0

5 Klaim Lokasi Tembok Yajuj Majuj, Ada di Indonesia?

Share

Jakarta – Pembahasan soal lokasi Yajuj Majuj atau Gog Magog selalu ramai diperbincangkan, memicu rasa ingin tahu yang mendalam di kalangan masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan. Kisah tentang kaum perusak yang terkurung di balik sebuah tembok raksasa ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi keagamaan dan mitologi di seluruh dunia. Dalam tradisi Islam, entitas ini dikenal sebagai Yajuj Majuj, sementara dalam ajaran agama lain seperti Kristen dan Yahudi, mereka sering disebut sebagai Gog Magog. Meskipun namanya berbeda, esensi cerita tentang makhluk-makhluk yang akan dilepaskan sebagai salah satu tanda akhir zaman tetaplah sama: kekuatan yang tak terhentikan dan membawa kehancuran.

Misteri seputar keberadaan dan lokasi tembok yang mengurung Yajuj Majuj telah memicu spekulasi selama berabad-abad. Dari teks-teks kuno hingga teori konspirasi modern, manusia terus mencoba mencari tahu di mana persisnya "tembok besi" atau "gerbang" legendaris ini berada. Keingintahuan ini bukan tanpa alasan; dalam narasi keagamaan, kemunculan Yajuj Majuj adalah peristiwa eskatologis yang sangat penting, menandai fase akhir dari sejarah manusia di Bumi. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah lima lokasi yang disinyalir menjadi tempat dikurungnya Yajuj Majuj. Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada satu pun dari klaim ini yang betul-betul memiliki bukti kuat yang bisa diterima secara ilmiah atau arkeologis. Kebanyakan adalah hasil interpretasi, spekulasi, atau bahkan mitos yang berkembang di masyarakat.

Yajuj Majuj/Gog Magog: Sebuah Misteri Abadi

Sebelum menyelami lokasi-lokasi spekulatif, penting untuk memahami latar belakang kisah Yajuj Majuj. Dalam Islam, cerita ini disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Kahf ayat 93-99, yang mengisahkan perjalanan Dzulqarnain (sering diidentifikasi sebagai Alexander Agung). Ia bertemu dengan kaum yang mengeluhkan gangguan dari Yajuj Majuj dan meminta bantuannya untuk membangun tembok penghalang. Dzulqarnain kemudian membangun tembok dari besi dan tembaga, menutup celah yang digunakan Yajuj Majuj untuk menyerang. Dinding ini dipercaya akan tetap kokoh hingga hari kiamat, ketika Yajuj Majuj akan dilepaskan dan menyebar di muka bumi, membawa kerusakan besar sebagai salah satu tanda besar kiamat.

Dalam tradisi Kristen dan Yahudi, Gog dan Magog disebutkan dalam Kitab Yehezkiel (pasal 38 dan 39) serta Kitab Wahyu (pasal 20). Mereka digambarkan sebagai bangsa-bangsa atau pemimpin yang akan bangkit pada akhir zaman untuk menyerang umat Tuhan. Meskipun detailnya berbeda, konsep tentang kekuatan destruktif yang muncul di akhir zaman memiliki benang merah yang kuat. Ketertarikan global terhadap kisah ini menunjukkan universalitas ketakutan manusia akan kehancuran dan harapan akan penyelamatan.

Menelusuri Jejak di Tengah Spekulasi

Berikut adalah lima lokasi yang kerap dikaitkan dengan tembok pengurung Yajuj Majuj:

1. Tembok Bawah Laut Papua: Jejak Misterius di Nusantara

Pada tahun 2023 silam, jagat maya dihebohkan oleh narasi yang menyebut adanya tembok raksasa di bawah laut Papua. Tembok ini dijuluki ‘Jayapura Wall’ atau ‘Tembok Jayapura’, setelah video-video di platform YouTube mengklaim formasi geologi bawah laut tersebut sebagai tempat Yajuj Majuj berada. Klaim ini sontak menjadi perbincangan hangat, terutama di Indonesia, karena menunjuk langsung ke wilayah Papua yang kaya akan misteri alamnya.

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh para ahli. Dr. Ali Akbar, SS, MHum, seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI), pernah menegaskan bahwa belum ada bukti arkeologi yang mendukung adanya tembok buatan manusia di bawah laut Papua, apalagi keberadaan makhluk misterius di dalamnya. "Sepertinya belum pernah ada penelitian arkeologi mengenai hal itu. Tahun lalu dan awal tahun ini saya ke Papua untuk penelitian arkeologi di situs-situs di Jayapura. Belum ada informasi atau data awal yang cukup untuk menjadi dasar dilakukannya penelitian terhadap fenomena tersebut," jelasnya melalui pesan singkat.

Formasi yang disebut ‘Jayapura Wall’ kemungkinan besar adalah fenomena geologi alami, seperti punggungan laut, patahan batuan, atau bahkan sisa-sisa garis pantai purba yang tenggelam akibat perubahan muka air laut ribuan tahun lalu. Wilayah Papua memang dikenal memiliki geologi yang sangat aktif dan kompleks, sehingga wajar jika ditemukan struktur bawah laut yang tidak biasa. Tanpa penelitian arkeologi yang mendalam dan bukti konkret berupa artefak atau tanda-tanda konstruksi buatan manusia, klaim ini tetap berada di ranah spekulasi dan imajinasi belaka. Ini menegaskan bahwa meski ada di Indonesia, klaim ini belum memiliki pijakan ilmiah.

2. Agartha: Kerajaan Tersembunyi di Jantung Bumi

Agartha adalah nama yang sering muncul dalam teori konspirasi dan mitologi terkait dengan "Bumi Kopong" atau Hollow Earth Theory. Teori ini menyatakan bahwa Bumi sebenarnya berongga di bagian dalamnya, bukan padat seperti yang diyakini sains modern. Konon, di dalam rongga Bumi tersebut terdapat sebuah kota atau kerajaan bernama Agartha yang dihuni oleh makhluk-makhluk berperadaban maju, dengan kapasitas otak dan teknologi yang jauh melampaui manusia permukaan.

Agartha sering dikaitkan dengan berbagai mitos tentang peradaban yang hilang, seperti Atlantis atau Lemuria, yang kemudian bersembunyi di dalam Bumi. Para penganut teori ini percaya bahwa ada pintu masuk ke Agartha di berbagai belahan dunia, seperti di kutub utara atau selatan, atau di gua-gua raksasa. Namun, sama seperti teori Bumi Kopong itu sendiri, tidak pernah ada bukti valid yang membenarkan keberadaan Agartha atau peradaban di dalamnya. Ilmu geologi modern dengan jelas menunjukkan bahwa Bumi memiliki struktur berlapis yang padat, terdiri dari kerak, mantel, dan inti yang sangat padat. Adanya rongga sebesar itu yang bisa dihuni adalah hal yang mustahil secara ilmiah. Kendati demikian, ide tentang Agartha tetap memikat dan bahkan diangkat ke dalam film oleh sutradara Joko Anwar dalam serial Nightmares and Daydreams, menunjukkan daya tarik abadi mitos ini dalam budaya populer.

3. Tembok Besar China: Benteng Raksasa dari Masa Lalu

Ada pula yang mempercayai bahwa Yajuj Majuj ada di balik Tembok Besar China. Logika di balik klaim ini cukup sederhana: Tembok Besar China adalah salah satu struktur buatan manusia terbesar dan tertua di dunia, berfungsi sebagai penghalang raksasa. Ini cocok dengan deskripsi "tembok" yang mengurung Yajuj Majuj. Tembok Besar China berdiri kokoh selama ribuan tahun, dengan bagian paling terkenal dibangun pada masa Dinasti Qin (abad ke-3 SM) dan diperpanjang secara signifikan pada masa Dinasti Ming (abad ke-14 hingga ke-17). Panjang totalnya mencapai lebih dari 21.000 km, didirikan dengan tujuan utama mempertahankan kerajaan dari invasi suku-suku nomaden dari utara, seperti bangsa Xiongnu.

Meskipun ukurannya kolosal dan sejarahnya kaya, tidak ada bukti historis, arkeologis, maupun tekstual yang mengindikasikan bahwa Tembok Besar China dibangun untuk mengurung makhluk mitologis seperti Yajuj Majuj. Catatan sejarah pembangunan tembok ini sangat jelas menyebutkan tujuannya sebagai benteng pertahanan militer. Para sejarawan dan arkeolog telah mempelajari Tembok Besar China secara ekstensif, dan tidak pernah menemukan petunjuk apa pun tentang adanya makhluk asing yang terkurung di baliknya. Oleh karena itu, klaim ini tetap berada dalam ranah spekulasi yang muncul karena kesamaan visual dan fungsional (sebagai "tembok besar").

4. Pegunungan Ural Rusia: Pembatas Benua yang Penuh Rahasia

Lokasi selanjutnya yang diyakini sebagian orang sebagai tempat dikurungnya Yajuj Majuj adalah Pegunungan Ural. Pegunungan ini adalah salah satu yang tertua di dunia, dengan perkiraan usia sekitar 250-300 juta tahun, dan membentang sepanjang sekitar 2.500 km, memisahkan benua Eropa dan Asia. Bentangannya melintasi berbagai lanskap, dari tikungan Sungai Ural di selatan, melalui hutan lebat dan semi-gurun, hingga tundra Arktik di utara.

Pegunungan Ural dikenal karena sifatnya yang terpencil, lanskapnya yang keras, dan luasnya wilayah yang belum banyak terjamah. Sifat geografis inilah yang mungkin menjadikannya kandidat dalam imajinasi orang-orang sebagai tempat yang mungkin menyembunyikan sesuatu yang misterius, termasuk tembok legendaris Yajuj Majuj. Keterpencilan dan keberadaan pegunungan purba yang membentang luas seringkali dikaitkan dengan cerita rakyat dan mitos tentang tempat-tempat tersembunyi. Namun, sama seperti klaim lainnya, mengenai adanya Yajuj Majuj di Pegunungan Ural, belum ada bukti konkret yang dapat dipastikan. Meskipun kaya akan mineral dan memiliki sejarah geologi yang panjang, tidak ada temuan arkeologis atau bukti lain yang mendukung klaim ini.

5. Gates of Alexander: Dinding Legendaris di Kaukasus

Gerbang yang dikaitkan dengan Alexander Agung (Dzulqarnain dalam tradisi Islam) di wilayah Kaukasus merupakan salah satu spekulasi paling populer dan historis sebagai lokasi keberadaan Yajuj Majuj. Legenda menyebutkan bahwa Alexander membangun sebuah pembatas atau penghalang raksasa untuk mencegah kaum pembuat kerusakan, alias Yajuj Majuj, meneror peradaban. Wilayah Kaukasus, yang merupakan jalur sempit di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, secara historis memang merupakan koridor penting bagi pergerakan suku-suku nomaden dari utara ke selatan.

Beberapa lokasi historis di Kaukasus telah diidentifikasi sebagai kemungkinan "Gerbang Alexander," termasuk Darial Gorge di Georgia dan, yang paling sering, Tembok Derbent di Dagestan, Rusia. Tembok Derbent adalah serangkaian benteng kuno yang sangat mengesankan, dibangun pada abad ke-6 Masehi oleh Kekaisaran Persia Sassaniyah untuk melindungi wilayah mereka dari invasi. Tembok ini memang berfungsi sebagai penghalang raksasa di jalur sempit antara pegunungan dan Laut Kaspia.

Legenda tentang Alexander dan temboknya menyebar luas di berbagai budaya, dari teks-teks Romawi hingga kisah-kisah Islam. Meskipun Alexander Agung memang melakukan ekspedisi militer ke wilayah Kaukasus, tidak ada bukti sejarah yang pasti bahwa ia sendiri membangun tembok raksasa yang secara spesifik mengurung Yajuj Majuj seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Kemungkinan besar, kisah Dzulqarnain dalam Al-Qur’an terinspirasi oleh figur historis Alexander Agung dan tradisi pembangunan benteng di Kaukasus, kemudian diinterpretasikan ulang dalam konteks kenabian. Meskipun ada tembok-tembok kuno yang mengesankan di wilayah tersebut, klaim bahwa salah satunya adalah tembok yang mengurung Yajuj Majuj tetap menjadi bagian dari legenda dan belum ada bukti pasti yang mengukuhkannya.

Refleksi di Balik Tembok-Tembok Misteri

Dari kelima lokasi yang disebutkan di atas, jelas bahwa spekulasi seputar keberadaan Yajuj Majuj dan tembok pengurungnya sangatlah beragam, mencakup berbagai belahan dunia dan latar belakang budaya. Dari kedalaman laut Papua yang misterius hingga puncak Pegunungan Ural yang terpencil, dari benteng raksasa Tembok China hingga gerbang legendaris di Kaukasus, dan bahkan hingga ke inti Bumi yang imajiner.

Namun, benang merah yang menghubungkan semua klaim ini adalah ketiadaan bukti konkret. Baik itu bukti arkeologi, geologi, maupun historis yang dapat secara meyakinkan mendukung salah satu dari lokasi tersebut sebagai tempat dikurungnya Yajuj Majuj. Sebagian besar klaim berakar pada interpretasi teks keagamaan, mitos kuno, atau bahkan teori konspirasi yang populer di era digital.

Kisah Yajuj Majuj adalah salah satu narasi paling kuat yang menggabungkan elemen keimanan, sejarah, dan misteri. Keingintahuan manusia untuk menemukan bukti fisik dari kisah-kisah eskatologis ini adalah hal yang wajar. Namun, penting untuk selalu membedakan antara keyakinan spiritual, mitologi, dan fakta ilmiah atau historis yang dapat diverifikasi. Pada akhirnya, kisah Yajuj Majuj tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi keagamaan dan budaya populer, sebuah pengingat akan misteri yang tak lekang oleh waktu dan batas imajinasi manusia, yang terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terbesar tentang asal-usul dan akhir zaman.

(ask/ask)