BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Memasuki lembaran baru tahun 2026, aktris dan aktivis Cinta Laura Kiehl membagikan refleksi mendalam mengenai 7 hari terakhir di tahun 2025 yang ia habiskan dalam keheningan dan ketenangan di Thailand Utara. Pengalaman ini menjadi momen penting bagi Cinta untuk melakukan introspeksi diri, melatih pikirannya, dan menemukan kedamaian dari dalam. Keputusan ini diambilnya sebagai respons terhadap kondisi mental yang ia rasakan tidak sehat setelah lima tahun terakhir yang dihabiskannya dengan terus mendorong diri sendiri secara berlebihan. Melalui perjalanan spiritual ini, Cinta berusaha untuk "pulang ke dalam dirinya sendiri", sebuah konsep yang ia anggap sebagai kebutuhan dasar manusia.

Pilihan destinasi Cinta Laura jatuh pada sebuah pusat meditasi di Thailand Utara, sebuah tempat yang menawarkan suasana asri dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, yang juga turut dihadiri oleh kekasihnya, Arya Vasco, Cinta menegaskan bahwa pengalaman ini tidak berkaitan dengan keyakinan agama tertentu. Baginya, ini adalah tentang "kebutuhan dasar kita sebagai manusia: yaitu belajar gimana caranya melatih pikiran supaya bisa ngerasain damai dan bahagia dari dalam diri sendiri." Ia menekankan pentingnya mengendalikan pikiran yang seringkali dipenuhi oleh "suara berisik" yang menimbulkan stres. Dengan pikiran yang tenang, seseorang dapat membersihkan diri dari beban pikiran negatif, membuka ruang untuk fokus, kekuatan, dan ketangguhan dalam menghadapi segala bentuk kesulitan dan ketidakpastian hidup.

Pengalaman di pusat meditasi ini menjadi kali pertama bagi Cinta Laura dalam lima tahun terakhir untuk benar-benar mementingkan dirinya sendiri. Ia mengakui bahwa selama periode tersebut, ia terus-menerus memacu diri tanpa henti, yang akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya. Kesadaran akan hal ini mendorongnya untuk mencari ketenangan batin dan kembali terhubung dengan esensi dirinya. Salah satu momen yang paling membekas bagi Cinta adalah sebuah percakapan dengan seorang biksu. Sang biksu mengajukan pertanyaan retoris yang menggugah: "Apa sih bedanya perang dunia dan perdamaian dunia?" Jawaban sederhana sang biksu, "Semuanya dimulai dari pikiran manusia," memberikan pencerahan mendalam bagi Cinta. Ia menyadari bahwa selama ini ia mungkin sibuk ingin memperbaiki dunia luar, namun lupa merawat "tempat di mana semua itu berasal," yaitu pikiran dan hati manusia itu sendiri.

Cinta Laura menjelaskan lebih lanjut bahwa amarah, ketakutan, nafsu, dan kegelisahan manusia dapat menimbulkan kekacauan jika tidak dilatih dan dikendalikan. Namun, jika pikiran dirawat dengan baik, ia akan melahirkan kasih sayang, kebijaksanaan, dan kedamaian. Pengalamannya selama satu minggu di Thailand Utara membuatnya bertemu dengan berbagai individu dari seluruh penjuru dunia, masing-masing membawa cerita dan luka tersendiri. Melalui meditasi dan refleksi, mereka semua belajar untuk menemukan ketenangan bersama. Suasana tempat meditasi tersebut digambarkan sangat menenangkan, memberikan ruang bagi setiap individu untuk merenung dan menemukan kedamaian internal.

Dalam momen penutup tahun 2025, Cinta Laura menyampaikan harapannya untuk tahun baru yang akan datang. Ia berharap agar tahun baru ini tidak hanya diisi dengan ambisi untuk mencapai "lebih banyak," tetapi juga untuk menjadi "lebih jernih." Ia mendorong setiap orang untuk memiliki keberanian mengambil jeda, mendengarkan suara hati, dan merawat pikiran mereka. Puncak dari perjalanan reflektif ini ditutup dengan pelepasan lampion bersama tamu-tamu lain pada malam pergantian tahun, sebuah simbol harapan dan pelepasan segala hal negatif, serta menyambut masa depan dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang lebih damai.

Perjalanan Cinta Laura ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dan tuntutan kehidupan modern, penting bagi setiap individu untuk meluangkan waktu untuk merawat diri sendiri, terutama kesehatan mental. Menemukan ketenangan batin dan melatih pikiran adalah kunci untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih bijaksana dan penuh kedamaian. Pengalaman ini tidak hanya membentuk kembali pandangan Cinta Laura terhadap dirinya sendiri, tetapi juga memberikan pelajaran berharga yang ingin ia bagikan kepada khalayak luas. Melalui berbagi pengalamannya, Cinta Laura berharap dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan perjalanan serupa menuju kedamaian dan kejelasan diri.
