BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Gerakan sosial Sejuta Impian yang digagas oleh kakak-beradik influencer Mischka Keia Aoki dan Devon Kei Enzo, terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan generasi muda Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2021, inisiatif ini telah menjadi motor penggerak berbagai program edukatif yang menjangkau berbagai wilayah di tanah air, berakar dari kepedulian mendalam terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Mischka dan Devon tidak hanya sekadar menginspirasi melalui platform digital, namun juga aktif terlibat langsung di lapangan. Mereka berinteraksi dengan siswa dan guru di berbagai sekolah, mengamati secara cermat tantangan-tantangan yang dihadapi, dan kemudian merancang solusi program yang benar-benar relevan dan menjawab kebutuhan nyata. "Saya sangat percaya bahwa anak-anak memiliki potensi untuk bermimpi besar, namun itu hanya bisa terwujud ketika mereka merasa benar-benar dilihat, dihargai, dan diberi ruang yang cukup untuk terus berkembang," ungkap Mischka dalam sebuah kesempatan wawancara di kawasan Jakarta belum lama ini. Semangat untuk terus memberikan dampak positif inilah yang mendorong mereka untuk melangkah lebih jauh, melampaui batas-batas konvensional.
Perjalanan panjang Sejuta Impian di tahun 2024 ini membawa mereka pada sebuah observasi yang krusial. Berawal dari pengalaman langsung mengunjungi berbagai sekolah, Mischka dan Devon mengidentifikasi sebuah kesenjangan yang signifikan. Banyak siswa yang menunjukkan prestasi akademik yang luar biasa, namun mereka justru menghadapi kesulitan yang cukup besar dalam mengartikulasikan ide-ide mereka secara percaya diri di hadapan publik. Ini menunjukkan bahwa ketimpangan yang ada bukan hanya terbatas pada akses terhadap materi pembelajaran atau sumber daya belajar, tetapi juga meluas pada akses terhadap pengembangan keterampilan komunikasi yang esensial. Keterampilan ini, yang seringkali dianggap sebagai "soft skill", ternyata memiliki peran yang sangat fundamental dalam menentukan keberhasilan seseorang, baik dalam lingkup akademik maupun profesional di masa depan. Mereka menyadari bahwa untuk benar-benar mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global, penguasaan kemampuan berbicara di depan umum adalah sebuah keniscayaan.
Menyikapi temuan ini, Mischka mengambil inisiatif untuk meluncurkan sebuah program yang berfokus pada peningkatan keterampilan public speaking, yang ia namai "Speak Up". Program ini dirancang secara komprehensif, dimulai dari penulisan buku pembelajaran yang didedikasikan untuk membantu para pelajar menemukan keberanian dalam berbicara. Buku ini bukan sekadar teori, melainkan panduan praktis yang dibangun berdasarkan pengalaman nyata. Selain itu, Mischka juga aktif mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi langsung, serta menyelenggarakan lokakarya public speaking yang sepenuhnya gratis. Tujuan utamanya adalah untuk mendemokratisasi akses terhadap keterampilan yang sangat berharga ini, memastikan bahwa siapapun, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Inisiatif Speak Up ini sejatinya lahir dari pengalaman pribadi Mischka yang telah aktif menjadi pembicara muda di berbagai forum internasional bergengsi, termasuk partisipasinya dalam ASEAN Summit pada tahun 2023, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi seorang remaja. Pengalaman tersebut memberinya perspektif mendalam mengenai pentingnya komunikasi efektif di kancah global.
Program Speak Up yang dirancang oleh Mischka tidak hanya mendapatkan apresiasi di tingkat nasional, tetapi juga mulai menorehkan prestasi di kancah internasional. Mischka berhasil meraih kemenangan dalam sebuah kompetisi prestisius bernama Rise for the World Award 2024. Kompetisi ini diselenggarakan oleh tokoh-tokoh ternama dunia, yaitu CEO Google, Eric Schmidt, bersama dengan Wendy Schmidt dan Rhodes Trust. Dalam kompetisi ini, Mischka berhasil mengungguli lebih dari 13.000 peserta yang berasal dari 49 negara berbeda. Kemenangan ini menjadi bukti nyata dari kualitas dan dampak positif yang dibawa oleh program Speak Up, sekaligus menjadi motivasi yang sangat besar bagi Mischka untuk terus mengembangkan dan memperluas jangkauan program ini. Pengakuan internasional ini semakin mempertegas bahwa visi Sejuta Impian untuk memberdayakan pemuda Indonesia melalui keterampilan komunikasi yang kuat memiliki potensi untuk bersaing di panggung dunia. "Bagi saya, public speaking tidak hanya sekadar tentang keberanian untuk mengeluarkan suara, tetapi lebih dari itu, ini adalah kemampuan fundamental untuk dapat menyampaikan pemikiran, gagasan, dan perasaan kita secara percaya diri, jelas, dan yang terpenting, bermakna bagi pendengar," ujar Mischka dengan penuh keyakinan, menekankan esensi dari keterampilan yang ia perjuangkan.
Kesadaran akan adanya kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan ruang latihan yang lebih luas, terstruktur, dan mudah diakses oleh para pemuda menjadi latar belakang utama di balik pengembangan inovasi terbaru dari Sejuta Impian, yaitu Speak Up AI. Setelah melalui serangkaian tahap uji coba yang cermat dan mendalam di beberapa sekolah terpilih, Mischka dan Devon akhirnya secara resmi meluncurkan aplikasi Speak Up AI. Peluncuran ini menandai sebuah lompatan besar dalam upaya mereka untuk mentransformasi cara pemuda Indonesia berlatih public speaking. Aplikasi ini dirancang khusus sebagai platform latihan public speaking yang memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan pengalaman belajar yang adaptif dan personal. Acara peluncuran resmi yang diselenggarakan dengan meriah bertajuk "Speak Up AI untuk Pemuda Berdaya dalam Bersaing Global", diadakan di Aula Teater Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora). Acara ini dihadiri oleh ratusan pemuda bersemangat dari berbagai wilayah Jabodetabek, yang antusias untuk menjadi bagian dari gelombang baru pengembangan diri ini.
Speak Up AI bukan sekadar aplikasi latihan biasa. Filosofi di balik pengembangannya adalah untuk mendorong pengguna tidak hanya menghafal naskah pidato, tetapi untuk benar-benar belajar berpikir kritis, menyusun argumen, dan mengartikulasikan ide-ide mereka secara efektif. Intinya, aplikasi ini bertujuan untuk melatih pengguna agar mampu berpikir sebelum berbicara, dan berbicara dengan penuh makna. Aplikasi ini menawarkan empat fitur utama yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang holistik dan mendalam. Pertama, fitur AI Speaking Practice memungkinkan pengguna untuk berlatih berbicara secara langsung, di mana kecerdasan buatan akan memberikan evaluasi otomatis dan umpan balik yang konstruktif mengenai berbagai aspek performa mereka, mulai dari intonasi, kecepatan bicara, hingga kejelasan artikulasi. Umpan balik ini sangat berharga untuk identifikasi area yang perlu ditingkatkan. Kedua, Speech Blueprint Generator adalah fitur inovatif yang membantu pengguna dalam menyusun kerangka pidato yang efektif. Fitur ini akan membimbing pengguna untuk membangun struktur pidato yang sesuai dengan tujuan komunikasi dan konteks audiens yang spesifik, memastikan pesan tersampaikan dengan optimal. Ketiga, Public Speaking Handbook menyediakan materi pembelajaran yang ringkas namun padat informasi, mencakup berbagai aspek penting dalam public speaking, mulai dari teknik dasar hingga strategi lanjutan. Materi ini dirancang agar mudah dipahami dan diakses oleh semua kalangan. Terakhir, Speaking Videos merupakan kumpulan video kurasi yang menampilkan contoh-contoh praktik public speaking terbaik. Video-video ini berfungsi sebagai sumber inspirasi dan panduan visual, membantu pengguna untuk melatih intonasi yang tepat, bahasa tubuh yang meyakinkan, dan teknik persuasi yang efektif. Dengan kombinasi fitur-fitur canggih ini, Speak Up AI bertekad untuk membekali pemuda Indonesia dengan keterampilan public speaking yang mereka butuhkan untuk sukses di panggung global, memperkuat posisi mereka sebagai agen perubahan yang mampu berkomunikasi dengan percaya diri dan berdampak.

