Lanskap eCommerce Indonesia tengah mengalami transformasi fundamental, beranjak dari sekadar arena diskon dan promosi sesaat menuju ekosistem yang mengedepankan kualitas, kepercayaan, dan nilai jangka panjang. Pada tahun 2026, lima tren utama diproyeksikan akan membentuk arah industri ini, menandai era baru belanja online yang lebih cerdas dan bermakna bagi konsumen. Pergeseran paradigma ini bukan hanya respons terhadap dinamika pasar, melainkan cerminan dari kematangan perilaku belanja masyarakat Indonesia yang semakin selektif dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup.
Carlos Barrera, CEO Lazada Indonesia, menegaskan bahwa industri eCommerce kini telah melampaui perannya sebagai penyedia akses pasar semata. "Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus eCommerce kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan. Ketika rasa percaya terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen secara alami akan berbelanja dalam jumlah lebih besar, bahkan membeli produk yang lebih bernilai," ujar Carlos dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026). Ia menambahkan bahwa eCommerce kini bertransformasi menjadi infrastruktur pertumbuhan yang esensial, baik bagi konsumen maupun merek.
Transformasi signifikan ini diperkuat oleh data dari laporan e-Conomy SEA yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company. Laporan tersebut memproyeksikan Gross Merchandise Value (GMV) eCommerce Indonesia akan mencapai angka fantastis sekitar USD 140 miliar pada tahun 2030, menempatkannya di posisi teratas di Asia Tenggara. Angka ini bukan hanya menunjukkan potensi pasar yang masif, tetapi juga mengindikasikan kedalaman dan kompleksitas pasar yang menuntut pendekatan yang lebih strategis dari para pelaku industri. Berangkat dari kondisi dan proyeksi tersebut, Carlos Barrera merinci lima tren utama yang akan menjadi motor penggerak lanskap eCommerce Indonesia sepanjang tahun 2026, jauh melampaui daya tarik diskon semata.
1. ‘Trust’ sebagai Pendorong Utama Belanja
Di tengah lautan pilihan produk dan platform, faktor kepercayaan (trust) telah berevolusi dari sekadar pelengkap menjadi elemen krusial yang menggerakkan keputusan belanja konsumen. Masyarakat Indonesia kini berbelanja dengan tujuan yang lebih jelas dan terencana, berorientasi pada peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan. Bagi mereka, nilai sebuah produk tidak lagi semata-mata diukur dari harga yang murah, melainkan dari perpaduan harmonis antara kualitas produk, keaslian, dan pengalaman berbelanja yang memuaskan.
Pergeseran ini sangat kentara, bahkan di kalangan konsumen yang secara tradisional dikenal sensitif terhadap harga. Mereka kini menunjukkan preferensi yang lebih selektif, memilih produk yang lebih tahan lama dan berkualitas tinggi demi menghindari biaya tambahan yang mungkin timbul di masa depan, seperti biaya perbaikan atau penggantian. Mindset "investasi" ini sangat menonjol di segmen keluarga muda dan konsumen aspirasional yang tengah membangun atau meningkatkan gaya hidup mereka. eCommerce menjadi kanal utama bagi mereka untuk memperoleh barang-barang bernilai tinggi yang menunjang kebutuhan sehari-hari dan aspirasi hidup, seperti peralatan rumah tangga, perangkat elektronik terbaru, furnitur berkualitas, hingga produk kesehatan dan kebugaran yang menunjang wellbeing.
Laporan Cube Asia 2025 lebih lanjut menggarisbawahi urgensi kepercayaan ini, mencatat bahwa kelas menengah dan konsumen muda sangat memprioritaskan aspek keamanan dan jaminan kualitas saat berbelanja online. Fakta bahwa 80% konsumen Indonesia lebih memilih berbelanja di "online mall" atau platform besar yang menawarkan jaminan kualitas produk adalah bukti nyata betapa krusialnya trust dalam membentuk loyalitas dan volume transaksi. Platform yang mampu membangun ekosistem yang transparan, dengan ulasan produk yang jujur, kebijakan pengembalian yang jelas, dan jaminan keaslian produk, akan menjadi pemenang di pasar yang semakin matang ini.
2. Belanja untuk Melengkapi Fase Kehidupan
Tren belanja di eCommerce Indonesia pada 2026 juga akan sangat dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen untuk mendukung berbagai transisi penting dalam hidup mereka. eCommerce bukan lagi sekadar tempat untuk membeli barang konsumsi sehari-hari, melainkan mitra strategis yang membantu konsumen menavigasi dan memperkaya setiap fase kehidupan. Mulai dari membangun keluarga baru dan melengkapi kebutuhan bayi, merenovasi atau mendekorasi hunian impian, hingga memulai gaya hidup yang lebih sehat dan aktif, platform belanja online menjadi solusi komprehensif.
Fenomena ini memicu lonjakan permintaan yang signifikan pada kategori produk yang dapat dikelompokkan sebagai "life-upgrade." Kategori ini mencakup beragam produk mulai dari elektronik canggih untuk rumah pintar, peralatan rumah tangga yang efisien dan stylish, furnitur yang ergonomis dan estetis, suku cadang atau aksesori otomotif, hingga produk kesehatan, suplemen, dan peralatan olahraga. Konsumen secara aktif mencari produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga meningkatkan kenyamanan, efisiensi, dan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Dalam tren ini, peran merek, baik lokal maupun global, menjadi sangat krusial. Merek-merek ini berlomba-lomba menyediakan pilihan produk yang beragam dengan rentang harga yang bervariasi, memungkinkan konsumen untuk "naik kelas" secara bertahap dan terencana. Fleksibilitas ini sangat penting, karena memungkinkan konsumen untuk mendapatkan produk berkualitas tinggi yang sesuai dengan aspirasi mereka, tanpa harus melampaui anggaran yang telah ditetapkan. Platform eCommerce yang mampu mengkurasi dan menyajikan pilihan produk yang relevan untuk setiap fase kehidupan, lengkap dengan informasi detail dan opsi pembayaran yang fleksibel, akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi belanja utama.
3. Premiumisasi Berbasis Nilai Produk
Salah satu tren paling menonjol yang akan mewarnai lanskap eCommerce Indonesia di tahun 2026 adalah meningkatnya minat konsumen terhadap produk yang lebih premium, namun tetap dengan pertimbangan kuat akan aspek value-for-money. Ini bukan sekadar tentang membeli barang mahal, melainkan tentang melakukan "investasi" cerdas pada produk yang kualitasnya secara langsung berdampak pada pengalaman pengguna dan memberikan nilai jangka panjang. Konsumen kini jauh lebih selektif dan kritis dalam membelanjakan uang mereka, bergeser dari mentalitas "murah itu bagus" ke "nilai terbaik itu bagus."
Pergeseran ini mendorong permintaan yang signifikan untuk merek dan produk yang menonjolkan kualitas unggul, inovasi, dan daya tahan. Kategori-kategori seperti kecantikan (dengan formulasi premium dan bahan-bahan berkualitas tinggi), elektronik (dengan fitur-fitur canggih dan performa superior), serta kebutuhan rumah tangga (dengan desain yang ergonomis, material yang tahan lama, dan efisiensi energi) menjadi lahan subur bagi tren premiumisasi ini. Konsumen rela membayar lebih untuk produk yang menjanjikan kinerja lebih baik, umur pakai lebih panjang, atau pengalaman yang lebih memuaskan.
Fenomena premiumisasi berbasis nilai ini juga mencerminkan peningkatan kesadaran konsumen terhadap keberlanjutan dan etika produksi. Mereka cenderung memilih merek yang transparan mengenai sumber bahan baku, proses produksi, dan dampak lingkungan. Bagi platform eCommerce, ini berarti perlunya menampilkan produk premium dengan narasi yang kuat mengenai nilai, kualitas, dan keunikan. Deskripsi produk yang detail, ulasan yang komprehensif dari pengguna lain, serta jaminan keaslian menjadi kunci untuk menarik segmen konsumen yang mencari nilai premium ini.
4. Membership sebagai Evolusi Diskon
Konsep diskon, yang selama ini menjadi daya tarik utama eCommerce, kini telah berevolusi menjadi pendekatan yang lebih strategis dan berorientasi pada loyalitas jangka panjang. Alih-alih hanya mengandalkan promosi sesaat yang seringkali bersifat transaksional, platform eCommerce beralih ke program keanggotaan atau membership yang menawarkan manfaat berjenjang berdasarkan besaran dan frekuensi belanja konsumen. Model ini menciptakan ekosistem yang lebih terstruktur dan saling menguntungkan.
Dalam sistem keanggotaan ini, konsumen premium yang memiliki volume belanja tinggi atau frekuensi transaksi yang sering akan secara alami naik ke level keanggotaan yang lebih tinggi. Dengan status ini, mereka berhak menikmati keuntungan eksklusif seperti potongan harga yang lebih besar, gratis ongkos kirim tanpa batas, akses awal ke promosi atau produk baru, layanan pelanggan prioritas, atau bahkan hadiah ulang tahun dan event khusus. Ini memberikan insentif kuat bagi konsumen untuk tetap setia pada satu platform.
Di sisi lain, konsumen yang sensitif terhadap harga juga terdorong untuk memusatkan keranjang belanja mereka di satu platform demi mendapatkan keuntungan maksimal dari program keanggotaan. Meskipun mungkin tidak langsung mencapai level premium, mereka tetap bisa menikmati manfaat dasar seperti diskon keanggotaan atau poin reward yang bisa ditukar. Model ini tidak hanya meningkatkan customer lifetime value (CLV) bagi platform, tetapi juga membangun loyalitas yang lebih dalam, mengubah konsumen dari sekadar pembeli menjadi anggota komunitas yang dihargai. Ini adalah pergeseran dari diskon yang bersifat push (mendorong pembelian) menjadi pull (menarik loyalitas).
5. Content Creator sebagai Jembatan Brand dan Konsumen
Di tengah derasnya informasi dan pilihan produk, peran kreator konten, terutama afiliator, menjadi semakin vital dalam menjembatani merek dengan konsumen. Konsumen modern sangat mengandalkan ulasan autentik dan rekomendasi dari individu yang mereka percaya sebelum membuat keputusan pembelian. Dalam konteks ini, kreator konten berfungsi sebagai jaringan edukasi dan penjualan yang luas, menawarkan sentuhan personal yang sulit ditiru oleh iklan tradisional.
Para kreator konten memiliki kemampuan unik untuk menerjemahkan fitur-fitur teknis produk yang kompleks menjadi konten yang relevan, menarik, dan mudah dipahami oleh audiens mereka. Mereka tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga mengilustrasikan bagaimana produk tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, memecahkan masalah, atau meningkatkan kualitas hidup. Berbagai tipe afiliator kini hadir untuk membangun kedekatan dengan beragam segmen pasar, mulai dari micro-influencer yang membangun komunitas niche yang kuat, makro-influencer yang menjangkau audiens lebih luas, hingga para ahli di bidang tertentu yang memberikan ulasan mendalam.
Dari pembeli aspirasional yang mencari inspirasi gaya hidup hingga konsumen yang mengutamakan nilai produk dan fungsi, setiap segmen dapat menemukan kreator konten yang relevan dengan preferensi mereka. Kepercayaan yang dibangun antara kreator dan audiens mereka menjadi aset tak ternilai bagi merek, memungkinkan pesan produk disampaikan secara lebih personal dan meyakinkan. Platform eCommerce semakin mengintegrasikan model afiliasi dan live commerce, mengakui bahwa humanisasi pengalaman belanja melalui kreator konten adalah kunci untuk membangun interaksi yang lebih dalam dan mendorong konversi.
Menyongsong babak baru eCommerce 2026, Lazada memandang tahun ini berakar pada satu keyakinan mendalam: bahwa peran eCommerce adalah membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih cerdas agar belanja mereka menjadi lebih bermakna. Dengan terus memperluas dan menumbuhkan kepercayaan, mendukung peningkatan kualitas hidup melalui pilihan produk yang relevan, menghargai loyalitas konsumen melalui program keanggotaan yang inovatif, serta memberdayakan kreator konten sebagai mitra strategis, industri ini siap memasuki fase pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Lazada optimis bahwa Indonesia siap memasuki babak baru eCommerce. Pada tingkatan baru ini, fokus industri tidak lagi hanya pada volume transaksi semata, melainkan pada dampak nyata yang diberikan bagi kehidupan masyarakat. "Pada akhirnya, kepercayaan dan kualitas adalah kunci masa depan. Di pasar dengan pilihan yang nyaris tanpa batas, platform yang akan terus tumbuh adalah yang mampu membantu konsumen menjalani hidup dengan lebih baik. Itulah yang menjadi komitmen utama Lazada," tutup Carlos Barrera, menegaskan visi jangka panjang industri eCommerce Indonesia yang kini jauh melampaui sekadar diskon.

