0

Viral Sepak Pojok Ilegal Feby Eka Saat Garuda Yaksa FC Vs Bekasi City: Sorotan Kontroversi dan Amukan Netizen

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Duel sengit antara Garuda Yaksa FC dan Bekasi City FC yang berakhir imbang 1-1 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Sabtu (10/1/2026) lalu, tidak hanya menyajikan drama di lapangan hijau, tetapi juga menyisakan kontroversi yang menggemparkan jagat maya. Sebuah insiden sepak pojok ilegal yang melibatkan pemain Garuda Yaksa FC, Feby Eka Putra, menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan serta cibiran dari para pecinta sepak bola di berbagai platform media sosial. Insiden ini bukan hanya sekadar kesalahan teknis, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai integritas pertandingan, peran wasit, serta pemahaman aturan permainan di level profesional.

Pertandingan yang seharusnya menjadi ajang adu strategi dan skill antar kedua tim, justru tercoreng oleh sebuah momen yang dianggap mencederai sportivitas. Bekasi City FC berhasil unggul terlebih dahulu pada menit ke-30 melalui gol yang dicetak oleh Renan Silva, sebuah gol yang sempat membuat Garuda Yaksa FC tertinggal dan tertekan. Namun, tim tuan rumah berhasil merespons dengan cepat. Hanya berselang beberapa saat, Garuda Yaksa FC berhasil menyamakan kedudukan melalui gol Obet Choiri yang tercipta dari skema tendangan sudut. Gol penyeimbang ini, meskipun krusial bagi Garuda Yaksa FC, justru menjadi pangkal masalah yang kemudian menjadi viral.

Dalam tayangan ulang yang beredar luas di media sosial, terlihat jelas bahwa Feby Eka Putra, yang ditugaskan untuk mengambil tendangan sudut tersebut, melakukan eksekusi yang tidak sesuai dengan kaidah permainan sepak bola. Alih-alih menempatkan bola di atas busur kecil yang telah ditentukan sebagai titik tendangan sudut, Feby Eka justru mengambil bola dari posisi yang dinilai terlalu dekat dengan garis penalti. Crossing yang ia lepaskan dari posisi yang "diperdebatkan" ini, secara mengejutkan, berhasil disambut oleh Obet Choiri dan berujung pada gol penyeimbang yang disambut sorak sorai rekan setimnya. Namun, kegembiraan tersebut tidak bertahan lama, karena kejanggalan dalam proses gol tersebut segera terdeteksi oleh mata tajam para penonton dan penggemar sepak bola.

Yang lebih mengejutkan adalah luputnya insiden ini dari perhatian wasit yang bertugas di lapangan. Di era modern sepak bola, terutama di kasta Divisi Championship yang telah mengadopsi teknologi Video Assistant Referee (VAR), seharusnya insiden semacam ini dapat dengan mudah terdeteksi dan dikoreksi. Namun, dalam pertandingan tersebut, baik wasit di lapangan maupun tim yang bertugas di ruang VAR seolah-olah tidak menyadari atau tidak mengambil tindakan untuk meninjau keabsahan gol tersebut. Kegagalan sistem perwasitan ini semakin menambah daftar panjang kekecewaan dan kemarahan publik, yang merasa bahwa integritas pertandingan telah dikompromikan.

Reaksi publik terhadap insiden sepak pojok ilegal ini tidak terbendung. Akun Instagram pribadi Feby Eka Putra, @febyekaputra11, menjadi sasaran empuk amukan para netizen. Unggahan terakhirnya dibanjiri oleh ribuan komentar yang mayoritas bernada sinis, sarkas, dan penuh kritik. Para pengguna Instagram tidak ragu untuk menyuarakan kekecewaan mereka, mempertanyakan profesionalisme Feby Eka sebagai pemain sepak bola, dan bahkan mengkritik klub Garuda Yaksa FC yang dianggap tidak mampu mendidik pemainnya tentang aturan dasar permainan.

Salah satu komentar yang menyoroti kejanggalan tersebut datang dari akun @zamannano14 yang menulis, "Lebih dekat ke garis penalti kayaknya lebih asyik," dengan nada sarkasme yang jelas tertuju pada posisi Feby Eka saat mengambil tendangan sudut. Komentar lain yang tak kalah pedas datang dari akun @e_kode_di23.12.77, yang menyatakan, "Sekelas pemain Pro masa ngga tahu tendangan corner sih, miris @garudayaksafc.official." Komentar-komentar seperti ini mencerminkan rasa frustrasi publik terhadap apa yang mereka anggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan yang merusak citra sepak bola Indonesia.

Fenomena "viral sepak pojok ilegal" ini tidak hanya menjadi bahan perbincangan di media sosial, tetapi juga memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya pemahaman aturan permainan di semua tingkatan sepak bola. Bagi Feby Eka Putra, insiden ini tentu menjadi pelajaran berharga, meskipun harus dibayar mahal dengan badai kritik yang ia terima. Bagi dunia sepak bola Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas permainan tidak hanya terletak pada kemampuan teknis pemain, tetapi juga pada pemahaman mendalam tentang setiap aspek peraturan yang menjadi fondasi dari olahraga ini.

Lebih dari itu, insiden ini juga menyoroti peran krusial VAR dan ketelitian wasit. Kegagalan dalam mengidentifikasi dan mengoreksi kesalahan yang begitu jelas dapat menimbulkan keraguan terhadap efektivitas teknologi yang seharusnya menjamin keadilan dalam pertandingan. Publik menuntut akuntabilitas dan perbaikan dalam sistem perwasitan agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan integritas sepak bola Indonesia tetap terjaga.

Kontroversi sepak pojok ilegal ini juga menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial dapat membentuk opini publik secara instan. Sebuah momen yang mungkin hanya dianggap sebagai kesalahan kecil oleh sebagian orang, dapat dengan cepat menjadi isu besar dan viral berkat kecepatan penyebaran informasi di era digital. Hal ini menjadi cambuk bagi para pelaku sepak bola untuk selalu menjaga profesionalisme dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan kontroversi.

Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi klub-klub sepak bola, terutama yang baru saja berkembang seperti Garuda Yaksa FC. Fokus pada pembinaan pemain tidak hanya pada aspek fisik dan teknik, tetapi juga pada pemahaman taktik dan aturan permainan yang komprehensif sangatlah penting. Kualitas sebuah tim tidak hanya diukur dari hasil pertandingan, tetapi juga dari cara mereka bermain dan kepatuhan mereka terhadap aturan.

Feby Eka Putra, yang pernah menjadi bagian dari Timnas Indonesia U-19, tentu memiliki potensi besar. Namun, insiden ini menjadi pengingat bahwa setiap pemain, terlepas dari prestasinya, harus selalu menjaga konsistensi dan ketelitian dalam setiap aspek permainannya. Perhatian terhadap detail-detail kecil seperti posisi mengambil tendangan sudut bisa berdampak besar pada hasil pertandingan dan citra diri seorang pemain.

Pada akhirnya, viralnya sepak pojok ilegal Feby Eka Putra ini menjadi studi kasus yang menarik dalam dunia sepak bola modern. Ia membuka mata kita terhadap berbagai isu, mulai dari profesionalisme pemain, efektivitas teknologi VAR, hingga kekuatan opini publik di era digital. Semoga insiden ini dapat menjadi momentum perbaikan bagi seluruh elemen sepak bola Indonesia agar dapat menyajikan pertandingan yang lebih berkualitas, adil, dan menjunjung tinggi sportivitas.