Era ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa perlu menara seluler kini bukan lagi sekadar visi futuristik, melainkan sebuah realitas yang semakin mendekat. Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) baru saja memberikan lampu hijau signifikan kepada SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, untuk menambah 7.500 satelit Starlink Generasi Kedua (Gen2) ke konstelasi meganya. Keputusan ini menandai babak baru dalam sejarah konektivitas global, di mana batas antara jaringan seluler darat dan luar angkasa akan segera memudar.
Berbeda secara fundamental dengan Starlink generasi awal yang dirancang untuk menyediakan internet broadband berkecepatan tinggi melalui antena khusus yang dipasang di rumah atau bisnis, Starlink Gen2 membawa kemampuan revolusioner: layanan seluler langsung ke ponsel atau yang dikenal sebagai "direct to cell." Ini berarti, satelit-satelit ini akan berfungsi layaknya menara Base Transceiver Station (BTS) yang mengorbit di ketinggian rendah, memancarkan sinyal seluler yang dapat ditangkap langsung oleh perangkat ponsel standar tanpa memerlukan modifikasi perangkat keras apa pun.
Dengan persetujuan terbaru ini, total satelit Starlink Gen2 yang diizinkan oleh FCC kini mencapai angka fantastis, yakni 15.000 unit. Angka ini mencerminkan ambisi SpaceX untuk membangun jaringan internet satelit terbesar dan paling canggih di dunia. Teknologi direct to cell ini dirancang agar ponsel standar yang saat ini digunakan miliaran orang di seluruh dunia dapat menerima sinyal seluler langsung dari luar angkasa. Bayangkan, tidak lagi ada zona mati sinyal di pegunungan terpencil, di tengah lautan luas, atau saat terjadi bencana alam yang melumpuhkan infrastruktur telekomunikasi darat.
FCC menilai langkah ini sebagai terobosan monumental yang akan mentransformasi lanskap konektivitas global. Dampaknya akan sangat terasa, terutama untuk wilayah-wilayah terpencil yang selama ini kesulitan atau sama sekali tidak terjangkau jaringan seluler konvensional. Selain itu, teknologi ini juga akan menjadi penyelamat di daerah bencana, memungkinkan komunikasi vital tetap berjalan saat jaringan darat lumpuh, serta membuka akses komunikasi bagi mereka yang berada di lautan luas, hutan belantara, atau area lain yang secara geografis menantang.
Ketua FCC, Brendan Carr, menyambut baik keputusan ini dengan antusias. "Dengan mengesahkan 15.000 satelit baru dan canggih, FCC telah memberi SpaceX lampu hijau untuk menghadirkan kemampuan broadband satelit yang belum pernah terjadi sebelumnya, memperkuat persaingan, dan membantu memastikan bahwa tidak ada komunitas yang tertinggal," ujarnya, seperti dikutip dari Space News pada Selasa (13/1/2026). Pernyataan Carr menegaskan komitmen regulator untuk mendukung inovasi yang dapat menjembatani kesenjangan digital dan mendorong inklusi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dalam dokumen persetujuannya, FCC merinci bahwa sistem Gen2 akan beroperasi di berbagai pita frekuensi. Fleksibilitas ini memungkinkan SpaceX untuk menghadirkan beragam layanan di masa depan, mulai dari pesan teks (SMS) sebagai langkah awal, diikuti dengan layanan suara, dan kemudian konektivitas data seluler langsung ke perangkat mobile. Pendekatan bertahap ini seringkali diterapkan dalam pengembangan teknologi komunikasi satelit untuk memastikan stabilitas dan keandalan layanan seiring dengan peningkatan kapasitas.
Langkah ini juga menjadi bagian integral dari ambisi jangka panjang SpaceX untuk memperluas fungsi Starlink. Jika awalnya Starlink dikenal sebagai penyedia internet rumah dan bisnis berkecepatan tinggi, kini visi tersebut berkembang menjadi tulang punggung konektivitas seluler global. Ini bukan hanya tentang menyediakan internet, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem komunikasi yang tangguh dan merata di seluruh planet. SpaceX telah menjalin kemitraan strategis dengan operator seluler besar di berbagai negara, seperti T-Mobile di Amerika Serikat, Optus di Australia, Rogers di Kanada, dan KDDI di Jepang, untuk mengintegrasikan layanan direct to cell ini dengan jaringan seluler yang sudah ada. Kemitraan ini krusial untuk memastikan layanan dapat diakses secara muluas oleh pelanggan operator seluler tanpa perlu langganan Starlink terpisah.
Namun, persetujuan ini tidak datang tanpa persyaratan. FCC menetapkan tenggat waktu yang ketat bagi SpaceX untuk mewujudkan konstelasi Gen2 ini. Sekitar 50% dari satelit Gen2 yang disetujui harus sudah aktif dan beroperasi sebelum Desember 2028, sementara seluruhnya wajib beroperasi paling lambat Desember 2031. Tenggat waktu yang ambisius ini menunjukkan urgensi dan harapan besar yang diletakkan pada proyek ini, sekaligus memastikan akuntabilitas SpaceX dalam implementasinya.
Awalnya, SpaceX mengajukan proposal untuk menempatkan total 29.988 satelit di berbagai orbit rendah Bumi. Namun, FCC memilih untuk memberikan otorisasi secara bertahap, bukan menyetujui seluruh permintaan sekaligus. Pendekatan ini merupakan praktik standar bagi regulator untuk melakukan evaluasi berkelanjutan, mengelola risiko potensi gangguan spektrum, dan memastikan keselamatan ruang angkasa di tengah pertumbuhan konstelasi satelit yang masif. Keputusan ini mencerminkan kehati-hatian dalam menyeimbangkan inovasi dengan tanggung jawab.
Dalam hal parameter orbital, FCC mengizinkan satelit untuk beroperasi di orbit antara 340 dan 485 kilometer, dengan kemiringan (inklinasi) mulai dari 28 hingga 96,9 derajat. Rentang orbit yang luas ini memungkinkan cakupan global yang lebih efektif. Selain itu, persetujuan ini juga mencakup satelit-satelit yang sebelumnya telah diizinkan beroperasi di orbit 525 dan 535 kilometer, dengan catatan bahwa SpaceX berencana untuk memindahkan wahana antariksa tersebut ke orbit yang lebih rendah, yaitu antara 475 dan 485 kilometer. Perpindahan ke orbit yang lebih rendah memiliki beberapa keuntungan, termasuk latensi yang lebih rendah (respons lebih cepat) dan memungkinkan penggunaan daya transmisi yang lebih efisien untuk mencapai perangkat di Bumi.
Meskipun beberapa satelit Starlink Upgrade Gen2 masih belum sepenuhnya diuji di orbit, Biro Antariksa FCC menyatakan keyakinannya. "Biro Antariksa telah mengevaluasi kinerja dunia nyata dari satelit Starlink Gen2 yang telah diluncurkan hingga saat ini, dan kami menemukan bahwa otorisasi untuk satelit tambahan adalah untuk kepentingan publik, bahkan ketika satelit Starlink Upgrade Gen2 masih belum diuji di orbit," demikian kesimpulan FCC. Pernyataan ini menunjukkan bahwa FCC mengandalkan data kinerja dari satelit prototipe atau versi awal yang sudah diluncurkan untuk membuat keputusan ini, menegaskan bahwa manfaat publik yang dijanjikan oleh Starlink Gen2 sangat besar sehingga patut didukung.
Kemampuan SpaceX untuk meluncurkan ribuan satelit ini juga didukung oleh pengembangan roket Starship mereka. Starship, dengan kapasitas muatan yang jauh lebih besar dibandingkan roket Falcon 9 yang digunakan saat ini, akan menjadi kunci untuk mempercepat penyebaran konstelasi Gen2 secara masif dan efisien. Satu kali peluncuran Starship berpotensi membawa ratusan satelit Gen2 sekaligus, memangkas biaya dan waktu deployment secara signifikan.
Secara teknis, layanan direct to cell ini dimungkinkan melalui teknologi canggih seperti antena phased array yang dapat mengarahkan sinyal secara presisi dari orbit, serta pemrosesan sinyal on-board yang mampu mengadaptasi dan mengirimkan sinyal seluler standar langsung ke perangkat di darat. Ini adalah lompatan besar dari teknologi satelit komunikasi tradisional yang biasanya memerlukan antena penerima besar dan spesifik.
Implikasi dari persetujuan Starlink Gen2 ini sangat luas. Ini bukan hanya tentang akses internet yang lebih baik, tetapi juga tentang pemberdayaan komunitas, peningkatan keselamatan, dan pembukaan peluang ekonomi baru. Bayangkan dampak pada sektor pendidikan di daerah terpencil yang kini bisa mengakses sumber daya digital global, atau pada sektor kesehatan yang memungkinkan konsultasi medis jarak jauh di lokasi yang sebelumnya terisolasi. Ini juga akan merevolusi industri maritim dan penerbangan, di mana konektivitas yang andal di tengah laut atau di udara akan menjadi standar.
Tentu saja, pengembangan konstelasi satelit sebesar ini juga membawa tantangan, termasuk masalah sampah antariksa, potensi gangguan cahaya bagi astronomi, dan persaingan ketat dengan pemain lain seperti OneWeb dan proyek Kuiper dari Amazon. Namun, dengan persetujuan FCC ini, Starlink Gen2 telah mendapatkan dorongan besar untuk memimpin perlombaan menuju era konektivitas universal.
Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan menyaksikan perubahan fundamental dalam cara kita terhubung. Ponsel di saku kita tidak hanya akan bergantung pada menara BTS darat, tetapi juga pada "menara seluler" yang mengorbit ribuan kilometer di atas kepala kita. Era di mana HP sambung satelit langsung menjadi kenyataan akan segera tiba, membawa janji konektivitas tanpa batas dan akses informasi untuk semua. Ini adalah langkah besar menuju dunia yang lebih terhubung, lebih inklusif, dan lebih resilien.

