Fenomena budaya populer kembali menunjukkan kekuatannya dalam membentuk tren dan persepsi masyarakat, kali ini dengan dampak yang tak terduga dan berpotensi berbahaya. Film animasi terbaru besutan Disney, Zootopia 2, yang baru saja menggebrak layar lebar, telah memicu kegilaan di Negeri Tirai Bambu. Bukannya membanjiri pasar dengan koleksi merchandise boneka karakter, anak muda di China justru kini berbondong-bondong memburu dan bahkan nekat memelihara Ular Blue Pit Viper, spesies endemik asli Indonesia yang dikenal mematikan.
Kesuksesan luar biasa film Zootopia 2, yang berhasil meraup pendapatan fantastis lebih dari 3,55 miliar yuan (setara dengan sekitar Rp7,9 triliun), telah mengubah pandangan publik secara drastis terhadap reptil, khususnya ular. Namun, tren viral ini membawa serta risiko yang sangat besar, mengingat spesies yang menjadi objek perburuan adalah ular berbisa tinggi yang dapat mengancam nyawa. Ini menjadi ironi yang mencolok: sebuah film yang bertujuan menghibur justru tanpa sengaja memicu tren berbahaya di dunia nyata.
Penyebab utama di balik meledaknya tren ini adalah pengenalan karakter baru yang memukau bernama Gary De’Snake. Gary digambarkan sebagai seekor ular biru berbisa dengan kepribadian yang sangat antusias, cerdas, dan bertanggung jawab. Karakter ini disuarakan oleh aktor peraih Oscar, Ke Huy Quan, yang berhasil menghidupkan Gary dengan pesona yang luar biasa. Berkat penggambaran yang positif dan memikat ini, citra "menyeramkan" yang melekat pada reptil, khususnya ular, perlahan terkikis di mata penonton, terutama generasi muda. Gary De’Snake bukan hanya sekadar karakter animasi; ia adalah duta tak langsung yang berhasil mengubah persepsi publik terhadap salah satu hewan paling ditakuti di dunia.
Yang menarik, karakter Gary De’Snake ternyata terinspirasi langsung dari spesies Trimeresurus insularis, atau yang lebih dikenal luas sebagai Island Bamboo Pit Viper atau Ular Pit Viper Biru. Spesies ular ini adalah satwa endemik asli yang hanya dapat ditemukan di wilayah Indonesia, khususnya di kepulauan Indonesia bagian timur. Kehadirannya dalam film Zootopia 2 telah mengangkat popularitas ular ini ke panggung global, meskipun dengan konsekuensi yang tidak terduga dan mengkhawatirkan.
Mengenal Blue Pit Viper: Keindahan Mematikan dari Nusantara
Ular Blue Pit Viper, atau Trimeresurus insularis, adalah salah satu permata biologis yang memukau dari keanekaragaman hayati Indonesia. Keindahannya yang eksotis, terutama warna biru cerahnya yang langka, telah menjadikannya daya tarik bagi para pecinta reptil dan kolektor. Namun, di balik pesonanya, tersimpan bahaya mematikan yang tak boleh diremehkan. Ular ini bukan sekadar hewan peliharaan biasa; ia adalah predator berbisa yang membutuhkan penanganan sangat hati-hati dan pengetahuan mendalam.
Secara taksonomi, Trimeresurus insularis termasuk dalam keluarga Viperidae, yang dikenal luas sebagai kelompok ular berbisa dengan taring panjang yang dapat dilipat. Ciri khas genus Trimeresurus adalah keberadaan "pit" atau lekukan sensor panas yang terletak di antara mata dan lubang hidung. Organ ini berfungsi sebagai termoreseptor canggih yang memungkinkan ular mendeteksi mangsa berdarah panas dalam kegelapan total, memberikan keuntungan signifikan sebagai predator nokturnal.
Deskripsi Fisik dan Habitat:
Ular Blue Pit Viper memiliki tubuh ramping hingga sedang dengan panjang rata-rata sekitar 60-80 cm, meskipun beberapa individu bisa mencapai 1 meter. Kepala ular ini berbentuk segitiga khas viper, lebar dan jelas terpisah dari leher, menunjukkan keberadaan kelenjar bisa yang besar. Sisiknya keeled (berbingkai) yang memberikan tekstur kasar, dan pupil matanya vertikal, ciri khas ular nokturnal.

Warna tubuhnya adalah daya tarik utama. Meskipun nama umumnya adalah "Blue Pit Viper," spesies ini sebenarnya memiliki variasi warna yang mencolok. Warna biru cerah yang viral di China adalah salah satu morf warna yang paling dicari, namun spesies ini juga sering ditemukan dalam warna hijau terang, kuning, atau bahkan kombinasi ketiganya. Warna biru diperkirakan merupakan hasil mutasi genetik atau variasi melanisme yang langka, menjadikannya sangat istimewa. Ular ini adalah penghuni arboreal, artinya mereka sebagian besar menghabiskan hidupnya di pepohonan atau semak-semak. Habitat alaminya meliputi hutan hujan tropis, hutan bambu, dan area perkebunan di dataran rendah hingga ketinggian sedang. Mereka aktif berburu di malam hari, bersembunyi di dedaunan dan menunggu mangsa yang lewat.
Distribusi Geografis:
Ular Pit Viper Biru adalah endemik di beberapa pulau di Indonesia bagian timur, termasuk Komodo, Flores, Timor, Lombok, Rote, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Keberadaan mereka yang terbatas pada wilayah geografis tertentu menambah nilai keunikan dan eksotisnya, menjadikannya target utama bagi kolektor hewan eksotis.
Diet dan Perilaku:
Sebagai predator penyergap, Blue Pit Viper memangsa berbagai hewan kecil. Makanan utamanya meliputi tikus dan hewan pengerat kecil lainnya, burung, katak, dan kadal. Mereka akan menunggu dengan sabar hingga mangsa mendekat, lalu menyerang dengan kecepatan kilat, menyuntikkan bisa yang melumpuhkan. Perilaku mereka cenderung soliter dan teritorial. Meskipun tidak agresif secara alami, mereka akan menyerang dan menggigit jika merasa terancam atau terprovokasi.
Keganasan Bisa (Venom):
Ini adalah aspek terpenting yang perlu dipahami mengenai Blue Pit Viper. Bisanya bersifat hemotoksik, yang berarti menyerang sistem peredaran darah, merusak sel darah merah, jaringan, dan mengganggu pembekuan darah. Gejala gigitan meliputi:
- Nyeri Hebat: Nyeri lokal yang intens dan membakar di area gigitan.
- Pembengkakan Cepat: Area yang digigit akan membengkak dengan cepat dan signifikan.
- Perubahan Warna Kulit: Kulit di sekitar gigitan bisa berubah menjadi merah, ungu, atau kehitaman karena perdarahan internal dan nekrosis (kematian jaringan).
- Pendarahan: Pendarahan bisa terjadi dari lokasi gigitan, gusi, atau bahkan internal.
- Nekrosis Jaringan: Jika tidak ditangani dengan cepat, bisa dapat menyebabkan kerusakan jaringan parah yang berujung pada amputasi.
- Gejala Sistemik: Dalam kasus parah, bisa juga memicu mual, muntah, pusing, hipotensi (tekanan darah rendah), dan gangguan pembekuan darah yang dapat mengancam jiwa.
Gigitan Blue Pit Viper jarang berakibat fatal secara instan pada manusia dewasa yang sehat, namun dapat menyebabkan cedera serius dan cacat permanen jika tidak segera diobati. Perawatan medis darurat dengan antivenom spesifik adalah satu-satunya cara efektif untuk mengatasi efek bisa. Ketersediaan antivenom untuk spesies ini di luar habitat aslinya seringkali sangat terbatas, bahkan tidak ada, meningkatkan risiko bagi para pemilik yang tidak bertanggung jawab.
Tren Nekat Gen Z di China:
Tren memelihara Ular Blue Pit Viper mulai meledak tak lama setelah film Zootopia 2 dirilis pada 26 November lalu. Gelombang antusiasme ini dengan cepat menyebar di berbagai platform e-commerce dan media sosial China, seperti Douyin (TikTok versi China) dan Xiaohongshu, yang merupakan marketplace sekaligus social media populer di kalangan generasi muda. Permintaan terhadap ular ini melonjak drastis, mencerminkan kekuatan media sosial dalam membentuk selera dan tren.
Fenomena ini bukan sekadar ketertarikan sesaat; bagi banyak Gen Z di China, memelihara hewan eksotis seperti Blue Pit Viper menjadi simbol status, keunikan, dan ekspresi diri. Karakter Gary De’Snake yang karismatik telah mengubah ular dari makhluk menyeramkan menjadi ikon "keren" dan "eksotis." Salah satu contoh paling mencolok adalah Qi Weihao, seorang pemuda berusia 21 tahun asal Jiangxi. Ia tidak ragu merogoh kocek sebesar 1.850 yuan (sekitar Rp4,1 juta) hanya untuk membawa pulang seekor Pit Viper Biru, hanya dua hari setelah menonton film tersebut. "Zootopia 2 membantu memperbaiki citra reptil. Mereka bukan lagi pilihan aneh, dan Gary adalah representasi terbaiknya," ungkap Qi kepada CNN, menyoroti bagaimana persepsi telah berubah.
Namun, di balik kegembiraan para pemilik baru ini, terdapat risiko yang mengintai. Sebagian besar dari mereka tidak memiliki pengetahuan atau pengalaman yang memadai dalam menangani ular berbisa. Perawatan yang tidak tepat, kurangnya fasilitas penampungan yang aman, dan minimnya kesadaran akan bahaya bisa, semuanya berkontribusi pada potensi insiden gigitan yang serius, bahkan mematikan. Selain itu, tren ini juga mendorong perdagangan ilegal dan penangkapan ular dari habitat aslinya, yang berpotensi mengancam populasi liar dan ekosistem.

Tindakan Cepat Otoritas dan Platform Digital:
Menanggapi lonjakan permintaan yang mengkhawatirkan dan potensi bahaya yang ditimbulkannya, otoritas serta platform digital di China bergerak cepat. Sejumlah marketplace dan media sosial segera mengambil tindakan tegas dengan menurunkan listing penjualan ular berbisa, termasuk Blue Pit Viper. Platform video pendek dan e-commerce besar seperti Douyin, Xiaohongshu, dan Taobao secara proaktif memblokir konten dan transaksi yang berkaitan dengan penjualan hewan berbahaya ini.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Pengiriman hewan hidup berbisa sendiri dibatasi ketat oleh regulasi setempat di China. Hukum konservasi satwa liar di negara tersebut melarang perdagangan dan pemeliharaan hewan berbisa tanpa izin khusus yang sangat sulit didapatkan. Otoritas berwenang menyadari bahwa tren viral yang disebarkan oleh budaya populer di era digital dapat menyebar dengan sangat cepat dan memiliki dampak lanjutan yang tidak diinginkan, baik bagi keselamatan publik maupun perlindungan satwa liar.
Penegakan hukum dan pengawasan daring menjadi tantangan tersendiri, mengingat kecepatan informasi menyebar dan adaptasi para pelaku perdagangan ilegal. Namun, langkah-langkah proaktif ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencegah dampak negatif dari fenomena ini, seperti peningkatan kasus gigitan ular, perdagangan ilegal, dan perusakan ekosistem.
Dampak Lebih Luas: Etika, Konservasi, dan Tanggung Jawab:
Fenomena Ular Blue Pit Viper yang viral di China ini menyoroti beberapa isu penting yang lebih luas. Pertama adalah tentang etika kepemilikan hewan peliharaan eksotis. Memelihara hewan berbisa bukan sekadar hobi, melainkan tanggung jawab besar yang membutuhkan pengetahuan mendalam, fasilitas khusus, dan kesiapan menghadapi risiko. Tren yang didorong oleh hype film seringkali mengabaikan aspek-aspek penting ini, menempatkan hewan dan pemiliknya dalam bahaya.
Kedua adalah dampak terhadap konservasi. Meskipun Trimeresurus insularis saat ini belum terdaftar sebagai spesies yang terancam punah oleh IUCN, lonjakan permintaan secara tiba-tiba dari perdagangan ilegal dapat memicu penangkapan berlebihan dari alam liar. Hal ini tidak hanya mengancam populasi ular itu sendiri, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem tempat mereka hidup.
Ketiga adalah tanggung jawab media dan kreator konten. Meskipun Disney mungkin tidak bermaksud demikian, kekuatan narasi dan karakter animasi dapat memiliki dampak yang jauh melampaui hiburan semata. Kisah Gary De’Snake berhasil mereformasi citra reptil di mata penonton, namun tanpa edukasi yang tepat, hal itu bisa disalahartikan sebagai ajakan untuk memelihara hewan berbahaya. Ini menyoroti pentingnya menyertakan pesan edukasi yang jelas tentang bahaya dan tanggung jawab, terutama ketika karakter hewan liar digambarkan secara antropomorfis.
Pada akhirnya, kisah Ular Blue Pit Viper dan Zootopia 2 adalah pengingat kuat tentang bagaimana dunia digital dan budaya populer dapat membentuk realitas. Sisi baiknya, ini bisa menjadi pintu gerbang untuk meningkatkan kesadaran akan keanekaragaman hayati dan perlindungan satwa liar. Namun, di sisi lain, ia juga menuntut kewaspadaan, edukasi, dan regulasi yang ketat untuk memastikan bahwa daya tarik eksotis tidak berujung pada bahaya, baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri. Penting bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk membedakan antara fiksi dan realita, serta memahami bahwa keindahan alam liar paling baik dinikmati di habitat aslinya, bukan di dalam kandang tanpa persiapan yang matang.

