Jakarta – Ketegangan di kancah teknologi global kembali memanas, terutama terkait dengan ekspor chip kecerdasan buatan (AI) canggih ke China. Kritik tajam dilayangkan oleh CEO Anthropic, Dario Amodei, terhadap kebijakan penjualan chip AI Nvidia ke Negeri Tirai Bambu. Amodei secara tegas menyebut keputusan tersebut sebagai kekeliruan strategis yang sangat besar, bahkan mengibaratkannya dengan tindakan menjual senjata nuklir kepada Korea Utara. Pernyataan kontroversial ini bukan hanya mengguncang industri, tetapi juga menyoroti kompleksitas dan risiko geopolitik di balik perlombaan dominasi AI.
Kritik pedas Amodei disampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Bloomberg TV, di tengah pusaran kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang menerapkan tarif impor sebesar 25% untuk beberapa jenis chip AI, termasuk Nvidia H200 dan AMD MI325X, yang dikirim ke China. Kebijakan tarif ini, meskipun bertujuan untuk menciptakan pemasukan baru bagi pemerintah AS, secara efektif tetap mempertahankan jalur ekspor terbuka, sebuah langkah yang dipertanyakan oleh banyak pihak yang mengkhawatirkan implikasi jangka panjangnya.
Menurut Amodei, meskipun chip H200 bukan merupakan generasi terbaru dari lini produk Nvidia, kapabilitas komputasinya tetap jauh melampaui apa yang saat ini bisa diakses atau bahkan diproduksi oleh China secara mandiri. Oleh karena itu, ia berargumen bahwa pengiriman chip semacam itu ke negara yang dianggap sebagai pesaing strategis adalah keputusan yang sarat risiko, baik dari segi keamanan nasional maupun keseimbangan kekuatan teknologi global. "Saya pikir ini gila. Ini seperti menjual senjata nuklir ke Korea Utara lalu membanggakannya," ujar Amodei, mengutip laporan dari Techspot pada Rabu (21/1/2026), menegaskan betapa seriusnya ia memandang isu ini.
Analogi "senjata nuklir" yang digunakan Amodei bukanlah sekadar retorika kosong. Di era modern, chip AI canggih sering disebut sebagai "minyak baru" atau "senjata baru" dalam geopolitik. Kemampuannya untuk melatih model AI raksasa dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, mulai dari inovasi sipil seperti pengembangan obat dan riset ilmiah, hingga aplikasi militer yang sangat sensitif seperti sistem senjata otonom, pengawasan massal, dan kemampuan intelijen. Memberikan akses ke teknologi inti ini kepada pesaing strategis, menurut Amodei, sama saja dengan menyerahkan kunci kekuatan masa depan yang dapat mengubah dinamika global.
Namun, kekhawatiran yang dilontarkan Amodei belum tentu sepenuhnya terwujud tanpa hambatan. Sejumlah laporan terkini justru mengindikasikan bahwa otoritas bea cukai China telah mengambil langkah tak terduga dengan memblokir masuknya pengiriman chip H200. Lebih jauh, pemerintah China juga dilaporkan telah memperingatkan perusahaan-perusahaan lokal agar tidak membeli chip tersebut kecuali memang benar-benar diperlukan. Langkah ini bisa diinterpretasikan sebagai upaya China untuk menunjukkan kemandirian, mendorong pengembangan chip domestik, atau bahkan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan tarif AS yang dianggap memberatkan. Ini menambah lapisan kompleksitas pada situasi yang sudah tegang.
Ketegangan antara Amodei dan Nvidia, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang, bukanlah hal baru. Rivalitas di antara keduanya disebut-sebut menyerupai konflik klasik di industri teknologi yang pernah terjadi antara ikon seperti Steve Jobs dan Bill Gates di masa lalu. Perbedaan pandangan mereka tidak hanya sebatas strategi bisnis, tetapi juga menyentuh filosofi mendasar tentang arah dan dampak AI terhadap masyarakat.
Pada Mei tahun lalu, Anthropic secara terbuka telah menunjukkan dukungannya terhadap kebijakan "AI Diffusion" yang mengadvokasi pembatasan ekspor chip AI yang lebih ketat ke negara-negara tertentu. Perusahaan yang didukung oleh raksasa teknologi seperti Amazon itu mengusulkan serangkaian langkah proaktif, termasuk penurunan ambang ekspor chip AI, penguatan mekanisme pengawasan untuk mencegah transfer teknologi yang tidak sah, serta peningkatan pendanaan untuk memerangi penyelundupan chip canggih.
Dukungan Anthropic terhadap pembatasan ekspor tidak lepas dari kekhawatiran akan penyalahgunaan teknologi AI dan keinginan untuk menjaga keunggulan strategis Barat dalam pengembangan AI. Mereka menyoroti sejumlah kasus penyelundupan perangkat komputasi berperforma tinggi ke China yang mengindikasikan tingginya permintaan dan upaya gigih untuk mengakuisisi chip-chip tersebut, terlepas dari pembatasan. Kasus-kasus yang disebutkan meliputi upaya penyelundupan puluhan kartu grafis yang disembunyikan bersama lobster hidup, hingga insiden seorang perempuan yang kedapatan membawa ratusan prosesor Intel yang disembunyikan secara rapi di balik perut palsu yang dikenakannya. Insiden-insiden ini bukan hanya anekdot lucu, melainkan bukti nyata akan tantangan dalam menegakkan kontrol ekspor di tengah pasar gelap yang berkembang pesat.
Nvidia, melalui Jensen Huang, menepis tuduhan dan kekhawatiran tersebut dengan nada sarkastik. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika seharusnya lebih fokus pada inovasi dan pengembangan teknologi mutakhir, daripada menghabiskan waktu menyebarkan cerita tentang penyelundupan perangkat elektronik besar yang diklaim disembunyikan di "perut bayi" atau bersama makanan laut. Respon ini menggarisbawahi perbedaan filosofi antara kedua pemimpin: Amodei menekankan risiko dan keamanan, sementara Huang menekankan inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Jensen Huang juga sebelumnya menanggapi keras peringatan Amodei soal dampak AI terhadap lapangan kerja. Ketika CEO Anthropic memperkirakan bahwa AI berpotensi menghapus setengah pekerjaan kerah putih tingkat pemula dalam kurun waktu lima tahun, Huang menilai pandangan tersebut sarat kepentingan dan tidak objektif, mungkin merujuk pada upaya Anthropic untuk memosisikan diri sebagai pemimpin dalam "AI yang bertanggung jawab" atau "AI yang aman." Huang cenderung melihat AI sebagai pendorong produktivitas dan pencipta lapangan kerja baru, bukan sebagai ancaman.
Terbaru, Huang kembali mengkritik sikap negatif terhadap AI secara umum dan menegaskan bahwa tidak seharusnya ada perusahaan yang meminta pemerintah untuk memperketat regulasi demi kepentingan kompetitif mereka sendiri. Menurutnya, sikap semacam itu justru berpotensi merugikan perkembangan teknologi secara keseluruhan dan menghambat manfaat yang bisa dinikmati masyarakat luas. Pernyataan ini jelas menyasar Anthropic dan perusahaan-perusahaan lain yang menyerukan regulasi ketat, menuduh mereka menggunakan kekhawatiran akan AI sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan kompetitif atau membatasi pesaing.
Dilema penjualan chip AI ke China ini mencerminkan kompleksitas yang lebih besar dalam perang teknologi antara Amerika Serikat dan China. Di satu sisi, ada kepentingan bisnis raksasa seperti Nvidia yang melihat China sebagai pasar yang sangat besar dan penting untuk pendapatan mereka. Di sisi lain, ada kekhawatiran keamanan nasional dan strategis yang diwakili oleh Amodei, yang melihat potensi penyalahgunaan teknologi AI canggih oleh pesaing geopolitik. Pemerintah AS sendiri berada di tengah-tengah tarik-menarik ini, mencoba menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan keamanan nasional melalui kebijakan tarif dan kontrol ekspor yang rumit.
Situasi ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan utama di tahun-tahun mendatang. Dengan China yang berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan chip AI domestik, dan AS yang terus berusaha mempertahankan keunggulannya, medan pertempuran di sektor semikonduktor dan AI akan semakin intens. Kritikan Amodei adalah pengingat keras bahwa keputusan penjualan chip AI bukan lagi sekadar transaksi komersial biasa, melainkan sebuah tindakan yang memiliki implikasi geopolitik yang mendalam, berpotensi membentuk masa depan kekuatan global dan arah peradaban teknologi. Debat ini akan terus berlanjut, dengan pertanyaan fundamental yang belum terjawab: bagaimana menyeimbangkan inovasi, keuntungan, dan keamanan di era kecerdasan buatan?
(asj/asj)

