Di tengah duka dan tantangan berat yang menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia akibat serangkaian bencana alam, khususnya yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, Telkomsel kembali menunjukkan komitmennya sebagai penyedia layanan telekomunikasi terdepan. Sejak hari pertama terjadinya bencana, perusahaan ini telah mengaktifkan status siaga darurat, menggerakkan seluruh sumber daya untuk memastikan layanan komunikasi vital tetap berfungsi dan menyalurkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat terdampak. Ini adalah sebuah respons cepat dan terpadu yang menegaskan peran krusial konektivitas di masa-masa krisis.
Langkah-langkah strategis Telkomsel dimulai dengan pembentukan tim respons darurat yang siaga 24 jam. Tim ini, yang terdiri dari para teknisi berpengalaman dan spesialis lapangan, segera diterjunkan ke lokasi-lokasi terdampak, meskipun harus menghadapi berbagai rintangan yang luar biasa. Akses jalan yang terputus total akibat tanah longsor atau jembatan ambruk, medan yang berat dan sulit dijangkau, cuaca ekstrem yang tidak menentu mulai dari hujan lebat hingga kabut tebal, serta keterbatasan logistik untuk mengangkut peralatan dan pasokan, menjadi tantangan sehari-hari yang harus mereka taklukkan. Namun, dedikasi para pahlawan jaringan ini tidak pernah surut, didorong oleh pemahaman akan pentingnya menjaga komunikasi tetap hidup di tengah situasi darurat.
Nugroho Adi Wibowo, Vice President Area Network Operation Sumatera Telkomsel, menjelaskan secara rinci upaya yang telah dan sedang dilakukan timnya. "Sejak awal bencana, kami langsung mengerahkan tim untuk memastikan jaringan tetap berfungsi. Konektivitas menjadi kebutuhan vital masyarakat, khususnya dalam situasi darurat seperti ini," ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Sabtu (10/1/2026). Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari filosofi perusahaan yang menempatkan masyarakat sebagai prioritas utama. Begitu laporan bencana diterima, tim segera melakukan pengecekan menyeluruh terhadap infrastruktur jaringan, mengidentifikasi perangkat yang mengalami kerusakan, dan memulai proses perbaikan serta optimalisasi jaringan agar layanan dapat kembali stabil seoptimal mungkin.

Kerusakan infrastruktur akibat bencana alam bisa sangat bervariasi, mulai dari putusnya kabel serat optik yang menjadi tulang punggung jaringan, padamnya pasokan listrik ke menara Base Transceiver Station (BTS), hingga kerusakan fisik pada perangkat BTS itu sendiri akibat terjangan air atau longsor. Tim teknis Telkomsel dilengkapi dengan keahlian untuk menangani berbagai jenis kerusakan ini. Mereka bekerja keras untuk memulihkan konektivitas, kadang dengan solusi sementara seperti mengerahkan Mobile BTS (Combat) yang dilengkapi generator, atau mengalihkan jalur transmisi melalui rute cadangan jika jalur utama terputus. Setiap langkah yang diambil dirancang untuk meminimalkan durasi gangguan dan memastikan masyarakat dapat kembali berkomunikasi secepat mungkin.
Pentingnya konektivitas dalam situasi darurat tidak bisa diremehkan. Jaringan komunikasi yang stabil memungkinkan korban bencana untuk menghubungi keluarga dan kerabat, memberikan kabar keselamatan atau meminta bantuan. Bagi tim SAR dan badan penanggulangan bencana seperti BNPB, komunikasi menjadi kunci untuk koordinasi operasi penyelamatan, distribusi bantuan, dan penyebaran informasi penting mengenai evakuasi atau kondisi terkini. Akses terhadap informasi melalui internet juga memungkinkan masyarakat untuk memantau perkembangan situasi, mendapatkan peringatan dini, dan mengakses layanan darurat. Telkomsel memahami betul bahwa di masa krisis, satu panggilan telepon atau satu pesan singkat bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati, antara kepanikan dan ketenangan.
Selain fokus pada pemulihan jaringan, Telkomsel juga menjalankan perannya sebagai agen perubahan sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Bantuan kemanusiaan disalurkan secara masif ke berbagai wilayah terdampak, mencakup kebutuhan pokok yang esensial dan dukungan layanan komunikasi. Kebutuhan pokok yang disalurkan meliputi makanan siap saji, air bersih, selimut, pakaian, obat-obatan dasar, perlengkapan kebersihan diri, dan tenda darurat. Semua ini merupakan item-item krusial yang dibutuhkan oleh para pengungsi dan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal atau mata pencarian mereka.
Distribusi bantuan ini tidak dilakukan secara acak, melainkan melalui koordinasi yang cermat dengan pemerintah daerah dan lembaga sosial setempat untuk memastikan bantuan sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. Di Provinsi Sumatera Barat, Telkomsel menyalurkan bantuan di beberapa lokasi yang paling parah terdampak, termasuk Padang Panjang, Agam, Pariaman, Kota Padang, Solok, dan Tanah Datar. Wilayah-wilayah ini, yang dikenal dengan topografi pegunungan dan rentan terhadap bencana hidrometeorologi, memang kerap menjadi pusat perhatian saat musim penghujan tiba.

Tak hanya di Sumatera Barat, tangan kepedulian Telkomsel juga menjangkau Provinsi Sumatera Utara. Penyaluran bantuan dilakukan di Tapanuli Tengah, Binjai, Medan, Pematang Siantar, dan Sibolga. Sementara itu, di ujung barat Indonesia, Provinsi Aceh juga menjadi sasaran bantuan, mencakup wilayah Langsa, Lhokseumawe, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Takengon, Aceh Selatan, Bireuen, serta wilayah Gayo. Cakupan wilayah yang luas ini menunjukkan skala komitmen Telkomsel dalam merespons bencana, memastikan bahwa sebanyak mungkin masyarakat terdampak mendapatkan uluran tangan.
Dukungan layanan komunikasi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari program CSR ini. Di beberapa titik pengungsian atau posko bantuan, Telkomsel menyediakan fasilitas pengisian daya gratis untuk ponsel (charging station) agar masyarakat dapat mengisi daya perangkat mereka dan tetap terhubung. Terkadang, akses internet gratis atau paket komunikasi khusus juga disediakan untuk memudahkan masyarakat berkomunikasi dan mengakses informasi penting. Ini adalah bentuk nyata dari dukungan yang melampaui sekadar perbaikan infrastruktur, melainkan juga menyentuh aspek kemanusiaan secara langsung.
Saat ini, berkat kerja keras tanpa henti dari tim Telkomsel, jaringan di wilayah-wilayah terdampak telah berangsur pulih dan menunjukkan stabilitas yang signifikan. Meskipun demikian, upaya pemantauan intensif terus dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan kualitas layanan tetap optimal dan stabil dalam jangka panjang. Telkomsel menyadari bahwa proses pemulihan pascabencana adalah perjalanan panjang, dan peran mereka tidak berhenti setelah jaringan kembali berfungsi.
Melalui berbagai upaya komprehensif ini – mulai dari respons cepat, pengerahan tim lapangan yang berani menembus segala rintangan, perbaikan infrastruktur yang canggih, hingga penyaluran bantuan kemanusiaan yang tulus – Telkomsel menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat. Ini adalah bukti nyata bahwa Telkomsel tidak hanya berorientasi pada bisnis, melainkan juga memegang teguh tanggung jawab sosialnya sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Mereka bertekad untuk menjadi mitra terpercaya dalam menjaga konektivitas, mendukung proses pemulihan, dan berkontribusi pada ketahanan masyarakat di wilayah terdampak bencana, kini dan di masa mendatang. Kisah ini menjadi inspirasi tentang bagaimana teknologi dan kemanusiaan dapat bersinergi untuk menghadapi tantangan terberat sekalipun.

