BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis Faby Marcelia tengah menikmati babak baru dalam hidupnya sebagai seorang ibu tunggal pasca bercerai dari Revand Narya. Meskipun sempat tersiar kabar kedekatannya dengan Ichal Muhammad, Faby menekankan bahwa dirinya tidak ingin terburu-buru atau memaksakan diri dalam urusan mencari pasangan hidup. Ia lebih memilih untuk menjalani hidupnya dengan santai dan bahagia, tanpa tekanan target tertentu. "Jodoh gak pernah ada yang tahu ya. Kalau bilang enggak mau, nanti ternyata dapat," ujar Faby Marcelia saat ditemui di Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada Minggu, 4 Januari 2026.
Pada usianya yang kini menginjak 30 tahun, Faby merasa berada dalam posisi yang serba dilematis ketika ditanya mengenai kesiapannya untuk membuka lembaran baru dalam kehidupan pribadinya. Baginya, segala sesuatu harus dijalani dengan luwes, tanpa adanya ekspektasi atau target yang memberatkan. "Mau bilang mau, tapi ternyata belum ada. Jadi dijalani saja. Anak-anak mah ikut saja, Kakak (panggilan untuk anak pertama) cuma bilang, ‘Yang penting Mami happy, aku happy’," jelasnya dengan senyum. Pernyataannya ini menunjukkan prioritas utamanya adalah kebahagiaan dirinya dan anak-anaknya, bukan sekadar menemukan pasangan.
Dukungan dari keluarga, terutama sang ibunda, menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi Faby. Ibunya, yang juga merupakan seorang single parent, sangat memahami seluk-beluk perjuangan dan dinamika yang dihadapi oleh Faby. "Kalau depan Mama sih aku selalu ceria aja. Mama paling cuma bilang, ‘Semangat ya cantik, semangat buat anak-anak’," tutur Faby. Ia menambahkan, "Mama kan single parent juga, jadi Mama pasti tahu capeknya aku dan rasanya gimana. Makanya aku enggak mau memperlihatkan kalau aku lagi capek." Sikap tegar yang ia tunjukkan di depan ibunya merupakan bentuk penghormatan dan keinginan untuk tidak menambah beban pikiran sang ibu.
Terlepas dari perannya sebagai ibu dan tulang punggung keluarga, Faby mengaku tidak merasa kerepotan dalam menjalankan kesibukannya. Baginya, bekerja justru menjadi salah satu bentuk pelarian atau healing dari rutinitas sehari-hari. "Kerepotan sih enggak ya karena aku memang senang kerja. Kerja itu buat aku salah satu healing. Aku sudah kerja dari umur 13 tahun," ungkapnya, menunjukkan kemandirian dan kecintaannya pada dunia profesional sejak usia muda. Pengalaman panjang di dunia kerja ini tentu membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan mampu mengelola berbagai tanggung jawab.
Meskipun demikian, Faby tidak menutup pintu sepenuhnya jika kelak ada sosok yang hadir dalam hidupnya. Namun, ia tetap berpegang teguh pada prinsip kemandirian dan produktivitas. "Ya walaupun nanti kalau ada pasangan penginnya yang bisa provide, tapi aku tetap pengin kerja atau punya bisnis bareng," tegasnya. Visi ini menunjukkan bahwa ia mencari pasangan yang dapat menjadi mitra, bukan sekadar penopang, dan ia ingin terus berkontribusi secara aktif dalam membangun masa depan.
Dalam kesehariannya, Faby mengaku tidak pernah merasa kesepian. Ia dikelilingi oleh orang-orang terkasih yang selalu memberikan dukungan moral. "Alhamdulillah enggak pernah merasa sepi. Kalau syuting ditemani, kita cerita-cerita, ketawa-ketawa. Di mobil ya karaokean aja. Terus punya teman-teman dan keluarga yang selalu support, jadi enggak pernah merasa kesepian," tutup Faby Marcelia. Lingkaran sosial yang positif ini menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada status hubungan, melainkan juga pada kualitas interaksi dan dukungan yang diterima.
Lebih lanjut, Faby Marcelia mengungkapkan bahwa proses pencarian jodoh baginya adalah sebuah perjalanan yang harus dijalani dengan hati yang lapang dan tanpa paksaan. Ia percaya bahwa setiap hal memiliki waktunya sendiri, dan yang terpenting adalah bagaimana ia menikmati setiap momen yang dilalui. "Saya tidak ingin terburu-buru dalam memilih pasangan hidup. Yang paling penting adalah saya merasa bahagia dan nyaman dengan pilihan saya, serta anak-anak juga turut merasakan kebahagiaan yang sama," ujarnya dengan nada penuh keyakinan. Filosofi hidup ini mencerminkan kedewasaan dan prioritas yang jelas dalam menentukan langkah selanjutnya.
Faby juga menyoroti pentingnya kehadiran sosok yang dapat melengkapi hidupnya, namun ia tidak ingin kehilangan jati diri dan kemandiriannya. "Jika kelak ada seseorang yang hadir, saya berharap ia adalah sosok yang bisa menjadi partner sejati, yang bisa saling mendukung dalam segala hal. Saya tidak ingin hanya menjadi beban, tetapi juga ingin tetap berkontribusi dan memiliki peran dalam hubungan tersebut, baik melalui pekerjaan maupun bisnis bersama," jelasnya. Harapan ini menunjukkan bahwa Faby mendambakan hubungan yang setara dan kolaboratif, di mana kedua belah pihak dapat tumbuh bersama.
Dalam menghadapi tantangan sebagai ibu tunggal, Faby mengaku banyak belajar tentang arti kekuatan dan ketahanan diri. Ia tidak pernah menyesali takdir yang telah diberikan kepadanya, melainkan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berjuang demi masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan kedua buah hatinya. "Setiap kesulitan yang saya hadapi justru membuat saya semakin kuat. Saya belajar untuk lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan lebih menghargai setiap pencapaian, sekecil apapun itu," tuturnya.
Faby juga membagikan pandangannya mengenai peran media sosial dalam kehidupan publik figur. Ia menyadari bahwa setiap gerak-geriknya selalu menjadi sorotan, namun ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. "Saya berusaha untuk tetap menjadi diri sendiri dan tidak terlalu terpengaruh oleh komentar negatif. Yang terpenting adalah saya tahu siapa diri saya dan apa yang saya lakukan," tegasnya. Sikap ini menunjukkan keteguhan mental yang dimilikinya dalam menghadapi dunia hiburan yang penuh dinamika.
Dalam kesempatan yang sama, Faby juga mengomentari tentang kabar kedekatannya dengan Ichal Muhammad yang sempat beredar. Ia memberikan klarifikasi bahwa saat ini dirinya masih fokus pada kehidupan pribadi dan kariernya, serta belum memikirkan untuk menjalin hubungan serius. "Untuk saat ini, saya masih ingin menikmati waktu bersama anak-anak dan fokus pada pekerjaan. Jika memang ada yang ditakdirkan, saya akan menjalaninya dengan lapang dada," ungkapnya diplomatis. Pernyataannya ini membantah spekulasi yang ada dan menegaskan posisinya saat ini.
Lebih jauh, Faby menegaskan bahwa ia sangat mengutamakan kebahagiaan anak-anaknya di atas segalanya. "Anak-anak adalah prioritas utama saya. Apapun yang saya lakukan, saya selalu mempertimbangkan dampaknya bagi mereka. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya juga," katanya dengan penuh kasih sayang. Komitmennya sebagai seorang ibu terlihat jelas dari setiap perkataannya, menunjukkan betapa pentingnya peran anak-anak dalam setiap keputusan hidupnya.
Faby Marcelia juga menyinggung soal tantangan dalam mendidik anak di era digital. Ia mengaku selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang anak-anaknya, termasuk dalam hal edukasi dan pengawasan. "Saya selalu berusaha memberikan contoh yang baik kepada anak-anak, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Saya juga selalu mengingatkan mereka untuk selalu berbuat baik dan menjauhi hal-hal negatif," jelasnya. Upayanya ini menunjukkan keseriusannya dalam membentuk karakter anak-anaknya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Menjelang akhir perbincangan, Faby kembali menegaskan prinsip hidupnya yang sederhana namun penuh makna. Ia tidak pernah berhenti belajar dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. "Yang terpenting adalah kita selalu bersyukur, terus berusaha, dan selalu berpikir positif. Dengan begitu, kita akan selalu menemukan kebahagiaan dalam setiap langkah," tutupnya dengan senyuman tulus. Semangat positif dan optimisme yang terpancar dari Faby Marcelia memberikan inspirasi bagi banyak orang, terutama para wanita yang sedang berjuang dalam kehidupan mereka. Ia membuktikan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih melalui penerimaan diri, kemandirian, dan cinta terhadap keluarga.
Perjalanan hidup Faby Marcelia sebagai seorang ibu tunggal dan seorang profesional yang sukses menunjukkan bahwa kekuatan seorang wanita tidak hanya terletak pada status perkawinannya, tetapi pada ketahanan, kemandirian, dan kemampuan untuk menemukan kebahagiaan dalam setiap fase kehidupan. Ia telah membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat dan pandangan hidup yang positif, segala rintangan dapat diatasi dan impian dapat diwujudkan. Kiatnya untuk menjalani hidup "yang penting happy" adalah pelajaran berharga bagi banyak orang yang mungkin masih terjebak dalam ekspektasi sosial atau tekanan kehidupan. Ia adalah contoh nyata bahwa kebahagiaan adalah pilihan, dan Faby Marcelia telah memilih untuk terus berbahagia, dengan caranya sendiri, tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu dan sebagai individu yang mandiri.

