0

Diding Boneng Berharap Bisa Tidur Nyenyak dan Punya Rumah Lagi Setelah Rumah Bersejarah Roboh

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Nasib nahas menimpa aktor senior kawakan, Diding Boneng, yang kini harus menelan pil pahit setelah rumah warisan keluarganya yang telah berdiri kokoh selama satu abad, roboh tak bersisa. Bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup beberapa generasi keluarganya itu, kini hanya menyisakan puing-puing, meninggalkan Diding Boneng dan keluarganya dalam ketidakpastian.

Rumah yang diwariskan turun-temurun dari kakek-nenek Diding Boneng hingga ke orang tuanya, dan kini ditempati bersama putranya, merupakan salah satu peninggalan berharga yang memiliki nilai sejarah tak ternilai. "Bicara berapa tahun nih rumah ini, saya kira lebih tua dari saya. Usia rumah ini, itu lebih tua dari saya. Saya sekarang 75 ya, kurang lebih rumah ini bisa 100 kali. Karena ayah saya mudanya di sini. Dan ini dari kakek saya, dari kakek, nenek, terus sampai ke ayah," ungkap Diding Boneng dengan nada pilu saat ditemui di lokasi rumahnya yang kini rata dengan tanah, Rabu (31/12/2025). Ia menambahkan bahwa rumah tersebut telah menjadi jantung dari berbagai kenangan dan cerita keluarga selama hampir satu abad.

Ironisnya, rumah berusia satu abad ini, menurut penuturan Diding Boneng, belum pernah mengalami renovasi besar sepanjang keberadaannya. Perawatan yang dilakukan hanya sebatas pengecatan sederhana menjelang momen-momen penting seperti Idul Fitri, tanpa ada perubahan struktural yang signifikan. "100 tahun bayangkan tuh rumah dan tidak pernah direnovasi selama 100 tahun, gak pernah. Paling cat, mau lebaran cat, gitu-gitu aja, gak ada lain," jelasnya, menggambarkan betapa autentiknya bangunan tersebut.

Sebelum peristiwa tragis ini terjadi, rumah tersebut menjadi tempat tinggal yang hangat bagi sembilan orang dewasa dari anggota keluarganya. Diding Boneng mengungkapkan kebahagiaannya dapat berkumpul dan berbagi kehidupan dengan kerabatnya di bawah atap yang sama. Namun, kini, kehangatan itu harus tergantikan oleh rasa prihatin dan kekhawatiran akan masa depan.

Pasca kejadian robohnya rumah, Diding Boneng dan keluarganya terpaksa mengungsi. Pengalaman tidur di kantor RW selama dua malam berturut-turut menjadi bukti nyata betapa daruratnya situasi yang mereka hadapi. Akhirnya, ia dan keluarganya menemukan tempat berlindung sementara di rumah seorang teman, sebuah solusi sementara yang tentu saja tidak dapat menggantikan kenyamanan dan rasa aman memiliki rumah sendiri.

Kini, satu-satunya harapan besar Diding Boneng adalah dapat kembali memiliki rumah, tempat ia dan keluarganya bisa kembali merasakan tidur nyenyak dan hidup layak. "Harapan saya, saya bisa punya rumah lagi. Saya tapi belum tahu dari mana, makanya teman-teman tolong, yang merasa apa ya…, sahabat atau simpati sama saya, ya bantuin saya. Karena harapan utama buat saya ya punya rumah lagi, bisa tidur lagi di rumah sendiri," ungkapnya dengan suara yang bergetar menahan haru, menyiratkan kerinduan mendalam akan sebuah tempat tinggal yang aman dan nyaman.

Lebih lanjut, Diding Boneng menambahkan bahwa rumah tersebut bukan sekadar bangunan fisik, melainkan juga sebuah kapsul waktu yang menyimpan banyak sekali memori berharga. Setiap sudut rumah memiliki ceritanya sendiri, mulai dari tawa anak-anak bermain, kebersamaan keluarga saat berkumpul, hingga momen-momen penting dalam perjalanan kariernya sebagai seorang aktor. Hilangnya rumah ini berarti hilangnya sebagian besar jejak fisik dari sejarah keluarganya, sebuah kehilangan yang tak tergantikan.

Ia menceritakan bagaimana rumah tersebut dibangun dengan jerih payah kakek dan neneknya, kemudian diteruskan oleh ayahnya, dan akhirnya menjadi tempat ia tumbuh dewasa. Proses pembangunan rumah pada masa itu tentu sangat berbeda dengan sekarang, membutuhkan tenaga, waktu, dan sumber daya yang mungkin lebih terbatas. Warisan ini bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang nilai-nilai perjuangan dan ketekunan yang ditanamkan oleh para pendahulu.

Kini, dengan usia yang sudah tidak muda lagi, Diding Boneng menghadapi tantangan berat untuk membangun kembali hidupnya dari nol. Ia mengakui bahwa mencari dana untuk membangun rumah baru adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah, apalagi tanpa sumber pendapatan yang stabil seperti dulu. Namun, semangatnya untuk memberikan tempat tinggal yang layak bagi keluarganya tetap membara.

Dukungan dari masyarakat dan para sahabat yang peduli sangat diharapkan oleh Diding Boneng. Ia membuka pintu hati dan tangannya bagi siapa saja yang ingin memberikan bantuan, sekecil apapun itu. Bantuan tersebut tidak hanya akan meringankan beban finansialnya, tetapi juga memberikan kekuatan moral dan semangat baru untuk bangkit dari keterpurukan.

Ia berharap agar kisah ini dapat menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya menjaga dan merawat bangunan bersejarah serta warisan keluarga. Bangunan-bangunan tua seringkali memiliki nilai lebih dari sekadar material, mereka adalah jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini, tempat kita dapat belajar tentang sejarah dan akar kita.

Meskipun dihadapkan pada kenyataan yang pahit, Diding Boneng tetap berusaha tegar. Ia percaya bahwa kebaikan akan selalu ada, dan dengan bantuan serta doa dari banyak pihak, impiannya untuk kembali memiliki rumah dan dapat tidur nyenyak di kediamannya sendiri akan segera terwujud. Doa dan harapan terbaik menyertai langkah aktor senior ini dalam perjuangannya membangun kembali hidupnya. (fbr/pus)