0

Kelebihan Mobil Penggerak Roda Belakang: Menilik Keunggulan yang Masih Bertahan di Pasar Otomotif

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Meskipun tren kendaraan dengan penggerak roda depan (Front-Wheel Drive/FWD) semakin mendominasi pasar otomotif modern, mobil dengan sistem penggerak roda belakang (Rear-Wheel Drive/RWD) nyatanya masih memiliki basis penggemar yang loyal. Bukti nyata dari fenomena ini adalah terus adanya permintaan dan keberadaan deretan mobil RWD yang masih diburu konsumen di berbagai segmen, mulai dari mobil penumpang hingga kendaraan komersial. Kehadiran mobil-mobil ini menunjukkan bahwa ada keunggulan inheren yang ditawarkan oleh sistem penggerak roda belakang, yang membuatnya tetap relevan dan menarik bagi sebagian kalangan.

Sistem penggerak roda belakang, sebagaimana namanya, adalah konfigurasi di mana tenaga dari mesin disalurkan melalui sistem transmisi dan gardan ke dua roda di bagian belakang kendaraan. Mekanisme ini secara fundamental berbeda dengan sistem FWD yang menyalurkan tenaga ke roda depan. Dalam sistem RWD, beban kerja pada setiap poros roda terbagi secara lebih fungsional. Roda depan difokuskan pada tugas mengendalikan arah kemudi, sementara roda belakang bertugas sebagai "penggerak" utama yang mendorong kendaraan maju. Pembagian tugas yang jelas ini memberikan sejumlah manfaat signifikan, terutama terkait dengan daya tahan komponen.

Salah satu kelebihan utama dari sistem RWD adalah potensi umur komponen yang lebih panjang. Karena roda depan tidak dibebani tugas untuk menyalurkan tenaga, komponen-komponen yang terkait dengan sistem kemudi dan penggerak depan, seperti ban, ball joint, tie rod, dan komponen sistem kemudi lainnya, mengalami beban kerja yang lebih ringan. Hal ini secara teoritis dapat memperpanjang usia pakai komponen-komponen tersebut dibandingkan dengan sistem FWD di mana roda depan harus menjalankan dua fungsi krusial sekaligus: mengemudikan dan menggerakkan kendaraan.

Selain itu, sistem RWD seringkali dikaitkan dengan performa yang lebih baik, terutama dalam kondisi tertentu. Kemampuan mobil RWD untuk melibas tanjakan curam seringkali menjadi argumen kuat para pendukungnya. Hal ini terjadi karena sistem dorong yang lebih kuat tertumpu pada roda belakang, yang memiliki traksi lebih baik saat mendaki. Bayangkan mendorong sebuah benda berat; lebih mudah jika gaya dorong berasal dari belakang, bukan menarik dari depan. Konsep serupa berlaku pada kendaraan RWD, di mana tenaga yang mendorong kendaraan dari belakang memberikan keuntungan saat menghadapi medan yang menanjak.

Lebih lanjut, distribusi bobot yang seimbang pada mobil RWD juga berkontribusi pada stabilitas dan keseimbangan kemudi yang lebih baik. Karena komponen sistem penggerak terdistribusi di bagian depan (mesin) dan belakang (gardan, differential), bobot kendaraan cenderung terbagi lebih merata antara poros depan dan belakang. Keseimbangan beban kerja dan distribusi bobot ini secara keseluruhan menghasilkan pengalaman berkendara yang lebih stabil dan terkontrol, terutama saat bermanuver atau melewati tikungan. Pengemudi seringkali merasakan respons kemudi yang lebih presisi dan prediktif pada kendaraan RWD.

Namun, setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan RWD bukanlah pengecualian. Salah satu kelemahan yang paling sering disorot dari sistem penggerak roda belakang adalah bobot kendaraan yang cenderung lebih berat. Hal ini disebabkan oleh penambahan komponen yang diperlukan untuk menyalurkan tenaga ke roda belakang, seperti poros gardan (propeller shaft), differential, dan komponen pendukung lainnya yang ditempatkan di bawah bodi kendaraan. Bobot tambahan ini, meskipun memberikan keuntungan stabilitas, dapat sedikit mengurangi efisiensi bahan bakar dan kelincahan dibandingkan kendaraan yang lebih ringan.

Kelemahan lain yang cukup dikenal dari mobil RWD adalah kecenderungannya untuk lebih mudah mengalami oversteer. Oversteer adalah kondisi di mana bagian belakang kendaraan cenderung selip atau tergelincir keluar dari jalur saat berbelok, terutama pada kecepatan tinggi atau saat menikung tajam. Hal ini terjadi karena roda belakang yang bertugas sebagai penggerak memiliki grip yang berbeda dengan roda depan yang bertugas sebagai kemudi. Performa roda belakang yang lebih "lincah" ini, meskipun bisa menjadi keuntungan bagi pengemudi berpengalaman yang mencari sensasi berkendara sporty, dapat menjadi tantangan bagi pengemudi pemula atau dalam kondisi jalan yang licin.

Aspek yang juga seringkali menjadi pertimbangan adalah tata ruang kabin. Karena adanya komponen seperti propeller shaft yang membentang di bawah lantai kabin dari transmisi ke differential belakang, ruang kabin pada mobil RWD, terutama di bagian tengah, terkadang terasa lebih sempit. Propeller shaft ini membutuhkan ruang tersendiri, yang dapat mengurangi ruang kaki penumpang belakang di bagian tengah atau memaksa desain terowongan di tengah lantai kabin menjadi lebih menonjol. Ini adalah kompromi desain yang harus diterima demi keunggulan teknis dari sistem RWD.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak semua mobil RWD memiliki kabin yang sempit. Desain modern dan penempatan komponen yang cerdas telah memungkinkan beberapa produsen untuk meminimalkan dampak ini. Namun, secara umum, ini tetap menjadi salah satu perbedaan mendasar antara konfigurasi RWD dan FWD dalam hal pemanfaatan ruang interior.

Di pasar Indonesia saat ini, meskipun tren FWD semakin kuat, masih ada beberapa model mobil yang tetap setia menggunakan sistem penggerak roda belakang. Keberadaan model-model ini menunjukkan bahwa masih ada segmen pasar yang menghargai keunggulan yang ditawarkan oleh RWD. Beberapa contoh mobil RWD yang masih populer di Indonesia antara lain adalah Wuling Confero, yang merupakan kendaraan keluarga serbaguna dengan harga terjangkau. Daihatsu Terios dan Toyota Rush, yang merupakan SUV kompak, juga masih mengandalkan konfigurasi RWD untuk memberikan performa yang tangguh di berbagai medan.

Kendaraan komersial seperti Daihatsu Gran Max, dalam varian pikap dan van, juga masih banyak menggunakan sistem RWD. Ini karena RWD ideal untuk kendaraan yang seringkali membawa beban berat dan beroperasi di medan yang menantang, di mana traksi roda belakang sangat krusial. Di segmen SUV yang lebih besar, Toyota Fortuner tetap menjadi pilihan populer dengan sistem penggerak roda belakangnya, menawarkan kombinasi kekuatan, ketangguhan, dan kemampuan off-road.

Bahkan di segmen kendaraan keluarga yang lebih premium, Kijang Innova Reborn masih menawarkan pilihan dengan penggerak roda belakang, melanjutkan tradisi legendarisnya. Model-model ini membuktikan bahwa RWD masih memiliki tempat yang kuat di hati konsumen Indonesia, terutama bagi mereka yang mengutamakan performa, daya tahan, dan kemampuan melibas medan yang lebih berat.

Namun, perlu diakui bahwa belakangan ini, sistem penggerak roda depan memang menjadi pilihan yang lebih populer di kalangan produsen otomotif, terutama untuk kendaraan penumpang. Hal ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk efisiensi ruang yang lebih baik, biaya produksi yang cenderung lebih rendah, dan kemudahan dalam desain. Akibatnya, beberapa model mobil yang dulunya identik dengan penggerak roda belakang kini telah beralih ke FWD.

Contoh paling mencolok adalah Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, yang merupakan tulang punggung pasar mobil keluarga di Indonesia. Kedua model ini, yang dulunya menggunakan RWD, kini telah beralih sepenuhnya ke FWD pada generasi terbarunya. Perubahan ini mencerminkan pergeseran preferensi pasar dan upaya produsen untuk beradaptasi dengan tuntutan efisiensi dan kepraktisan yang semakin meningkat.

Pergeseran tren ini juga terlihat pada Kijang Innova generasi terbaru, yaitu Kijang Innova Zenix. Model ini secara drastis meninggalkan konfigurasi RWD dan mengadopsi sistem penggerak roda depan. Keputusan ini menandai evolusi signifikan dalam lini produk Toyota dan menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tren FWD dalam industri otomotif global. Peralihan ini tentu saja didasarkan pada analisis mendalam terhadap kebutuhan konsumen, teknologi yang berkembang, dan strategi produk jangka panjang.

Meskipun demikian, keberadaan mobil-mobil RWD yang masih diproduksi dan diminati menunjukkan bahwa sistem ini belum sepenuhnya usang. Keunggulan dalam hal performa di tanjakan, stabilitas, dan potensi daya tahan komponen masih menjadi daya tarik utama bagi segmen konsumen tertentu. Bagi para penggemar otomotif yang menghargai sensasi berkendara yang berbeda, atau bagi mereka yang membutuhkan kendaraan yang tangguh untuk medan yang berat, mobil RWD tetap menjadi pilihan yang menarik dan relevan. Diskusi mengenai kelebihan dan kekurangan RWD ini penting untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada konsumen dalam memilih kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.