BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Keputusan mengejutkan datang dari pelatih kenamaan, John Herdman, yang memilih untuk menakhodai Tim Nasional Indonesia. Alasan utamanya, sebagaimana diungkapkannya dalam acara perkenalan di Jakarta pada Selasa (13/1/2026), adalah kecintaannya pada tantangan. Tawaran menggiurkan dari negara lain, termasuk Honduras dan Jamaika yang bahkan masih memiliki kans lolos ke Piala Dunia 2026, terpaksa ia kesampingkan demi ambisi besar bersama Skuad Garuda. Herdman, yang pernah membawa Timnas Kanada berlaga di Piala Dunia 2022, menyatakan bahwa ia selalu terdorong untuk membangun tim dari bawah, bekerja sama dengan federasi yang memiliki hasrat dan visi kuat untuk membawa negaranya meraih pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Selama karier saya selama ini adalah membangun, bekerja dengan federasi yang punya passion dan visi untuk membawa negara ke tempat yang belum pernah digapai sebelumnya. Itu sudah jelas, di Indonesia, negaranya sebenarnya sudah siap," ungkap Herdman dengan penuh keyakinan. Ia melihat potensi luar biasa dalam diri Indonesia, mulai dari sumber daya pemain yang berkualitas, kemampuan teknis yang memadai, hingga profesionalisme para tenaga ahli yang terlibat dalam sepak bola nasional. Oleh karena itu, ia merasa inilah momen yang tepat untuk mewujudkan target ambisius PSSI, yaitu lolos ke Piala Dunia. Pengalamannya yang luas dalam kancah sepak bola internasional, termasuk saat bekerja sama dengan federasi di zona CONCACAF, justru semakin membulatkan tekadnya untuk merangkul tantangan di Indonesia.
"Kami (Indonesia) punya pemain, kemampuan, tenaga profesional, jadi inilah waktu untuk mencapai target kualifikasi (ke Piala Dunia). Saya pernah kerja sama dengan CONCACAF juga, tapi saya rasa ini pengalaman besar. Saya percaya bahwa populasi 280 juta di sini, mereka cinta sepakbola, jadi inilah tempat yang tepat buat saya," tegasnya, menyoroti basis penggemar sepak bola yang masif dan fanatik di Indonesia sebagai salah satu faktor penarik utama. Kecintaan masyarakat terhadap sepak bola ini, menurut Herdman, merupakan modal sosial yang sangat berharga dan dapat menjadi bahan bakar utama untuk mendorong performa tim nasional. Ia melihat adanya gairah yang membara di setiap sudut negeri, yang apabila disalurkan dengan tepat, dapat menjelma menjadi kekuatan dahsyat bagi Timnas Indonesia.
Lebih lanjut, Herdman merasa memiliki bekal pengalaman yang cukup untuk mewujudkan mimpi besar Indonesia. Ia telah mempelajari secara mendalam perjalanan Timnas Indonesia, termasuk upaya mereka yang sempat berpeluang lolos ke Piala Dunia 2026, meskipun pada akhirnya belum berhasil. Pengalaman pahit namun berharga ini, menurutnya, justru menjadi landasan kuat bagi Indonesia untuk menatap Piala Dunia 2030 dengan optimisme yang lebih tinggi. Tugas utamanya adalah mengidentifikasi dan memperbaiki berbagai kekurangan yang teridentifikasi selama proses kualifikasi Piala Dunia 2026, sehingga kesalahan yang sama tidak terulang di masa depan.
"Saya ingin ada di sini, ketika mereka mengambil langkah untuk lolos (Piala Dunia). Saya ada di Kanada ketika mereka mengambil langkah itu, baik untuk timnas putra dan timnas putri," imbuhnya, merujuk pada kesuksesannya membawa timnas putra dan putri Kanada meraih pencapaian bersejarah. Pengalaman inilah yang ingin ia ulangi dan bahkan tingkatkan di tanah air. Bagi Herdman, momen-momen membangun sebuah tim dari awal hingga mencapai puncak kejayaan adalah pengalaman yang paling memuaskan dalam karier sepak bolanya. Ia tidak terlalu memusingkan perbandingan dengan negara lain atau ranking FIFA semata.
Fokus utamanya adalah pada peluang besar yang ia lihat di depan mata untuk Indonesia. "Inilah pengalaman paling membahagiakan di sepakbola. Ini bukan soal ranking. saya rasa di sini ada peluang besar buat Indonesia lolos Pial Dunai. Itulah visinya. Saya akan selalu berpikir setiap hari tentang bagaimana membawa negara ini lolos ke Piala Dunia," pungkasnya dengan nada penuh semangat. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen total Herdman untuk mendedikasikan seluruh energinya demi tercapainya impian bangsa Indonesia untuk berlaga di panggung sepak bola terakbar di dunia.
Pilihan Herdman untuk datang ke Indonesia, di tengah berbagai tawaran dari negara lain, menunjukkan bahwa ia tidak hanya mencari tantangan yang mudah. Ia melihat sebuah proyek jangka panjang yang menjanjikan, sebuah kesempatan untuk meninggalkan jejak sejarah yang monumental. Indonesia, dengan segala potensi dan gairah sepak bolanya, menawarkan medan yang ideal bagi seorang pelatih visioner seperti Herdman untuk mewujudkan ambisi yang tertunda. Ia bukan sekadar pelatih yang datang untuk menjalankan tugas, melainkan seorang pembangun yang siap merajut mimpi bersama jutaan rakyat Indonesia.
Analisis lebih dalam terhadap pernyataan Herdman mengungkapkan beberapa poin krusial yang menjadi dasar keputusannya. Pertama, ia sangat menekankan pada aspek "membangun" dan "visi". Ini menunjukkan bahwa ia adalah tipe pelatih yang tidak hanya berorientasi pada hasil instan, tetapi juga pada proses pengembangan jangka panjang. Ia ingin menjadi bagian dari sejarah ketika sebuah negara, yang sebelumnya belum pernah mencapai level tertentu, berhasil menembus batas kemampuannya. Indonesia, dengan sejarah sepak bolanya yang kaya namun belum pernah merasakan Piala Dunia, menjadi kanvas sempurna bagi visi artistik sepak bola Herdman.
Kedua, ia secara eksplisit menyebutkan bahwa "negaranya sebenarnya sudah siap". Ini adalah pengakuan penting terhadap fondasi yang sudah ada. Herdman tidak datang ke Indonesia untuk menciptakan sesuatu dari nol. Ia melihat adanya pemain berbakat, sistem yang mulai terbentuk, dan profesionalisme yang berkembang. Ia melihat bahwa infrastruktur dasar untuk meraih kesuksesan sudah tersedia, tinggal bagaimana ia dapat mengoptimalkannya. Pernyataan ini juga bisa diartikan sebagai bentuk kepercayaan dirinya untuk dapat mengeluarkan potensi terbaik dari apa yang sudah ada.
Ketiga, Herdman menyoroti "populasi 280 juta" dan "cinta sepak bola" sebagai faktor penentu. Ini adalah pengakuan terhadap kekuatan akar rumput dan dukungan publik. Dalam sepak bola modern, dukungan suporter dan atmosfer yang tercipta dari masyarakat adalah kekuatan yang tak ternilai. Herdman memahami bahwa di Indonesia, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah fenomena sosial yang menyatukan bangsa. Ia melihat potensi energi besar dari puluhan juta penggemar yang siap memberikan dukungan tanpa henti.
Keempat, ia secara tegas menyatakan bahwa "ini bukan soal ranking". Ini adalah pernyataan yang sangat signifikan, menunjukkan bahwa ia tidak terintimidasi oleh posisi Indonesia saat ini dalam peringkat FIFA. Fokusnya adalah pada potensi pertumbuhan dan kemampuan untuk melampaui ekspektasi. Bagi Herdman, tantangan sesungguhnya terletak pada upaya untuk mendobrak dominasi negara-negara yang sudah mapan dan membuktikan bahwa Indonesia juga mampu bersaing di kancah global.
Terakhir, "Saya akan selalu berpikir setiap hari tentang bagaimana membawa negara ini lolos ke Piala Dunia." Frasa ini menunjukkan dedikasi total dan obsesi positif yang dimiliki Herdman. Ini bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan sebuah misi pribadi yang akan ia emban dengan segenap jiwa dan raga. Ia membayangkan dirinya sebagai arsitek yang setiap hari merancang strategi, merencanakan latihan, dan memotivasi pemain demi satu tujuan mulia: membawa Merah Putih berlaga di Piala Dunia.
Dengan latar belakang kesuksesannya bersama Kanada, di mana ia berhasil membawa timnas putri meraih medali emas Olimpiade dan timnas putra lolos ke Piala Dunia, John Herdman membawa reputasi yang solid. Pengalamannya dalam membangun program sepak bola yang berkelanjutan, baik untuk tim putra maupun putri, memberikan keyakinan bahwa ia memiliki kapasitas untuk mentransformasi sepak bola Indonesia. Ia memahami dinamika sepak bola internasional, tantangan kualifikasi, dan pentingnya persiapan yang matang.
Kedatangannya ke Indonesia bukan hanya berita baik bagi PSSI dan para pemain, tetapi juga menjadi suntikan semangat luar biasa bagi seluruh pecinta sepak bola tanah air. Kehadiran pelatih sekaliber John Herdman diharapkan dapat membawa perubahan paradigma, meningkatkan standar pelatihan, dan yang terpenting, membuka jalan bagi Tim Nasional Indonesia untuk akhirnya menggapai mimpi yang telah lama tertunda: berlaga di Piala Dunia. Tantangan besar memang menanti, namun dengan ambisi, visi, dan dukungan yang tepat, peluang tersebut kini terasa semakin nyata.

