0

Meta Akan PHK Ratusan Karyawan di Divisi Metaverse

Share

Jakarta – Raksasa teknologi Meta Platforms dikabarkan akan kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, melanjutkan gelombang efisiensi yang telah melanda perusahaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Kali ini, fokus utama pemangkasan adalah divisi Reality Labs, tim inti yang bertanggung jawab mengembangkan produk dan visi Meta untuk metaverse. Langkah ini menandai pergeseran strategis signifikan dari ambisi CEO Mark Zuckerberg yang pernah begitu gencar mempromosikan dunia virtual tersebut, menuju fokus yang lebih pragmatis pada kecerdasan buatan (AI) dan perangkat keras yang lebih langsung relevan.

Menurut laporan eksklusif dari The New York Times pada Selasa (13/1/2026), Meta berencana memangkas sekitar 10% dari total karyawan di tim Reality Labs. Divisi ini, yang merupakan tulang punggung pengembangan ekosistem metaverse Meta, saat ini mempekerjakan sekitar 15.000 karyawan. Dengan demikian, keputusan ini berpotensi merumahkan hingga 1.500 individu yang berdedikasi pada pengembangan realitas virtual (VR) dan realitas tertambah (AR), termasuk di dalamnya mereka yang mengerjakan headset VR seperti seri Quest dan platform sosial berbasis VR seperti Horizon Worlds.

Meskipun angka 1.500 karyawan mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan total tenaga kerja Meta yang berjumlah sekitar 78.000 orang, dampak dari PHK ini diperkirakan akan sangat terasa di dalam unit metaverse itu sendiri. Ini bukan kali pertama Meta melakukan PHK massal. Pada November 2022, perusahaan memangkas sekitar 11.000 karyawannya, diikuti oleh gelombang kedua pada April dan Mei 2023 yang merumahkan sekitar 10.000 pekerja. PHK kali ini mengindikasikan bahwa upaya restrukturisasi dan efisiensi biaya masih menjadi prioritas utama bagi Meta di awal tahun 2026.

Andrew Bosworth, Chief Technology Officer Meta yang mengawasi seluruh operasional divisi Reality Labs, telah menjadwalkan pertemuan penting pada Rabu besok dan secara khusus meminta karyawan untuk hadir secara langsung. Dalam komunikasinya, Bosworth menyebut rapat tersebut sebagai "pertemuan paling penting tahun ini," sebuah pernyataan yang memicu spekulasi dan kegelisahan di kalangan karyawan. Meskipun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai agenda rapat, banyak yang menduga bahwa pengumuman PHK ini akan menjadi inti dari pertemuan tersebut, sebuah momen krusial yang akan membentuk masa depan divisi metaverse Meta.

Visi metaverse dulunya merupakan proyek mercusuar dan taruhan besar bagi CEO Mark Zuckerberg. Ambisi ini bermula sejak akuisisi Oculus, sebuah startup realitas virtual, pada tahun 2014 senilai sekitar USD 2 miliar. Akuisisi tersebut menjadi fondasi bagi Meta untuk membangun ekosistem VR-nya. Puncaknya, pada Oktober 2021, Zuckerberg bahkan mengubah nama perusahaan induk Facebook menjadi Meta Platforms Inc., sebuah langkah simbolis yang menegaskan komitmen penuhnya terhadap pembangunan metaverse sebagai "internet masa depan." Dia membayangkan sebuah dunia digital imersif di mana orang dapat bekerja, bermain, belajar, dan bersosialisasi sebagai avatar, melampaui batasan fisik.

Namun, di balik ambisi besar tersebut, divisi Reality Labs terus mencatat kerugian finansial yang fantastis. Dalam kuartal terakhir saja, divisi ini melaporkan kerugian operasional sebesar USD 4,4 miliar, sementara penjualannya hanya mencapai USD 470 juta. Angka ini adalah bagian dari tren kerugian yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejak tahun 2020, Reality Labs secara kumulatif telah mencatatkan total kerugian yang mengejutkan, mencapai sekitar USD 70 miliar. Jumlah ini setara dengan investasi yang sangat besar dan menjadi sorotan tajam dari para investor dan analis pasar, yang mulai mempertanyakan kelayakan dan kecepatan pengembalian investasi di proyek metaverse.

Besarnya kerugian ini telah menimbulkan tekanan signifikan terhadap Meta, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan meningkatnya persaingan di sektor teknologi. Para pemegang saham mulai mendesak Zuckerberg untuk lebih fokus pada bisnis inti periklanan yang menghasilkan keuntungan besar, dan mengurangi pengeluaran berlebihan untuk proyek-proyek spekulatif seperti metaverse yang belum menunjukkan hasil nyata.

Menanggapi tekanan ini dan perubahan lanskap teknologi, kini Zuckerberg dikabarkan mengalihkan fokus utamanya dari metaverse ke kecerdasan buatan (AI). Pergeseran prioritas ini bukan tanpa alasan. Perkembangan pesat dalam bidang AI generatif, dipelopori oleh perusahaan seperti OpenAI dengan ChatGPT-nya dan Google dengan model AI mereka, telah menciptakan "perlombaan senjata" AI di antara raksasa teknologi. Zuckerberg menyadari bahwa investasi dalam AI adalah kunci untuk tetap kompetitif dan inovatif di masa depan.

Pada tahun lalu, Zuckerberg telah memerintahkan para eksekutif Meta untuk secara drastis memangkas anggaran mereka untuk tahun 2026, khususnya di divisi-divisi yang tidak langsung berkontribusi pada pendapatan atau memiliki prospek jangka panjang yang kurang jelas. Di saat yang sama, ia mengucurkan miliaran dolar untuk riset dan pengembangan AI. Meta berinvestasi besar-besaran dalam membangun infrastruktur komputasi AI yang canggih, merekrut talenta terbaik di bidang AI, dan mengembangkan model-model AI dasar (foundational models) yang akan menjadi tulang punggung berbagai produk dan layanan Meta di masa depan.

Salah satu fokus investasi AI Meta adalah TBD Lab, sebuah unit riset rahasia di Meta yang bertujuan untuk membangun sistem AI super cerdas, atau yang sering disebut sebagai Artificial General Intelligence (AGI). Unit ini merupakan bagian dari upaya Meta untuk tidak hanya bersaing di ranah AI generatif, tetapi juga untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan AI yang memiliki kemampuan kognitif setara atau bahkan melampaui manusia.

Kabar PHK di divisi Reality Labs ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan bagi para pengamat industri. Bulan lalu, Bloomberg telah mengabarkan bahwa Meta berencana memangkas anggaran metaverse hingga 30%. Raksasa media sosial ini berencana mengalokasikan ulang sebagian besar anggaran yang sebelumnya ditujukan untuk produk-produk realitas virtual yang murni imersif ke anggaran untuk divisi wearable, yang mengembangkan kacamata pintar dan perangkat komputasi lainnya.

Pergeseran ini menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis. Daripada sepenuhnya meninggalkan visi AR/VR, Meta kini tampaknya lebih condong pada pengembangan perangkat yang memiliki aplikasi lebih langsung dan praktis dalam kehidupan sehari-hari, seperti kacamata pintar Ray-Ban Meta yang telah diluncurkan. Perangkat ini menggabungkan fitur kamera, audio, dan kemampuan AI dalam format yang lebih familiar dan mudah diakses, menawarkan jembatan antara dunia fisik dan digital tanpa memerlukan pengalaman VR yang sepenuhnya imersif. Investasi di bidang wearable dianggap memiliki potensi pasar yang lebih cepat dan penerimaan konsumen yang lebih luas dibandingkan dengan metaverse VR yang masih membutuhkan waktu untuk matang.

Keputusan ini mencerminkan sebuah fase re-evaluasi strategis di Meta. Setelah bertahun-tahun berinvestasi besar-besaran dan menghadapi kerugian signifikan, perusahaan kini berada di titik di mana mereka harus menyeimbangkan antara ambisi jangka panjang dan tuntutan profitabilitas jangka pendek. PHK ini bukan hanya tentang memangkas biaya, tetapi juga tentang realokasi sumber daya dan talenta ke area yang dianggap lebih strategis dan memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi di masa depan, yaitu kecerdasan buatan. Meskipun visi metaverse mungkin tidak lagi menjadi "proyek mercusuar" utama, elemen-elemen dari teknologi AR/VR kemungkinan akan tetap terintegrasi ke dalam produk-produk Meta lainnya, terutama melalui perangkat wearable dan aplikasi AI yang diperkaya dengan pengalaman imersif. Masa depan Meta, tampaknya, akan ditentukan oleh perpaduan cerdas antara AI dan teknologi komputasi spasial yang lebih realistis.