BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Chelsea tengah menjadi sorotan tajam di Liga Inggris musim 2025/2026 bukan karena performa gemilang di lapangan hijau, melainkan karena catatan disiplin yang sangat buruk. Klub raksasa London ini telah mengumpulkan total delapan kartu merah di ajang Premier League sejauh ini, sebuah angka yang secara signifikan melampaui tim-tim kontestan lainnya. Angka ini, yang dua kali lipat lebih banyak dari tim manapun, mencerminkan masalah serius dalam pengendalian emosi dan taktik tim asuhan pelatih baru mereka.
Rekor kartu merah yang memprihatinkan ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya pertahanan disiplin Chelsea di lapangan. Setiap kartu merah yang dikeluarkan oleh wasit tidak hanya merugikan tim dalam pertandingan yang sedang berlangsung, tetapi juga berimplikasi pada ketersediaan pemain untuk laga-laga krusial di masa mendatang. Akumulasi kartu kuning yang berujung pada larangan bermain juga turut menambah daftar panjang masalah yang dihadapi skuad The Blues.

Kasus terbaru yang menambah daftar panjang ini adalah Marc Cucurella, yang diusir dari lapangan dalam pertandingan melawan Fulham pada Kamis, 8 Januari 2026. Kekalahan 1-2 dari Fulham ini semakin diperparah dengan keputusan wasit Peter Bankes yang menilai Cucurella melakukan pelanggaran sebagai orang terakhir saat menjatuhkan Willian. Momen ini menjadi gambaran konkret dari kerapuhan pertahanan dan keputusan gegabah yang seringkali mewarnai permainan Chelsea musim ini.
Sebelum Cucurella, daftar pemain Chelsea yang harus meninggalkan lapangan lebih awal karena kartu merah sudah cukup panjang dan beragam. Nama-nama seperti Joao Pedro, Liam Delap, Malo Gusto, Moises Caicedo, Robert Sanchez, dan Trevoh Chalobah telah lebih dulu merasakan dinginnya ruang ganti sebelum pertandingan usai. Masing-masing dari mereka memiliki cerita dan kronologi pelanggaran yang berbeda, namun kesemuanya berujung pada sanksi yang sama: kartu merah.
Moises Caicedo menjadi salah satu pemain yang paling sering menjadi sorotan terkait kartu merah dan akumulasi kartu kuning. Ia pernah mendapat kartu merah setelah VAR meninjau pelanggarannya dalam pertandingan melawan Arsenal pada 30 November 2025. Kejadian ini menambah deretan masalah yang harus dihadapi Chelsea, yang pada saat itu sedang berjuang keras untuk mendapatkan poin. Selain itu, Caicedo juga kerap menghadapi hukuman larangan bermain akibat akumulasi kartu kuning, yang menunjukkan bahwa masalah disiplin bukan hanya terjadi pada pelanggaran keras, tetapi juga pada konsistensi akumulasi kartu.

Tidak hanya para pemain, bahkan pelatih kepala Chelsea, Enzo Maresca, juga tidak luput dari catatan buruk ini. Ia pernah menerima kartu merah pada pertandingan melawan Liverpool di Stamford Bridge pada 4 Oktober 2025. Maresca diusir dari pinggir lapangan oleh wasit Anthony Taylor setelah ia meninggalkan area teknisnya untuk ikut merayakan gol yang dicetak oleh Estevão, yang membuat skor menjadi 2-1. Keputusan Maresca yang berlebihan ini menunjukkan adanya masalah dalam pengendalian emosi, baik di kalangan pemain maupun staf pelatih.
Rangkaian kartu merah yang dialami Chelsea ini bukan hanya sekadar statistik yang mengkhawatirkan, tetapi juga mencerminkan gambaran umum tentang bagaimana tim ini bermain. Ada indikasi bahwa para pemain Chelsea seringkali bermain dengan emosi yang berlebihan, kurangnya kesabaran dalam mengawal lawan, atau bahkan kesalahan taktis yang berujung pada pelanggaran fatal. Hal ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah besar bagi manajemen dan staf pelatih untuk segera menemukan solusi sebelum masalah ini semakin merusak reputasi dan performa tim di sisa musim.
Analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa rata-rata Chelsea mendapatkan kartu merah setiap beberapa pertandingan. Frekuensi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tim-tim papan atas lainnya yang cenderung menjaga kedisiplinan. Tim seperti Manchester City, Arsenal, atau Liverpool, meskipun juga memiliki momen-momen emosional, jarang sekali mencapai angka delapan kartu merah dalam satu musim. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang mendasar yang perlu diperbaiki dalam filosofi permainan Chelsea, baik dari segi mentalitas pemain maupun instruksi taktis dari pelatih.

Dampak dari banyaknya kartu merah ini sangat terasa pada kedalaman skuad Chelsea. Pemain-pemain kunci yang harus absen karena hukuman larangan bermain membuat pelatih harus terus melakukan rotasi dan improvisasi. Hal ini tentu saja mengganggu ritme permainan tim dan mengurangi potensi kekuatan terbaik mereka di setiap pertandingan. Dalam kompetisi seketat Liga Inggris, setiap kehilangan satu pemain saja bisa sangat menentukan hasil akhir sebuah pertandingan.
Lebih jauh lagi, catatan kartu merah yang buruk ini juga dapat mempengaruhi persepsi publik dan para penggemar terhadap tim. Meskipun para pendukung Chelsea tetap setia memberikan dukungan, akumulasi kartu merah yang berulang kali bisa menimbulkan kekecewaan dan keraguan terhadap kemampuan tim dalam mengelola permainan secara profesional. Citra tim yang seharusnya identik dengan permainan menarik dan penuh semangat juang, kini tercoreng oleh catatan disiplin yang sangat buruk.
Para pengamat sepak bola juga mulai mempertanyakan efektivitas strategi yang diterapkan oleh Enzo Maresca. Apakah intensitas latihan yang terlalu tinggi, tuntutan taktis yang kompleks, atau kurangnya pemahaman pemain terhadap peraturan permainan menjadi faktor utama? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab dengan segera oleh pihak klub agar dapat mengambil langkah perbaikan yang tepat.

Masa depan Chelsea di musim ini akan sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk mengatasi masalah disiplin ini. Jika tidak ada perubahan signifikan dalam pengendalian emosi dan taktik permainan, bukan tidak mungkin jumlah kartu merah akan terus bertambah, dan ambisi Chelsea di berbagai kompetisi akan semakin terancam. Sisa musim ini akan menjadi ujian berat bagi Chelsea untuk membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dari catatan buruk ini dan kembali menjadi tim yang disegani, bukan hanya karena bakat pemain, tetapi juga karena kedisiplinan dan profesionalisme mereka di lapangan hijau.
Pihak manajemen Chelsea diharapkan segera melakukan evaluasi mendalam terhadap seluruh aspek yang berkontribusi terhadap tingginya angka kartu merah. Hal ini bisa mencakup sesi pelatihan khusus untuk peningkatan kesadaran taktis, sesi psikologis untuk manajemen emosi, serta peninjauan ulang terhadap instruksi-instruksi yang diberikan oleh staf pelatih. Tanpa tindakan konkret dan cepat, rekor buruk ini akan terus membayangi Chelsea dan berpotensi merusak potensi mereka di masa depan.

