai sosok yang memiliki koneksi luas dan pengaruh positif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Gambaran inilah yang menjadi magnet bagi Ibrahim, membuatnya ingin meniru jejak sang idola. "Iya aku mau saja (jadi artis). Mau terkenal," ujar Ibrahim dengan penuh keyakinan, menunjukkan bahwa keinginan menjadi terkenal bukanlah sekadar isapan jempol belaka, melainkan sebuah ambisi yang tertanam kuat. Keinginan ini juga didorong oleh keinginan untuk dapat membahagiakan ibunya, Shyalimar Malik, yang telah berjuang keras membesarkannya seorang diri.
Di balik mimpi besar yang diungkapkan Ibrahim, terdapat sebuah narasi perjuangan dan pembuktian diri yang menyentuh. Shyalimar Malik diketahui membesarkan Ibrahim seorang diri sejak kecil, sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan pengorbanan. Kini, seiring dengan pertumbuhan Ibrahim dan munculnya cita-citanya yang membanggakan, langkah ini menjadi bagian dari upaya Shyalimar Malik untuk membuktikan kemampuannya sebagai seorang ibu yang tangguh dan mampu memberikan yang terbaik bagi putranya. Perjuangan pedih di masa lalu kini mulai terbayar dengan melihat Ibrahim memiliki visi yang jelas dan ambisi yang membara.
"Pengin membalas rasa sakit hati. Mau nabung juga biar bisa bahagiakan Mami," kata Ibrahim, mengungkapkan motivasi terdalamnya. Kalimat polos namun penuh makna ini menyiratkan kedalaman emosi seorang anak yang ingin membalas segala pengorbanan ibunya. Ia ingin menjadi sumber kebahagiaan dan kebanggaan bagi Shyalimar Malik, sebuah impian yang patut diacungi jempol. Keinginan untuk "menabung" juga menunjukkan kesadaran Ibrahim akan pentingnya perencanaan masa depan dan kemandirian finansial, sebuah pelajaran berharga yang kemungkinan besar ia dapatkan dari ibunya.
Shyalimar Malik sendiri mengakui bahwa aspirasi Ibrahim ini juga menjadi sebuah ajang pembuktian baginya. Ia ingin menunjukkan kepada publik, dan terutama kepada mantan suami, bahwa dirinya mampu berdiri tegak dan membesarkan Ibrahim dengan baik tanpa bantuan. Pengalaman pahit di masa lalu, yang mungkin melibatkan berita-berita kurang menyenangkan terkait hubungan dengan ayah kandung Ibrahim, menjadi motivasi tambahan bagi Shyalimar Malik untuk membuktikan bahwa ia adalah ibu yang kuat dan mampu memberikan kehidupan yang layak serta masa depan yang cerah bagi putranya. "Aku cuma pengin dia dikenal. Karena dia dulu sempat, ya kalian tahulah, ada berita-berita zaman dulu sama bapak kandungnya," sahut Shyalimar Malik, memberikan konteks atas keinginannya untuk melihat Ibrahim meraih kesuksesan dan popularitas.
Hasrat pembuktian diri tidak hanya menyelimuti Shyalimar Malik, tetapi juga sangat kuat terasa dalam diri Ibrahim. Ia ingin membuktikan kepada dunia, dan mungkin juga kepada ayahnya yang mungkin tidak hadir dalam kehidupannya, bahwa ia adalah anak yang berprestasi dan mampu meraih kesuksesan. Keinginan untuk "terkenal" bagi Ibrahim bukan sekadar tentang ketenaran semata, melainkan sebuah sarana untuk menunjukkan identitasnya dan membuktikan bahwa ia mampu berdiri sendiri dan memberikan kontribusi positif. "Jadi aku kayak pengin membuktikan bahwa, ‘Ini lho dia sekarang!’. Umur segini, umur 10 tahun, alhamdulillah bisa mandiri, banyak prestasinya," pungkas Shyalimar Malik, penuh rasa bangga melihat perkembangan putranya.
Kisah Ibrahim dan Shyalimar Malik ini menjadi inspirasi bahwa cita-cita besar dapat tumbuh dari latar belakang yang penuh tantangan. Dengan dukungan penuh dari sang ibu dan motivasi internal yang kuat, Ibrahim memiliki potensi besar untuk menggapai mimpinya. Perjalanan menuju kesuksesan ala Raffi Ahmad mungkin akan panjang dan berliku, namun dengan semangat juang yang ditunjukkan, Ibrahim dan Shyalimar Malik membuktikan bahwa cinta seorang ibu dan tekad seorang anak dapat menaklukkan segala rintangan dan mewujudkan mimpi yang paling indah sekalipun. Semangat Ibrahim untuk menjadi sosok yang dikenal, memiliki bisnis, dan bahkan menjadi pejabat, mencerminkan generasi muda yang memiliki visi multidimensional, tidak hanya terpaku pada satu bidang, tetapi berani bermimpi besar dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Keberhasilan Ibrahim di masa depan tidak hanya akan menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri dan ibunya, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa dengan kerja keras dan doa, impian setinggi langit pun dapat diraih.

