0

Film Hubae Boy: Saat Remaja Pemalas Berubah Jadi Atlet Taekwondo Demi Cinta dan Pertumbuhan Diri

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Cinta, sebuah kekuatan misterius yang mampu mendorong manusia melakukan hal-hal yang sebelumnya dianggap mustahil. Fenomena inilah yang menjadi inti cerita dalam film terbaru "Hubae Boy," sebuah produksi kolaborasi antara Bintang RR Pictures dan Citrus Sinema, yang menjanjikan kisah ringan namun sarat makna tentang transisi masa remaja. Film ini mengisahkan perjalanan Verril, seorang remaja yang terbiasa dengan gaya hidup santai, menghabiskan waktunya dengan bermain gim, dan jauh dari segala bentuk disiplin. Namun, sebuah motivasi kuat muncul dalam dirinya, mendorongnya untuk secara drastis mengubah rutinitasnya dan bergabung dengan klub taekwondo. Perubahan radikal ini bukan tanpa alasan; ia dilakukan demi memenangkan hati Qiara, seorang gadis pujaannya yang memiliki pesona luar biasa.

Disutradarai oleh Pritagita Arianegara, "Hubae Boy" tidak hanya sekadar menyajikan cerita cinta remaja biasa. Film ini membawa penonton menyelami atmosfer Bandung masa kini, menampilkan kehidupan sehari-hari yang relatable bagi generasi muda. Lebih dari sekadar olahraga bela diri, taekwondo dalam film ini menjadi katalisator perubahan bagi Verril. Dari seorang pemuda yang cenderung apatis dan malas, ia perlahan bertransformasi menjadi sosok yang aktif dan sporty. Perjuangan Verril untuk menguasai taekwondo dan menjadi pribadi yang lebih baik menjadi metafora tentang bagaimana sebuah tujuan, terutama yang didorong oleh perasaan tulus, dapat memicu potensi tersembunyi dalam diri seseorang.

Produser film, Risdi A. Sulaeman, menekankan bahwa "Hubae Boy" melampaui narasi cinta remaja semata. Film ini juga deeply mengupas tentang proses pentingnya saling memahami antara orang tua dan anak. "Film ini adalah cerita untuk anak dan orang tua," ujar Risdi dalam keterangan resminya, Jumat (2/1/2026). "Ini menunjukkan bagaimana cara berkomunikasi orang tua kepada anak yang mungkin berbeda, serta bagaimana anak perlu bersikap taat. Intinya adalah saling memahami dan menyayangi. Bahwa hidup ini adalah tentang membulatkan tekad untuk mencapai impian." Pernyataan ini menggarisbawahi ambisi film untuk menjadi jembatan komunikasi dan empati dalam keluarga, bukan hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran berharga.

Irma Risma, selaku executive producer, turut mengamini visi tersebut. Baginya, "Hubae Boy" ingin secara aktif mengangkat nilai-nilai kejujuran dan sportivitas di kalangan anak muda. "Hubae Boy ini dipersembahkan untuk anak-anak muda yang sudah berlaku jujur dan sportif untuk mencapai impiannya," tegas Irma. Pesan ini sangat relevan di era modern di mana tekanan untuk meraih kesuksesan seringkali datang dengan godaan untuk menempuh jalan pintas. Film ini secara implisit mendorong penonton muda untuk memegang teguh prinsip integritas dalam setiap langkah perjuangan mereka.

Pemeran muda berbakat menghiasi layar lebar "Hubae Boy", termasuk Emiliano Cortizo, Hasyakila, Rientammy Osava, Kaemitha, Billy Boedjanger, dan Verril Quinn. Kehadiran para aktor muda ini diharapkan dapat membawa energi segar dan koneksi yang kuat dengan audiens target. Tidak hanya terbatas pada penayangan di bioskop, "Hubae Boy" juga telah dipersiapkan untuk menjangkau khalayak yang lebih luas melalui platform Over-The-Top (OTT), sebuah strategi distribusi yang semakin umum untuk memperluas jangkauan film di era digital. Hal ini menunjukkan komitmen tim produksi untuk memastikan pesan film dapat tersampaikan kepada sebanyak mungkin penonton, tanpa terkendala geografis atau waktu.

Melalui "Hubae Boy," penonton diajak untuk tertawa melihat kelucuan khas masa remaja, namun juga ikut merasakan gemas dan terharu menyaksikan perjuangan Verril. Perubahan yang ia lakukan bukan hanya untuk memikat hati Qiara, tetapi juga untuk menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri. Film ini secara cerdas mengaitkan motif cinta dengan pertumbuhan pribadi, menunjukkan bahwa dorongan emosional yang kuat bisa menjadi pemicu transformatif yang positif. Penonton akan dibuat terenyuh melihat bagaimana seorang remaja yang dulunya enggan bergerak, kini bersemangat berlatih keras, menghadapi tantangan fisik dan mental, demi sebuah tujuan yang ia yakini.

Lebih jauh, film ini secara halus menyentuh isu-isu penting dalam dinamika hubungan keluarga, terutama pada masa transisi remaja. Adegan-adegan yang menampilkan interaksi Verril dengan orang tuanya kemungkinan besar akan menyoroti kesalahpahaman yang kerap terjadi, namun juga momen-momen kehangatan dan pengertian yang perlahan terjalin. Produser Risdi A. Sulaeman secara eksplisit menyebutkan bahwa film ini dirancang sebagai alat untuk memfasilitasi dialog antara generasi. Ini adalah pengingat bahwa di balik kenakalan atau kemalasan remaja, seringkali terdapat kebutuhan untuk didengarkan, dipahami, dan diberi ruang untuk bertumbuh.

Kisah Verril di Bandung juga bukan sekadar latar, melainkan elemen yang turut memperkaya nuansa film. Kehidupan kota Bandung yang dinamis, dengan segala pesona dan tantangannya, menjadi panggung bagi evolusi karakter. Pilihan setting ini mungkin juga merefleksikan semangat muda, keberanian, dan kreativitas yang identik dengan kota kembang. Penggunaan taekwondo sebagai simbol perubahan fisik dan mental juga sangat relevan. Taekwondo, yang mengajarkan disiplin, rasa hormat, dan ketekunan, menjadi wadah yang tepat bagi Verril untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan tangguh, siap menghadapi berbagai aspek kehidupan, bukan hanya dalam urusan asmara.

Perjuangan Verril untuk menjadi atlet taekwondo tidak hanya tentang menguasai teknik tendangan dan pukulan, tetapi juga tentang mengendalikan emosi, membangun kepercayaan diri, dan belajar dari setiap kegagalan. Setiap sesi latihan yang melelahkan, setiap memar yang didapat, dan setiap kekalahan yang dialami akan menjadi pelajaran berharga yang membentuk karakternya. Penonton akan menyaksikan bagaimana Verril secara bertahap mengatasi rasa malasnya, belajar untuk bangkit setelah jatuh, dan menemukan kekuatan dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada penampilannya yang menjadi lebih sporty, tetapi juga pada cara pandangnya terhadap kehidupan.

Film ini juga berpotensi untuk menginspirasi penonton muda yang mungkin sedang menghadapi kesulitan serupa dalam hidup mereka. Kisah Verril bisa menjadi pengingat bahwa perubahan itu mungkin, bahkan ketika tampaknya mustahil. Dengan tekad yang kuat, dukungan yang tepat, dan kemauan untuk berjuang, impian sekecil apa pun bisa diraih. "Hubae Boy" menawarkan sebuah narasi yang optimis dan memberdayakan, yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda saat ini. Film ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga sebuah cermin yang merefleksikan tantangan dan harapan masa remaja, dibalut dalam kisah cinta yang manis dan pertumbuhan karakter yang menyentuh hati.

Melalui visual yang menarik dan dialog yang renyah, "Hubae Boy" diprediksi akan menjadi tontonan yang menghibur dan berkesan bagi seluruh keluarga. Film ini berhasil menyajikan pesan moral yang kuat tanpa terkesan menggurui, menjadikannya tontonan yang ringan namun tetap sarat makna. Perjuangan Verril dalam menaklukkan lapangan taekwondo demi meraih cinta Qiara, sekaligus menaklukkan kelemahan dalam dirinya sendiri, adalah esensi dari sebuah perjalanan pertumbuhan yang akan membekas di hati para penonton. Film ini adalah perayaan atas kekuatan cinta, keberanian untuk berubah, dan pentingnya sportivitas dalam meraih impian.