Jakarta – Dunia teknologi kembali digegerkan oleh laporan terbaru dari Counterpoint Research yang merilis daftar 10 smartphone terlaris di dunia untuk tahun 2025. Data ini sekali lagi mengukuhkan dominasi dua raksasa teknologi, Apple dan Samsung, yang secara konsisten menduduki peringkat teratas selama empat tahun berturut-turut. Konsolidasi pasar ini menunjukkan betapa sulitnya bagi merek lain untuk menembus benteng pertahanan yang dibangun oleh kedua perusahaan tersebut, yang secara kolektif menyumbang 19% dari total penjualan ponsel global sepanjang tahun 2025. Namun, sorotan utama tertuju pada Apple, yang berhasil menguasai tujuh dari sepuluh posisi teratas, sementara Samsung mengisi tiga posisi lainnya.
Kemenangan Apple pada tahun 2025 benar-benar spektakuler. Predikat ponsel terlaris di dunia dipegang oleh iPhone 16, sebuah pencapaian yang menandai puncak dari strategi produk dan pemasaran Apple yang cermat. Tidak berhenti di situ, dominasi iPhone berlanjut dengan iPhone 16 Pro yang menempati posisi kedua dan iPhone 16 Pro Max yang berada di posisi ketiga. Ketiga model ini, yang mewakili lini flagship terbaru Apple pada tahun tersebut, menunjukkan daya tarik yang tak tertandingi di kalangan konsumen global, dari pasar maju hingga pasar berkembang yang memiliki daya beli tinggi.
Harshit Rastogi, seorang Research Analyst dari Counterpoint Research, dalam keterangan persnya yang dikutip detikINET pada Jumat (30/1/2026), menegaskan bahwa "Apple mempertahankan posisi yang sangat kuat di peringkat 10 besar, dengan iPhone 16 memimpin dan memperlebar jarak dengan model berikutnya." Pernyataan ini bukan sekadar pengamatan, melainkan sebuah validasi terhadap strategi Apple yang mampu terus berinovasi sambil mempertahankan basis pengguna yang loyal. Keberhasilan iPhone 16 series secara keseluruhan mencerminkan perpaduan sempurna antara fitur-fitur canggih, desain premium, dan ekosistem yang terintegrasi, yang menjadi daya tarik utama bagi jutaan pengguna di seluruh dunia.
Tidak hanya model premium, varian yang lebih terjangkau pun turut menyumbang pada dominasi Apple. iPhone 16e, yang diposisikan sebagai ponsel termurah yang ditawarkan Apple pada tahun 2025, memainkan peran krusial dalam mendorong penjualan, khususnya di pasar-pasar penting seperti Amerika Serikat dan Jepang. Kehadiran iPhone 16e dengan harga yang lebih terjangkau membuka pintu bagi segmen konsumen yang lebih luas untuk masuk ke dalam ekosistem Apple. Meskipun dengan fitur yang mungkin lebih terbatas dibandingkan saudara-saudara Pro-nya, model ‘e’ ini menawarkan pengalaman inti Apple yang tetap premium, dari sistem operasi iOS yang intuitif hingga akses ke App Store yang kaya aplikasi. Strategi ini memungkinkan Apple untuk menarik pengguna baru dan mempertahankan loyalitas pengguna lama yang mungkin mencari opsi yang lebih ekonomis untuk tetap berada dalam lingkaran Apple.
Salah satu kejutan terbesar dalam daftar ini adalah performa iPhone 17. Meskipun baru diluncurkan pada bulan September 2025, model ini langsung merangsek ke posisi tujuh dalam daftar 10 ponsel terlaris di dunia untuk tahun tersebut. Pencapaian ini sangat mengesankan, terutama jika dibandingkan dengan performa iPhone 16 pada tahun sebelumnya (2024, asumsi iPhone 16 diluncurkan September 2024 dan iPhone 17 September 2025) yang hanya berhasil menyusup ke posisi 10. Lonjakan drastis ini menunjukkan respons pasar yang luar biasa positif terhadap seri terbaru Apple. Rastogi menjelaskan, "iPhone 17 series mencapai penjualan 16% lebih tinggi dibandingkan seri sebelumnya selama kuartal penuh pertamanya di pasaran, didorong oleh permintaan yang kuat di pasar penting seperti AS, China, dan Eropa Barat."
Lebih lanjut, Rastogi merinci faktor-faktor yang mendorong kesuksesan iPhone 17. "iPhone 17 reguler menjadi model yang paling menonjol tahun ini, menawarkan upgrade signifikan seperti refresh rate lebih tinggi, RAM dan storage lebih besar, membuatnya lebih dekat dengan model Pro," sambungnya. Peningkatan spesifikasi ini tampaknya berhasil menjembatani kesenjangan antara model reguler dan Pro, memberikan nilai lebih bagi konsumen yang mencari performa tinggi tanpa harus berinvestasi pada varian Pro yang paling mahal. Fitur-fitur seperti refresh rate yang lebih tinggi meningkatkan pengalaman visual, sementara RAM dan penyimpanan yang lebih besar memastikan kinerja multitasking yang lebih mulus dan kapasitas untuk menyimpan lebih banyak data, aplikasi, dan media. Kombinasi peningkatan ini, ditambah dengan reputasi Apple dalam hal kualitas dan dukungan perangkat lunak, menjadikan iPhone 17 pilihan yang sangat menarik.
Di sisi lain, Samsung menunjukkan ketangguhannya sebagai pemimpin pasar Android. Meskipun tidak dapat menandingi jumlah posisi Apple di 10 besar, Samsung berhasil mengamankan tiga slot penting, menunjukkan strategi produknya yang beragam dan jangkauan pasar yang luas. Samsung Galaxy A16 5G menduduki posisi kelima dan dinobatkan sebagai ponsel Android terlaris di dunia. Keberhasilan model ini menggarisbawahi pentingnya segmen menengah ke bawah yang didukung oleh konektivitas 5G yang semakin merata. Galaxy A16 5G menawarkan kombinasi harga terjangkau, fitur-fitur modern, dan kemampuan 5G, menjadikannya pilihan ideal bagi konsumen yang mencari nilai optimal tanpa mengorbankan teknologi terbaru.

Delegasi Samsung lainnya yang berhasil masuk 10 besar adalah Galaxy A06 4G di posisi enam dan Galaxy S25 Ultra di posisi sembilan. Kehadiran Galaxy A06 4G menunjukkan bahwa pasar untuk ponsel 4G yang sangat terjangkau masih sangat besar, terutama di pasar-pasar berkembang yang infrastruktur 5G-nya belum sepenuhnya matang. Model ini menyasar konsumen yang memprioritaskan harga dan fungsi dasar yang andal. Sementara itu, Galaxy S25 Ultra mewakili segmen premium Samsung, menunjukkan bahwa meskipun bersaing ketat dengan iPhone Pro Max, Samsung masih memiliki daya tarik kuat di segmen flagship Android. Galaxy S25 Ultra dikenal dengan inovasi kameranya yang canggih, performa yang bertenaga, dan fitur-fitur eksklusif seperti S Pen, yang menarik pengguna yang mencari pengalaman Android paling mutakhir dan serbaguna.
Dominasi Apple dan Samsung dalam daftar ini tidak terjadi secara kebetulan. Ini adalah hasil dari strategi bisnis yang matang, investasi besar dalam penelitian dan pengembangan, serta kemampuan untuk memahami dan merespons kebutuhan pasar global. Apple, dengan pendekatannya yang fokus pada ekosistem tertutup, mampu menciptakan loyalitas merek yang hampir tak tertandingi. Begitu seorang pengguna masuk ke ekosistem Apple, perpindahan ke merek lain menjadi lebih sulit karena ketergantungan pada layanan, aplikasi, dan perangkat keras yang saling terhubung. Kontrol ketat Apple terhadap hardware dan software juga memungkinkan mereka untuk mengoptimalkan kinerja dan pengalaman pengguna secara maksimal.
Di sisi lain, Samsung mengadopsi strategi yang lebih luas, menawarkan portofolio produk yang sangat beragam dari entry-level hingga ultra-premium. Pendekatan ini memungkinkan Samsung untuk menjangkau hampir setiap segmen pasar dan bersaing di berbagai titik harga. Keberhasilan seri Galaxy A, seperti A16 5G dan A06 4G, menunjukkan kemampuan Samsung dalam menawarkan teknologi yang relevan dengan harga yang kompetitif, terutama di pasar negara berkembang yang sensitif harga. Sementara itu, seri Galaxy S Ultra terus menjadi ujung tombak inovasi Android, menarik konsumen yang menginginkan teknologi tercanggih dan fitur-fitur premium.
Pertarungan sengit antara Apple dan Samsung juga mendorong inovasi di seluruh industri smartphone. Meskipun mereka mendominasi penjualan, kehadiran mereka memaksa produsen lain seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Huawei untuk terus berinovasi dan mencari celah pasar. Namun, untuk menembus dominasi ini, diperlukan investasi besar dalam branding, pemasaran, dan pengembangan teknologi yang benar-benar disruptif. Faktor-faktor seperti ketersediaan rantai pasokan yang efisien, jaringan distribusi yang luas, dan layanan purna jual yang andal juga menjadi kunci, di mana Apple dan Samsung telah unggul selama bertahun-tahun.
Melihat ke depan, Counterpoint Research juga merilis ramalan untuk tahun 2026. Analis memprediksi bahwa dampak krisis memori akan paling dirasakan oleh ponsel di segmen entry-level sampai menengah. Krisis ini, yang kemungkinan besar akan menyebabkan kenaikan harga komponen memori, akan menekan margin keuntungan dan membuat produsen di segmen tersebut kesulitan. Akibatnya, ponsel flagship diperkirakan akan meningkatkan kehadirannya di pasar dan kontribusinya terhadap total penjualan. Hal ini bisa berarti bahwa konsumen akan cenderung beralih ke ponsel dengan spesifikasi lebih tinggi yang dianggap lebih "tahan masa depan" atau produsen akan lebih fokus pada segmen premium yang memiliki margin keuntungan lebih besar untuk menutupi biaya komponen yang meningkat.
Implikasi dari ramalan ini adalah potensi pergeseran lebih lanjut dalam lanskap pasar. Jika ponsel entry-level dan menengah menjadi lebih mahal atau fitur-fiturnya terkompromi karena krisis memori, konsumen mungkin akan melihat nilai yang lebih baik pada perangkat flagship yang menawarkan performa dan fitur superior, meskipun dengan harga lebih tinggi. Ini bisa menjadi kabar baik bagi Apple dan Samsung di segmen premium mereka, seperti seri iPhone Pro dan Galaxy S Ultra, yang mungkin akan semakin mengukuhkan posisi mereka di puncak pasar. Namun, ini juga bisa menjadi tantangan bagi merek-merek yang sangat bergantung pada volume penjualan di segmen menengah, memaksa mereka untuk menemukan strategi baru untuk tetap relevan dan kompetitif.
Secara keseluruhan, tahun 2025 sekali lagi menjadi saksi bisu dominasi tak terbantahkan Apple dan Samsung di pasar smartphone global. Dengan iPhone menguasai tujuh dari sepuluh posisi terlaris dan Samsung mengamankan tiga lainnya, benteng yang mereka bangun terlihat semakin kokoh. Strategi yang berbeda namun sama-sama efektif, mulai dari ekosistem yang kuat hingga portofolio produk yang beragam, telah memungkinkan kedua raksasa ini untuk terus memimpin inovasi dan menarik perhatian miliaran konsumen di seluruh dunia. Dengan prediksi pasar yang mengarah pada penguatan segmen flagship di tahun 2026, tampaknya dominasi Apple dan Samsung masih akan berlanjut, dengan Apple yang memegang kendali paling signifikan.

