0

101 Juta Penonton Selama 3 Tahun Jadi Bukti Film Horor Lokal Rajai Bioskop

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Dominasi film horor Indonesia di layar lebar tidak hanya sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kekuatan yang terus membuktikan eksistensinya. Dalam rentang waktu tiga tahun terakhir, genre horor lokal berhasil memukau lebih dari 101 juta penonton, sebuah angka fantastis yang menegaskan posisinya sebagai tulang punggung industri perfilman nasional. Data gemilang ini diungkapkan dalam diskusi bertajuk "Tren Film Horor 2026" yang diselenggarakan dalam Festival Film Horor (FFHoror) di Jakarta pada Selasa, 13 Januari 2026.

Syaifullah Agam, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, memaparkan secara rinci bahwa angka 101.859.078 penonton tersebut merupakan pencapaian murni dari film-film horor yang diproduksi di dalam negeri. Jika angka ini digabungkan dengan film horor impor, total penonton untuk genre horor secara keseluruhan mencapai 128.160.815 orang. Angka yang luar biasa ini bukan hanya sekadar statistik, melainkan cerminan kuat dari minat masyarakat Indonesia yang sangat tinggi terhadap cerita-cerita menyeramkan yang disajikan oleh sineas lokal. Agam menekankan, "Dilihat dari angka-angka tersebut, film horor saat ini sudah menjadi tulang punggung ekonomi kreatif di bidang perfilman nasional dengan menguasai 60 persen pangsa pasar." Pernyataan ini menggarisbawahi peran vital genre horor dalam menggerakkan roda perekonomian industri film Indonesia, bahkan mengungguli genre-genre lain dalam hal popularitas dan capaian komersial.

Di tengah euforia pencapaian ini, Niniek L Karim, seorang artis senior yang juga merupakan guru besar psikologi di Universitas Indonesia, memberikan pandangan yang bijak dan mengingatkan para sineas untuk tidak berpuas diri. Keberhasilan yang diraih harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas, bukan sekadar mengandalkan sensasi seram. "Jangan terlena bikin film asal seram dan bisa bikin takut penonton, tapi juga harus masuk akal," tegasnya. Menurut Niniek, penonton Indonesia saat ini telah berevolusi menjadi audiens yang semakin cerdas dan kritis. Mereka tidak lagi hanya mencari pengalaman menakutkan semata, tetapi juga menuntut cerita yang koheren dan logis. "Penonton sekarang peduli pada logika. Mereka akan meninggalkan film yang ceritanya tidak logis," tuturnya. Komentar ini menjadi pengingat penting bagi para pembuat film untuk terus berinovasi dalam penyajian narasi, menggabungkan elemen horor yang efektif dengan alur cerita yang kuat dan masuk akal agar tetap relevan dan memikat di mata penonton yang semakin selektif.

Festival Film Horor (FFHoror) tidak hanya menjadi ajang diskusi dan apresiasi terhadap tren, tetapi juga momen penting untuk memberikan penghargaan kepada karya-karya terbaik dalam genre horor. Dalam edisi Januari 2026, film "Janur Ireng" berhasil meraih penghargaan Nini Suny, sebuah pengakuan bergengsi dalam festival tersebut. Keberhasilan "Janur Ireng" tidak berhenti di situ. Film ini juga mengantarkan para kreatornya meraih penghargaan individu. Tora Sudiro dinobatkan sebagai Aktor Terpilih, sementara Kimo Stamboel dianugerahi Sutradara Terpilih, menunjukkan kualitas penyutradaraan dan akting yang menonjol dalam film tersebut.

Penghargaan tidak berhenti pada film "Janur Ireng" saja. Dalam kategori Aktris Terpilih, Wavi Zihan berhasil memukau juri melalui penampilannya dalam film "Qorin 2," membuktikan kiprahnya sebagai aktris yang patut diperhitungkan dalam genre horor. Sementara itu, penghargaan Cameramen Terpilih jatuh kepada Enggar Budiono atas kontribusinya dalam film "Dusun Mayit," menggarisbawahi pentingnya aspek visual dan sinematografi dalam membangun atmosfer horor yang mencekam.

Selain penghargaan untuk karya dan individu, FFHoror juga memberikan penghargaan khusus yang sangat berarti. Penghargaan ini diberikan kepada almarhum Epy Kusnandar, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya yang luar biasa bagi perkembangan perfilman Indonesia. Kehadiran dan kontribusi Epy Kusnandar, meskipun kini telah tiada, tetap menjadi inspirasi bagi banyak sineas dan penikmat film di Tanah Air. Penghargaan ini menjadi pengingat akan warisan berharga yang ditinggalkan oleh para pelaku seni yang telah memberikan segalanya untuk industri ini.

Melihat capaian luar biasa ini, masa depan film horor Indonesia terlihat sangat cerah. Namun, para pelaku industri perlu terus berinovasi dan menjaga kualitas cerita agar tetap relevan dengan ekspektasi penonton yang terus berkembang. Kekuatan narasi yang didukung oleh kualitas teknis yang mumpuni akan menjadi kunci untuk mempertahankan dominasi genre horor di bioskop-bioskop Indonesia, bahkan hingga ke kancah internasional. Kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, para sineas, dan komunitas film menjadi krusial untuk terus mendorong pertumbuhan positif ini, memastikan bahwa film horor Indonesia tidak hanya mampu menakut-nakuti penonton, tetapi juga mampu menyajikan karya seni yang berkualitas, memiliki makna, dan meninggalkan kesan mendalam. Tren positif ini juga diharapkan dapat memicu pertumbuhan industri pendukung lainnya, seperti penulisan skenario, desain produksi, hingga efek visual, yang semuanya berkontribusi pada ekosistem perfilman yang lebih kuat dan berkelanjutan. Dengan terus berfokus pada kualitas dan cerita yang kuat, film horor Indonesia diproyeksikan akan terus mendominasi layar lebar di tahun-tahun mendatang, menjadi duta budaya yang efektif dalam memperkenalkan kekayaan imajinasi dan kreativitas bangsa.