Greenland, pulau raksasa yang sebagian besar tertutup es di Samudra Atlantik Utara, seringkali disalahpahami sebagai negeri yang monoton dan sepi. Namun, realitanya jauh lebih kompleks dan menarik, dengan kekayaan sejarah, budaya, dan fenomena alam yang luar biasa. Pulau ini sempat menjadi sorotan dunia ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara ‘ngotot’ menyatakan minatnya untuk membeli atau mencaplok wilayah tersebut dari Kerajaan Denmark pada tahun 2019. Ketertarikan Trump, yang disebutnya sebagai "transaksi real estat yang besar," memicu gelombang keheranan dan penolakan keras dari pemerintah Denmark dan Greenland sendiri, yang menganggap tawaran itu sebagai "absurd." Insiden ini secara tidak langsung menyoroti betapa strategis dan uniknya Greenland di mata dunia, memicu pertanyaan tentang apa sebenarnya yang membuat pulau ini begitu istimewa. Berikut adalah 10 fakta unik tentang Greenland yang mungkin belum banyak diketahui, membuktikan bahwa ada lebih banyak hal di balik hamparan esnya.
1. Pulau Terbesar di Dunia yang Bukan Benua
Greenland memegang rekor sebagai pulau terbesar di dunia, dengan luas daratan mencapai sekitar 2,16 juta kilometer persegi. Ukuran ini setara dengan gabungan seluruh negara di Eropa Barat atau sekitar tiga kali lipat luas negara bagian Texas di AS. Meskipun sebagian besar, sekitar 80%, wilayahnya tertutup oleh Lapisan Es Greenland (Greenland Ice Sheet) yang masif dan bisa mencapai ketebalan hingga 3 kilometer di beberapa titik, area bebas es yang tersisa masih cukup luas, bahkan diperkirakan seukuran negara Swedia atau Inggris. Secara geografis, Greenland adalah bagian dari lempeng tektonik Amerika Utara, namun secara politik dan budaya, ia memiliki ikatan historis yang kuat dengan Eropa, khususnya Denmark. Keberadaan lapisan es raksasa ini menjadikannya salah satu indikator paling sensitif terhadap perubahan iklim global, dengan pencairan yang signifikan dapat memengaruhi permukaan laut di seluruh dunia.
2. Namanya "Greenland" Itu Nyata dan Bersejarah
Nama "Greenland" (Tanah Hijau) mungkin terdengar kontradiktif mengingat sebagian besar permukaannya yang putih berselimut es. Namun, nama ini memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Diberikan oleh Erik the Red, seorang penjelajah Viking yang diasingkan dari Islandia, pada akhir abad ke-10 (sekitar tahun 982 Masehi), nama tersebut sejatinya adalah strategi pemasaran. Erik ingin menarik lebih banyak pemukim Norse untuk bergabung dengannya di tanah baru ini, sehingga ia memilih nama yang lebih menarik daripada "Islandia" yang berarti "Tanah Es". Menariknya, penelitian paleoklimatologi menunjukkan bahwa ribuan tahun yang lalu, terutama selama periode hangat abad pertengahan ketika Viking tiba, wilayah pesisir Greenland memang lebih subur dan hijau dibandingkan kondisi saat ini, sehingga nama tersebut bukan sepenuhnya kebohongan, melainkan gambaran dari masa lalu yang lebih hangat.
3. Negara Otonom dalam Kerajaan Denmark
Secara politik, Greenland bukanlah negara merdeka sepenuhnya, melainkan sebuah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Status ini memberinya hak untuk mengelola sebagian besar urusan internalnya sendiri, termasuk pendidikan, kesehatan, perikanan, lingkungan, dan peradilan. Otonomi ini telah berkembang secara bertahap; Greenland mendapatkan "home rule" (pemerintahan sendiri) pada tahun 1979 dan kemudian memperluas otonominya pada tahun 2009. Meskipun demikian, Denmark masih memegang kendali atas kebijakan luar negeri, pertahanan, dan kebijakan moneter Greenland. Hubungan ini seringkali menjadi topik perdebatan di Greenland, dengan sebagian besar penduduk dan politisi menyuarakan keinginan untuk kemerdekaan penuh di masa depan, terutama mengingat potensi kekayaan mineral dan sumber daya alam yang belum tereksplorasi di bawah lapisan esnya.
4. Jejak Manusia Lebih dari 4.500 Tahun
Sejarah kehadiran manusia di Greenland jauh lebih panjang daripada yang banyak orang duga. Gelombang pertama manusia, yang dikenal sebagai budaya Saqqaq, diperkirakan tiba dari Amerika Utara sekitar 2500 SM, jauh sebelum kedatangan Viking. Mereka adalah pemburu-pengumpul yang beradaptasi dengan lingkungan Arktik yang keras. Beberapa kelompok budaya lain, seperti Dorset, kemudian menyusul. Pada abad ke-10, pemukim Norse dari Islandia, dipimpin oleh Erik the Red, mendirikan permukiman di Greenland selatan, bertahan selama sekitar 400-500 tahun sebelum akhirnya menghilang, kemungkinan karena kombinasi perubahan iklim, konflik dengan penduduk asli, dan kesulitan adaptasi. Pada abad ke-13, kelompok Inuit Thule, nenek moyang mayoritas penduduk Greenland modern, tiba dari Asia melalui Kanada. Mereka adalah pemburu paus yang sangat terampil dan mampu beradaptasi dengan ekstremitas iklim, melestarikan tradisi dan cara hidup mereka hingga kini.
5. Mayoritas Penduduknya Inuit
Dari populasi Greenland yang relatif kecil, sekitar 88% adalah keturunan Inuit (termasuk subkelompok Kalaallit, yang merupakan Inuit Greenland Barat) atau campuran Inuit dan Eropa. Sisanya adalah keturunan Denmark atau Eropa lainnya. Kelompok Kalaallit, yang berarti "Orang Greenland" dalam bahasa asli mereka, membentuk mayoritas penduduk dan memiliki ikatan budaya, bahasa, dan sejarah yang kuat dengan komunitas Inuit di Kanada dan Alaska, yang secara kolektif dikenal sebagai "Inuit Sirkumpolar." Budaya Inuit kaya akan tradisi lisan, seni, dan pengetahuan tentang bertahan hidup di lingkungan Arktik. Mereka sangat menghargai hubungan dengan alam dan laut, yang tercermin dalam praktik berburu, memancing, dan cerita rakyat mereka. Identitas Inuit adalah inti dari Greenland modern, membentuk dasar bagi perjuangan mereka untuk otonomi dan pengakuan global.
6. Negara Multibahasa
Greenland adalah negara multibahasa, dengan bahasa Greenlandik (Kalaallisut) sebagai bahasa resmi utama dan paling banyak digunakan. Kalaallisut adalah bahasa yang unik dan kompleks, termasuk dalam keluarga bahasa Eskimo-Aleut. Ia dikenal sebagai bahasa polisintetik, yang berarti kata-kata seringkali sangat panjang karena berbagai sufiks ditambahkan ke akar kata untuk mengekspresikan makna yang kompleks, mirip dengan kalimat lengkap dalam bahasa lain. Bahasa Denmark juga sangat umum digunakan, terutama di kalangan generasi yang lebih tua dan dalam administrasi, sebagai warisan dari hubungan kolonial dengan Denmark. Selain itu, seiring dengan meningkatnya pariwisata dan hubungan internasional, bahasa Inggris semakin banyak dipelajari dan digunakan, terutama di daerah perkotaan dan industri pariwisata. Keberadaan tiga bahasa ini mencerminkan sejarah panjang dan identitas ganda Greenland yang unik, memadukan tradisi asli dengan pengaruh Eropa modern.
7. Tak Ada Jalan Antar Kota
Meskipun ukurannya yang kolosal, Greenland adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang tidak memiliki jaringan jalan raya atau kereta api yang menghubungkan kota-kota atau permukiman utamanya. Geografi Greenland yang ekstrem, ditandai oleh lapisan es yang luas, pegunungan terjal, fjord dalam, dan permafrost yang tidak stabil, membuat pembangunan infrastruktur darat skala besar antar kota menjadi sangat mahal dan hampir tidak mungkin. Akibatnya, transportasi di Greenland sangat bergantung pada moda udara dan laut. Masyarakat bepergian antar kota melalui penerbangan domestik menggunakan pesawat kecil atau helikopter, atau melalui kapal feri pesisir yang beroperasi di sepanjang pantai barat. Di daerah yang lebih terpencil, snowmobile dan kereta anjing tradisional masih menjadi alat transportasi penting, terutama selama musim dingin, menunjukkan adaptasi luar biasa terhadap lingkungan Arktik.
8. Industri Perikanan dan Tradisi Berburu
Ekonomi Greenland sangat didominasi oleh industri perikanan, yang menyumbang sebagian besar pendapatan ekspornya. Udang (shrimp), halibut, dan cod adalah komoditas utama yang diekspor ke berbagai negara di dunia. Selain perikanan komersial, tradisi berburu juga merupakan bagian integral dari budaya dan mata pencarian masyarakat Greenland, terutama bagi komunitas Inuit. Mereka berburu anjing laut, paus (spesies tertentu), dan bahkan beruang kutub untuk konsumsi lokal. Penting untuk dicatat bahwa perburuan ini, terutama untuk mamalia laut, dilakukan secara tradisional dan subsisten, bukan untuk ekspor komersial, dan diatur ketat oleh kuota dan peraturan internasional untuk memastikan keberlanjutan spesies. Daging dan kulit dari hasil buruan digunakan sepenuhnya, mencerminkan filosofi Inuit tentang penghormatan terhadap alam dan pemanfaatan sumber daya secara maksimal.
9. Nuuk, Ibu Kota yang Dinamis
Nuuk, ibu kota Greenland, adalah kota terbesar dan pusat populasi utama, menampung sekitar seperempat dari total penduduk negara ini, dengan perkiraan sekitar 19.000 jiwa. Jauh dari citra terpencil yang mungkin melekat pada Greenland, Nuuk adalah kota yang dinamis dan berkembang. Ia memiliki perpaduan unik antara infrastruktur modern dan keindahan alam Arktik yang menakjubkan. Di Nuuk, Anda dapat menemukan museum nasional yang kaya akan artefak Inuit, pusat budaya Katuaq dengan arsitektur modernnya, galeri seni, universitas, kafe-kafe trendi, dan restoran yang menyajikan hidangan lokal. Kota ini berfungsi sebagai pusat administrasi, pendidikan, dan budaya Greenland, menawarkan gambaran sekilas tentang bagaimana kehidupan modern berjalan di tengah lanskap yang ekstrem, dengan latar belakang pegunungan yang menjulang tinggi dan fjord yang memukau.
10. Fenomena Matahari Tengah Malam
Greenland, karena posisinya yang dekat dengan Lingkaran Arktik, mengalami fenomena alam yang spektakuler yang dikenal sebagai "midnight sun" atau matahari tengah malam. Dari sekitar 25 Mei hingga 25 Juli, di sebagian besar wilayah Greenland, matahari tidak pernah terbenam di bawah cakrawala selama 24 jam sehari. Ini berarti siang hari yang tak berujung, di mana cahaya matahari tetap ada bahkan di tengah malam. Fenomena ini memberikan pengalaman yang unik bagi penduduk dan pengunjung, tetapi juga dapat memengaruhi pola tidur dan ritme sirkadian. Kebalikan dari ini adalah "polar night" di musim dingin, di mana matahari tidak terbit selama beberapa minggu atau bulan, menciptakan periode kegelapan abadi yang diselingi oleh cahaya redup senja. Pada tanggal 21 Juni, yang merupakan hari terpanjang dalam setahun dan puncak dari fenomena matahari tengah malam, dirayakan sebagai Hari Nasional Greenland (Aasiamiut Ulluat), sebuah perayaan budaya dan kebanggaan nasional.
Greenland mungkin identik dengan hamparan es yang luas dan suhu yang dingin, tetapi seperti yang ditunjukkan oleh fakta-fakta ini, pulau Arktik ini adalah tempat yang penuh dengan kejutan. Dari sejarah manusia yang mendalam, budaya Inuit yang kaya, status politik yang unik, hingga fenomena alam yang menakjubkan, Greenland jauh lebih dari sekadar titik di peta yang "diincar" oleh kekuatan global. Ia adalah sebuah destinasi yang menawarkan pandangan unik tentang ketahanan manusia, keindahan alam yang tak tertandingi, dan pelajaran berharga tentang adaptasi dan keberlanjutan di salah satu lingkungan paling ekstrem di Bumi.

