Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan kecepatan internet di Indonesia. Sebuah roadmap progresif telah dirancang, menargetkan kecepatan mobile internet nasional secara bertahap, dimulai dari sekitar 47,02 Mbps pada tahun 2024, diharapkan mencapai 50 Mbps pada 2025, melonjak menjadi 60 Mbps di tahun 2026, terus meningkat hingga 100 Mbps pada 2029. Target ini tidak hanya mencakup mobile broadband, tetapi juga fixed broadband, menandai komitmen serius pemerintah terhadap akselerasi transformasi digital. Menanggapi visi besar ini, operator seluler terkemuka, XLSmart, menyatakan kesiapannya sambil menggarisbawahi tantangan krusial yang perlu diatasi, terutama terkait infrastruktur fiber dan ketersediaan spektrum.
Group Head Corporate Communication & Sustainability XLSmart, Reza Mirza, memberikan pandangannya yang komprehensif mengenai kesiapan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Menurut Reza, secara umum, kondisi jaringan seluler di Tanah Air, khususnya di pusat-pusat perkotaan, sudah berada pada lintasan yang tepat untuk mendukung pencapaian target pemerintah. "Di wilayah perkotaan, kecepatan broadband seluler yang dirasakan pelanggan saat ini umumnya sudah berada di kisaran puluhan Mbps. Bahkan pada kondisi tertentu, kecepatan tersebut bisa mendekati atau melampaui target nasional," ujar Reza kepada detikINET pada Jumat, 9 Januari 2026. Pernyataan ini menunjukkan optimisme XLSmart terhadap kemampuan jaringan mereka dalam memenuhi ekspektasi pengguna di area padat penduduk.
Namun, Reza tidak menampik adanya disparitas yang signifikan antara kecepatan internet di perkotaan dan non-perkotaan. Ia menjelaskan bahwa di luar kawasan perkotaan, kecepatan internet masih sangat bervariasi dan cenderung lebih rendah. Hal ini tidak terlepas dari keterbatasan infrastruktur pendukung yang belum merata di seluruh pelosok negeri. "Di luar perkotaan, kecepatan masih bervariasi dan relatif lebih rendah. Target 50 Mbps pada 2025 dan 60 Mbps pada 2026 menjadi arah peningkatan kualitas layanan, tidak hanya dari sisi kecepatan, tetapi juga stabilitas dan konsistensi layanan," jelasnya. Ini menunjukkan bahwa fokus pemerintah dan operator tidak hanya pada angka kecepatan puncak, tetapi juga pada pengalaman pengguna yang lebih baik secara keseluruhan, termasuk keandalan dan latensi rendah.
Dari sudut pandang kesiapan operator, Reza menegaskan bahwa industri seluler pada prinsipnya siap mendukung target pemerintah, terutama di wilayah yang infrastruktur jaringannya sudah memadai. XLSmart, khususnya, telah menunjukkan komitmen kuat pasca integrasi usai merger yang mereka lakukan. Perusahaan ini terus melakukan pengembangan jaringan secara menyeluruh dan agresif. Langkah-langkah strategis yang ditempuh meliputi modernisasi perangkat 4G yang sudah ada, penggelaran jaringan 5G di area-area strategis, perluasan fiberisasi pada site-site eksisting, optimalisasi penggunaan spektrum yang tersedia, serta peningkatan kapasitas jaringan inti (core network) yang berfungsi sebagai tulang punggung seluruh operasional jaringan.
Modernisasi 4G bukan sekadar pembaruan perangkat lunak, melainkan juga implementasi teknologi terbaru seperti Massive MIMO (Multiple Input Multiple Output) dan agregasi frekuensi (carrier aggregation) untuk memaksimalkan kapasitas dan kecepatan yang ada. Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa meskipun fokus juga bergeser ke 5G, fondasi 4G yang kuat tetap menjadi tulang punggung layanan bagi sebagian besar pelanggan, terutama di area yang belum terjangkau 5G. Sementara itu, penggelaran 5G difokuskan pada wilayah prioritas yang memiliki potensi penggunaan tinggi dan ekosistem pendukung yang kuat, seperti kawasan industri, pusat bisnis, dan kota-kota besar.
Aspek fiberisasi memegang peranan vital dalam strategi XLSmart. Reza Mirza menekankan pentingnya perluasan fiberisasi pada site-site eksisting. Fiber optik adalah tulang punggung internet berkecepatan tinggi. Dengan menghubungkan menara BTS (Base Transceiver Station) ke jaringan fiber, operator dapat menyediakan kapasitas bandwidth yang jauh lebih besar dan latensi yang lebih rendah, yang sangat esensial untuk mendukung kecepatan 60 Mbps di 2026 dan 100 Mbps di 2029. Tanpa fiberisasi yang memadai, kapasitas backhaul akan menjadi hambatan utama, membatasi potensi penuh dari teknologi radio 4G dan 5G.
Optimalisasi spektrum juga menjadi fokus utama. Spektrum frekuensi adalah sumber daya terbatas yang sangat berharga bagi operator seluler. XLSmart berupaya memaksimalkan penggunaan spektrum yang mereka miliki melalui berbagai teknik, termasuk refarming frekuensi dan penggunaan teknologi yang lebih efisien. Ketersediaan spektrum yang cukup dan alokasi yang tepat oleh pemerintah adalah kunci untuk meningkatkan kapasitas jaringan secara signifikan, memungkinkan lebih banyak data ditransmisikan pada kecepatan yang lebih tinggi.
Meskipun demikian, tantangan untuk mencapai target kecepatan nasional yang telah ditetapkan pemerintah masih cukup besar dan kompleks. Reza Mirza secara eksplisit menyebutkan keterbatasan infrastruktur fiber dan backhaul sebagai salah satu kendala utama. Pembangunan jaringan fiber optik membutuhkan investasi yang sangat besar, proses perizinan yang rumit, serta tantangan geografis yang beragam di Indonesia, mulai dari pegunungan hingga kepulauan terpencil. Selain itu, ketersediaan spektrum yang memadai untuk peningkatan kapasitas jaringan juga menjadi faktor krusial yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini, XLSmart menggarisbawahi pentingnya sinergi kebijakan, kolaborasi, dan dukungan dari semua pihak/stakeholders, termasuk pemerintah. Reza Mirza merinci beberapa area di mana dukungan pemerintah sangat dibutuhkan:
- Insentif Pembangunan: Pemerintah dapat menyediakan insentif, seperti keringanan pajak atau subsidi, untuk mendorong operator berinvestasi lebih banyak dalam pembangunan infrastruktur di daerah-daerah yang secara komersial kurang menarik namun sangat membutuhkan akses internet.
- Peninjauan Regulatory Charges: Biaya regulasi, termasuk biaya hak penggunaan (BHP) spektrum, dapat menjadi beban signifikan bagi operator. Peninjauan ulang dan penyesuaian biaya ini dapat membebaskan lebih banyak modal bagi operator untuk diinvestasikan kembali dalam pengembangan jaringan.
- Kemudahan Perizinan: Proses perizinan untuk pembangunan infrastruktur, mulai dari menara BTS hingga penggalian fiber optik, seringkali rumit dan memakan waktu. Penyederhanaan dan percepatan proses perizinan di tingkat pusat maupun daerah akan sangat membantu percepatan pembangunan.
- Persaingan Sehat dalam Landscape Digital: Pemerintah perlu memastikan adanya iklim persaingan yang sehat di industri telekomunikasi dan digital. Ini akan mendorong inovasi, efisiensi, dan investasi berkelanjutan dari semua pemain di pasar, yang pada akhirnya akan menguntungkan konsumen.
Dukungan-dukungan ini penting agar peningkatan kecepatan internet dapat berjalan sejalan dengan pemerataan akses dan kualitas layanan di seluruh Indonesia. Visi pemerintah untuk mencapai 100 Mbps pada 2029 bukan hanya tentang angka, tetapi tentang menciptakan masyarakat digital yang inklusif dan berdaya saing. Kecepatan internet yang lebih tinggi akan membuka peluang baru di berbagai sektor, mulai dari pendidikan jarak jauh, layanan kesehatan digital, pengembangan UMKM, hingga inovasi di sektor industri dan pariwisata.
Peningkatan kecepatan ini akan didorong melalui optimalisasi jaringan 4G yang sudah matang, perluasan layanan 5G di wilayah-wilayah prioritas, serta peningkatan kualitas layanan (Quality of Experience/QoE), bukan sekadar penambahan cakupan. QoE mencakup berbagai aspek seperti latensi, jitter, dan tingkat keberhasilan koneksi, yang secara langsung memengaruhi kepuasan pengguna. Ini berarti operator tidak hanya fokus pada seberapa cepat data diunduh, tetapi juga seberapa responsif dan stabil koneksi tersebut dalam mendukung berbagai aplikasi dan aktivitas digital.
Secara keseluruhan, target pemerintah untuk internet Indonesia yang lebih cepat dan berkualitas tinggi pada tahun 2026 dan seterusnya adalah sebuah inisiatif yang sangat vital. XLSmart, sebagai salah satu pemain kunci di industri, menunjukkan komitmen dan kesiapannya, namun juga secara realistis mengemukakan tantangan yang ada. Kolaborasi erat antara pemerintah, operator, dan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan visi Indonesia yang sepenuhnya terhubung dan berdaya saing di era digital. Peningkatan kecepatan hingga 60 Mbps di 2026 akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju 100 Mbps di 2029, membuka babak baru bagi konektivitas digital di Indonesia.

