0

Krisis RAM dan SSD Akibat AI Hantam PC dan Laptop, Harga Bakal Naik Terus.

Share

Jakarta – Pasar PC selama lebih dari satu dekade telah menunjukkan ketangguhan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai gejolak dan perubahan teknologi. Ancaman "post-PC" yang pernah digaungkan oleh Apple, yang meramalkan era dominasi tablet dan smartphone, tak pernah benar-benar terwujud. Komputer pribadi, baik desktop maupun laptop, tetap menjadi tulang punggung produktivitas, kreativitas, dan hiburan bagi jutaan pengguna di seluruh dunia, membuktikan adaptabilitasnya di tengah lanskap digital yang terus berkembang. Namun, ketahanan historis tersebut kini menghadapi ujian terberatnya, bukan dari perangkat pengganti, melainkan dari krisis memori global yang dipicu oleh ledakan permintaan dari pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Situasi ini, yang semakin mengkhawatirkan, diperkirakan akan memiliki dampak jangka panjang pada industri komputasi pribadi.

Dalam beberapa bulan terakhir menjelang awal tahun 2026, harga RAM (Random Access Memory) dan NAND Flash, komponen utama untuk Solid State Drive (SSD), telah melonjak tajam. Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan akibat langsung dari pasokan yang semakin ketat, terutama karena prioritas produksi bergeser drastis ke arah kebutuhan infrastruktur AI. Dampak awal dari krisis ini telah terasa signifikan di pasar PC rakitan, segmen yang paling sensitif terhadap harga komponen. Perakit PC kecil dan individu menemukan diri mereka berjuang untuk mendapatkan stok, dan ketika tersedia, harganya sudah naik berkali-kali lipat. Beberapa kasus ekstrem bahkan melaporkan perakit terpaksa menjual PC tanpa RAM, menyerahkan tugas pemasangan memori kepada konsumen, hanya untuk menjaga harga agar tetap kompetitif. Kini, gelombang krisis tersebut mulai merembet ke pasar yang lebih luas, menghantam produsen PC dan laptop besar seperti Lenovo, Dell, HP, Asus, dan Acer, mengancam stabilitas harga dan ketersediaan produk di masa depan.

Menurut proyeksi terbaru dari firma riset pasar terkemuka, TrendForce, harga memori diperkirakan akan kembali mengalami kenaikan tajam pada kuartal pertama tahun 2026. Prediksi ini menjadi sinyal peringatan keras bagi konsumen dan industri. Kenaikan ini diprediksi akan semakin menekan harga jual laptop dan PC secara keseluruhan, membuat perangkat komputasi menjadi kurang terjangkau. Tanda-tandanya sudah terlihat jelas di pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2026, di mana sejumlah produsen mulai secara terbuka atau diam-diam menyesuaikan strategi harga dan konfigurasi produk mereka.

Asus, salah satu pemain kunci di pasar PC dan laptop, misalnya, telah memberi tahu mitra distribusinya mengenai rencana kenaikan harga produk-produk mereka. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap kondisi pasar memori yang tidak menentu. Dell juga dilaporkan melakukan perubahan harga peluncuran untuk lini produk premiumnya, XPS 14 dan XPS 16, hanya beberapa jam sebelum pengumuman resmi. Perubahan mendadak ini mengindikasikan tingkat ketidakpastian dan tekanan biaya yang sangat tinggi yang dihadapi oleh para produsen. Sementara itu, Lenovo mengambil pendekatan proaktif dengan memilih menimbun stok memori dalam jumlah besar, sebuah strategi yang bertujuan untuk mengamankan pasokan dan menstabilkan harga produk mereka sepanjang tahun 2026. Namun, strategi ini juga memiliki risiko, seperti penumpukan inventaris yang memakan biaya dan potensi kerugian jika harga memori tiba-tiba turun. HP, di sisi lain, telah memperingatkan konsumen dan mitra mengenai potensi kenaikan harga dan bahkan kemungkinan konfigurasi RAM yang lebih rendah pada produk-produk mereka di akhir tahun ini, meskipun mereka juga telah memiliki cadangan stok untuk mitigasi.

Masalahnya, menurunkan kapasitas RAM pada PC dan laptop bukanlah solusi yang mudah atau ideal. Meskipun Windows 11 secara teknis memiliki batas minimum 4 GB RAM untuk berfungsi, performa dengan kapasitas serendah itu dinilai kurang ideal, terutama untuk penggunaan sehari-hari yang melibatkan multitasking, menjelajahi web dengan banyak tab, atau menjalankan aplikasi modern yang semakin rakus memori. TrendForce lebih lanjut mencatat bahwa laptop entry-level, yang sering kali menargetkan segmen harga yang sensitif, akan kesulitan untuk menurunkan kapasitas RAM secara drastis dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sistem operasi itu sendiri yang semakin kompleks dan kebutuhan minimum prosesor modern yang membutuhkan dukungan memori yang memadai untuk berfungsi optimal. Upaya untuk memangkas RAM terlalu banyak dapat menyebabkan pengalaman pengguna yang buruk, memperlambat adopsi Windows 11, dan pada akhirnya merusak reputasi produk.

Situasi krisis memori ini datang di waktu yang sangat tidak tepat bagi industri PC. Windows 10 telah mencapai akhir masa dukungan resminya, mendorong banyak perusahaan dan individu untuk melakukan migrasi ke Windows 11. Siklus pembaruan perangkat ini biasanya dibarengi dengan pembelian PC baru, menciptakan momentum pemulihan pengiriman PC yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025. Namun, momentum positif ini berisiko terhenti total atau bahkan berbalik arah ketika stok memori mulai menipis dan harga komponen terus meroket. Konsumen dan perusahaan mungkin memilih untuk menunda pembelian, atau mencari alternatif yang lebih murah, yang dapat menghambat pertumbuhan pasar PC secara keseluruhan.

Lebih jauh lagi, kenaikan harga memori ini dikhawatirkan bukan sekadar masalah sementara yang akan mereda dalam beberapa kuartal. Firma riset IDC menilai krisis ini sebagai pergeseran struktural fundamental dalam industri semikonduktor. Kapasitas produksi wafer, yang merupakan bahan dasar pembuatan chip memori, kini lebih banyak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pusat data AI yang haus daya komputasi. Produsen memori terbesar di dunia seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron, yang juga merupakan pemasok utama untuk PC dan laptop, semakin memfokuskan sumber daya dan investasi mereka pada pengembangan dan produksi memori berkinerja tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 berkapasitas sangat tinggi, yang semuanya dirancang khusus untuk server dan akselerator AI. Prioritas ini secara otomatis mengorbankan pasokan untuk segmen PC dan laptop konsumen, yang memiliki margin keuntungan lebih rendah dan volume permintaan yang berbeda. Ini adalah perubahan strategis yang mendalam, bukan sekadar respons taktis terhadap permintaan jangka pendek.

Dampak dari krisis ini juga terasa sangat parah di pasar gaming PC. Perakit kecil dan toko-toko independen yang tidak memiliki kekuatan beli untuk menimbun RAM dan SSD dalam jumlah besar diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak, bahkan mungkin terpaksa gulung tikar. Kondisi ini secara tidak langsung membuka peluang bagi OEM besar untuk merebut pangsa pasar, karena mereka memiliki kapasitas negosiasi dan kemampuan finansial untuk mengamankan pasokan. Tekanan harga bahkan mulai terlihat pada kartu grafis (GPU), dengan laporan menunjukkan bahwa kartu grafis kelas atas generasi berikutnya seperti RTX 5090 dijual jauh di atas harga ritel resmi, bahkan sebelum peluncuran resminya. Meskipun kenaikan harga GPU juga dipengaruhi oleh faktor lain, keterbatasan dan mahalnya memori grafis (VRAM) yang juga memiliki kemiripan teknologi dengan HBM untuk AI, turut memperparah situasi.

Jika biaya merakit PC gaming terus meningkat sepanjang tahun 2026, bukan hanya pasar PC secara keseluruhan yang akan tertekan. Rencana pengembangan konsol generasi berikutnya, termasuk Xbox dan PlayStation dari Microsoft dan Sony, juga berpotensi terdampak secara signifikan akibat mahalnya komponen memori. Konsol modern sangat bergantung pada memori yang cepat dan berkapasitas tinggi untuk kinerja game yang imersif, waktu loading yang singkat, dan kemampuan grafis canggih. Kenaikan harga komponen dapat memaksa produsen konsol untuk menaikkan harga jual, menunda peluncuran, atau bahkan mengorbankan spesifikasi, yang pada akhirnya akan merugikan konsumen dan menghambat inovasi di industri game.

Krisis memori ini menjadi ujian besar bagi masa depan PC di tengah dorongan AI yang semakin agresif. Ini bukan hanya tentang kenaikan harga sementara, melainkan manifestasi nyata dari bagaimana AI, sebagai kekuatan transformatif, mulai mengubah prioritas dan alokasi sumber daya di seluruh industri semikonduktor. Meski belum menandai akhir era PC, kondisi ini dengan jelas memperlihatkan konsekuensi langsung dan tidak terhindarkan bagi konsumen, yang mungkin harus menghadapi harga yang lebih tinggi, pilihan produk yang lebih terbatas, dan bahkan performa yang dikompromikan, sebagai harga yang harus dibayar untuk kemajuan pesat kecerdasan buatan.