0

Liverpool 11 Laga Tak Terkalahkan, Robertson: Masih Butuh Peningkatan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Tren tak terkalahkan yang sedang dijalani Liverpool, meski patut disyukuri dan menjadi bukti kebangkitan tim pasca-rentetan hasil minor di akhir November lalu, ternyata tidak sepenuhnya memuaskan bagi Andy Robertson. Bek kiri andalan The Reds ini secara blak-blakan menyatakan bahwa timnya masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk meningkatkan level performa secara konsisten. Pernyataan ini muncul di tengah catatan 11 pertandingan tanpa kekalahan di semua kompetisi, yang mencakup enam kemenangan dan lima hasil imbang.

Rentetan hasil positif ini memang menjadi penawar dahaga setelah kekalahan telak 1-4 dari PSV Eindhoven. Namun, di balik catatan impresif tersebut, terselip anomali yang mengkhawatirkan. Liverpool terkesan mampu mengalahkan tim-tim kuat seperti Inter Milan dengan skor tipis 1-0 dan menahan imbang Arsenal di kandang lawan, namun justru dua kali tertahan oleh Leeds United yang notabene berada di papan bawah Liga Inggris. Selain itu, mereka juga harus bersusah payah untuk meraih kemenangan 2-1 atas tim juru kunci, Wolves. Kontradiksi performa inilah yang menjadi sorotan utama Robertson.

"Ya dan tidak," ujar Robertson saat ditanya mengenai kepuasannya terhadap tren tak terkalahkan ini. Ia melanjutkan, "Kurasa beberapa penampilan kami masih harus lebih baik lagi. Di dalamnya sudah pasti ada [momen-momen di mana] Anda membuang angka begitu saja, seri melawan Leeds di kandang, seri melawan Sunderland di kandang — pertandingan-pertandingan yang mungkin Anda diyakini akan menang." Ungkapan ini mencerminkan kekecewaannya terhadap poin-poin yang terbuang percuma melawan tim yang seharusnya bisa dikalahkan.

Namun, di sisi lain, Robertson juga mengakui bahwa ada momen-momen brilian dalam rentetan 11 pertandingan tersebut. Ia mencontohkan hasil imbang di Emirates Stadium, markas Arsenal, dan kemenangan tandang melawan Inter Milan di San Siro. "Namun, di situ juga Anda pastinya mendapatkan hasil imbang di Emirates, menang di San Siro — pertandingan-pertandingan yang tidak mudah. Jadi, kurasa ya dan tidak," tambahnya, menunjukkan bahwa performa timnya masih belum stabil.

Lebih lanjut, wakil kapten Liverpool ini menegaskan bahwa 11 pertandingan tanpa kekalahan adalah sebuah pencapaian yang baik, dan ini menunjukkan bahwa timnya berhasil menghentikan periode penampilan buruk yang sempat membebani. "Pastinya 11 pertandingan tidak terkalahkan itu bagus, kami semacam menghentikan penampilan buruk, yang selalu jadi hal yang menyenangkan," akuinya. Namun, ia tidak berpuas diri. "Namun, kami masih harus meningkatkan level penampilan kami, kurasa semua pemain tahu soal ini dan itulah yang akan kami kerjakan ke depannya," pungkasnya dengan tegas.

Analisis lebih dalam terhadap performa Liverpool selama 11 pertandingan terakhir ini menunjukkan pola yang menarik. Di satu sisi, kedalaman skuad dan mentalitas juara tim ini terlihat ketika mereka mampu bangkit dari ketertinggalan atau mengamankan hasil imbang di laga-laga sulit. Kemampuan untuk meraih kemenangan tipis melawan tim kuat seperti Inter Milan, misalnya, menunjukkan kedewasaan taktik dan eksekusi yang baik di momen krusial. Jordan Henderson, sebagai kapten, dan para pemain senior lainnya, seperti James Milner, terus memberikan kontribusi berharga dalam hal kepemimpinan di lapangan. Strategi serangan balik yang cepat dan efektif, serta kemampuan memanfaatkan bola-bola mati, menjadi senjata ampuh yang seringkali berhasil memecah kebuntuan.

Namun, seperti yang disinggung oleh Robertson, kelemahan Liverpool justru terlihat ketika mereka harus bermain dominan melawan tim yang bermain lebih defensif. Kurangnya kreativitas di lini tengah, kesulitan menemukan celah di pertahanan rapat, dan terkadang ketidakmampuan untuk mempertahankan tempo permainan yang tinggi sepanjang 90 menit, menjadi faktor-faktor yang memungkinkan tim-tim seperti Leeds United dan Wolves untuk memberikan perlawanan yang lebih sengit dari yang diperkirakan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya variasi dalam pola serangan, ketergantungan pada pemain kunci untuk menciptakan peluang, atau bahkan sedikit rasa percaya diri yang belum sepenuhnya pulih ketika berhadapan dengan tim yang berada di zona degradasi.

Arne Slot, sebagai pelatih, tentu memiliki tugas berat untuk mengatasi inkonsistensi ini. Ia perlu mencari solusi untuk membongkar pertahanan tim-tim yang bermain pragmatis, sekaligus memastikan bahwa timnya tetap solid dan tajam saat menghadapi lawan-lawan yang secara kualitas di atas kertas lebih lemah. Penguatan kedalaman skuad di beberapa posisi krusial, serta penambahan opsi taktik yang lebih beragam, bisa menjadi langkah penting. Selain itu, komunikasi yang intens antara pelatih dan para pemain, seperti yang dilakukan Robertson, sangat penting untuk menjaga mentalitas tim tetap positif namun tetap kritis terhadap performa.

Perbandingan dengan musim-musim sebelumnya juga bisa memberikan gambaran. Di era Jurgen Klopp, Liverpool dikenal dengan intensitas permainan mereka yang luar biasa, kemampuan menekan lawan tanpa henti, dan serangan balik mematikan yang seringkali membuat lawan kewalahan. Meskipun tren tak terkalahkan ini menunjukkan kemajuan dalam aspek ketahanan mental dan kemampuan untuk tidak kalah, ada beberapa momen di mana intensitas permainan tersebut terasa menurun. Hal ini mungkin perlu menjadi perhatian khusus bagi tim pelatih, terutama dalam menjaga stamina dan fokus pemain sepanjang pertandingan.

Pentingnya peran gelandang serang seperti Mohamed Salah dan Sadio Mané (di masa lalu) dalam menciptakan momen-momen magis tidak bisa dipungkiri. Saat ini, meskipun Salah masih menjadi ancaman utama, perlu ada kontribusi yang lebih merata dari lini kedua dan ketiga untuk memastikan bahwa tim tidak terlalu bergantung pada satu atau dua pemain. Munculnya talenta-talenta muda yang potensial, seperti Curtis Jones atau Harvey Elliott, bisa menjadi kunci untuk memberikan dimensi baru dalam serangan Liverpool. Mereka perlu terus diberi kesempatan dan bimbingan untuk berkembang menjadi pemain yang lebih matang dan konsisten.

Menariknya, hasil imbang melawan Leeds United dan Sunderland (jika diasumsikan merujuk pada tim yang sama atau lawan dengan karakteristik serupa) bisa jadi menjadi pelajaran berharga. Lawan-lawan seperti ini seringkali bermain dengan semangat juang tinggi dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Liverpool perlu belajar bagaimana mengendalikan jalannya pertandingan dengan lebih baik, bahkan ketika mereka tidak dalam performa terbaiknya. Ini termasuk kemampuan untuk menjaga penguasaan bola, mengurangi kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, dan tetap fokus pada rencana permainan hingga peluit akhir dibunyikan.

Keberhasilan Liverpool dalam 11 laga tak terkalahkan ini adalah fondasi yang kuat. Namun, seperti yang diutarakan oleh Andy Robertson, ini hanyalah awal dari sebuah perjalanan. Jalan menuju kesuksesan yang berkelanjutan membutuhkan perbaikan berkelanjutan dan kesadaran akan area-area yang masih perlu ditingkatkan. Dengan semangat kompetisi yang tinggi dan komitmen untuk terus belajar, Liverpool memiliki potensi untuk tidak hanya mempertahankan rekor tak terkalahkan, tetapi juga untuk kembali bersaing di level tertinggi dalam berbagai kompetisi. Peran para pemain veteran seperti Alisson Becker di bawah mistar gawang, Virgil van Dijk di lini pertahanan, serta para gelandang berpengalaman, akan sangat krusial dalam membimbing para pemain muda dan memastikan bahwa tim tetap berada di jalur yang benar. Fokus pada detail, ketajaman dalam penyelesaian akhir, dan konsistensi dalam performa adalah kunci untuk mewujudkan ambisi besar klub.