0

Nvidia Tunda RTX 5000 Super, Krisis Memori dan Minim Rival

Share

Nvidia dikabarkan menunda peluncuran lini kartu grafis RTX 5000 Super, sebuah keputusan yang mengejutkan banyak pihak dan mengindikasikan pergeseran prioritas signifikan di tengah dinamika pasar teknologi yang bergejolak. Informasi ini secara efektif menjelaskan mengapa raksasa semikonduktor tersebut tidak mengumumkan seri Super dalam ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026, meskipun sebelumnya banyak pihak memprediksi peluncurannya akan mengikuti pola rilis RTX 4000 Super yang sukses. Penundaan ini bukan sekadar penyesuaian jadwal, melainkan cerminan dari tantangan global yang kompleks, mulai dari krisis pasokan komponen hingga perubahan lanskap persaingan.

Berdasarkan laporan eksklusif dari Board Channels yang mengutip sumber-sumber industri terkemuka, keputusan strategis ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor krusial. Namun, alasan utama yang mendasari penundaan ini adalah krisis pasokan memori global yang semakin memburuk. Lonjakan permintaan chip, khususnya untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) yang masif dan terus berkembang, telah mengganggu ketersediaan VRAM (Video Random Access Memory), terutama jenis GDDR7 yang merupakan memori generasi terbaru dan paling canggih. Akibatnya, pasokan GDDR7 menjadi sangat terbatas, sekaligus mendorong kenaikan harga secara drastis di pasar global. Hal ini sebagaimana dikutip oleh detikINET dari Techspot pada Senin, 12 Januari 2026.

GDDR7 sendiri merupakan standar memori grafis mutakhir yang dirancang untuk memberikan bandwidth dan kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, GDDR6X dan GDDR6. Peningkatan performa ini sangat krusial bagi kartu grafis kelas atas yang menangani resolusi tinggi (seperti 4K dan 8K), ray tracing intensif, dan beban kerja AI yang semakin kompleks. Oleh karena itu, ketersediaan GDDR7 dalam jumlah besar dan dengan harga yang kompetitif menjadi penentu utama dalam produksi kartu grafis performa tinggi. Namun, dengan dominasi AI yang kini menyedot sebagian besar kapasitas produksi chip memori, pasokan untuk segmen kartu grafis konsumen menjadi tertekan hebat. Permintaan dari pusat data, server AI, dan akselerator komputasi AI seperti lini H100 dan H200 dari Nvidia sendiri, telah memprioritaskan alokasi GDDR7 (atau HBM yang lebih canggih) untuk aplikasi dengan margin keuntungan yang jauh lebih besar.

Sebelumnya, lini RTX 5000 Super disebut-sebut akan hadir dengan peningkatan kapasitas VRAM yang signifikan, bahkan hingga 50% lebih tinggi dibanding model standar RTX 5000 non-Super. Peningkatan ini dianggap vital untuk menghadapi tuntutan game dan aplikasi masa depan yang semakin haus memori, terutama pada resolusi ultra-tinggi dan dengan tekstur yang sangat detail. Namun, situasi industri yang berubah secara drastis membuat rencana ambisius tersebut sulit direalisasikan. Dengan ketersediaan GDDR7 yang langka dan mahal, mempertahankan target peningkatan VRAM 50% akan secara signifikan mendongkrak biaya produksi, yang pada akhirnya akan diterjemahkan menjadi harga jual yang tidak kompetitif bagi konsumen. Bahkan pada November lalu, sempat muncul rumor yang lebih ekstrem bahwa lini RTX 5000 Super dibatalkan sepenuhnya, yang menunjukkan betapa seriusnya kendala pasokan memori ini.

Selain masalah ketersediaan dan harga memori, faktor lain yang tak kalah penting adalah pergeseran fokus strategis Nvidia itu sendiri. Perusahaan ini kini secara terang-terangan memprioritaskan kapasitas produksi untuk GPU AI yang menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi dibanding kartu grafis konsumen. Lini produk seperti Blackwell dan Hopper telah menjadi mesin uang utama Nvidia, dengan setiap unit yang terjual menghasilkan keuntungan yang jauh melampaui kartu grafis gaming termahal sekalipun. Hal ini tercermin dari langkah Nvidia untuk mempercepat peluncuran sistem server Vera Rubin, sebuah platform komputasi AI generasi berikutnya yang sangat dinanti. Vera Rubin kini dijadwalkan meluncur pada pertengahan 2026, lebih cepat dari rencana awal. Akselerasi ini menunjukkan komitmen Nvidia untuk mendominasi pasar AI, bahkan jika itu berarti mengorbankan siklus rilis produk konsumen. Sumber daya manufaktur, talenta insinyur, dan investasi riset & pengembangan kini lebih banyak dialokasikan untuk segmen AI, yang secara langsung mengurangi bandwidth perusahaan untuk inovasi dan produksi di pasar gaming.

Dalam sesi tanya jawab yang diadakan di CES 2026, CEO Nvidia, Jensen Huang, sempat memberikan petunjuk mengenai upaya perusahaan untuk meredakan tekanan pasokan di pasar konsumen. Huang menyebut kemungkinan menghidupkan kembali produksi GPU generasi lama berbasis node manufaktur lawas sebagai salah satu cara untuk mengatasi kelangkaan chip baru. Opsi ini memunculkan kembali spekulasi serius soal produksi ulang kartu grafis populer seperti RTX 3060. RTX 3060 adalah pilihan yang menarik karena masih menggunakan memori GDDR6, yang meskipun tidak secepat GDDR7, namun jauh lebih mudah ditemukan dan lebih murah untuk diproduksi dalam skala besar. Jika Nvidia benar-benar melangkah maju dengan rencana ini, hal tersebut dapat menyediakan solusi sementara untuk mengisi kekosongan di segmen menengah ke bawah, memberikan opsi bagi gamer yang mencari peningkatan dengan anggaran terbatas, tanpa harus bergantung pada pasokan GDDR7 yang kritis. Namun, ini juga akan menjadi pengakuan implisit bahwa Nvidia menghadapi tantangan serius dalam memenuhi permintaan dengan teknologi terbarunya.

Faktor lain yang dinilai tak kalah penting dalam keputusan penundaan ini adalah minimnya tekanan kompetitif yang signifikan dari rival utama, AMD. Menurut sumber Board Channels, AMD tidak memiliki rencana untuk meluncurkan GPU konsumen baru di segmen performa tinggi sepanjang tahun 2026. Kartu grafis berbasis arsitektur RDNA 5, yang diharapkan menjadi penantang serius bagi Nvidia di segmen atas, diperkirakan baru akan hadir pada paruh kedua tahun 2027. Kondisi ini menempatkan Nvidia dalam posisi yang sangat nyaman. Tanpa adanya ancaman langsung dari produk baru AMD yang lebih superior, lini RTX 5000 non-Super dinilai masih cukup kompetitif dan relevan di pasar saat ini, tanpa perlu penyegaran produk melalui seri Super. Ini menghilangkan urgensi bagi Nvidia untuk merilis produk baru yang mungkin terhambat oleh masalah pasokan dan biaya produksi. Nvidia dapat memanfaatkan dominasi pasar dan keunggulan teknologi saat ini tanpa harus berinvestasi besar-besaran pada produk Super yang biaya produksinya melonjak.

Di sisi lain, Nvidia juga diyakini mulai mengalihkan fokus ke pengembangan generasi berikutnya, yaitu seri RTX 6000. Sejumlah rumor menyebut bahwa seri RTX 6000 berpotensi meluncur pada paruh kedua tahun 2027. Jika lini RTX 5000 Super dirilis terlalu dekat dengan peluncuran generasi baru tersebut, Nvidia berisiko menciptakan efek kanibalisasi. Konsumen yang menantikan peningkatan signifikan mungkin akan menahan pembelian RTX 5000 Super, memilih untuk menunggu beberapa bulan lagi demi mendapatkan RTX 6000 yang menawarkan lompatan performa dan fitur yang lebih besar. Strategi ini dikenal sebagai "product stacking" yang kurang efisien, di mana produk-produk baru saling bersaing untuk mendapatkan perhatian konsumen, yang pada akhirnya dapat merugikan penjualan kedua lini. Oleh karena itu, penundaan RTX 5000 Super dapat dipandang sebagai langkah cerdas untuk mengoptimalkan siklus produk dan memastikan setiap generasi memiliki ruang bernapas yang cukup di pasar.

Secara keseluruhan, penundaan RTX 5000 Super oleh Nvidia adalah cerminan kompleks dari perubahan prioritas strategis perusahaan dan tantangan global yang memengaruhi industri semikonduktor. Dari krisis pasokan memori GDDR7 yang didorong oleh booming AI, hingga pergeseran fokus Nvidia ke segmen AI yang lebih menguntungkan, serta minimnya tekanan kompetitif dari AMD, semua faktor ini bersatu membentuk keputusan yang akan berdampak signifikan pada pasar kartu grafis konsumen. Meskipun mungkin mengecewakan bagi para gamer dan penggemar teknologi yang menantikan upgrade, langkah ini menunjukkan bahwa Nvidia tengah beradaptasi dengan realitas pasar yang baru, di mana AI bukan hanya masa depan, tetapi juga kekuatan pendorong utama di balik setiap keputusan strategis perusahaan. Masa depan kartu grafis gaming tampaknya akan terus beriringan dengan dinamika pasar AI, dan konsumen mungkin harus bersiap untuk siklus produk yang lebih panjang atau strategi rilis yang lebih tidak konvensional dari Nvidia di tahun-tahun mendatang.