Michael Carrick, yang merupakan legenda klub dengan rekam jejak gemilang sebagai pemain, pernah menjabat sebagai pelatih sementara Manchester United setelah pemecatan Ole Gunnar Solskjaer. Meskipun hanya menukangi tim dalam tiga pertandingan, performa yang ditunjukkannya kala itu sukses mencuri perhatian dan meninggalkan kesan positif. Ia berhasil membawa Manchester United meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang, sebuah rekor tak terkalahkan yang patut diperhitungkan. Kemenangan atas Villarreal di Liga Champions (2-0), hasil imbang heroik melawan Chelsea di Premier League (1-1), dan kemenangan dramatis atas rival abadi Arsenal (3-2) menjadi bukti nyata kapasitasnya dalam situasi yang penuh tekanan.

Reaksi netizen di linimasa media sosial, terutama platform X (sebelumnya Twitter), mencerminkan campuran antara nostalgia, harapan, dan keingintahuan yang mendalam. Banyak yang menyambut hangat "kembalinya" nama Carrick dalam perbincangan manajemen klub, melihatnya sebagai sosok yang memahami DNA Manchester United luar dalam. Sebagai seorang gelandang bertahan yang cerdas dan visioner di masa jayanya, Carrick dikenal memiliki pemahaman taktis yang mendalam dan etos kerja yang tak kenal lelah. Pengalamannya selama bertahun-tahun mengenakan seragam merah kebanggaan, memenangkan berbagai gelar Premier League dan Liga Champions di bawah bimbingan Sir Alex Ferguson, memberikan bobot tersendiri pada kredibilitasnya.

Salah satu pertanyaan besar yang menghantui benak para penggemar adalah, "Apakah Carrick mampu menstabilkan MU?" Sejak kepergian Sir Alex Ferguson, Manchester United telah mengalami serangkaian gejolak manajerial, dengan berbagai pelatih datang dan pergi tanpa mampu mengembalikan kejayaan klub secara konsisten. Tim seringkali menunjukkan performa yang tidak konsisten, minim identitas, dan kerap kesulitan bersaing di level tertinggi. Netizen penasaran apakah sentuhan Carrick, yang pernah berhasil membangkitkan semangat tim dalam waktu singkat, dapat membawa kestabilan jangka panjang atau setidaknya hingga akhir musim. Kebutuhan akan stabilitas ini sangat mendesak, mengingat ambisi klub untuk kembali ke papan atas Premier League dan bersaing di kompetisi Eropa.

Perbandingan dengan calon pelatih lain pun tak terhindarkan. Ketika nama-nama seperti Ruben Amorim, pelatih Sporting Lisbon yang sedang naik daun, atau pelatih top lainnya santer dikaitkan dengan Old Trafford, sebagian netizen justru menyuarakan optimisme terhadap Carrick. Mereka berpendapat bahwa pemahaman Carrick tentang kultur klub, hubungannya dengan para pemain, dan rekor tak terkalahkannya yang singkat namun solid, bisa menjadi keuntungan signifikan dibandingkan dengan pelatih yang datang dari luar dan membutuhkan waktu adaptasi. Ada keyakinan bahwa Carrick, dengan "darah merah" yang mengalir dalam dirinya, akan lebih mudah menanamkan filosofi dan semangat juang yang selalu menjadi ciri khas Manchester United.

Para penggemar juga sangat penasaran dengan potensi "starting line up" yang akan dipilih Carrick jika ia benar-benar kembali menukangi tim. Pada masa kepelatihannya yang singkat, Carrick menunjukkan fleksibilitas taktis dan keberanian dalam membuat keputusan. Misalnya, ia pernah mengistirahatkan Cristiano Ronaldo dalam pertandingan besar melawan Chelsea, sebuah keputusan yang kala itu mengejutkan banyak pihak namun membuktikan bahwa ia siap membuat pilihan sulit demi kepentingan tim. Pertanyaan tentang formasi apa yang akan ia terapkan, siapa saja pemain kunci yang akan menjadi andalannya, dan bagaimana ia akan mengelola skuad yang dihuni banyak bintang menjadi topik diskusi hangat di media sosial. Apakah ia akan mengandalkan pemain senior, atau memberikan lebih banyak kesempatan kepada talenta muda yang dimiliki klub?

Secara historis, Manchester United memang memiliki tradisi mengangkat mantan pemainnya ke posisi manajerial, seperti halnya Ole Gunnar Solskjaer. Hal ini seringkali dilandasi harapan bahwa ikatan emosional dan pemahaman mendalam tentang klub akan menjadi modal penting. Carrick sendiri adalah bagian integral dari era keemasan United di bawah Ferguson, dan pengetahuannya tentang standar tinggi di Old Trafford tak perlu diragukan lagi. Namun, tantangan yang dihadapi Carrick saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan periode singkatnya sebagai interim. Klub menghadapi tekanan besar untuk meraih prestasi, dengan tuntutan dari penggemar, media, dan manajemen yang terus meningkat.

Meskipun kabar ini masih berada di ranah spekulasi, antusiasme netizen menunjukkan betapa besar harapan mereka terhadap sosok yang bisa membawa kembali kejayaan Manchester United. Kembalinya Carrick, bahkan dalam kapasitas sementara, akan menjadi babak menarik dalam saga manajerial klub. Netizen berharap bahwa pengalaman dan pemahamannya tentang "The United Way" dapat menjadi kunci untuk menstabilkan tim, mengembalikan kepercayaan diri, dan menuntaskan musim dengan catatan yang lebih baik. Hingga pengumuman resmi dari klub, para penggemar akan terus memantau setiap perkembangan dengan penuh harap dan rasa penasaran yang membara, menanti apakah Michael Carrick benar-benar akan kembali memimpin Setan Merah dari pinggir lapangan.

